Naeui Yeongsin Chapter I

by monamuliaa

Naeui Yeongsin cover

Twoshot ║ Mistery, Suspense

Lee Donghae (SJ) ║ Choi Minho SHINee ║ Kim Jungmo (TRAX) ║ Park Yoora (OC)

 

.

 

Selalu waspadalah karena kau tak pernah tahu setiap mata yang mengawasimu.

.

~prolog~

“Aku melihatnya. Ya, melihatnya. Dia berdiri disana. Sepertinya dia sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Dia terlihat seperti… zombi. Hahaha, dia zombi yang cantik. Aku tak mampu menekan otakku untuk tak berfantasi begitu melihatnya, hahaha. Oh sial, pria itu selalu datang padanya. Tidak, apa yang dia lakukan pada gadisku? Dia memeluknya dan juga menciumnya?. Emosiku melonjak maksimal. Aku akan membunuhnya. MEMBUNUHNYA.”

*     *     *

Yoora telah siap untuk berangkat kuliah saat tiba-tiba ponsel yang digenggamnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tak dikenalnya seperti biasa.

“Good morning naeui yeongsin,” Yoora membaca pesan di ponselnya.

Yoora tak terlalu memikirkan isi pesan itu dan buru-buru keluar apartement.

“Omo !” pekiknya terkejut saat melihat sebuket bunga mawar tergeletak di depan pintunya. “Apa ini untukku?” tanya Yoora pada dirinya sendiri lalu mengambil bunga itu dan membaca pesan di bunga itu.

“To naeui yeongsin,” Yoora hanya menghela nafas pelan.

“Yoora-ya.”

Yoora mendongak dan mendapati Donghae tengah berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang penuh di bibirnya.

“Bunga? Dari siapa?” tanya Donghae begitu melihat bunga di tangan Yoora.

“Entahlah. Tak ada nama pengirim.”

Donghae membaca pesan di bunga itu lalu melirik tajam Yoora. “Naeui yeongsin?”

“Mungkin aku punya pengagum rahasia,” bisik Yoora misterius.

“Ya! Kau serius?”

Yoora mengangguk.

“Tapi aku yakin dia tak lebih tampan dariku,” ucap Donghae.

“Cih! Anda memang tampan tuan Lee Donghae. Dan anda sangat beruntung mendapat kekasih bernama nona Park Yoora yang super cantik,” kekeh Yoora lalu melingkarkan tangan di lengan Donghae meninggalkan sebuket bunga tetap di lantai.

Donghae mengacak rambut Yoora dengan gemas.

“Ya! Jangan merusaknya,” Yoora melepas tangannya yang melingkar di lengan Donghae dan memperbaiki rambutnya agar kembali rapi seperti semula.

“Bahkan kau akan tetap cantik dengan rambut seperti itu.”

“Cih! Gombalan tak bermutu,” dengus Yoora yang diikuti tawa Donghae.

Donghae dan Yoora adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan hampir 1 tahun. Donghae adalah seorang photographer yang bekerja pada sebuah majalah yang sangat terkenal di korea sedangkan Yoora adalah mahasiswa tingkat 2 yang mengambil jurusan jurnalistik.

*     *     *

“Sayang sekali bunga secantik ini tapi ditinggalkan disini. Ini karena pria itu. Aku sungguh membencinya. Pria itu selalu berada di sekeliling gadisku. Tak bisakah dia pergi dan meninggalkan gadisku. Tak ada seorang pun yang boleh memiliki gadisku kecuali aku. Memang kenyataannya hanya akulah yang pantas mendapatkan gadis itu. Tidak lama lagi ku pastikan kau akan meninggalkannya untuk selama-lamanya, hahaha,” dia tertawa puas dengan kata-katanya sendiri.

“Bunga yang cantik. Kau sungguh tak berguna,” dia memungut bunga itu dan meremasnya.

*     *     *

“Tolong lebih kau dongakkan kepalamu agar kesan angkuh lebih terlihat,” Donghae mengarahkan modelnya.

Model itu mengangguk sekali.

“Bagus. Pertahankan seperti itu,” ucap Donghae senang karena modelnya kali ini sangat mengerti apa yang diinginkannya.

“Gamsahamnida,” Jessica mengangguk berkali-kali pada semua yang ada di studio begitu pemotretan selesai.

“Kerja yang bagus Jessica-ssi,” Donghae menghampiri Jessica.

“Gamsahamnida. Itu juga karena arahan dari Donghae-ssi,” Jessica berucap lembut.

Donghae tersenyum mendengar pujian Jessica lalu berjalan menuju tasnya untuk mengambil ponselnya.

Begitu mendapat ponselnya, dia mengirim sebuah pesan kepada Yoora.

To : Yoora-ya

Kuliahmu sudah selesai? Segera balas pesanku jika sudah selesai.

Donghae meletakkan kembali ponsel di atas tasnya lalu mengambil air minum yang ada di meja dihadapannya.

Drrttt.. Drrttt..

Donghae melirik ponselnya. Sebuah panggilan masuk dengan nomor yang tak dikenalnya.

“Yeoboseyo?” jawab Donghae.

“Tinggalkan Park Yoora,” jawab suara di seberang.

“Mwo?” kaget Donghae karena tiba-tiba saja orang yang menelponnya menyuruhnya untuk meninggalkan kekasihnya.

“Ku katakan sekali lagi. Tinggalkan Park Yoora,” jawab suara di seberang dengan penuh penekanan.

“Nuguseyo?”  tanya Donghae emosi.

“Hahahaha, kau hanya perlu melaksanakan perintahku.”

“Nuguseyo?” tapi sambungan telepon telah dimatikan sepihak oleh penelpon.

Donghae mencoba menghubungi balik nomor yang baru saja menghubunginya namun hasilnya justru membuatnya emosi karena nomor itu telah di nonaktifkan oleh pemiliknya. “Sial.”

Donghae teringat pesan yang dikirimnya pada Yoora namun belum mendapat balasan sampai sekarang jadi di putuskannya untuk menghubungi gadisnya itu.

“Yeoboseyo?” jawab Yoora setelah menunggu sedikit lama.

“Yeoboseyo. Kau baru selesai kuliah?” tanya Donghae.

“Ani. Sudah beberapa menit yang lalu tapi aku baru tahu pesanmu. Mianhe.”

“Gwenchana. Apa kau masih di kampus?”

“Aku sedang di halte.”

“Apa perlu aku jemput?”

“Ani. Kurasa sebentar lagi bisnya akan datang. Aku tahu oppa masih punya banyak pekerjaan.”

“Aku bisa meninggalkannya untuk beberapa menit.”

“Gwenchana. Aku akan naik bis saja. O, bisnya datang. Jangan pulang terlalu malam dan jangan ngebut.”

“Arraseo. Hati-hatilah.”

*     *     *

“Gwenchana. Aku akan naik bis saja. O, bisnya datang. Jangan pulang terlalu malam dan jangan ngebut.”

“Arraseo. Hati-hatilah.”

Yoora memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya sambil menghela nafas pelan. Dia harus berbohong dengan mengatakan bisnya datang agar Donghae tak menjemputnya. Sebenarnya Yoora hanya tidak ingin membuatnya lelah. Masih banyak pekerjaannya yang harus diselesaikannya, jika ditambah dengan harus menjemputnya dan mengantarkannya pulang itu sudah pasti justru akan merepotkannya. Lagipula dia juga jarang pulang naik bis jadi apa salahnya hari ini dia pulang naik bis.

“Yoora-ssi.”

“Minho-ssi,” Yoora berdiri dari duduknya begitu melihat ternyata yang memanggilnya adalah mahasiswa yang kuliah di tempat yang sama dengannya namun beda jurusan. Sebenarnya Yoora tak begitu kenal dengan Minho hanya sekedar tahu namanya.

“Kau ingin naik bis?”

“Kau kira untuk apa lagi aku ada disini?” canda Yoora balik bertanya.

“Haha, aku hanya heran melihatmu hendak naik bis.”

Akhirnya mereka berdua berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan bis.

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya bis yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Yoora memilih duduk di bangku nomor dua dari belakang. Sedangkan Minho duduk di depannya. Di dalam bis hanya ada 5 orang salah satunya Yoora, Minho, sepasang kakek nenek yang duduk di seberang Minho dan seorang pria di seberangnya tengah tertunduk dalam dengan sebuah topi bertengger di kepalanya. Tak begitu jelas dengan wajahnya. Tapi Yoora tak begitu mempedulikannya. Dia juga tak berniat untuk mengamati setiap orang yang ditemuinya.

Yoora merebahkan kepalanya ke samping kanannya bersandar pada jendela. Dia menikmati kerlap kerlip lampu jalanan tapi kenapa itu justru membuatnya mengantuk. Berkali-kali dia menguap karena kantuk yang tiba-tiba saja menyergapnya. Dan berkali-kali pula kepalanya terkulai yang menyebabkannya terbangun.

“Kau akan tetap tinggal di bis kalau kau tertidur,” gumam Yoora mencoba mengingatkan dirinya sendiri agar tak tertidur di bis tapi sepertinya kantuknya tak dapat berkompromi dengannya.

Kepala Yoora terantuk jendela dengan cukup keras yang menyebabkannya terbangun. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru bis. Pria bertopi yang duduk di seberangnya sudah tak ada begitupun Minho yang duduk di depannya berganti dengan seorang gadis yang masih berseragam. Sedangkan sepasang kakek dan nenek masih tetap ditempatnya. Dan beberapa orang lagi yang tak di pedulikannya.

“Omo!” pekik Yoora terkejut saat tanpa sadar bisnya telah berhenti di halte yang ditujunya namun dia tak kunjung turun.

“Fiuh~ hampir saja,” ucap Yoora lega.

*     *     *

“Apa pria itu benar-benar mematuhi apa yang aku perintahkan padanya? Pria pintar. Kau memang sudah seharusnya menuruti apa yang aku katakan. Gadisku tampak cantik saat dia tertidur. Dia tampak seperti bidadari sesungguhnya. Apa aku harus duduk di sampingnya dan meletakkan kepalanya di pundakku agar dia lebih nyaman? Apa dia tak akan terbangun? Aku takut jika membangunkannya,” dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berdiri menghampiri gadisnya yang tertidur dengan posisi yang tak nyaman.

Dia mengulurkan tangannya dan mencoba untuk menyentuh pipinya. “Kau harus menjadi milikku. Tak seharusnya kau memilih pria bodoh itu. Dia tak pantas untukmu. Tidurlah naeui yeongsin.”

*     *     *

Tinggalkan Park Yoora.

Ucapan pria kepadanya di telepon beberapa hari ini terus terngiang-ngiang di telinga Donghae. Saat hendak tidur pun kata-kata itu tetap saja mengganggunya hingga menyebabkannya tak bisa tidur. Memang tak hanya sekali pria misterius itu menghubunginya namun berkali-kali. Bahkan hari ini pria itu mengancam akan membunuhnya jika dia tak kunjung meninggalkan Yoora.

“Sebenarnya siapa pria ditelepon itu? Dan untuk apa dia menyuruhku untuk meninggalkan Yoora. Dia pikir dia siapa seenaknya memerintahku seperti itu,” ucap Donghae di atas tempat tidurnya.

Drrttt.. Drrttt..

Donghae memandang ponselnya yang bergetar di atas meja di samping tempat tidurnya. Sebuah panggilan masuk untuknya. Tapi ada perasaan ragu untuk menjawab panggilan itu apa lagi saat melihat jam di dindingnya yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Orang gila mana yang menghubunginya di jam seperti ini.

Donghae menghela nafas pelan lalu meraih ponselnya. Nomor yang tak dikenal menghubunginya lagi. Sudah dapat dipastikan siapa yang menghubunginya.

“Untuk apa kau menghubungiku lagi?” tanya Donghae dingin.

“Hahahaha, apa kau tak bisa tidur dan tengah memikirkan tentangku?”

Donghae mengeryit, bagaimana pria ini bisa tahu.

“Apa kau berpikir bagaimana aku bisa tahu? Hahaha, kau terlalu bodoh untuk mengetahuinya. Apa kau takut padaku?”

“Cih! Itu hanya ada dalam mimpimu. Aku tak pernah sekalipun takut padamu. Bukannya justru kau yang takut padaku?” Donghae tersenyum meremehkan.

“Hahahaha, mana mungkin aku takut padamu.”

“Terbukti kau tak pernah muncul dihadapanku. Kau hanya berani mengancamku lewat telepon. Pecundang,” Donghae mengucapkan kata terakhir dengan penuh penekanan.

“Jangan berani-berani kau mengatakan hal semacam itu padaku,” desis pria di telepon sangat marah.

“Apa kau marah? Kalau kau marah berarti memang benar kau pecundang.”

Terdengar suara benda pecah saat Donghae mengucapkan kata-kata itu. Mungkin pria di telepon membanting sesuatu karena marah.

“Sepertinya anda tak dalam kondisi baik hari ini. Lebih baik lain waktu anda menghubungiku lagi. Kurasa lebih baik kita bicara dalam keadaan yang baik,” ucap Donghae sangat meremehkan lalu memutus panggilan sepihak.

*     *     *

Yoora baru saja terbangun saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Yoora melirik sekilas jam beker yang terduduk manis di meja di samping tempat tidurnya.

“Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini,” kesal Yoora menarik rambutnya ke atas menjepitnya dengan jepit rambut yang di sambarnya begitu saja dari meja dan berkaca sebentar untuk memastikan kondisinya baik untuk menerima seorang tamu.

Yoora menghampiri intercom dan tak melihat siapapun di depan pintu. Tapi tetap diputuskannya untuk membuka pintu.

Benar, di depan pintu tak ada seorang pun hanya ada setangkai mawar merah dan boneka beruang besar berwarna putih.

Yoora mengambil bunga itu dan membaca pesannya.

Kali ini terimalah yang aku berikan padamu. Aku akan sangat sedih jika kau tak mau menerimanya naeui yeongsin.

Yoora mengedarkan pandangan ke koridor namun tak tampak seorang pun. Lalu dia mengambil boneka beruang dan buru-buru masuk kembali ke dalam apartemen.

Oke, kali ini dia sedikit takut dengan hadiah-hadiah yang selalu datang padanya, pesan-pesan singkat yang dikirim padanya dan juga panggilan itu. Naeui yeongsin.

Yoora meletakkan hadiah yang di pegangnya di sofa ruang tamu dan berlari ke kamar mengambil ponselnya menghubungi Donghae.

“Yeoboseyo?”

“Oppa, bisakah kau datang kesini begitu kau menyelesaikan pekerjaanmu?” tanya Yoora berusaha setenang mungkin walau dengan perasaan yang was-was.

“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Donghae khawatir.

“Ani, gwenchana,” Yoora tak mau mengganggu pekerjaan Donghae dengan membuatnya khawatir tapi dia sudah terlanjur menghubunginya.

“Apa aku perlu kesana sekarang?”

“Ani. Kau datang saja saat pekerjaanmu selesai. Aku hanya akan mengajakmu makan malam nanti,” jawab Yoora tersenyum menenangkan padahal sebenarnya tak ada gunanya dia melakukan itu karena Donghae tak dapat melihatnya.

“Baiklah. Aku akan datang secepat mungkin begitu pekerjaanku selesai,” jawab Donghae terdengar riang.

“Aku akan menunggumu oppa,” ucap Yoora pelan. Sebenarnya di dalam ucapan tersebut terbersit sedikit harapan Donghae akan datang begitu sambungan telepon diputus tapi Yoora tak begitu berharap karena dia tadi sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

Belum sempat Yoora meletakkan ponselnya tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari nomor yang sama yang selalu mengiriminya pesan-pesan singkat.

Yoora menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar dan terduduk lemas di tepi tempat tidur.

*     *     *

Drrttt..

Ponsel Yoora di dalam saku bajunya bergetar sekali yang menandakan ada sebuah pesan masuk untuknya.

Yoora mencuci tangan di wastafel dan mengusapkan tangannya pada celemek yang dikenakannya lalu merogoh saku bajunya mengambil ponselnya.

Sedang memasak sesuatu? Pasti lezat. Mungkin lain kali aku akan berkunjung mencoba masakanmu naeui yeongsin.

Yoora menggigit bibir bawahnya selesai membaca pesan singkat di ponselnya. Pesan itu dari nomor yang tak dikenal namun hampir dihafalnya.

Perlahan-lahan Yoora menengok ke belakang lalu bernafas lega saat tak melihat seorang pun di dalam apartemennya kecuali dirinya.

Sedetik setelah membaca pesan di ponselnya Yoora membayangkan akan ada seseorang yang tak dikenalnya tersenyum padanya begitu dia menoleh ke belakang tapi ternyata itu hanya ada dalam bayangannya yang mulai liar.

Drrttt.. Drrttt..

“Omo!” Yoora melonjak terkejut saat tiba-tiba ponsel yang ada digenggamannya bergetar.

Hae Oppa calling…

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo. Bisakah kau membukakan pintu untukku? Aku sudah ada di depan pintu sekarang.

“Mwo?” Yoora terkejut mendengar ucapan Donghae namun tak perlu menunggu Donghae mengulangi ucapannya lagi karena sekarang dia tengah berjalan cepat menuju pintu dan membukanya.

Donghae tersenyum cerah di depan pintu begitu Yoora membuka pintu untuknya sedangkan Yoora hanya diam memandang Donghae sebentar lalu berjalan masuk kembali ke dalam membiarkan Donghae mengikutinya dengan cemberut.

“Ya! Kau tak mau membantuku?” tanya Donghae mengangkat kantong belanjaannya.

Yoora mengacuhkannya dengan terus berjalan menuju dapur untuk menata meja makan.

“Dia hampir saja membunuhku karena terkejut tapi dia tampak sama sekali tak bersalah. Lagi pula dia juga tahu passwordnya kenapa tidak langsung masuk,” omel Yoora pelan tapi sebenarnya ada perasaan lega saat tahu Donghae sekarang ada bersamanya.

Donghae menyusul Yoora ke dapur dan membantunya menata meja makan. Dia juga mengeluarkan barang-barang belanjaannya yang ternyata berisi minuman kaleng, apel dan jeruk, es krim serta beberapa cemilan.

“Apa kau memasaknya sendiri?” tanya Donghae menempelkan sumpitnya di bibirnya sebelum memulai makan.

“O.”

Karena Yoora tak punya niat untuk bercakap-cakap sembari makan akhirnya mereka putuskan untuk makan dalam diam.

Selesai makan Donghae menuju ruang tengah dan menyalakan televisi sedangkan Yoora mencuci piring di dapur.

“Kenapa kau marah padaku?” tanya Donghae begitu Yoora selesai mencuci piring dan menyusulnya.

“Aku tidak marah padamu,” jawab Yoora singkat dengan pandangan tetap fokus pada layar televisi.

Donghae memegang bahu Yoora dan memaksanya menghadap padanya.

“Kenapa hanya diam?” tanya Donghae menatap Yoora. Sekarang mereka berdua duduk berhadapan dengan kaki menyilang di atas sofa.

Yoora menelan ludah sebelum akhirnya menjawab. “Aku takut.”

Sebenarnya sedikit tidak pas jika diamnya Yoora karena dia takut tapi toh semuanya berawal karena takut. Jadi takutlah alasan yang paling tepat.

Donghae menatap Yoora dengan tatapan bingung. “Kau tak perlu takut. Aku ada disini.”

“Dia mengirim pesan padaku setiap pagi. Dan akhir-akhir ini dia selalu meninggalkan bunga mawar merah di depan pintu. Tadi pagi dia berusaha menghubungiku. Bahkan beberapa menit yang lalu dia baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang lain kali akan berkunjung kesini.”

“Dia?” Donghae bertanya dengan bingung.

Yoora mengangguk. “Yang pernah aku sebut pengagum rahasia. Lama-kelamaan ini rasanya seperti teror. Bahkan dia juga tahu apa yang sedang aku kerjakan.”

Donghae merengkuh Yoora dalam pelukannya.

Donghae merasa kini emosinya meningkat begitu mendengar cerita Yoora. Dia sangat yakin orang yang dibicarakan Yoora sama dengan orang yang sering menghubunginya akhir-akhir ini dan menyuruhnya untuk meninggalkan Yoora.

“Kau tak perlu takut. Aku ada untuk menjagamu,” Donghae berusaha menenangkan.

“Bagaimana kalau dia nekat mendekatiku?” tanya Yoora pelan masih di dalam pelukan Donghae.

“Tak akan kubiarkan dia melakukannya.”

“Apa oppa janji?”

“Ne. Aku berjanji. Dan kau bisa mempercayai kata-kataku kali ini.”

“Jadi selama ini kata-kata yang sering oppa katakan bohong?” tanya Yoora melepaskan pelukan Donghae.

“Maksudku kau bisa selalu mempercayai kata-kataku,” elak Donghae.

“Walaupun kata-kata itu hanya kebohongan?” pancing Yoora.

“Ya! Kenapa kau sekarang menyudutkanku?” tuduh Donghae tak terima.

“Hahaha. Oppa kau memang raja gombal,” Yoora tertawa meremehkan.

“Dan kau tak mudah untuk digombali,” ucap Donghae.

“Karena aku sudah kebal dari rayuan-rayuan gombalmu,” Yoora menjulurkan lidah sambil tetawa.

Donghae pun akhirnya ikut tertawa bersama Yoora.

*     *     *

“Annyeong haseyo,” sapa Yoora membungkuk pada beberapa temannya.

Yoora masuk ke dalam kelasnya dan menghampiri kerumunan temannya yang tengah membicarakan sesuatu.

“Kalian tahu. Tadi malam aku baru saja menonton berita tentang seorang pria psikopat yang membunuh kekasihnya sendiri dan dia mengaku kalau dia membunuhnya karena dia sangat mencintainya,” Hyera bercerita dengan semangat.

“Jinjja?” pekik semua orang di kerumunan.

Yoora merinding mendengar cerita Hyera.

Hyera mengangguk.

“Itu mengerikan,” gumam Hana pelan namun masih mampu didengar teman-temannya.

“Apa kalian pernah mendengar sebuah pertanyaan yang dapat menunjukkan orang itu psikopat atau bukan?” tanya Shin membuat teman-temannya penasaran termasuk Yoora.

Mereka hanya menggeleng karena jujur mereka belum pernah mendengarnya.

“Dalam sebuah keluarga terdiri dari ayah, anak perempuan pertama yang biasa dipanggil kakak, dan anak perempuan kedua yang sering dipanggil adik. Suatu ketika ayah mereka meninggal dunia. Saat pemakaman kedua anak perempuan itu berjumpa dengan seorang pria tampan. Tiba-tiba beberapa hari kemudian sang adik juga meninggal. Menurut kalian apa penyebab sang adik meninggal?”

Semuanya kini mulai berpikir.

“Mungkin dia dibunuh kakaknya?” jawab Hyera.

“Apa alasannya?”

“Karena kakak jatuh cinta pada pria tampan, karena takut adiknya juga jatuh cinta pada pria tampan dan akan menjadi saingannya makanya kakak membunuh adiknya.”

“Aku tak berpikir serendah itu,” jawab Hana.

“Tapi kebanyakan orang normal berpikir seperti itu, lain halnya dengan seorang psikopat. Mereka cenderung akan menjawab…”

“Kakak membunuh adik agar bisa berjumpa kembali dengan pria tampan. Karena pria itu muncul di pemakaman jadi menurutnya jika ada kematian pria tampan itu akan muncul kembali jadi dia membunuh adik kandungnya sendiri untuk bertemu pria tampan,” Jungmo yang tiba-tiba saja muncul menjawab pertanyaan Shin.

“Bagaimana sunbae tahu?” tanya Shin.

“Hahaha, aku pernah membaca tentang hal itu di perpustakaan. Itu hanya salah satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan, masih ada banyak pertanyaan yang dapat menunjukkan kalau orang itu psikopat atau bukan jadi jangan terlalu percaya dengan hal itu,” jawab Jungmo melirik Yoora yang tengah menatapnya.

“Oh ya, aku ingin bicara sebentar dengan ketua kelas kalian.”

*     *     *

“Aku akan menyingkirkan siapapun yang mencoba menghalangiku walaupun hanya untuk melihat gadisku kau harus tahu itu,” dia berucap pada pantulannya sendiri di kaca besar dihadapannya.

*     *     *

Yoora memejamkan matanya sambil menikmati aroma segar buah dari sabun mandinya. Berendam dengan beberapa wangi-wangian saat pikiran sedang kacau memang sedikit membantu dan Yoora sangat menyukainya. Di dalam kamar mandi hanya terdengar hembusan teratur nafasnya yang menenangkan.

Klik.

Yoora menajamkan pendengarannya saat sayup-sayup mendengar suara kombinasi password apartemen yang tepat. Namun kemudian kembali hening.

Yoora membuka matanya perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya lampu di kamar mandi. Gerakan pelan yang dilakukan Yoora menimbulkan bunyi yang cukup keras di dalam kamar mandi. Dia meraih bathrobenya dan mulai memakainya. Dia merasa seperti seseorang tengah masuk ke dalam apartemennya, tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kerja jantungnya mengirim respon pada tubuhnya bahwa sekarang dia tengah gugup.

Yoora melangkah pelan menghampiri pintu kamar mandi dan dengan sangat pelan pula membuka pintunya.

Krek.

Yoora melongokkan kepala ke dalam kamarnya mencoba memeriksa keadaan kamarnya yang sepi lalu mulai berjalan dengan gugup menghampiri lemari pakaian yang ada di samping tempat tidur. Dia membuka pintu lemarinya dengan pelan saat tiba-tiba sebuah tangan merangkul pinggangnya.

“Argh~”

T.B.C


a/n:

Annyeong haseyo chingudeul. Sebelumnya salam kenal untuk chingudeul.

Aku datang membawa ff perdana untuk kalian semua. Gomawo sudah menyempatkan diri membaca ff geje ini. Mohon apresiasinya~

oh iya, ff ini juga aku post di fb loh (Shining Fanfiction) jadi jangan kaget kalo tiba2 baca juga disana ^^

Advertisements