Steal Your Idol’s Love [Chapter I]

by monamuliaa

Steal Your Idol's Love

Chapter ║ Friendship, Comedy

Super Junior ║ Im Morin (OC)

 

.

 

..Hansung High School..

“OMG. Mereka tampan sekali. Layaknya pangeran-pangeran dari negeri dongeng. Huuuuaaaaa, aku ingin memilikinya,” teriak seorang gadis dari arah belakang yang sedang mengerumuni sebuah majalah bersama teman-temannya.

“Lihat! Lihat senyumnya! Rasanya aku rela mati ditangannya,” tambah yang lainnya.

“Dan kau lihat lesung pipitnya? Itu sungguh menggemasakan,” kata yang lainnya juga.

“Kau lihat matanya? Caranya menatap seperti menusukkan pedang ke jantungku.”

“Dan liat badannya!” pekik yang lainnya.

“Seksiiiiiiiii,” teriak mereka bersamaan.

“Ya! Diamlah kalian. Kalian sungguh berisik,” teriak seorang gadis lain menoleh kebelakang dengan wajah layaknya hendak menerkam.

Beberapa gadis yang mengerumuni majalah tadi hanya menunduk dan berbisik-bisik.

“Kau membangunkan singa yang sedang tidur,” omel salah satu di antara mereka.

“Dia bahkan lebih kejam daripada singa. Dia itu iblis yang baru keluar dari neraka,” timpal yang lainnya sambil berbisik.

“Aish! Sungguh menyebalkan,” kata gadis yang mereka sebut iblis menoleh kembali ke depan.

Dia adalah Im Morin, gadis yang terkenal sangat gampang marah, keras kepala dan sedikit bandel. Sifatnya ini bukan hanya terkenal di kelasnya tapi hampir seluruh penghuni sekolah tahu sifat jelek gadis ini.

Sedangkan gadis-gadis yang mengerumuni majalah tadi adalah Lee Yu ah, Go Hyena, Park So Ra, Na Sang Shil dan Song Hara. Mereka berlima adalah sekelumit dari pecinta boygrup yang terkenal sebagai super Hallyu, Super Junior. Mereka adalah boygrup yang sangat terkenal bukan hanya di Korea tapi juga di Asia bahkan di Eropa. Sepertinya tak perlu dijelaskan panjang lebar tentang mereka karena aku yakin kalian telah mengenal mereka, atau bahkan kalian tergabung dalam asosiasi pecinta Super Junior atau yang lebih dikenal dengan sebutan ELF. Oh sudahlah mari kita kembali ke cerita.

“Kau selalu marah pada mereka,” ucap Caena pada Morin.

Kim Caena adalah sahabat Morin. Caena punya sifat yang berbanding terbalik dengan Morin. Morin pemarah sedangkan Caena penyabar. Caena sangat pandai dalam pelajaran berhitung tak seperti Morin yang memiliki otak pas-pasan kalau sudah berhubungan dengan pelajaran berhitung. Bagi Caena hidup lurus, mengikuti aturan yang berlaku dan tak pernah menyimpang adalah prinsip hidupnya tapi bagi Morin itu sangat membosankan jika harus menaati setiap peraturan. Bagi Morin sedikit menyimpang dari peraturan lebih menantang karena hidup harus penuh tantangan. Caena sangat mengidolakan Super Junior sedangkan Morin sangat mengidolakan SHINee. Mereka berdua sering bertengkar mengunggulkan idola masing-masing. Namun walaupun begitu mereka sama-sama mengidolakan member dari boygrup lain, layaknya fangirl pada umumnya. Dan anehnya mereka tak pernah sekalipun bertengkar jika mengenai boygrup selain Super Junior dan SHINee.

“Karena mereka menyebalkan. Berteriak-teriak histeris. Dan itu sungguh menggelikan,” keluh Morin tetap fokus pada komik yang dibacanya.

“Kau pikir kau tidak menggelikan? Lihat kelakuanmu hanya duduk sambil membaca komik,” gumam Caena pelan.

Morin mendengar kata-kata Caena dan menatap sengit ke arahnya.

“Ups, sebaiknya aku pergi,” ucap Caena beranjak pergi tak mau ribut-ribut dengan sahabatnya yang pemarah itu.

*****

Seperti biasa begitu bel sekolah berbunyi yang menandakan berakhirnya pelajaran. Morin langsung menuju toilet untuk mengganti rok sekolahnya dengan celana olahraga. Sebenarnya dia sangat tidak nyaman memakai rok, tetapi gurunya akan langsung mengusirnya dari kelas jika melihat siswanya memakai celana olahraga bahkan sebelum kau menyelesaikan tarikan nafasmu. Selesai berganti celana dan memakai jaketnya, Morin berjalan pulang sambil memasang earphone lalu memasukkan tangan ke saku jaket.

“Aish! Kenapa dimana-mana selalu ada mereka,” kesal Morin memandang baner jumbo Super Junior di tepi jalan. “Apa mereka sepopuler itu? Tak dapat dipercaya,” omel Morin masih memandang baner itu.

Morin membeli minuman kaleng dan duduk di depan toko memandang baner Super Junior lagi. Sepertinya dia akan melakukan pembicaraan satu arah dengan mereka.

“Apa yang mereka suka dari kalian?” tanya Morin memulai pembicaraan. “Suara kalian? Penyanyi selalu memiliki suara yang bagus. Atau karena ketampanan kalian? Hampir semua boygrup di Korea tampan. Jadi apa yang mereka sukai dari kalian?” tanya Morin masih penasaran. Padahal Morin tahu mereka tak akan pernah menjawab karena hanya sebuah gambar. Morin meneguk minumannya sambil melirik baner Super Junior. Siapa tahu tiba-tiba mereka menjawab pertanyaannya.

“Aish! Ini sungguh membuang waktu. Untuk apa aku bertanya pada sebuah gambar,” sesal Morin pada diri sendiri lalu meneguk minumannya sampai habis. “Kalian pikir kalian hebat hah?” teriak Morin melemparkan bekas kaleng minumannya ke arah baner Super Junior tapi tidak tepat sasaran.

“Kalian mengejekku?” seru Morin pada baner yang tersenyum. Padahal sejak awal baner itu memang sudah menunjukkan gambar Super Junior yang tersenyum.

“Kalian menantangku? Lain kali aku akan tepat sasaran. Kalian tunggu saja aku datang lagi,” ucap Morin.

“Ya! Kau!” panggil seorang petugas polisi pada Morin sambil menunjuk kaleng bekas yang dilemparnya tadi.

Morin memandang kaleng bekas lalu polisi berulang kali barulah dia sadar telah membuang sampah sembarangan.

Lari!!!

Morin berlari sepanjang trotoar dengan dikejar seorang polisi yang sedang patroli, sesekali Morin menoleh ke belakang dan melihat polisi yang masih mengejarnya berteriak-teriak menyuruhnya berhenti namun Morin mengacuhkannya dan justru ikut berteriak histeris sambil berlari kencang seperti kesurupan sekaligus dikejar anjing gila. Biasanya setiap pelajaran olahraga dia tidak pernah berlari sekencang ini. Namun kali ini dia berlari mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya.

“Jangan kejar aku lagi,” teriak Morin.

Tapi polisi itu tetap mengejar Morin dengan semangat.

“Kubilang jangan mengejarku tapi dia tetap mengejarku,” ucap Morin sebal karena kelelahan sambil menoleh ke belakang setelah cukup lama berlari.

Morin langsung ikut menyeberang jalan bersama yang lainnya tepat sebelum lampu pejalan kaki berubah warna menjadi merah.

Morin berhenti berlari dan menoleh ke belakang sambil tersenyum penuh kemenangan. Polisi yang mengejarnya masih terjebak di sisi jalan yang lain sambil menunjuk-nunjuk Morin mungkin menyuruhnya diam di tempat.

Morin memeletkan lidahnya ke arah polisi itu sambil melambai-lambaikan tangannya lalu berlari-lari kecil menjauh dari tempat itu sebelum polisi yang mengejarnya menyeberang jalan dan akan menangkapnya.

Setelah merasa cukup jauh berlari, dia berhenti berlari. Nafasnya saling memburu dan jantungnya memompa darah lebih cepat dari pada biasanya. Morin menumpukan tubuh pada pintu mobil yang tengah terparkir di dekatnya, berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya. Menunduk memandang kakinya yang lemas kemudian mulai tersenyum-senyum geli mengingat kelakuannya tadi.

“Sungguh hari yang melelahkan,” ucap Morin bersamaan dengan seorang pria.

Morin mengangkat kepala dan melihat seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Keterkejutan tampak jelas di wajahnya yang menatap Morin. Morin menunjukkan wajah bingung saat pria itu menatapnya. Dan anehnya pria itu juga ikut menatapnya dengan pandangan bingung lalu melirik mobilnya.

“Oh,” Morin baru ingat sesuatu lalu menegakkan tubuhnya. “Mianheyo,” ucapnya membungkuk sopan lalu berjalan menjauh dengan langkah riang.

Pria itu memandang kepergian Morin dengan pandangan masih heran. “Dia tak mengenaliku?”

*****

..Caena’s Home..

Morin masuk kamar Caena lalu meletakkan tas punggungnya di ranjang Caena. Morin duduk di ranjang memperhatikan poster-poster Super Junior yang terpampang hampir di seluruh dinding di kamar Caena. Di sebuah lemari khusus berwarna biru dengan pintu terbuat dari kaca bertumpuk-tumpuk majalah dengan cover Super Junior. Disampingnya di sebuah rak yang juga berwarna biru berderet-deret DVD Super Junior mulai dari album, konser Super Show hingga rekaman variety show yang belum sempat ditontonnya. Sebenarnya Caena tak pernah sekalipun absen menonton variety show Super Junior tapi tiap kali ditanya dia selalu menjawab itu bagian yang aku ketinggalan. Morin sangat sering menginap di rumah Caena begitupun sebaliknya namun masih saja dia kagum dengan semua koleksi Caena.

“Ya! Kau berniat jahat tehadap semua koleksiku?” tanya Caena yang tiba-tiba muncul membawa 2 mangkuk ramyeon.

“Tak pernah sedikitpun terlintas di benakku,” ucap Morin menghampiri meja belajar Caena yang dipenuhi kertas-kertas berserakan. “Apa ini?” tanya Morin penasaran lalu mengambil salah satu kertas tapi langsung direbut Caena dan memasukannya ke laci.

“Bukan apa-apa,” jawab Caena tersenyum pada Morin.

“Kau berencana melakukan tindak kejahatan?” tanya Morin penasaran.

“Anio,” jawab Caena.

“Kau berniat ingin meledakkan salah satu pusat perbelanjaan di Seoul?” tanya Morin lagi.

Caena kesal dan menjitak kepala Morin. “Aku tak sekriminal itu.”

Morin masih menatap Caena berusaha mencari celah kebohongan tapi tak menemukannya, dia memang kurang pandai dalam hal seperti ini.

“Ayo kita makan,” ajak Morin mengambil mangkuk berisi ramyeon lalu duduk di lantai bersandar pada ranjang.

Caena menghela nafas lega tanpa sepengetahuan Morin lalu ikut duduk di lantai di samping Morin dan memulai makan ramyeonnya.

“Kau tak berniat membuang poster-poster lamamu itu?” tanya Morin.

Caena langsung menoleh pada Morin dengan mulut penuh ramyeon. “Jika aku menemukan salah satu koleksiku hilang berarti kau yang mencurinya dariku.”

Morin menjitak kepala Caena. “Aku tak mungkin melakukannya.”

“Caena-yah, kenapa kau mengidolakan Super Junior?” tanya Morin tiba-tiba setelah menelan ramyeonnya yang berhasil membuat Caena ternganga heran.

Caena memandang Morin masih tak percaya. Kenapa tiba-tiba sahabatnya ini memancing pembicaraan tentang Super Junior dan tidak terlihat kesal seperti biasanya. Mungkin hari ini jin baik hati tengah merasukinya.

“Karena banyak hal. Tapi yang pasti karena mereka memiliki daya tarik magis,” jawab Caena sekenanya dan mulai menyumpit ramyeonnya lagi.

“Mwo? Daya tarik magis?” kaget Morin hampir tersedak ramyeon.

“Itu hanya perumpamaan,” jawab Caena geli mendengar keterkejutan Morin yang berlebihan.

“Benar-benar tidak lucu. Aish! Sudahlah tak perlu membicarakan hal ini,” omel Morin sudah kembali ke Morin yang asli.

Caena hanya menunduk menghabiskan ramyeonnya karena merasa jiwanya mulai terancam jika membicarakan Super Junior lagi.

*****

..Hansung High School..

Caena berjalan dengan gugup menuju kelasnya. Tangannya berkeringat dingin dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hari ini sudah hari ketujuh semenjak dia mengirimkan formulir keikut sertaannya dan Morin. Dan sepertinya hari ini akan di ambil keputusannya. Sebelum masuk kelas dia mengintip Morin yang tengah tertawa terpingkal-pingkal sambil membaca komik. Caena memasuki kelas tanpa memandang Morin.

“Caena-yah,” panggil Morin tiba-tiba yang membuat Caena terlonjak kaget.

“Wae?” tanya Caena panik.

“Kau lupa dimana tempat dudukmu?” tanya Morin saat melihat Caena berjalan melewatinya padahal biasanya Caena duduk di bangku di depannya.

“Aku lupa,” jawab Caena lega lalu duduk di bangkunya di depan Morin.

Morin hanya memandang bagian belakang kepala Caena sambil geleng-geleng lalu melanjutkan membaca komik lagi, sebelum bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi.

Semuanya masih berjalan normal seperti biasanya, pelajaran berlangsung seperti biasanya. Saat istirahat Morin membaca komik sambil memakan wortel yang dibawanya dari rumah. Siswa-siswa lain asyik dengan obrolan mereka. itu semua masih bisa membuat Caena bernafas lega. Tapi tidak untuk saat jam pelajaran terakhir karena semua cerita berawal dari sekarang.

“Hari ini Kang-songsaenim tidak mengajar karena sakit. Jadi kalian diberi tugas mengerjakan soal yang ada di buku paket halaman 130. Dan dikumpulkan,” jelas guru paket memasuki kelas Morin.

Semua mulai sibuk mengerjakan tugas kecuali Morin karena dia justru membaca komik dangan santainya.

“Ayo kita kerjakan bersama?” ajak Caena menghadap ke Morin yang duduk dibelakangnya.

“Aku sudah mengerjakannya,” jawab Morin datar tanpa berhenti membaca.

“Secepat itu?”

“Ne.”

“Aku tak percaya,” kata Caena mengambil buku di hadapan Morin dan menelitinya.

Lengkap 10 soal dan tak satupun terlewatkan. “Kau sudah mengerjakannya dari rumah?” tuduh Caena.

“Ne.”

“Kau curang.”

“Justru itu karena aku rajin,” kesal Morin berhenti membaca dan menatap Caena yang mengganggu konsentrasinya.

“Ups. Aku akan diam dan mengerjakan soalnya,” ucap Caena kembali ke posisi awalnya saat melihat mulai muncul dua tanduk di kepala Morin.

Morin kembali membaca komik dan hanyut dalam setiap kata yang dibacanya, hingga tak terasa 1 jam telah berlalu.

Drrrttt. . Drrrttt. .

Tiba-tiba Morin dikejutkan oleh getar ponselnya di atas meja.

“Aish! Sungguh mengganggu,” omel Morin mengambil ponselnya dan membuka flipnya lalu menempelkannya di telinga.

“Yeoboseyo?” jawab Morin

“Yeoboseyo. Apa benar ini Im Morin-ssi?” tanya suara diseberang.

Morin mengerutkan dahi bingung saat penelpon mengetahui namanya. “Ne. Nuguseyo?” tanya Morin setelah mengecek layar ponselnya hanya ada barisan nomor yang tak tersimpan.

“Saya perwakilan dari MBC ingin memberitahukan bahwa anda terpilih untuk mengikuti variety show terbaru kami. Steal Your Idol’s Love.”

“Mwo? Steal Your Idol’s Love?” pekik Morin terkejut.

Deg!

Caena langsung menghentikan menulis huruf terakhir jawabannya di kertas dihadapannya. Dia menelan ludah dangan takut. Padahal dia tak pernah menyangka Morin akan terpilih, tapi kini perbuatannya akan menimbulkan akibat yang fatal. Caena mulai membayangkan hal-hal buruk yang akan dilakukan Morin kepadanya begitu mengetahui Caenalah yang mengirim formulir pendaftaran atas namanya. Apalagi ditambah bintang tamu di variety show itu adalah Super Junior. Caena bergidik ngeri dan buru-buru mengenyahkan bayangan-bayangan aneh seperti Morin yang mencekiknya dari pikirannya dan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.

“Ne. Annyeong,” Morin mengakhiri pembicaraannya di telepon lalu menutup flip ponselnya dengan cukup keras yang membuat Caena merinding.

“Aku terpilih untuk mengikuti sebuah variety show. Padahal aku tak pernah mendaftar,” ucap Morin sinis sambil melipat tangan di dada dan melihat bagian belakang tubuh Caena yang terlihat bergerak-gerak memasukkan buku ke dalam tas. “Jadi siapa yang melakukannya?” tanya Morin dengan dua tanduk kecil mulai tumbuh di kepalanya.

“Kyaaaaaa,” teriak Caena berdiri dan berlari pulang sambil menenteng tasnya

“Kim Caena. Kau mau mati?” teriak Morin mengambil tasnya dan berlari mengejar Caena.

Teman-teman sekelas mereka menatap kepergian Caena dengan tatapan iba dan mulai berdoa demi keselamatan Caena.

“Kim Caena, aku akan membunuhmu,” teriak Morin sambil meremas-remas jari-jari tangannya dan berlari mengejar Caena.

“Morin-ah. Kau tega melakukannya?” ucap Caena terdengar memelas dan semakin mempercepat larinya.

“Akan kuseret kau ke neraka!” teriak Morin bengis yang membuat bulu kuduk Caena meremang hebat.

Setiap orang yang lewat menoleh kepada Morin dan Caena dengan wajah ingin tahu.

“Maafkan aku. Lain kali tak akan aku ulangi lagi hal seperti ini.”

“Kau pikir ada lain kali hah?” tanya Morin masih dengan emosi.

“Semoga ada lain kali. Tapi sekarang ampuni aku, ne?”

“Tak akan ku ampuni.”

“Aku tak akan membantumu lagi saat ulangan,” ancam Caena mengeluarkan senjata mematikannya.

Morin berhenti berlari.

Caena menoleh dan ikut berhenti saat tahu Morin tak lagi mengejarnya.

“Aish! Aku selalu kalah dengan hal itu,” ucap Morin sebal.

Caena tersenyum pada Morin dengan penuh kemenangan sedangkan Morin menatap Caena dengan sangat sebal.

*****

..Suju’s Dorm, 11th Floor..

“Hmm. Kira-kira bagaimana orangnya?” tanya Yesung lebih pada dirinya sendiri.

Sekarang penghuni dorm 11 sedang berkumpul di depan televisi minus Kyuhyun.

“Dia pasti imut dan cantik,” tebak Eunhyuk sambil senyum-senyum.

“Mungkin juga polos,” tambah Ryeowook.

“Usianya masih labil. Bukankah dia masih terlalu muda untuk ikut acara ini?” tanya Sungmin.

“Tapi dia lebih baik daripada siswa SMP atau wanita karir usia diatas empat puluh tahun yang belum menikah,” jawab Ryeowook ngeri jika harus bersama dengan seorang gadis SMP yang akan mengikutinya kemanapun dia pergi sambil menggigit-gigit kuku.

“Tapi lebih baik mahasiswa semester akhir,” saran Yesung.

“Memang kau pikir akan menyerahkan cintamu padanya?” tanya Eunhyuk.

“Kalo dia menarik, kenapa tidak?” celoteh Yesung diiringi senyuman.

“Steal Your Idol’s Love mungkin bisa dijadikan ajang pencarian jodoh,” celetuk Ryeowook dengan polosnya.

Semua memandang Ryeowook dengan heran lalu mengabaikan kata-katanya.

“Ini sepertinya seru. Berinteraksi lebih dekat dengan seorang ELF,” kata Sungmin.

“Ne,” jawab yang lainnya serempak.

*****

..Suju’s Dorm 11th Floor..

Hari ini akan diadakan pengambilan gambar SYIL untuk pertama kalinya namun MBC tak memberi tahu Morin karena akan dijadikan sebuah kejutan. Sekarang kameramen yang bertugas menjemput Super Junior telah berada di dorm mereka.

“Annyeong haseyo,” sapa Yesung membungkuk kepada kamera yang menyorotnya lalu mempersilahkan kamera masuk lebih dalam ke dorm untuk menemui yang lainnya. “Semua ada disini.”

“Annyeong haseyo,” sapa yang lainnya membungkuk ke arah kamera.

“Kalian siap?” tanya Yesung pada yang lainnya.

“Ne,” jawab mereka kompak

“Lihatlah mereka terlihat sangat bersemangat,” kata Yesung lagi.

“Kami akan bertemu dengan gadis yang akan mencuri cinta kami,” canda Leeteuk.

“Yesung hyung sudah bersiap menyerahkan cintanya pada gadis itu,” ledek Eunhyuk.

“Kau tak bisa menjaga rahasia,” kesal Yesung.

Gelak tawapun meledak. Lalu mereka semua berjalan menuju basemant parkir mobil. Sebuah van khusus dari SYIL akan membawa mereka ke sekolah dimana Morin tercatat sebagai salah satu siswanya. Di dalam van telah dipasang 2 buah kamera untuk memonitor mereka selama perjalananan.

“Semoga dia secantik Moon Geun Young,” ucap Yesung pada sebuah kamera saat memasuki van.

“Sekalian saja kau minta Moon Geun Young,” kata Kyuhyun.

“Dia selalu meminta di setiap doanya,” ucap Sungmin.

“Bahkan dia juga sering memimpikannya dalam tidur,” ucap Ryeowook.

Kali ini yesung yang menjadi bahan godaan semua member dan yesung hanya diam tak tahu harus menjawab apa.

*****

..Hansung High School..

Di pelataran sekolah, kru SYIL telah berkumpul.

“Sepi,” ucap Siwon saat turun dari dalam van sambil mengedarkan pandangan ke setiap penjuru sekolah.

“Tentu saja sepi. Kau pikir ini pasar yang harus selalu ramai,” jawab Shindong geleng-geleng mendengar perkataan Siwon.

“Pelajaran baru saja dimulai beberapa menit yang lalu,” ucap PD SYIL menghampiri Suju.

“Senang bertemu dengan anda,” ucap Leeteuk membungkuk tanda hormat yang diikuti member yang lain.

“Ne, aku juga. Kalian sudah siap hari ini?”

“Ne.”

“Baiklah, aku akan menjelaskan misi kalian hari ini. Kalian diberi misi untuk mencari gadis bernama Im Morin yang terpilih dalam acara ini. Kalian akan dibagi menjadi tiga tim untuk menemukannya. Tim pertama tediri dari Leeteuk, Eunhyuk, Shindong. Tim kedua terdiri dari Yesung, Ryeowook, Sungmin. Dan tim terakhir Siwon, Kyuhyun, Donghae, dan Heechul.”

“Bagaimana kami menemukannya? Bahkan melihat orangnya pun kami belum pernah,” tanya Leeteuk.

“Kalian akan melihat fotonya,” jawab PD sambil meyerahkan satu foto kepada masing-masing tim. “Analisa fotonya. Kalian harus menghafal wajahnya karena kalian tidak akan membawa fotonya saat melakukan pencarian nanti. Daya ingat kalian sangat dibutuhkan dalam pencarian ini. Dan satu lagi kalian tak diperbolehkan bertanya nama.”

“Dia tampak manis, aku mudah menghafal yang manis-manis,” canda Donghae diikuti tawa yang lainnya.

“Kau pasti juga akan mudah menemukannya. Setelah kalian menghafal wajah dalam foto kalian akan langsung melakukan pencarian. Sebelum bel tanda istirahat berbunyi kalian sudah harus berkumpul disini lagi.”

“Ne.”

“Masing-masing tim akan diikuti sebuah kamera. Bawalah kemari calon penjahat cinta kalian,” ucap PD tersenyum lebar.

Masing-masing tim berjalan menuju gedung sekolah dengan sebuah kamera mengikuti mereka.

Tim 1 :

“Kemana kita akan memulai pencarian?” tanya Eunhyuk.

“Kantin,” jawab Shindong.

“Di otakmu hanya ada makanan,” tuduh Leeteuk.

“Apa sebaiknya kita langsung masuk ke dalam kelas dan menarik salah satu siswa?” tanya Eunhyuk.

“Kurasa lebih baik kita amati dulu,” jawab Leeteuk berhenti di luar sebuah kelas dan mengintip ke dalam ruang kelas.

“Kau menemukannya?” tanya Shindong bersandar di dinding.

“Kenapa kau tak coba ikut melihat,” tanya Eunhyuk.

Tim 2 :

“Aku sudah lupa bagaimana rupa gadis tadi,” kata Yesung berusaha mengingat-ingat rupa gadis tadi yang ada di dalam foto.

“Kita baru saja melihatnya,” kata Ryeowook tak percaya.

“Otaknya dipenuhi dengan Moon Geun Young,” jawab Sungmin.

“Oh tunggu. Gadis itu tampak seperti Im Morin,” tunjuk Ryeowook.

“Kau yakin?” tanya Yesung.

“Bagaimana denganmu hyung?” balik tanya Ryeowook ke Sungmin.

“Aku juga sudah lupa,” jawab Sungmin.

Mereka bertiga mengamati seorang gadis yang baru keluar dari kamar mandi.

Tim 3 :

“Ayo kita menebak-nebak keberadaan gadis itu,” ajak Heechul.

“Di kelas,” jawab Kyuhyun pasti.

“Tentu saja di kelas, tapi di kelas apa?” tanya Donghae.

“Tiga-tiga,” jawab Kyuhyun dan Siwon bersamaan.

“Kenapa tebakan kalian bisa sama?” tanya Heechul.

“Entahlah, tiba-tiba itu muncul begitu saja,” jawab Siwon yang diikuti anggukan setuju dari Kyuhyun.

“Baiklah kita akan menuju kelas itu,” ucap Heechul.

*****

Di dalam kelasnya Morin tengah mengikuti pelajaran matematika yang sangat membosankan. Ingin rasanya Morin melanjutkan membaca komik, tapi itu tidak mungkin karena guru matematikanya akan menghukumnya tak boleh mengikuti pelajaran matematika.

“Sstt, sstt. . Morin-ah,” panggil Caena disela-sela suara guru matematika yang menjelaskan tentang limit.

“Wae?” balas bisik Morin sedikit mendekat ke kepala Caena yang duduk di depannya.

“Hari ini pihak MBC tak menghubungimu?” bisik Caena sambil pura-pura menggosok hidung tiap kali guru matematika menatap penuh selidik ke arahnya.

“Anio.”

“Kau yakin? Padahal kabarnya hari ini syuting perdananya. Mungkin nanti kau akan dihubungi. Aku sudah tidak sabar,” bisik Caena bersemangat.

“Entahlah.”

“Kau harus mengikuti acara itu. Kumohon,” ucap Caena takut Morin menolak mengikuti acara itu dan mengundurkan diri.

“Entahlah.”

“Kau harus mengikutinya. Titik.”

Jedar!

Penghapus papan tulis jatuh tepat di meja Caena dan menyentuh sedikit ujung rambutnya.

Caena dan Morin diam mematung menatap ke guru matematika mereka.

“Kalian berdua. Kerjakan soal di papan tulis,” perintah guru matematika dengan pandangan marah.

“Ups,” gumam Caena menutup mulut.

“Ini gara-gara kau,” desis Morin pada Caena lalu berjalan ke depan dengan malas yang diikuti Caena. Morin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat melihat berderet-deret angka di papan tulis. Bingung mau mulai darimana. Morin akan sangat berterimaksih kepada siapapun yang mau menyelamatkannya dari penderitaan tak ada akhir ini.

*****

Teriakan membahana dari beberapa kelas yang dimasuki Super Junior dan menjalar ke kelas yang lainnya. Super Junior hanya melambaikan tangan kepada mereka semua dan tersenyum ramah. Mereka terlihat seperti hendak melarikan diri dari dalam kelas yang membosankan, namun guru-guru mereka menahan mereka untuk keluar kelas dan itu membuat semua siswa merengut marah kepada guru-guru mereka. Jadi mereka hanya menempel di pinggir jendela dengan meratapi nasib kenapa guru-guru mereka sangat kolot.

Sekarang semua tim pencari telah berkumpul di halaman sekolah. Mereka membawa masing-masing satu gadis bersama mereka.

PD tersenyum lalu memandang foto yang dipegangnya. “Kalian yakin dengan gadis yang kalian bawa?”

“Entahlah kami sudah lupa dengan rupa gadis itu lagi pula kami tidak di ijinkan bertanya nama,” jawab Yesung melirik gadis yang ada di sampingnya.

“Dia tampak manis. Sepertinya dia benar-benar Im Morin,” ucap Donghae memandang gadis yang ada di sampingnya.

PD tersenyum. “Untuk nona bertiga kami minta maaf sepertinya mereka salah membawa orang,” ucap PD yang diikuti bungkukan minta maaf dari Super Junior.

Namun ketiga siswa yang dibawa Super Junior tak mau pergi dari tempatnya berdiri. Akhirnya mereka pun berfoto lalu barulah ketiga siswa itu mau pergi meninggalkan Super Junior walau dengan enggan.

“Karena kalian tak berhasil membawanya terpaksa kami yang memanggil gadis itu.”

PD menoleh ke belakang dan mengatakan sesuatu kepada salah satu krunya yang langsung berjalan menuju sekolah. Mungkin dia diperintahkan untuk memanggil gadis yang bernama Im Morin.

“Annyeong haseyo,” sapa Morin membungkuk sopan kepada semua kru dan juga Super Junior beberapa menit kemudian.

Super Junior menoleh kepada Morin. Kini mereka tengah mengamati Morin.

Morin hanya garuk-garuk belakang kepala saat dipandang seperti itu. Karena belum pernah dia menjadi pusat perhatian seperti ini.

Super Junior memandang Morin dengan bingung, mungkin saat ini pikiran mereka sama. Tak ada teriakan histeris?

*****

..Suju’s Dorm 11th Floor..

Morin berdiri di depan Super Junior dengan wajah innocentnya sambil sesekali mengembungkan pipinya.

“Kau menggemaskan sekali,” seru Heechul berlari ke arah Morin dan mencubit pipi cubbynya.

Morin terlonjak ke belakang saking kagetnya.

“Kau membuatnya takut,” kata Leeteuk.

Heechul mundur kembali ke posisi awalnya sambil senyum-senyum memandang Morin.

Morin masih berdiri dengan bingung dan bisa di bilang canggung. Dulu dia pernah bertanya  banyak hal pada sebuah baner di pinggir jalan. Sekarang giliran dia bisa bertemu langsung dengan mereka tapi dia tidak tahu harus berkata atau bertanya apa. Dulu biasanya dia akan bertengkar dengan Caena untuk membela idola masing-masing namun sekarang dia justru dihadapkan kepada sebuah boygrup yang selalu menjadi sasaran pertengkarannya dengan Caena.

“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Donghae.

“Hmm, kalo boleh jujur aku bukan ELF,” kata Morin mengakui.

“Jinjja?” kaget semuanya tak percaya.

“Ne,” jawab Morin senyum-senyum tak jelas.

Drrrttt..Drrrttt..

Ponsel Morin bergetar di dalam tas. Morin meletakkan tas punggungnya di lantai lalu mulai mengaduk-aduk tasnya mencari ponsel yang bergetar. Morin mulai mengeluarkan isi tasnya mulai dari buku-buku pelajaran, berset-set komik, kamus bahasa inggris, kotak pensil, kotak bekal dan barulah dia mendapatkan ponselnya. Morin menatap PD yang mengangguk, itu berarti Morin diijinkan menjawab telepon dengan kamera masih menyala. Morin membuka flip ponselnya dan menempelkan di telinganya.

“Yeoboseyo?” jawab Morin.

“Morin-ah,” teriak Caena semangat yang membuat Morin menjauhkan ponselnya dari telinga.

“Ya! Kau cari mati? Jangan teriak-teriak di telepon. Kau mau merusak gendang telingaku?” balas teriak Morin.

Semua member terkejut mendengar ucapan Morin dan menatapnya lalu memandang Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun menahan diri untuk tidak tertawa.

“Hehehe, mianhe. Aku iri padamu. Sekarang kau tengah bersama mereka? Bagaimana mereka? Bukankah mereka tampan-tampan?”

“Seperti yang selalu aku lihat dalam kamarmu,” jawab Morin. Maksud Morin sama seperti poster yang menempel di dinding kamar Caena.

“Malam ini aku akan menginap di rumahmu. Aku ingin mendengar semuanya langsung darimu.”

“Terserah kau saja.”

“Apa ini?” pekik Kyuhyun membuka kotak bekal Morin.

Morin menutup flip ponselnya lalu  melirik Kyuhyun. “Kau benar-benar tak tau itu?” tanya Morin mulai memasukkan barang-barangnya lagi.

“Dia tak pernah tahu sayuran,” jawab Sungmin.

Morin menghentikkan kegiatannya dan memandang Kyuhyun. “Itu wortel. Kau tau? Wortel.”

“Di otaknya hanya ada game,” kata Siwon geleng-geleng melihat Kyuhyun yang terlihat jijik dengan yang namanya wortel.

“Jangan memandangnya seperti itu,” kata Morin merebut kotak bekal dari tangan Kyuhyun.

“Kau memakannya? Mentah-mentah?” tanya Kyuhyun.

“Tentu saja,” jawab Morin mengambil satu wortel lalu menggigitnya dan menunjukkannya pada Kyuhyun dengan kesal.

“Dia tampak seperti kelinci,” gumam Kyuhyun pelan dan geli.

“Boleh aku tahu nama kalian satu persatu? Aku benar-benar belum mengenal kalian,” tanya Morin tanpa dosa dan duduk di lantai memandang ke sepuluh member.

“Karena ini sesi pengenalan apa salahnya saling berkenalan nama,” ucap Leetuk lalu meperkenalkan dirinya sendiri kemudian diikuti oleh member yang lainnya.

Morin melirik sesuatu benda yang mungil di sebuah wadah di sudut ruangan.

“Apa itu?” tanya Morin penasaran.

Super Junior mengikuti arah pandangan Morin.

“Ah.”

Yesung lalu berjalan mengambilnya dan membawanya mendekat kemudian menunjukkannya pada Morin.

“Kura-kura?” tanya Morin.

Yesung mengangguk. “Seperti yang kau lihat. Namanya Ddangkoma dan Ddangkoming.”

“Ini piaraanmu?”

Yesung mengangguk semangat.

“Kenapa memilih kura-kura? Kenapa bukan anjing atau kucing?”

“Karena kura-kura tak perlu makan daging, tak perlu minum susu dan tak perlu pergi ke salon. Jadi aku tak perlu repot.”

“Apa kau tak punya cukup uang untuk membeli semua itu makanya kau putuskan memelihara kura-kura?” tanya Morin dengan polosnya.

Kyuhyun, Sungmin dan Donghae tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan Morin. Begitupun yang lainnya.

“Ya! Aku seorang penyanyi terkenal. Seorang penyanyi terkenal dan sibuk sepertiku tak punya banyak waktu untuk memanjakan piaraanku,” jawab Yesung dengan percaya dirinya.

“Kau artis terkenal? Tapi kulihat akhir-akhir ini kau banyak bermalas-malasan di dorm. Kau sedang tak ada kerjaan?” ejek Heechul.

“Diamlah kau hyung.”

Semua member tertawa mendengar reaksi Yesung dari ejekkan Heechul.

“Oh ya. Kau tahu di beberapa negara kura-kura diolah menjadi masakan lezat?” tanya Morin yang kini tengah bermain-main dengan Ddangkoma.

“Mwo?” pekik Yesung.

“Benarkah itu?” tanya Ryeowook.

“Apa rasanya enak?” tambah Shindong.

“Aku pernah melihatnya di televisi. Aku tak tahu bagaimana rasanya. Kenapa tak kalian coba sendiri?” jawab Morin membelai kepala Ddangkoma yang muncul dari tempurungnya.

“Mungkin lain waktu kita bisa mencobanya,” ucap Leeteuk.

“Kurasa Ddangkoma cukup besar untuk,” belum sempat Morin menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Yesung telah merebut Ddangkoma dan Ddangkoming lalu membawanya menjauh.

“Kalian pikir bisa menjadikan Ddangkoma sebagai bahan konsumsi untuk kalian? Tak akan ku biarkan.”

Semua member dan juga Morin tertawa melihat tingkah Yesung yang sangat protektif kepada kedua kura-kuranya.

“Kurasa lebih baik menunggunya sampai tumbuh lebih besar,” goda Kyuhyun.

“Aku setuju denganmu Kyu,” timpal Heechul.

Dan mereka kembali tertawa.

Morin tersenyum lalu memandang satu persatu member Super Junior kemudian berkata dengan pelan, “Aku menyukai ini.”

T.B.C-

Advertisements