Steal Your Idol’s Love [Chapter II]

by monamuliaa

Steal Your Idol's Love

Chapter ║ Friendship, Comedy

Super Junior ║ Im Morin (OC)

 

.

 

..Hansung High School..

“Ne. Gamsahamnida,” ucap Siswa satu kelas kepada Jang-songsaenim yang mengajar pelajaran Sastra Korea.

Kemudian Jang-songsaenim keluar kelas meninggalkan siswa-siswa yang mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Aku menyukai pelajaran ini,” ucap Morin memasukkan buku-buku pelajarannya kedalam tas dan berganti mengeluarkan komik serta kotak bekalnya. Menikmati waktu istirahatnya.

Caena memutar tubuhnya ke belakang ke arah Morin sedangkan Park Seol Yu menarik kursi mendekat kepada Morin.

“Kenapa kau tak membukakan pintu rumahmu semalam?” tanya Caena.

“Aku mengantuk dan untuk apa kau malam-malam seperti itu ke rumahku?”

“Kau lupa, aku bilang ingin menanyaimu tentang Super Junior.”

“Ah! Kau datang malam-malam hanya untuk itu. Hari ini kita bisa bertemu di sekolah. Lagi pula kau ingin menanyakan apa? Kau sudah sering membaca tentang mereka di majalah kan?”

“Semuanya. Semua tentang Super Junior.”

“Aku tidak tahu semua tentang Super Junior,” Morin mengingatkan.

Lee Yu ah, Go Hyena, Park So Ra, Na Sang Shil dan Song Hara ikut mendekati Morin saat mendengar nama Super Junior disebut. Telinga mereka memang sangat peka jika mendengar nama Super Junior. Mereka berlima menarik kursi mengelilingi Morin.

Morin memandang ketujuh temannya yang mengelilinginya dengan heran.

“Dengar, aku tak akan menceritakan apapun kepada kalian karena memang tak ada yang perlu diceritakan. Jadi pergilah ke kantin dan biarkan aku membaca komik serta menikmati wortelku.”

Caena merebut komik dari tangan Morin dan melemparnya keluar jendela.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku baru saja membelinya beberapa hari yang lalu dan sama sekali belum membacanya,” teriak Morin.

“Kau bisa membeli yang baru.”

Morin membuka kotak bekalnya dan mengambil satu wortel. “Aku tak tahu harus cerita apa.”

“Apa saja. Aku akan selalu mendengarkan apapun yang kau ceritakan tentang Super Junior,” kata Seol Yu.

“Beri aku pertanyaan dan aku akan menjawab,” kata Morin.

“Apa mereka tampan-tampan?” tanya Yu Ah.

“Bukankah kau sering melihatnya di televisi dan juga majalah. Kenapa kau menanyakannya lagi? Kau kurang yakin dengan gambar yang ada di majalah atau televisi?” balik tanya Morin.

“Tapi aku tak pernah sedekat itu dengan mereka.”

“Oh baiklah. Ne, mereka tampan-tampan.”

“Jinjja?” teriak teman-teman Morin sambil melotot ke arah morin.

“Aish! Ne.”

“Apa mereka ramah padamu?” tanya Caena.

Morin mengangguk.

“Mereka baik padamu?” tanya So Ra.

Morin kembali mengangguk.

“Apa kau mengobrol banyak dengan mereka?” tanya Seol Yu.

“Kurasa begitu.”

“Huuuaaaaa. Kenapa kau beruntung sekali,” teriak teman-teman Morin sambil mengoyang-goyangkan tubuh Morin.

“Lalu apa lagi yang kau lakukan kemarin?” tanya Hyena.

“Hanya mengobrol untuk lebih saling mengenal.”

“Huuuaaaa. Kau membuatku iri,” teriak mereka lagi mengguncang-guncang tubuh Morin lagi.

“Kau dapat mencium bau harum parfum mereka?”

Morin memandang teman-temannya tak percaya.

“Ayo katakan.”

Morin menganguk sekali.

“Huuuaaaa. Andai saja aku ada diposisimu,” teriak mereka sambil mengguncang-guncangkan tubuh Morin lagi.

“Kau duduk sangat dekat dengan mereka?”

“Tak terlalu dekat tapi juga cukup dekat,” jawab Morin membingungkan.

“Huuuuaaaaaa. Aku sungguh iri denganmu,” teriak mereka mengguncang-guncangkan tubuh Morin lagi lagi dan lagi.

“Ya! Sekali lagi kalian melakukannya akan ku bunuh kalian semua.”

Tapi teman-teman Morin tak peduli.

“Apa kau sangat dekat hingga dapat mendengar suara detak jantung mereka?” tanya mereka lagi.

“Mwo? Itu terlalu berlebihan,” jawab Morin.

“Mintakan aku tanda tangannya,” ucap Sang Shil.

“Aku juga,” teriak yang lainnya.

“Besok aku akan membawa album foto milikku dan kau harus memintakan tanda tangan mereka.”

“Aku akan membawakan banyak kimchi lalu kau serahkan kepada mereka. Dan sampaikan salamku pada mereka.”

“Bisakah kau membawa mereka kemari? Aku sungguh ingin bertemu dengan mereka dan berbicara lebih dekat.”

“Ne. Aku setuju, bawa mereka kemari.”

Morin hanya melongo menatap teman-temannya.

“Apa Siwon oppa tetap Seksi seperti yang di majalah?”

“Bagaimana dengan Kyuhyun oppa. Apa dia menjailimu selama kau bersamanya kemarin?”

“Promosikan rumah makan milik ibuku kepada mereka agar mereka mengunjunginya. Dan bilang mereka bisa makan gratis disana. Selama yang mereka inginkan.”

“Apa kau bisa memintakan nomor ponsel mereka?”

“Iya aku setuju. Tidak semua member tak apa. Kau bisa meminta salah satunya. Mintakan nomor Leeteuk oppa.”

“Kyuhyun juga.”

“Aku ingin nomor ponsel Donghae oppa.”

“Bukan. Bukan. Seharusnya kau meminta nomor Sungmin oppa. Dia sungguh manis.”

“Tanyakan apa sesekali aku bisa berkunjung ke dorm mereka? Aku janji akan membawa banyak makanan jika kesana.”

“Bolehkah kita kesana bersama-sama? Kami janji tak akan merepotkanmu.”

“Aku akan mentraktirmu selama seminggu kalau kau mau mengajakku kesana.”

“Aku akan membelikanmu komik apapun yang kau minta asal kau mau mengajakku kesana.”

“Aaaaaaaaaarrrrrrrrrrrggggggghhhhhhhhhhhh,” Morin berteriak marah sambil bangkit dari duduknya.

Semua teman-temannya diam seketika dan hanya menatap Morin dengan melongo.

Morin menghentakkan kaki dengan kesal mendengar celotehan teman-temannya yang tak ada henti-hentinya. Lalu pergi meninggalkan mereka semua. Tapi sebelum pergi dia menoleh ke belakang ke arah Caena.

“Ya! Caena-yah. Kau harus membelikanku komik baru untuk mengganti komik yang kau buang tadi. Lengkap dua puluh seri.”

“Mwo?” tanya Caena terkejut.

*****

..Suju’s Dorm 11th Floor..

Hari ini sepulang sekolah Morin langsung diculik  kru SYIL dan dibawa menuju dorm Super Junior. Entah apa lagi yang akan mereka lakukan hari ini Morin juga tak tahu tapi dia memang menikmati ini.

Setelah pintu dorm dibuka dan Morin masuk ternyata sudah banyak kru SYIL yang berkumpul di dalam dorm suju. Morin berjalan menuju Super Junior dan mengucapkan salam sambil membungkuk.

“Kau masih saja menggemaskan,” ucap Heechul mencubit pipi Morin.

“Hatching,” tiba-tiba Morin bersin.

“Kau flu?” tanya Leeteuk perhatian.

“Sepertinya, hatching. Memang begiching,” jawab Morin sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal.

Kyuhyun menutup mulut agar tidak tertawa tapi pada akhirnya dia tetap tak bisa menahan tawa.

Morin melirik Kyuhyun dan berjalan ke arahnya. “Ya! Berhentilah tertawa. Telingaku gatal mendengar suara tawamu.”

“Kau sudah sembuh?” tanya Siwon.

Morin memandang Siwon dengan heran lalu teringat flunya tadi. “Sepertinya begitu,” jawab Morin dengan polosnya.

“Kenapa kau selalu menggemaskan,” ucap Heechul mendekati Morin dan mencubit pipinya lagi.

“Hatching, hatching, hatching,” Morin tambah bersin dengan hebatnya. “Ya! Aku sepertinya alergi padamu,” jengkel Morin lalu mendorong tubuh Heechul untuk menjauhinya.

“Apa itu sungguh karenaku?”

“Ne. Berhentilah mencubit pipiku karena itu membuat pipiku sakit dan satu lagi jangan dekat-dekat denganku. Sebaiknya aku pulang.”

Morin hendak berjalan keluar dorm namun di hentikan kru SYIL tapi Morin tetap kekeuh dengan pendiriannya. Sifat keras kepalanya mulai muncul dan akhirnya Morin di perbolehkan pulang dan akan menunda recording untuk hari ini.

Member suju memandang kepergian Morin dengan pandangan nanar. Sedangkan Heechul hanya menunduk lesu.

Leeteuk menghampiri Heechul dan menepuk pundaknya memberi semangat. “Tak perlu dipikirkan. Gadis seusianya memang masih labil.”

“Aku yakin besok dia sudah tidak marah padamu hyung,” kata Donghae ikut menghibur yang diikuti oleh anggukan yang lainnya.

“Aku tak yakin. Setan wortel itu sepertinya punya amarah yang tahan lama,” kata Kyuhyun setelah berhasil berhenti tertawa.

Semuanya memandang Kyuhyun mengingatkan, sedangkan Kyuhyun malah pura-pura tak melihat.

*****

..Morin’s Bedroom..

“Apa aku terlalu kasar padanya tadi? Haruskah aku minta maaf padanya sekarang juga?” Morin baru saja bangun dari tidurnya dan hal pertama yang diingatnya adalah kelakuan kasarnya pada Heechul kemarin.

“Perlukah aku menghubungi kru SYIL dan mengatakan kalau aku ingin minta maaf pada Heechul?” Morin menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.

“Untuk apa aku harus menghubungi SYIL? Tak perlu. Lagi pula aku hanya ingin minta maaf.”

“Aish! Ini sungguh membingungkan. Kenapa aku merasa sangat bersalah seperti ini. Lagipula dia orang yang belum terlalu aku kenal.”

Morin mengecek ponselnya apakah ada panggilan masuk untuknya namun ternyata tak ada.

“Baiklah. Aku akan mandi dan akan aku pikirkan jalan keluarnya selesai mandi, ok?”

Morin lalu mengangguk dan buru-buru turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian morin telah selesai mandi dan berganti pakaian.

“Sekarang apa keputusanku?” Morin menghela nafas.

“Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan selesai seiring waktu berlalu. Aku tak mau minta maaf,” ucap Morin.

“Aaaaaaaaaaarrrrrrrggggggggghhhhhh,” jerit Morin frustasi lalu turun dari ranjangnya.

Morin mengambil jaket dari dalam almarinya, tas punggung lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas punggungnya.

“Hari ini juga aku akan minta maaf,” ucap Morin keluar kamar.

“Tapi tunggu. Aku akan membuat ramyeon dulu sebelum minta maaf.”

*****

Tring!

Pintu lift terbuka tepat sesuai dengan nomor lantai yang ditekannya tadi. Morin berjalan sepanjang koridor lantai 12 mencari pintu dorm Super Junior. Morin menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sebelum menekan bel pintu. Pintu terbuka tepat setelah Morin menekan bel untuk ke tiga kalinya.

“Morin-ah! Kenapa kau datang kemari selarut ini?” tanya Heechul terlihat sangat terkejut setelah membukakan pintu lalu mempersilahkan Morin masuk.

“Mianheyo oppa. Jeongmal mianheyo,” ucap Morin membungkuk sopan.

Heechul tersenyum melihat kelakuan Morin. “Gwenchana. Kau tak perlu bersikap seperti itu,” jawab Heechul mengelus rambut Morin.

“Aku tak bermaksud berbuat seperti itu. Aku hanya kesal karena aku biasanya hanya alergi pada kucing.”

Heechul tertawa mendengar perkataan Morin. “Pantas saja kau alergi padaku. Sebelum bertemu denganmu hari ini aku bermain dengan kucingku. Namanya Heebum. Dia sangat lucu dan menggemaskan.”

“Kau memelihara kucing? Disini?” panik Morin mulai mengedarkan pandangan ke segala penjuru dorm. “Kyaaaaaaaaaaa sebaiknya aku pulang.”

“Ya! Kau tak ingin menemui yang lainnya?” teriak Heechul tepat saat pintu dorm menutup. “Setan wortel,” Heechul menirukan panggilan Kyuhyun untuk Morin.

*****

..Hansung High School..

“Morin-ah!” panggil Caena dengan suara melengking khasnya.

Morin berhenti berjalan dan menunggu Caena menyusulnya. “Ya! Kau senang sekali berteriak-teriak.”

“Hehehe. Morin-ah, kau tak berniat mentraktirku?”

“Untuk apa?”

“Setidaknya kau akan masuk televisi. Siapa tahu ada produser yang melirikmu dan menjadikanmu artis.”

Morin menoel dahi Caena.

“Tak ada yang menarik dari diriku. Aku juga tak memiliki kemampuan apapun,” jawab Morin.

Sepanjang perjalanan dari kelas Morin dan Caena memperdebatkan masalah televisi yang berkepanjangan. Baru saja Morin dan Caena berganti topik perdebatan menjadi kucing dan baru saja mereka tiba di gerbang sekolah saat seorang siswa yang tak mereka kenal berjalan ke arah Morin dengan pandangan sinis. Morin balik menatap siswa itu namun dengan pandangan bingung. Dan semakin bingung saat dia menyerahkan sebuah amplop berwarna emas kepadanya.

“Dari siapa?” tanya Morin.

“Kau lihat saja sendiri,” jawab siswa itu ketus.

Morin kesal dengan kelakuannya dan rasanya ingin sneakernya ke arah kepala siswa itu.

Morin membuka amplopnya dan mulai membacanya. Caena yang berdiri di sampingnya ikut melongokkan kepalanya dan ikut membaca.

Datanglah ke dorm suju lantai 11. Ada hal penting yang harus kau lakukan disana.

“Apa aku harus kesana sekarang?” gumam Morin pada diri sendiri.

“Kau memang harus kesana sekarang!” jawab Caena.

Morin menoleh kepada Caena.

Caena mendongakkan kepala ke arah kameramen di dekat pohon di halaman sekolah.

Morin mengikuti arah pandangan Caena dan mengangguk mengerti.

“Jadi kau akan ke dorm mereka?” tanya Caena setelah Morin memasukkan kembali suratnya ke dalam amplop.

“Kurasa memang begitu.”

*****

Tring!

Pintu lift terbuka.

Morin melangkah keluar lift diikuti kameramen SYIL dan menuju pintu dorm suju yang mulai di hafalinya. Tak begitu lama pintu terbuka setelah Morin menekan belnya.

“Annyeong haseyo oppa,” sapa Morin membungkuk sopan.

Sungmin mendengus pelan. “Sekarang kau sudah memanggilku oppa?” tanyanya memberi jalan untuk Morin masuk.

“Hal penting apa yang tengah kau kerjakan hari ini?” tanya Morin tiba-tiba.

Sungmin mengeryit bingung mendengar pertanyaan Morin dan Morinpun menyerahkan amplop berwarna emasnya tadi kepada Sungmin.

“Bantu aku memasak makan malam. Kebetulan aku sedang sendirian.”

“Mwo?”

“Ppali.”

“Tapi aku,”

“Tak perlu banyak bicara,” potong Sungmin menarik tangan Morin menuju dapur.

Sungmin menyerahkan celemek pada Morin dan memakai celemek untuk dirinya sendiri. Morin memakai celemek dengan canggung lalu menyingsingkan lengan bajunya.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Morin canggung dengan peralatan dapur dan bahan-bahan mentah.

“Kau bisa memotong sayuran dan tahu,” saran Sungmin sambil mengambil kerang, udang dan ikan untuk dirinya sendiri.

Morin membawa sayurannya ke meja dan mulai memotongnya.

“Ya! Morin-ah, kenapa kau memotong sebesar-besar itu,” pekik Sungmin tiba-tiba.

“Omo!” pekik Morin menjatuhkan pisau yang dipegangnya.

“Tak ada bedanya dengan membiarkannya tetap utuh.”

“Dan kemana perginya wortel? Apa kau memakannya?”

Morin hanya tersenyum tanpa dosa pada Sungmin.

“Aish! Kau sama sekali tak ada bakat memasak. Masukkan semuanya ke mangkuk.”

“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan sekarang?”

“Kau bisa mencuci beras?”

“Tentu saja,” jawab Morin lalu mulai mencuci beras. “Apa sekalian menanaknya?”

Sungmin menatap Morin dengan curiga. “Apa kau bisa melakukannya?”

“Tentu saja. Ini sangat mudah.”

“Baiklah.”

Setelah memasukkan nasi ke dalam rice cooker Morin menghampiri Sungmin yang tengah membuat sup dengan campuran sayuran, tahu, kerang, udang dan ikan. “Kau akan memasak apa?”

“Doenjang jjigae.”

“Kau terlihat mahir,” kagum Morin.

“Tentu saja,” jawab Sungmin tersenyum bangga dengan kemampuan memasaknya.

“Mungkin aku harus belajar memasak denganmu.”

“Kau pikir bisa seenaknya memasak denganku? Kau tak bisa seenaknya meminta seorang artis mengajarimu memasak. Kau tahu setiap yang aku lakukan itu harus menghasilkan uang.”

“Lupakan aku pernah mengatakan hal tadi,” jawab Morin malas.

Sungmin kembali berkutat dengan masakannya.

“Kemana yang lainnya?” tanya Morin setelah beberapa saat.

“Mereka sedang keluar. Tapi sebentar lagi juga pulang.”

Tepat saat Sungmin menyelesaikan jawabannya, pintu dorm terbuka menampakkan Yesung, Ryeowook, Eunhyuk dan juga Kyuhyun ditambah semua penghuni lantai 12.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Eunhyuk.

“Membantu Sungmin oppa memasak.”

Tak ada tanggapan lain dan mereka masuk kamar masing-masing kecuali penghuni lantai 12 yang langsung memenuhi meja makan.

Hello! Hello!

Morin mengambil ponsel dari dalam tasnya yang tergeletak di atas meja dan membuka flipnya. “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo. Kau ada di dorm suju?” tanya Caena antusias.

“Ne. Wae?”

“Mintakan tanda tangan pada oppadeul,” pekik Caena antusias.

“Mwo?”

“Di album kumpulan foto suju milikku.”

“Mwo?”

“Aku menaruhnya di dalam tasmu,” kata Caena bertubi-tubi.

“Mwo?”

“Ayyyoooollllaaaahhhh. . .” kata-kata Caena di potong oleh teriakan Morin.

“Im Caena, berhentilah membuatku kesal.”

“Ups, arasso.”

“Kau bilang album foto suju di tasku?”

“Ne,” jawab Caena riang.

“Kapan kau memasukkannya?”

“Saat istirahat tadi. Kau pasti tidak mau kalo aku tidak nekat.”

“Sekarangpun aku tidak mau melakukannya.”

“Morin-ah jika mereka SHINee apa kau tetap tak mau melakukannya?”

“Itu lain lagi.”

“Kau mau mendapat nilai jelek di ujian matematika nanti? Kau tidak lupa kan kalau sebentar lagi kita akan ujian negara?” ancam Caena.

“Ya! Kenapa aku selalu kalah jika mendengar kata-kata itu.”

“Jadi kau akan melakukannya?”

“Ne.”

“Jeongmal gomawo. Muach, muach.”

Morin langsung menutup flip ponselnya. “Menjijikkan,” ucap Morin bergidik ngeri.

Morin mengambil album yang di maksud Caena dari dalam tasnya.

Morin garuk-garuk kepala sebelum mengutarakan niatnya. Dia sedikit malu untuk mengatakannya tapi toh dia tetap harus mengatakannya karena sudah berada disini. “Aku minta tanda tangan kalian,” ucap Morin sangat cepat hingga tak ada seorang pun yang megerti apa maksud ucapannya.

Semua yang ada disitu hanya menatap Morin karena belum menangkap maksud ucapan Morin.

“Aku minta tanda tangan kalian,” ucap Morin lebih jelas dari pada sebelumnya sambil menunduk malu.

“Untuk apa? Kau mau menjual tanda tangan kami?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.

“Mwo? Sudah jangan banyak bicara, aku tidak akan meminta tanda tanganmu.”

“Dimana kita harus tanda tangan?” tanya Shindong.

“Tanda tangan di setiap biodata masing-masing?” tanya Donghae memastikan.

“Ne.”

“Siapa nama sahabatmu?” tanya Leeteuk.

“Kim Caena. Dia berhutang budi padaku.”

Semua member membubuhkan tanda tangannya di dalam album foto milik Caena kecuali Kyuhyun.

“Kau tidak meminta tanda tangan padanya?” tanya Sungmin.

“Anio,” jawab Morin bersamaan dengan ponselnya yang bergetar.

Morin membuka flip ponselnya, dari Caena.

From : Caena

Yang terpenting tanda tangan Kyuhyun. Aku fans besarnya. Awas kalau tidak nilai matematikamu 0,0.

“Dia mengancamku?” dengus Morin tak percaya sambil menutup flip ponselnya. “Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Morin pada Kyuhyun saat melihatnya menutup album foto.

“Yang terpenting tanda tangan Kyuhyun. Aku fans besarnya. Awas kalau tidak nilai matematikamu nol koma nol,” ucap Kyuhyun menirukan isi pesan Caena.

“Kau membaca pesanku?” tuduh Morin dengan mata menyipit.

“Aku tak sengaja melakukannya. Aku sedang berjalan di belakangmu saat kau membuka flip ponselmu. Aku lapar ayo kita makan,” kata Kyuhyun mengelus-elus perutnya lalu berjalan ke dapur sebelum Morin mengeluarkan sepatah katapun.

Morin memandang punggung Kyuhyun dengan jengkel.

“Ayo ikut makan bersama kami,” ajak Sungmin setelah yang lainnya berjalan ke dapur.

“Ne,” jawab Morin memasukkan album fotonya ke dalam tas sedangkan Sungmin sudah berjalan terlebih dulu ke dapur mengikuti yang lainnya.

Krrruuuuyyyyyyuuuuuukk.

“Lapar,” kata Morin mengelus perutnya dan berjalan ke dapur.

Saat memasukki dapur semua pasang mata memandang Morin. Aura mematikan terpancar dari mata mereka. Morin memandang bodoh ke arah mereka semua. Tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak.

“Se. . Sebaiknya aku pulang,” kata Morin takut saat melihat tatapan hendak menerkam mereka.

“Aish! Gadis itu benar-benar,” sungut Kyuhyun begitu mendengar pintu tertutup.

“Ya! Hyung kenapa kau biarkan dia menanak nasi? Aku sangat lapar sekarang,” ucap Ryeowook.

“Ya! Mana ku tahu akan jadi seperti ini. Tunggu sebentar lagi aku akan menanak nasi untuk kalian,” bela Sungmin,

“Dia hanya lupa menekan tombol on. Tidak perlu berlebihan,” tutur Yesung bijak yang langsung mendapat tatapan sinis dari member lainnya.

*****

Morin menggeliat-geliat malas di ranjangnya, lalu bangun sambil mengucek-ngucek matanya. Menguap lebar sambil merenggangkan otot-otot badannya lalu berjalan ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu Morin telah selesai mandi dan berpakaian sekarang dia sedang mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti alunan musik dari DVD player yang baru dinyalakannya. Lagu SHINee mengalun tanpa henti dari pemutar musiknya menemani paginya. Minggu, hari bermalas-malasan bagi Morin. Waktu yang sering dihabiskannya untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya atu membaca komik miliknya. Tapi tidak hari ini, karena hari ini dia harus pergi ke MBC.

Setelah menyisir rambutnya, Morin mengambil tas punggungnya dan memakai sepatu sneakernya lalu berjalan keluar. Tak lupa dia merogoh kantong susu yang terpasang di dinding di samping pintu. Morin berjalan menuju halte bis sambil meneguk susu.

Sesampainya di depan gedung MBC, Morin memandang gedung tinggi itu sambil menggumam “Semakin lama aku semakin menikmati ini.”

“Annyeong haseyo,” sapa Morin membungkuk hormat pada PD SYIL dan para kru.

PD SYIL menjelaskan pada Morin bahwa dia akan menuju dorm suju menjemput mereka bersama seorang kameramen untuk menuju Lotte World dan barulah saat tiba disana PD akan menjelaskan lebih lanjut.

“Ne. Algeshimnida.”

Lalu Morin pun pergi ke dorm suju menggunakan sebuah van SYIL.

*****

..Super Junior’s Dorm..

“Annyeong haseyo oppa,” sapa Morin cerah saat melihat Leeteuk yang membukakan pintu dorm untuknya.

“Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bertamu?” tanya Leeteuk bercanda lalu memberi jalan agar Morin bisa masuk.

“Oppa. Kau terbangun karena kedatanganku?”

“Anio. Aku sudah bangun sejak tadi. Aku sedang berusaha membangunkan member lain. Kau mau membantuku?” tawar Leeteuk. “Ayo masuklah,” ucap Leetuk bahkan sebelum Morin menjawab.

Kamera mengikuti mereka memasuki kamar Siwon dan Heechul.

Leeteuk menepuk-nepuk pantat Siwon agar terbangun. “Ya! Bangunlah.”

Sedangkan Morin mengguncang-guncang tubuh heechul.

“Ya! Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?” teriak heechul terbangun dan buru-buru menarik selimutnya menutupi tubuhnya begitu melihat Morin berada di kamarnya.

“Sampai kapan kau akan tidur?” balas Morin berteriak.

Leeteuk yang melihat mereka berdua saling berteriak hanya geleng-geleng kemudian berjalan keluar untuk membangunkan yang lainnya.

“Ah. Lebih baik aku ke bawah,” ucap Morin pada dirinya sendiri.

“Oppa, aku akan ke lantai sebelas,” pamit Morin pada Donghae yang baru saja keluar dari kamarnya.

Donghae hanya mengangguk-angguk dengan mata masih terpejam sepenuhnya.

“Annyeong haseyo,” Morin membungkuk sopan pada Yesung yang membukakan pintu untukknya.

“Mau memasak lagi?” tanya yesung menyindir Morin namun Morin sama sekali tak peduli dengan sindiran Yesung dan langsung saja nyelonong masuk ke dalam dorm.

“Lihat kelakuannya, semakin lama aku merasa dia semakin mirip Kyuhyun,” dengus Yesung menutup pintu dorm dengan kesal lalu buru-buru berlari menyembunyikan ddangkoma begitu dia ingat nyawa ddangkoma terancam ketika Morin berada didekatnya.

“Oppa. Apa yang lainnya belum bangun?” Morin bertanya sambil mengamati ruangan mencoba mencari keberadaan member lain.

“Semua sudah bangun, sebentar lagi juga keluar,” jawab Yesung dan benar saja belum selesai Yesung menyelesaikan ucapannya semua member keluar dari kamar mereka masing-masing dengan pakaian santai namun rapi.

“Hari ini kita akan ke Lotte. Bukankah ini menyenangkan?” ucap Morin dengan ceria kepada semuanya.

“Kau yakin kita akan kesana?” tanya Ryeowook tak percaya.

“Kalian tak percaya padaku?” balik tanya Morin.

“Kami percaya padamu,” jawab Sungmin mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Setelah itu mereka semua menuju basement. Saat masuk ke dalam van, Morin memilih duduk didekat Donghae.

“Oppa, kudengar kau dekat dengan Minho. SHINee Minho.”

“Ne. Wae?”

“Seberapa dekat?”

“Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.”

“Aku akan berakrab-akrab dengan Donghae oppa kalau begitu,” ucap Morin lirih sambil mengepalkan tangan.

“Morin-ah kau tidak tahu kalau Minho lebih dekat denganku daripada Donghae?” tanya Kyuhyun meremehkan.

“Kyu line,” ucap Siwon mengingatkan.

“Siapa yang mau masuk Kyu line?” tanya Heechul tiba-tiba dengan keras padahal tak ada seorangpun yang akan masuk Kyu line. “Apa kau Morin?”

“Abaikan dia,” ucap Donghae pada Morin.

*****

..Lotte World..

“Uhwoooo,” takjub Morin dan Sungmin bebarengan.

“Odika, odika?” tanya Yesung pura-pura tak tahu apa-apa.

“Lotte World~,” jawab semuanya serempak.

“Woo, mission card,” ucap Morin melirik sesuatu yang berwarna keemasan di sebuah semak-semak di belakang mereka.

Leeteuk mengambil mission card itu lalu mulai membacanya. “Bersenang-senanglah hari ini dengan mengikuti game Tom and Jerry?”

“Apa maksudnya?” tanya Donghae pada PDnim namun PDnim itu hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Ah. Sepertinya kita harus memecahkan sendiri maksud dari ini,” tebak Shindong yang mendapat anggukan dari PDnim.

“Apa kami harus mencari petunjuk lain sebelum memulai permainan?” tanya Morin.

“Bahta,” jawab Shindong.

“Kaja. Kita harus mulai mencari petunjuk,” ajak Leeteuk lalu mereka mulai berjalan mencoba mencari-cari keberadaan kartu yang lain.

“Tunggu. Lalu apa yang akan kita lakukan dengan kaos ini?” tanya Kyuhyun mengangkat tumpukan kaos dihadapan mereka.

“Empat kaos bergambar Tom dan empat kaos bergambar Jerry,” ucap Heechul meneliti kaos.

“Kurasa kita harus membagi tim menjadi dua,” ucap Morin dan Kyuhyun bersamaan.

“Tim Tom dan tim Jerry,” imbuh Heechul sambil membolak-balik kaos.

“Jamkaman,” Shindong menghentikan kegiatan Heechul. “Ada nama di belakang masing-masing kaos.”

“Jinjja?” pekik semuanya lalu membalik kaos.

“Berarti kita tak perlu repot-repot lagi membagi tim,” ucap Leeteuk. “Morin, Donghae, Heechul dan Yesung kalian masuk kelompok Jerry. Sedangkan Kyuhyun, Siwon, Eunhyuk dan Sungmin kalian masuk tim Tom. Lalu sisanya, aku sendiri juga tidak tahu.”

Mereka mulai memakai kaos dari tim masing-masing.

“Kami pasti memenangkan game ini,” ucap Eunhyuk.

“Tentu saja kita harus memenangkannya,” timpal Kyuhyun penuh tekat.

“Hyuk, kau tega bersaing denganku?” tanya Donghae.

“Jangan dengarkan rayuannya,” ucap Kyuhyun menepuk pundak Eunhyuk yang membuat Donghae rasa-rasanya ingin menjitak kepala Kyuhyun.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Ryeowook pada PDnim.

“Apa kita harus tinggal disini?” tambah Shindong.

PDnim mengangguk mengiyakan.

-T.B.C-

Advertisements