[Our Line] Special

by monamuliaa

special2

Oneshot ║ Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

“Noona, ini apa?” tanya Kyuhyun melambai-lambaikan selembar kertas di tangan kirinya.

Ahra mendongakkan kepala dari majalah di hadapannya untuk menatap adiknya lalu menjawab singkat. “Tiket.”

“Tiket?” ulang Kyuhyun mengamati kertas di tangannya untuk memastikkan bahwa itu tiket sungguhan.

Ahra mengangguk. “Ke Praha.”

“Praha?” ulang Kyuhyun lagi meski sebenarnya dia sudah bisa membaca tulisan yang tertera di selembar tiket itu. “Lalu kenapa tiket ini ada di dalam kamarku?”

“Aku memberikannya padamu.”

“Noona pikir noona sudah kaya beli tiket ke luar negeri lalu memberikannya secara cuma-cuma padaku?”

“Ya! Bocah kecil,”teriak Ahra geram menutup majalahnya begitu saja.

Kyuhyun hanya nyengir tanpa dosa di depan pintu sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.

“Aku mendapatkan itu gratis dari temanku. Kalau aku tidak sibuk mungkin aku akan menggunakannya.”

“Lalu noona pikir aku pengangguran begitu?” seru Kyuhyun meninggikan suaranya.

Ahra terkekeh kecil. “Aku hanya ingin memberikannya padamu. Jika kau tak menggunakannya kau boleh memberikannya pada orang lain. Ah, atau berikan itu pada Morin. Biarkan dia pergi ke Praha.”

“Aku akan menyimpannya,” jawab Kyuhyun.

“Terserah kau saja. Sekarang itu sudah menjadi milikmu.”

“Gomawo.”

Ahra mengangguk singkat. “Ingat itu untuk penerbangan malam ini.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu pergi untuk kembali ke dorm namun dia tak menemukan seorang pun di dorm hingga akhirnya dia menuju dorm di lantai 12.

“Kemana perginya semua orang? Kenapa begitu sepi?” tanya Kyuhyun pada Heechul, satu-satunya orang yang ditemuinya di dorm.

“Molla.”

“Di lantai bawah tak ada seorangpun manusia. Begitupun disini,” keluh Kyuhyun berbaring di sofa sambil memainkan remote control televisi.

“Jadi kau pikir aku bukan manusia?” tanya Heechul dengan nada tinggi.

“Kecuali kau,” imbuh Kyuhyun cepat-cepat.

“Wae? Kau kesepian?” goda Heechul.

“Tentu saja tidak.”

“Kau sudah punya kekasih. Setidaknya itu membuatmu tidak kesepian.”

Tak ada sahutan dari Kyuhyun.

“Kenapa kau tak menghubungi Morin?”

“Aku sibuk.”

“Kau bilang itu sibuk?” tanya Heechul melongokkan kepala ke luar pintu kamar dan melihat Kyuhyun yang hanya berbaring dengan malas-malasan di sofa.

“Kebetulan saja hari ini aku tidak sibuk. Gadis itu pasti sedang bermalas-malasan di kamarnya.”

“Kau tahu hari ini tanggal berapa?”

“Tentu saja. wae?”

“Kau tahu ada apa dengan satu oktober?”

“Tidak ada yang spesial dari tanggal itu.”

“Kau lupa atau hanya pura-pura lupa?”

“Sudah kubilang, tak ada yang spesial dari tanggal itu.”

“Aish! Jinjja. Sudah lupakan saja kalau begitu. Lagipula Morin juga tidak di Korea,” kesal Heechul lalu memakai sepatunya dan siap untuk berangkat.

“Ya~ terserah dia mau ada dimana aku juga tak terlalu peduli. Hyung, kau mau pergi?” tanya Kyuhyun yang melihat Heechul siap untuk pergi.

“Kau pikir aku disini hanya untuk menemanimu yang kesepian?”

“Ya! Hyung tega meninggalkanku sendirian?”

“Sebaiknya kau menghubungi Morin,” ucap Heechul sebelum akhirnya benar-benar hilang di balik pintu dorm.

Kyuhyun bangkit dengan cepat dari sofa dan mengejar Heechul. “Hyung?”

Heechul menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kyuhyun.

“Morin odika?”

“Praha,” jawab Heechul lalu melambaikan tangan pada Kyuhyun saat lift yang ditunggunya terbuka.

Kyuhyun merogoh tiket dari dalam saku celananya dan mengamatinya sekilas. “Untuk penerbangan malam ini.”

-oooOooo-

Thar!!

Confetti berjatuhan dari udara dan berhamburan di ranjang putih.

“Yeee~~~” teriak Morin sambil bertepuk tangan dengan riang melihat confetti yang berjatuhan.

“Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida. Saranghaneun Im Morin. Saengil Chukkae hamnida~” Morin kembali bertepuk tangan dengan riang lalu meniup lilin warna warni yang tertancap pada puncak kue tar dihadapannya kemudian kembali bertepuk tangan namun tepuk tangan kali ini tak seriang sebelumnya saat Morin menyadari dimana dia berada sekarang. Di dalam sebuah kamar hotel di kota yang jauh dari Seoul, seorang diri, kesepian.

Morin menarik bibirnya membentuk selengkung senyuman meski dengan terpaksa saat menyadari betapa kosongnya kamarnya. Tak ada siapapun disana yang merayakan ulang tahunnya kecuali dirinya sendiri. Tak ada yang menyanyikan lagu ulang tahun untuknya kecuali dirinya sendiri. Tak ada yang memainkan confetti kecuali dirinya sendiri. Tak ada yang bisa berbagi kue ulang tahun dengannya, kecuali dirinya sendiri. Cairan bening hangat bergulir dengan lembut dari kedua pelupuk matanya. Untuk sesaat dia tak dapat menguasai emosinya.

“Haaaaahhhh~” Morin mendesah panjang setelah beberapa saat sambil mengusap air matanya dengan kasar.

“Ini akan sangat menyenangkan. Berlibur beberapa hari di kota cantik Praha. Sepertinya malam ini aku harus pergi keluar untuk melihat keindahan kota Praha. Semangat!” ucap Morin turun dari ranjang hangatnya menyambar jaket serta sepatu hangatnya siap menelusuri Praha.

Morin melangkah dengan langkah ringan keluar dari gedung hotel.

“Kau pikir bisa bersenang-senang seorang diri?”

“Omo!” pekik Morin terlonjak kaget mendengar sebuah suara yang tiba-tiba saja mengejutkannya.

“Ya! Kau mau membunuhku dengan mengejutkanku seperti itu?” teriak Morin setelah mengetahui siapa orang yang telah mengejutkannya.

“Kau tidak terlihat bahagia berada jauh dariku,” ucap Kyuhyun mengamati wajah Morin.

“Aku justru tidak bahagia melihatmu disini,” ucap Morin meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun mempercepat langkahnya menyusul Morin lalu merangkul pundaknya. “Aku akan mengenalkanmu dengan Praha.”

“Cih! Apa-apaan ini,” ucap Morin menjauhkan diri dari Kyuhyun. “Jangan bicara seolah-olah kau sudah sangat sering ke Praha.”

“Kenyataannya memang begitu,” ucap Kyuhyun kembali merangkul pundak Morin dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia masukkan ke dalam jaket hitam tebalnya.

Morin hanya berjalan dengan pasrah di dekat Kyuhyun.

“Tunggu. Kita akan kemana?” tanya Morin saat melihat Charles Bridge namun mereka tak berjalan kesana tapi justru menjauhinya.

“Prague Castle,” jawab Kyuhyun enteng.

“Shireo~” teriak Morin menghentikan langkahnya. “Charles Bridge.”

“Prague Castle,” jawab Kyuhyun kekeuh pada pendiriannya.

“Shireo. Aku akan pergi ke Charles Bridge dan kau silahkan pergi ke Prague Castle,” tegas Morin berbalik hendak berjalan menuju Charles Bridge namun langkahnya terhambat karena Kyuhyun yang menarik tudung jaketnya menyebabkannya berjalan mundur dengan leher tercekik.

“Kita akan pergi ke Prague Castle titik. Charles Bridge akan menjadi lebih indah saat semakin malam,” jelas Kyuhyun tanpa melepas tarikannya pada tudung jaket Morin.

“Lepas. .kan a. .ku bod. .oh. ehek. .aku sung. .guh ma. .u ma. .ti,” ucap Morin terbata.

Kyuhyun melepaskan tarikan tangannya pada tudung jaket Morin dan berganti memandang Morin dengan pandangan tak berdosanya.

“Uhuk uhuk,” Morin terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya dan dengan gerakan cepat beralih melingkarkan tangannya pada leher Kyuhyun sambil berusaha mencekiknya. “Aku akan menghantuimu jika kau benar-benar berniat membunuhku.”

Kyuhyun mendorong kepala Morin mejauh. “Kau pikir mudah membunuhku?” tanya Kyuhyun.

“Untuk itulah patut dicoba,” jawab Morin berusaha kembali mendekati Kyuhyun namun Kyuhyun menahan kepala Morin agar tetap berada di tempatnya berdiri dengan jari telunjuknya.

“Prague Castle,” ucap Kyuhyun dengan nada memerintah.

Morin hanya diam namun akhirnya menuruti ucapan Kyuhyun.

Prague Castle terletak di atas bukit. Jalan kesana berupa tanjakan. Selama perjalanan, Morin dan Kyuhyun mendapati pemandangan yang indah. Awalnya mereka melewati trotoar di depan kafe-kafe mungil di rumah kuno. Atap bangunan rendah, mungkin dua meter lebih sedikit. Pintu dan jendelanya bagai gerbang dengan bagian atas membentuk setengah lingkaran. Trotoar sempit menjadi lebih sempit karena pemilik kafe menggelar kursi-kursi mereka di sana. Memanjat bukit di atas jalan berbatu lengkap dengan kereta dorong anak adalah tantangan berat. Morin sangat kelelahan berkali-kali dia berhenti melemaskan kaki yang hanya mendapat senyum penuh ejekan dari Kyuhyun namun Morin sama sekali tak menggubrisnya. Tapi Morin tidak berhenti lama karena tak ada tempat duduk untuk umum di situ. Barulah saat tiba di undakan terakhir di bawah istana Morin dapat duduk cukup lama sambil menahan perutnya yang sakit karena perjalanan yang cukup melelahkan diriingi alunan musik seorang pengamen.

“Ini butuh perjuangan,” ucap Morin terbata karena nafasnya yang ngos-ngosan.

“Semua memang selalu butuh perjuangan. Kenapa kau manja sekali,” cibir Kyuhyun.

“Ini bukan karena aku manja,” jawab Morin belum sempat melanjutkan kata-katanya namun dipotong Kyuhyun.

“Tapi karena kau gendut,” potong Kyuhyun dengan nada mengejek.

Morin hanya memberikan death glarenya pada Kyuhyun.

“Wae? Kau mau mengajakku perang disini?” balas Kyuhyun dengan death glarenya juga.

Mereka menghabiskan waktu cukup lama mengitari Praha Castle dan memotret sana sini.

Setelah puas dengan Prague Castle, mereka pergi kembali ke perkotaan.

“Kita pergi ke satu tempat dulu setelah itu aku janji kita akan ke Charles Bridge,” ucap Kyuhyun pada Morin yang sejak tadi hanya melihat ke arah Charles Bridge.

Morin mendesah pelan lalu mengangguk. “Siap tuan.”

Kyuhyun tersenyum sebentar lalu berjalan menuju sebuah pub dan masuk ke dalamnya.

Sesaat Morin menatap bingung ke arah bangunan yang hendak dimasukkinya namun pada akhirnya dia tetap mengikuti Kyuhyun masuk ke dalam pub.

Kyuhyun berhenti di depan counter dan tengah menunggu Morin untuk mendekat.

“Harga bir disini lebih murah dibanding harga air botolan, orang Ceko terkenal paling banyak mengkonsumsi bir di dunia. Satu pint gelas hanya satu euro dengan pilihan beraneka ragam dari yang kandungan alkoholnya sedikit hingga yg super strong, untuk pecinta bir Praha adalah surga buat mereka,” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar kepada Morin yang duduk di depan counter di sebelahnya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tidak ada yang tidak aku ketahui,” jawab Kyuhyun dengan percaya diri yang membuat Morin memandang dengan tatapan malas padanya.

Kyuhyun memesan sesuatu kepada bartender yang lalu beberapa menit kemudian menyodorkan masing-masing gelas berbeda kepada Kyuhyun dan Morin.

Morin melihat sekilas minuman di dalam gelas yang disodorkan bartender padanya. “Aku tidak minum bir.”

“Aku tahu, itu hanya cola. Kau bisa mempercayaiku,” Kyuhyun buru-buru menjawab saat melihat Morin mulai menunjukkan tampang menyelidik padanya.

“Tunggu disini sebentar,” ucap Kyuhyun hendak meninggalkan Morin.

“Kau mau meningalkanku sendirian?” tanya Morin cepat-cepat sebelum Kyuhyun pergi.

Kyuhyun menggeleng. “Hanya sebentar.”

Morin mengerti lalu mengangguk.

Morin mengamati pub yang baru pertama kali dia kunjungi itu dengan seksama. Pub tempatnya berada berbeda tak seperti pub-pub dalam film coboy yang pernah ditontonnya. Pub ini lebih rapi dan mungkin bisa dikatakan mewah, beberapa orang bahkan berjas dan berdasi terlihat santai berbincang di ruangan dengan penerangan yang redup. Dan satu lagi, pub ini terkesan sedikit…romantis. Mungkin ini gila tapi begitulah yang dilihat Morin saat ini. Ditambah lagi dengan musik yang mengalun pelan dari arah panggung kecil tepat di sudut ruangan. Morin tersenyum pelan karena bayangannya tentang pub selama ini terpatahkan. Tidak semua pub sama seperti bayangannya yang berisi para pemabuk kelas berat yang liar serta para gadis yang berpakaian seksi dan menggoda.

Morin mengarahkan pendangan penuh ke arah panggung dan sangat terkejut saat melihat sosok yang duduk di kursi di tengah panggung dengan sebuah gitar di pangkuannya.

“Apa yang dilakukannya disana?” gumam Morin pelan memusatkan perhatian sepenuhnya pada Kyuhyun.

Intro lagu mulai terdengar, dan mendengar dari intronya sepertinya Morin tahu lagu apa yang akan dilantunkan Kyuhyun.

Dan entah hanya Morin yang terlalu percaya diri atau memang Kyuhyun benar-benar menyanyikan lagu itu untuknya, Morin sendiri tak yakin persis namun yang dia tahu Kyuhyun melihat ke arahnya saat menyanyikan lagu itu.

Been all over the world

Harus diakui, Morin mulai ingin berteriak saat mendengar lirik pertama yang diucapkan Kyuhyun. Dan harapan bahwa Kyuhyun benar-benar menyanyikan lagu itu untuknya mulai menyeruak.

Done a little bit of everything

Little bit of everywhere

With a little bit of everyone

All the girls I’ve been with

Things I’ve seen it takes much to impress

But sure enough you go it makes your soul stand up from all the rest

 

I can be in love

But I just don’t know

Baby one thing is for certain

Whatever you do it’s working

All the girls don’t matter

In your presence can’t do what you do

There’s a million girls around but I don’t see no one but you

 

Girl you’re so one in a million

You are

Morin menggigit bibir bawahnya saat lirik itu mulai meluncur dengan merdu dari mulut Kyuhyun mencegah bibirnya untuk benar-benar berteriak sepenuhnya.

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

Oke, sepertinya Morin tak sanggup lebih lama lagi berada di dalam pub kecuali dia ingin benar-benar meleleh mendengar suara merdu Kyuhyun. Namun tubuhnya menghianati perintah otaknya karena nyatanya Morin masih tetap duduk di tempatnya berada, sama sekali tak bergerak.

You’re not a regular girl

You don’t give a damn about your look

Talking about I can’t do it for you

But you can do it for yourself

Even though that ain’t so

Baby cause my dough don’t know how to end

But that independent thing I’m with it

All we do is win baby

 

I could be in love

But I just don’t know

Baby one thing is for certain

 

Whatever you do it’s working

All the girls don’t matter

In your presence can’t do what you do

There’s a million girls around but I don’t see no one but you

 

Baby you’re so one in a million

You are

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

Girl you’re so one in a million

You are

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

 

Ooh all that I can think about is what this thing could be

A future baby

Baby you’re one of a kind

That means that you’re the only one for me

Only one for me

Baby (girl) you’re so one in a million

You are

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

Girl you’re so one in a million

You are

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

Gemuruh tepuk tangan terdengar begitu petikan gitar terakhir berbunyi.

Kyuhyun membungkuk untuk memberikan ucapan terimakasih kepada seluruh pengunjung dan dengan senyum canggung berjalan ke arah Morin yang terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk sedikit menutupi kecanggungannya.

“Sepertinya pub mulai sesak. Sebaiknya kita pergi,” ajak Kyuhyun berjalan begitu saja melewati Morin tanpa sedikitpun mencicipi minuman yang telah dipesannya.

Morin melihat berkeliling sekali lagi sebelum pergi mengikuti Kyuhyun.

Kyuhyun terus berjalan hingga tiba di Charles Bridge. Kerlap kerlip lampu di sekitar jembatan benar-benar membuat suasana lebih indah.

“Kau senang berada disini?” tanya Kyuhyun pada Morin.

Morin mengangguk dengan mata berbinar.

“Ini,” Kyuhyun mengulurkan sebuah balon helium dan sebungkus permen kapas. Entah darimana kedua benda itu berasal tapi yang Morin tahu kedua benda itu kini sudah ada dihadapannya.

“Apa ini?” tanya Morin bingung namun tetap menerima uluran kedua barang tersebut.

“Kau tidak tahu ini apa? Ini permen kapas dan balon helium.”

“Aku tahu itu. Maksudku untuk apa kau memberiku ini?”

“Sebagai hadiah ulang tahunmu.”

Morin melongo mendengar jawaban Kyuhyun. “Aku bisa mendapatkan balon dan permen kapas dimana-mana. Apa istimewanya ini?” ucap Morin mengulurkan kembali balon dan permen kapas pada Kyuhyun.

“Ya! Kau pikir mudah mendapatkan balon helium dan permen kapas di Praha?”

“Sangat mudah,” jawab Morin ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Kalau begitu coba buktikan padaku.”

“Baiklah. Sangat sulit,” jawab Morin menyerah.

“Itu berarti ini sangat istimewa. Uh!” Kyuhyun kembali mengulurkan balon helium dan permen kapas pada Morin.

Morin menerimanya dengan malas.

“Saengil chukkae hamnida~” seru Kyuhyun bersemangat namun hanya ditanggapi Morin dengan wajah datarnya.

“Ya! Kau tidak senang mendapat ucapan selamat dan juga hadiah dari artis terkenal sepertiku?” tanya Kyuhyun dengan mata menyipit melihat wajah datar Morin.

“Lalu aku harus bagaimana? Teriak-teriak tak jelas menunjukannya pada seluruh dunia bahwa seorang artis terkenal yang kaya raya hanya memberiku hadiah sebuah balon helium dan sebungkus permen kapas yang bahkan aku dapat mendapatkannya dengan gratis kalau aku mau, begitu?”

Pletak.

Sebuah jitakan pelan mendarat di puncak kepala Morin.

“Aku tidak sembarangan memberi hadiah,” elak Kyuhyun. “Ah~ sudahlah kenapa harus mempermasalahkan balon dan permen kapas.”

Morin hanya mencibir ucapan Kyuhyun.

“Baiklah sekarang kembalilah ke hotelmu karena malam ini juga aku akan kembali ke Seoul. Tidurlah yang nyenyak dan segeralah pulang ke Seoul,” ucap Kyuhyun menepuk-nepuk puncak kepala Morin dengan lembut.

Morin hanya diam mendapat perlakuan seperti itu dari Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan menjauh dengan senyum lebar dan tangan melambai-lambai dengan antusias pada Morin.

Morin masih berdiri di Charles Bridge, memandangi balon helium berwarna pink dan permen kapas yang juga berwarna pink. Morin menggerak-gerakkan balon helium itu ke arah cahaya lampu perkotaan dan menyadari sesuatu bahwa terdapat sebuah benda di dalam balon helium itu.

Morin melepas pengikat balon helium itu, membiarkan seluruh udara yang terjebak di dalamnya keluar bersatu bersama udara lainnya di alam bebas dan mengambil segulung kertas kecil berwarna putih dari dalam balon yang diikat dengan tali berwarna emas.

Morin menatap heran gulungan kertas itu beberapa lama hingga akhirnya dia membukanya. Disana tertulis beberapa baris kalimat dengan huruf-huruf yang tertata rapi.

There’s no one like you, even if I look around it’s just like that. We arrived on the same road, we’re just the same, how surprising, how grateful, it’s love.

Morin mengerjapkan mata beberapa kali lalu kembali membaca kalimat yang tertulis di kertas yang dipegangnya. Memastikan bahwa dia tidak salah mengartikan setiap kata yang tertulis di kertas itu.

Morin berdeham beberapa kali lalu menggulung kembali kertas kecil itu dan memasukkannya ke dalam saku jaket kemudian mengambil permen kapas yang tergeletak di sisi jembatan.

Morin hendak membuka pembungkus permen kapas itu namun gerakannya terhenti saat membaca kalimat yang tercetak di plastik pembungkus permen kapas. Hanya 3 kata, I Love You.

Morin menggigit permen kapas itu dan mulai mengunyahnya dengan pelan. “Manis,” ucapnya dengan nada menggantung.

“Untuk semuanya,” lanjutnya pelan dengan bibir melengkung membentuk sebuah senyum simpul.

Deng! Deng! Deng!

Sebuah suara dari jam yang menggantung di dinding menggema di penjuru ruangan.

Dari arah sofa sesosok tubuh yang terbaring dengan tidak nyaman terlihat menggeliat-geliat beberapa kali hingga akhirnya tubuhnya terjatuh ke lantai membuatnya terkesiap terbangun dari tidurnya.

Morin merintih pelan menggerakkan tubuhnya untuk kembali duduk di sofa kemudian mengamati seluruh ruangan tempatnya berada. Dia melihat laptop yang masih menyala di meja di hadapannya dan televisi duduk dengan nyaman di atas meja berhimpitan dengan dinding beberapa meter dihadapannya.

Morin diam terduduk di sofa masih berusaha menyesuaikan diri dengan dunia nyata. “Mimpi tadi sedikit. . . err, mengerikan.”

Lalu Morin beralih menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12.05

“Satu Oktober?” tanyanya pada diri sendiri.

There’s a million girls around but I don’t see no one but you

Girl you’re so one in a million, you are

Evil evil

Calling. . .

“Yeoboseyo?” jawab Morin ragu mendapat telepon di tengah malam seperti ini namun dalam suaranya terbesit sedikit harap.

Cukup lama tak ada sahutan dari seberang.

“Yeoboseyo?” ulang Morin sedikit keras.

Masih tak ada sahutan.

“YA! CHO KYUHYUN. Kau mau main-main denganku?” teriak Morin dengan kesal.

“Yeoboseyo?” jawab Kyuhyun dengan bingung. “Sepertinya aku tak sengaja memanggil nomormu.”

Morin mendengus pelan. “Aku mengerti,” ucap Morin pelan berniat memutus sambungan telepon namun suara Kyuhyun menghentikan niatnya.

“Tunggu sebentar.”

“Ne?”

“Kau ingin pergi ke Praha?”

“Mwo?” seru Morin terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun. Sebersit ingatan tentang mimpinya tadi menyeruak di pikiran Morin.

“Kami di dorm sedang bertaruh tentang negara mana yang paling ingin dikunjungi perempuan antara Perancis dan Praha. Aku bertaruh Perancis tapi Eunhyuk hyung bilang banyak perempuan juga yang ingin pergi ke Praha jadi aku hanya penasaran saja,” jelas Kyuhyun.

“Jangan tanyakan itu padaku,” ketus Morin lalu menutup flip ponselnya dengan kesal. Bagaimana mungkin, orang pertama yang didengar suaranya oleh Morin di hari ulang tahunnya namun hanya menanyakan tentang taruhan.

-KEUT-


a/n:

hari ini 1 oktober *trus kenape*

cuma mau kasih tau aja.

meninggalkan komen atau like itu nggak berat kok. jangan lupa ya komen atau like-nya. gomawo

Advertisements