Naeui Yeongsin Chapter II [Final]

by monamuliaa

Naeui Yeongsin cover

Twoshot ║ Mistery, Suspense

Lee Donghae (SJ) ║ Choi Minho (SHINee) ║ Kim Jungmo (Trax) ║ Park Yoora (OC)

 

.

 

Selalu waspadalah karena kau tak pernah tahu setiap mata yang mengawasimu.

 

Yoora memejamkan matanya sambil menikmati aroma segar buah dari sabun mandinya. Berendam dengan beberapa wangi-wangian saat pikiran sedang kacau memang sedikit membantu dan Yoora sangat menyukainya. Di dalam kamar mandi hanya terdengar hembusan teratur nafasnya yang menenangkan.

Klik.

Yoora menajamkan pendengarannya saat sayup-sayup mendengar suara kombinasi password apartemen yang tepat. Namun kemudian kembali hening.

Yoora membuka matanya perlahan dan menyesuaikan dengan cahaya lampu di kamar mandi. Gerakan pelan yang dilakukan Yoora menimbulkan bunyi yang cukup keras di dalam kamar mandi. Dia meraih bathrobenya dan mulai memakainya. Dia merasa seperti seseorang tengah masuk ke dalam apartemennya, tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kerja jantungnya mengirim respon pada tubuhnya bahwa sekarang dia tengah gugup.

Yoora melangkah pelan menghampiri pintu kamar mandi dan dengan sangat pelan pula membuka pintunya.

Krek.

Yoora melongokkan kepala ke dalam kamarnya mencoba memeriksa keadaan kamarnya yang sepi lalu mulai berjalan dengan gugup menghampiri lemari pakaian yang ada di samping tempat tidur. Dia membuka pintu lemarinya dengan pelan saat tiba-tiba sebuah tangan merangkul pinggangnya.

“Argh~”

Drrttt.. Drrttt..

Yoora membuka matanya dengan terkejut karena getar ponsel di sampingnya.

Hae Oppa calling…

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo. Apa kau tak ada di rumah?” tanya Donghae dengan suara serak.

Yoora mengeryit. “Ada apa dengan suara oppa?”

“Entahlah. Mungkin aku akan flu. Jadi apa kau tak ada?”

“Aku di dalam. Wae?”

“Aku menekan bel berkali-kali tapi kau tak kunjung membukakan pintu.”

“Jinjja? Tapi kenapa aku tak mendengarnya. Masuklah. Oppa pasti sudah hafal passwordnya. Aku sedang di kamar mandi,” ucap Yoora.

“Arraseo,” jawab Donghae lalu panggilan terputus.

Yoora meraih bathrobenya dan memakainya bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka.

“Oppa?” panggil Yoora kini telah berada di dalam kamar.

Tak ada sahutan dari Donghae tapi samar-samar terdengar suara batuk pelan dan suara dari televisi yan menyala.

“Apa dia benar-benar flu?” tanya Yoora pada dirinya sendiri dan mulai berganti baju lalu menemui Donghae di luar.

“Oppa apa kau sudah makan malam?” tanya Yoora menyusul Donghae di ruang tengah.

“Apa kau belum?” balik tanya Donghae.

Yoora menggeleng. “Tak ada apapun di kulkas dan aku malas keluar,” Yoora tersenyum pada Donghae yang mulai menatap tajam padanya karena jawabannya itu.

“Apa kau ingin sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu.”

“Oppa baru saja tiba. Aku tak begitu lapar.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu kelaparan malam ini,” ucap Donghae membuat Yoora terkekeh senang.

“Apapun yang oppa belikan aku akan memakannya.”

“Cih! Kau mulai belajar dariku. Baiklah, aku akan segera kembali dalam beberapa menit.”

“Ne. Hati-hati oppa.”

“Arra.”

*     *     *

“Gamsahamnida,” ucap Donghae pada kasir setelah mendapat uang kembalian.

Sekarang di tangannya sudah ada kantong belanjaan penuh dengan barang-barang yang bisa di makan tentunya. Sekarang dia tengah berjalan menuju apartemen Yoora sambil bersenandung kecil. Karena dia pergi tak begitu jauh jadi diputuskannya untuk tak membawa mobilnya, hanya berjalan kaki.

Bug.

Tiba-tiba sebuah benda keras menghantam tepat di tengkuk Donghae hingga membuatnya terhuyung jatuh. Semua barang belanjaannya berserakan di jalanan termasuk ponselnya yang lepas dari genggamannya.

“Ku bilang tinggalkan Yoora. Kenapa kau tak pernah mau melaksanakannya,” sekarang Donghae mendapat sebuah tendangan keras di bagian perutnya.

Donghae menahan rasa sakitnya dan mencoba berdiri namun kali ini dia mendapat sodokkan pada bagian pundaknya yang menyebabkannya jatuh terlentang.

Drrttt.. Drrttt..

Ponsel Donghae bergetar. Sebuah panggilan masuk.

Pria yang menikam Donghae menoleh pada ponsel yang bergetar dan menghampirinya lalu menyentuh tanda answer.

“Oppa, kenapa kau lama sekali? Apa kau tersesat? Hehehe,” kekeh Yoora.

“Yoora,” gumam Donghae pelan.

Pria yang menikam Donghae terlihat sangat menikmati suara Yoora dari ponsel.

“Apa aku perlu menjemputmu oppa?” tanya Yoora lagi.

Donghae mencoba merangkak menuju ponselnya dan mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya tapi pria yang berdiri dihadapannya menginjak tangannya dan menekannya dengan kuat.

“Argh~”

“Oppa?”

*     *     *

“Oppa.. Oppa..” panggil Yoora saat melihat Donghae mulai membuka matanya.

“Syukurlah, oppa sudah sadar,” Yoora memeluk Donghae dan terisak pelan.

“Oppa. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa seperti ini?”

“Seseorang yang mabuk tiba-tiba menyerangku,” jawab Donghae pelan. Lebih baik dia tak mengatakan yang sebenarnya karena itu justru akan membuat gadisnya itu takut.

“Kau harus melaporkannya kepada polisi,” saran Yoora masih terisak.

“Andwae. Ini pasti diluar kesadarannya. Kau tak perlu khawatir. Apa kau sudah makan?”

“Oppa. Untuk apa kau menanyakan itu? Kau yang seharusnya di khawatirkan bukan aku.”

Donghae terkekeh pelan. “Aku yakin kau belum makan, sekarang pergilah aku tak apa disini sendiri.”

“Aku tak mau meninggalkan oppa, walaupun kau memaksa aku akan tetap disini.”

“Kau seperti anak kecil,” gerutu Donghae.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah Minho.

“Hyung. Apa yang terjadi padamu?” tanya Minho menghampiri Donghae dengan khawatir.

“Aku baik-baik saja tak usah memasang ekspresi seperti itu,” ucap Donghae.

“Yoora-ssi?” kaget Minho yang baru sadar kalau ada Yoora juga di dalam kamar.

“Annyeong Minho-ssi,” Yoora juga tak kalah terkejut lalu membungkuk sopan pada Minho.

“Aku akan menemui suster sebentar,” ucap Yoora meninggalkan Minho dan Donghae agar mereka lebih leluasa berbicara.

“Kau kenal Yoora?” tanya Donghae.

“Tentu saja. Kita di kampus yang sama. Tapi aku tak pernah tahu kalau dia mengenalmu.”

“Kau pasti juga belum pernah tau kalau dia kekasihku.”

“Mwo? Jinjja?” pekik Minho terkejut.

“Kau tak perlu berlebihan seperti itu.”

“Sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih?” tanya Minho mulai menginterogasi.

“Sebenarnya kau kesini mau menjengukku apa menginterogasiku?” tanya Donghae heran pada kelakuan adik sepupunya itu.

“Hehehe, tentu saja menjengukmu.”

“Kau tak membawa apa-apa kemari?”

Minho menggeleng.

“Pulanglah. Dan pastikan kau membawa sesuatu saat menjengukku,” usir Donghae.

“Ya! Hyung.”

“Hahaha, aku hanya bercanda.”

“Baiklah karena kau tampak baik aku akan meninggalkanmu sekarang. Hari ini aku ada kuliah, sepulang kuliah kuusahakan mampir kesini,” pamit Minho.

“Dan pastikan kau datang tidak dengan tangan kosong.”

“Arraseo-arraseo,” jawab Minho tak memandang Donghae dan terus berjalan keluar kamar.

*     *     *

“Hahaha. Kau terlihat seperti pecundang terbaring disana,” dia mengintip dari celah pintu kamar melihat Donghae yang terbaring di tempat tidur sedangkan Yoora mengupaskan apel untukknya.

“Tapi gadisku tak pernah meninggalkanmu walaupun kau dalam kondisi seperti itu. Bahkan dia lebih memperhatikanmu saat kau seperti itu dan itu membuatku.. marah,” desisnya penuh kemarahan.

*     *     *

Yoora pulang ke apartemennya sekitar pukul 9 malam. Karena Donghae yang sudah diijinkan pulang jadi dia menemani Donghae di apartemennya.

“Pali pali pali,” gumam Yoora melihat angka di liftnya yang terus berubah menuju lantai yang ditujunya.

Tring.

Yoora berjalan cepat menuju pintu apartemennya. Tanpa dia sadari seseorang tengah memperhatikannya.

“Tanganku gemetar,” Yoora tersenyum kecil melihat tangannya yang gemetar saat menekan kombinasi-kombinasi passwordnya.

“Yoora-ya?” panggil sesorang pelan.

“Omo!” Yoora terkesiap menjatuhkan tasnya. Jantungnya hampir saja meledak karena keterkejutannya.

“Jungmo-sunbae?” Yoora sedikit tidak percaya, seniornya di kampus tiba-tiba muncul di hadapannya. “Kenapa sunbae bisa ada disini?”

“Aku tinggal disini. Apa kau juga tinggal disini?”

“Jinjja? Kenapa aku tidak tahu kalau kita bertetangga.”

“Selama ini aku merasa seperti melihatmu disini tapi aku tidak yakin kalau itu kau. Ternyata benar,” timpal Jungmo tersenyum ramah.

“Dimana sunbae tinggal?”

“Tepat di sebelahmu.”

“Jinjja?”

Jungmo mengangguk.

“Apa sunbae mau bicara di dalam sambil minum teh?” tawar Yoora sopan.

“Kurasa lain kali. Sekarang masuklah,” Jungmo menolak halus tawaran Yoora.

“Ne. Annyeong,” Yoora membungkuk sopan lalu masuk ke dalam.

“Kenapa aku baru tahu kalau Jungmo sunbae tinggal di sebelah? Apa mungkin dia baru saja pindah ya? Mungkin saja.”

*     *     *

“Oppa, kenapa kau menjemputku?” Yoora menghampiri Donghae di basement apartemen.

“Aku akan mengantarmu ke kampus namun aku tak bisa menjemputmu pulang nanti,” sesal Donghae.

“Gwenchana. Seharusnya oppa istirahat saja tak perlu menjemputku.”

“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Lagi pula aku sudah cukup sehat. Tapi aku akan lebih baik kalau kau mau memelukku,” kata Donghae dengan senyum jail.

“Cih! apa-apaan itu,” dengus Yoora.

Donghae menarik tangan Yoora dan mendekap tubuh Yoora dalam pelukannya.

“Kau tahu sepertinya aku akan lebih baik lagi jika mendapat ciuman darimu?” goda Donghae sambil terkekeh.

“Mwo?” pekik Yoora tak percaya mendengar kata-kata Donghae tapi Donghae sudah mendekatkan wajahnya pada Yoora dan mencium kening Yoora.

Yoora hanya tersenyum.

“Kupastikan lain kali aku mendapat ciuman di tempat lain,” ucap Donghae sambil berkedip jail.

Yoora menyentil kening Donghae begitu Donghae menyelesaikan ucapannya.

“Ya!” teriak Donghae sebal sambil mengelus keningnya sedangkan Yoora hanya tersenyum seperti tak punya dosa.

“Oppa kaja. Aku akan terlambat sampai di kampus kalau kita tak segera berangkat.”

“Baiklah baiklah.”

*     *     *

Dia menggertakkan giginya saat melihat gadisnya dipeluk dan dicium oleh pria lain. Sejak tadi dia telah mengawasi gadisnya dari dalam mobilnya tanpa sepengetahuan mereka berdua.

“Kupastikan aku akan membunuhmu,” desisnya dengan emosi memuncak lalu menjalankan mobilnya mengikuti mobil Donghae yang bergerak menuju kampus Yoora.

“Nikmatilah kebersamaan kalian selagi kalian bisa,” ucapnya tersenyum namun senyumnya lebih tampak seperti… seringaian.

*     *     *

Dia menunggu di halte sekitar kampus namun di tempat yang sedikit tersembunyi. Seperti yang didengarnya langsung dari Donghae bahwa Donghae tak bisa menjemput Yoora, sudah berarti hari ini gadisnya itu akan naik bis.

Dia berkali-kali melihat jam tangannya, sudah pukul 8 malam tapi gadisnya sama sekali belum muncul juga.

Dia tersenyum senang saat melihat gadis yang ditunggu-tunggunya akhirnya muncul juga. Jadi diputuskannya untuk menghampirinya.

“Omo!” pekik Yoora terkejut melihat pria dihadapannya. “Annyeong,” bungkuk Yoora sopan.

Dia langsung membekap mulut Yoora dengan sapu tangan yang telah disiapkannya begitu Yoora menegakkan tubuh.

Yoora membelalak tanpa mampu mengucapkan apa-apa sebelum akhirnya matanya terpejam.

“Aku akan membawamu pulang nae yongshin,” ucapnya mengangkat tubuh Yoora menuju mobil yang di parkir tidak jauh dari tempat mereka.

*     *     *

Yoora membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat berat dan pandangannya berkunang-kunang. Namun pelan-pelan pandangannya mulai normal dan hal pertama yang ditangkap indra penglihatnya adalah kondisi ruangan tempatnya berada yang tampak sangat mewah. Dan dia baru sadar kalau posisinya sekarang terbaring di sebuah ranjang berukuran king size yang bertabur bunga mawar. Yang paling mengejutkannya adalah bajunya yang telah berganti dengan gaun tidur berwarna putih yang indah.

Pandangan Yoora menangkap keberadaan tasnya yang tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Dengan cepat dia turun dari ranjang menuju tasnya. Dia sangat senang saat melihat ternyata ponselnya masih berada di dalamnya.

Yoora menekan kombinasi nomor Donghae yang telah dihafalnya di luar kepala.

“Yeoboseyo?” jawab Donghae tak begitu lama.

“Oppa,” isak Yoora.

“Wae? Kau kenapa?” tanya Donghae terdengar panik.

“Oppa. Seseorang membawaku pergi dan aku tidak…” belum sempat Yoora melanjutkan perkataannya pintu kamar terbuka dan menampakkan pria yang memandangnya penuh pemujaan namun pandangannya langsung berubah marah saat melihat apa yang Yoora lakukan.

“Oppa tolong aku,” ucap Yoora cepat saat ponselnya dirampas dengan paksa dari tangannya.

Prang.

Ponsel Yoora dibanting dengan sangat keras.

“Kau tak seharusnya melakukannya naeui yeongsin. Karena semua itu akan percuma. Pria bodoh itu tak akan tahu dimana keberadaan kita,” ucapnya dengan seringaian yang membuat Yoora terisak pelan penuh ketakutan.

*     *     *

“Oppa tolong aku.”

Donghae terkesiap mendengar ucapan cepat Yoora. “Yoora-ya, kau dimana?” teriaknya berdiri dari duduknya. “Sial,” ucapnya marah saat sadar kalau sambungan telepon telah putus.

Donghae meraih kunci mobilnya dengan kasar menyebabkan beberapa barang di mejanya jatuh berserakan di lantai namun sama sekali tak dipedulikannya.

Donghae mencoba mengecek lokasi Yoora berada dari panggilan masuknya. Dan saat sudah tahu keberadaan Yoora, dia menjalankan mobilnya dengan kencang.

“Aku akan segera datang,” ucap Donghae resah.

Donghae telah tiba di lokasi yang ditujunya. Dia menghentikan mobilnya di luar gerbang rumah yang cukup mewah. Rumah dihadapannya bergaya classic seperti bangunan-bangunan yang ada di eropa namun tak sebesar bangunan di eropa.

Dia telah menghubungi polisi dan polisi memintanya untuk menunggu kedatangannya namun Donghae tak mempedulikan perintah polisi dan berjalan memasukki pelataran rumah mewah dengan sangat pelan dan waspada. Kondisi rumah itu sangat sepi seperti jarang dihuni namun tetap bersih. Setiap langkahnya di atas kirikil menimbulkan bunyi khas kerikil yang diinjak dan itu justru membuatnya tegang.

“Argh~”

Donghae terkesiap mendengar teriakkan Yoora dan bergegas berlari menuju sumber suara.

*     *     *

“Argh~” Yoora merasakan sakit di kepalanya saat rambutnya ditarik paksa.

“Kubilang jangan menangis dan jangan berteriak,” bisik pria yang menarik rambut Yoora mendekatkan bibir di telinga Yoora.

Yoora menggigit bibirnya untuk menekan suara tangisnya.

“Naeui yeongsin, apa kau tahu betapa aku sangat mencintaimu? Aku seakan tak mampu bernafas saat melihatmu bersama pria lain. Saat melihatmu dipeluk pria lain rasanya aku ingin menghajar pria itu dan saat aku melihat pria lain menciummu, aku ingin membunuhnya saat itu juga.”

Yoora hanya diam tak bergerak saat pipinya dibelai lembut.

Brak.

Pintu kamar terbuka dengan sangat keras.

“Oppa,” panggil Yoora lirih.

“Kau,” kaget Donghae melihat pria yang menyeringai kepadanya.

“Hyung. Annyeong,” Minho berdiri dari duduknya menyambut kedatangan tamu tak diundangnya.

“Kau berani-beraninya melakukan ini,” teriak Donghae menghantamkan tinjunya pada Minho yang menyebabkan Minho terhuyung kebelakang dan jatuh.

Minho terkekeh mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya. “Hyung, kau telah merebut gadis milikku.”

“Apa kau bilang? Gadis milikmu? Perlu kutegaskan sekali. DIA GADISKU,” marah Donghae menarik kerah baju Minho memaksanya berdiri dan menghantamkan tinjunya bertubi-tubi pada wajah Minho.

Minho tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap.

Donghae melangkah menghampiri Yoora namun langkahnya terhenti karena tangan Minho yang menahan kakinya.

Minho menarik kaki Donghae dengan kuat dan menyebabkannya berlutut. Saat itulah Minho menarik sebuah kursi dan memukulkannya ke punggung Donghae. “Jangan pernah menyentuh gadisku lagi,” ucap Minho penuh penekanan.

“Oppa,” teriak Yoora dengan air mata berlinang menghampiri Donghae yang tersungkur tak berdaya di lantai.

Minho mencengkeram tangan Yoora dengan kasar menahannya untuk tidak mendekati Donghae.

“KAU PRIA GILA,” teriak Yoora berontak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Minho.

“Aku memang gila. Dan kau lah yang menyebabkanku gila. Hahahaha,” tawa Minho berderai. “Aku mencintaimu.”

“Aku tak pernah mau mencintai pria gila sepertimu,” tolak Yoora. “Sekarang lepaskan aku.”

“Aku tak akan pernah melepaskanmu karena sekarang kau adalah milikku.”

“Aku hanya mencintai Donghae oppa.”

“Kau lihat. Sekarang dia sudah tak berdaya. Ku kira dia akan mati sebentar lagi,” kata Minho memaksa kepala Yoora untuk melihat Donghae.

“Aku hanya mencintainya. Sampai kapanpun hanya akan mencintainya entah dia dalam kondisi apapun. Kujelaskan sekali lagi. Aku hanya MENCINTAINYA.”

Plak.

Minho menampar pipi Yoora. “Jangan pernah katakan hal itu lagi dihadapanku,” desisnya marah.

Yoora menangis karena pipinya terasa sangat perih.

Melihat Yoora yang menangis karena perlakuan kasarnya membuat Minho panik. “Mianhe,” ucapnya memegang kedua pipi Yoora.

Tiba-tiba saja Minho terjatuh. Ternyata Donghae menikamnya dari belakang lalu menarik tangan Yoora mengajaknya keluar.

Minho mencoba berdiri dengan menumpukan kedua tangannya di lantai. Melihat Donghae dan Yoora yang melarikan diri membuat tenaganya kembali dan ikut berlari mengejar mereka dengan sebelumnya mengambil sebuah senjata api dari dalam laci di samping pintu kamar.

Donghae menarik tangan Yoora dan memaksa tubuhnya sendiri untuk berlari walaupun merasa semakin dia mengerahkan tenaganya semakin tubuhnya melemah.

Yoora menoleh ke belakang dan melihat Minho mengarahkan pistol pada Donghae sambil menyeringai. Ternyata Donghae juga mengetahuinya dan menghentikan larinya. Sekarang Donghae dan Yoora sama-sama menghadap kepada Minho. Yoora merasa tubuhnya lemas dan ingin jatuh saat itu juga tapi Donghae mempererat genggaman tangannya pada tangan Yoora.

“Jika aku tak dapat memiliki gadisku, berarti tak seorangpun juga yang boleh memilikinya,” ucap Minho mengarahkan pistolnya tepat ke dada Yoora masih dengan seringaian di bibirnya.

Dor.

Kini Yoora benar-benar tak mampu lagi menahan berat tubuhnya dan menyebabkan badannya merosot ke lantai.

*     *     *

Donghae memandangi gadis dihadapannya dengan tangan yang tanpa henti mengelus kepala gadis itu.

“Yoora-ya?” panggil Donghae saat melihat Yoora perlahan-lahan membuka matanya.

“Apa sekarang aku di surga? Bahkan aku bisa melihat malaikat yang sangat mirip dengan Donghae oppa,” gumam Yoora memperhatikan Donghae dengan seksama.

Donghae mendekap Yoora dalam pelukannya mendengar perkataan Yoora.

“Oppa?” panggil Yoora berbisik.

“Aku disini,” jawab Donghae masih memeluk Yoora.

“Apa aku masih hidup?”

“Tentu saja kau masih hidup.”

“Jinjja?”

“Tentu saja karena kau masih bisa melihat tuan Lee Donghae yang tampan ini.”

“Cih!” Yoora mendorong tubuh Donghae.

Donghae menunjukkan senyum menggoda khasnya pada Yoora.

“Apa semua baik-baik saja?” tanya Yoora tak mampu menyembunyikan nada khawatir dari suaranya.

Donghae mengangguk. “Ya, semua baik-baik saja. Dan akan tetap baik.”

Yoora menatap Donghae bingung.

“Saat Minho hendak menembakmu polisi datang dan melumpuhkannya terlebih dahulu. Kau tak perlu takut lagi sekarang.”

*     *     *

~epilog~

Pria itu berjalan mendekati bibir atap. Dia menggunakan matanya untuk memandang dunia untuk terakhir kalinya.

“Dari sini semua tampak indah,” ucapnya merentangkan kedua tangannya lalu dengan perlahan memejamkan matanya siap untuk terbang menyambut kematian yang berada dihadapannya.

-END-


a/n:

Annyeong haseyo chingudeul *bow*

semoga ending ff ini tidak mengecewakan 😀

adakah yang sudah menebak kalo Minho yang jadi secret admirernya Yoora?? pada udah bisa nebak yaaa??

sampai jumpa di ff-ff selanjutnya *lambai2 tangan bareng Kyu*

mohon apresiasinya~

ps : Naeui Yeongsin = My Goddess

Advertisements