[Our Line] #5 Naneun Joahe

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Kona Beans. 1 November 2012.

Morin melirik sekilas ke dalam cafe dari luar kaca lalu mendorong pelan pintu cafe menimbulkan bunyi gemerincing dari bel yang terpasang di puncak pintu. Sebuah lagu yang lembut menyambut kedatangannya.

“Esseo oseyo~” terdengar sapaan ramah dari ujung ruangan. Hanya suara.

Morin tersenyum simpul sambil masih terus berjalan menuju sudut ruangan lalu menarik kursi dan duduk di atasnya setelah sebelumnya menaruh tas punggung di kursi sampingnya.

Morin menatap sebuah foto yang terpasang di dinding di hadapannya. Sebuah senyum yang lebih nampak seperti seringaian menghiasi bibir sosok yang berada di foto itu.

“Cih!” Morin mendengus pelan lalu mengalihkan pandangan.

Tak beberapa lama terdengar langkah kaki menghampirinya.

Morin menoleh ke arah orang yang menghampirinya sambil tersenyum ramah lalu buru-buru berdiri. Membungkuk sambil mengucapkan salam.

“Morin-ah. Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Cho Ahra yang berdiri di hadapan Morin sambil menyunggingkan senyum manis khas yang dimilikinya.

“Eonni, bogoshipo~” rengek Morin pada Ahra. Mungkin terasa sedikit aneh mendengar rengekan Morin tapi bagi Morin bertemu dengan Ahra yang notabene lebih tua beberapa tahun darinya sungguh sangat membuatnya senang. Morin yang selama ini jarang sekali berinteraksi dengan seorang perempuan yang lebih tua darinya rasanya seperti menemukan sosok seorang kakak dalam diri Ahra meski sebelumnya dia sama sekali tak pernah berniat untuk mengenal lebih dekat Ahra karena hubungannya dengan Kyuhyun bukanlah hubungan sebenarnya yang selalu dipikirkan Ahra.

Mata Ahra menyipit ke arah Morin, sedikit tak percaya mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Morin namun pada akhirnya tetap menjawab bahwa dia juga merindukan Morin. “Kau ingin makan sesuatu? Atau minum sesuatu?” tawar Ahra.

“Sebenarnya aku tidak ingin apa-apa tapi karena berhubung aku sudah berada disini jadi beri aku makanan.”

“Tunggu sebentar aku akan membawakanmu makanan lalu kita akan mengobrol,” jawab Ahra meninggalkan Morin lalu berlalu menuju dapur.

Morin menopang dagunya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sibuk mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di atas meja terlihat fokus mendengarkan lantunan lagu yang mengalun dengan lembut. Morin merasa tempat ini nyaman, lebih nyaman daripada rumahnya sendiri meskipun di tempatnya sekarang dia hanya duduk seorang diri namun Morin merasakan kenyamanan tersendiri yang tidak ditemukannya di tempat lain.

Tak berapa lama Ahra muncul di sampingnya dan meletakkan nampan berisi sandwich dan juga strawberry latte di atas meja.

“Gomawo,” ucap Morin pelan.

Ahra hanya mengangguk lalu menarik kursi di hadapan Morin.

“Eonni, kau tak perlu menemaniku. Aku tak apa disini sendirian. Aku kesini bukan bermaksud untuk mengganggumu bekerja,” ucap Morin setelah menelan gigitan pertama sandwichnya.

“Sebenarnya kalau boleh jujur, kau adalah pelanggan pertama hari ini.”

Morin refleks mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan dan hanya menemukan meja-meja yang masih kosong. “Apa aku datang terlalu pagi?”

“Kurasa begitu.”

“Karena aku pelanggan pertamamu hari ini beri aku makanan gratis.”

“Menu itu special untuk pelanggan pertama yang datang hari ini.”

“Baiklah kalau begitu aku akan datang lagi besok pagi. Hitung-hitung dapat sarapan gratis.”

“YA!”

“Arraseo arraseo. Kalau begitu aku akan datang seminggu sekali kemari,” ucap Morin sambil nyengir lebar.

“Nuna! Apa hari ini kita hanya berdua?” tiba-tiba sebuah suara seorang pria terdengar mendekat.

Morin menoleh dan benar saja. Seorang pria yang hanya terlihat lebih tua beberapa tahun darinya berjalan mendekat dan beberapa saat menatap ke arahnya.

“Sungjin-ah, kau sudah datang. Ne, kurasa kita memang hanya akan berdua. Eomma tak bisa hadir hari ini.”

“Dan kurasa eommaku juga tak bisa datang hari ini. Bagaimana dengan eomma Leeteuk hyung?”

“Kurasa akan datang siang nanti, tapi aku juga tak begitu yakin.”

Sungjin melirik sebentar ke arah Morin yang tengah menyeruput strawberry lattenya.

“Ah, aku hampir lupa. Sungjin-ah, kenalkan ini Morin.”

Morin yang mendengar namanya disebut buru-buru meletakkan gelasnya untuk menghadap Sungjin. “Morin imnida,” ucap Morin tersenyum ramah memperkenalkan diri.

“Sungjin imnida,” balas Sungjin.

“Sebenarnya Morin dan Kyuhyun. . . .”

“Eonni!” seru Morin sontak berdiri dari tempat duduknya menyebabkan Ahra menghentikan kalimatnya dan memandang terkejut kepada Morin, begitupun dengan Sungjin. “Aku ingin ke kamar kecil,” ucap Morin lirih.

“Ah. Kau lurus saja lalu belok ke kiri. Ada di ujung koridor,” terang Ahra.

Morin mengangguk lalu berjalan pergi. Namun sebenarnya tanpa sepengetahuan Sungjin, Morin mengatakan sesuatu tanpa suara pada Ahra. “Jangan katakan apapun,” ucap Morin sambil kedua tangannya membentuk tanda silang di depan dadanya dan kepala menggeleng-geleng.

Ahra yang melihatnya hanya mengangguk mengerti.

“Jadi tadi apa yang ingin noona katakan? Morin-ssi dan Kyuhyun hyung sebenarnya?” tanya Sungjin pada Ahra yang kalimatnya terputus oleh seruan Morin.

“Sebenarnya mereka sudah pernah saling bertemu.”

“Mereka saling kenal?” tanya Sungjin penasaran pada Ahra.

Ahra hanya mengangguk tepat saat Morin datang mendekat.

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor. 5 November 2012.

“Oppa melihat laptopku?” tanya Morin pada Yesung yang membukakan pintu dorm untuknya.

“Aku bahkan tak melihat laptop asing berkeliaran di dalam dorm,” jawab Yesung mundur sedikit mencoba memberi jalan pada Morin untuk masuk ke dalam dorm.

“Tentu saja. Mana mungkin ada laptop yang berkeliaran,” ucap Morin gemas dengan jawaban Yesung yang tak masuk akal. “Dimana yang lain?”

“Sebenarnya siapa yang kau cari? Apa arti dari kata ‘lain’?” balik tanya Yesung.

Morin menatap Yesung jengah. Oke, sepertinya dia akan benar-benar memanggang Ddangkoma kalau Yesung tak menyerahkan Ddangkoma ke aquarium.

“Sungmin oppa, Eunhyuk oppa. Apa aku harus menyebutkan nama mereka satu persatu setiap bertanya?”

“Mereka ada di kamar masing-masing. Eunhyuk sedang tidur siang sedangkan Sungmin entahlah apa yang dilakukannya di kamar bersama Kyuhyun,” jawab Yesung lalu meninggalkan Morin dan pergi ke dapur.

Morin hanya meng-o tanpa suara lalu mulai mencari laptopnya di tempat kira-kira yang tepat untuk meletakkan laptop.

“Kau mau minum sesuatu?” seru Yesung dari arah dapur.

“Berikan aku cola jika ada,” seru Morin menjawab tawaran Yesung.

“Sekaleng cola untuk seorang gadis yang sedang kebingungan mencari keberadaan laptopnya,” ucap Yesung sudah ada di belakang Morin sambil mengulurkan sekaleng cola.

Morin menerima cola yang disodorkan Yesung. “Aku sebenarnya memang sangat haus,” ucapnya lalu meneguk colanya.

“Mungkin Kyuhyun menyimpan laptopmu?”

“Kurasa memang dia yang menyimpannya. Aku meninggalkannya di Kona Beans dan kata Ahra eonni dia menitipkan laptopku pada Kyuhyun. Bagaimana kalau oppa memanggilkannya?” pinta Morin.

Yesung mengangguk lalu berjalan menuju kamar Kyumin dan langsung membuka pintunya. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Yesung.

“Berlatih gitar,” jawab Kyuhyun dan Sungmin serempak.

“Morin mencarimu,” lapor Yesung lalu membuka pintu kamar lebih lebar yang menampakkan Morin di belakang Yesung.

“Kenapa kau mencariku?” tanya Kyuhyun.

“Sebenarnya aku tidak mencarimu, aku mencari laptopku,” jawab Morin mendekat ke kamar Kyuhyun.

Sungmin dan Yesung hanya diam saling bergantian menatap Morin dan Kyuhyun.

“Aku kemarin bertanya-tanya siapa yang diam-diam menjadi penggemar SHINee Minho di antara kami berempat. Dan aku baru ingat kalau ternyata itu adalah laptopmu,” ucap Kyuhyun sengit.

“Kau mengotak atik laptopku?”

“Tidak. Hanya sempat melihat abs Minho yang terpasang sebagai wallpaper.”

“YA!” teriak Morin menahan malu.

“Sebegitu terobsesinyakah kau dengan Minho?”

“Sekarang dimana laptopku?” tanya Morin mengabaikan pertanyaan Kyuhyun.

Kyuhyun menunjuk sebuah laptop hitam yang tergeletak dengan nyaman di atas ranjang berseprai biru.

Morin melenggang dengan tak acuh masuk ke kamar Kyuhyun untuk mengambil laptopnya.

“Dia perempuan pertama yang masuk kamar ini,” bisik Sungmin pada Kyuhyun.

“Lupakan dia,” sahut Kyuhyun lalu memetik gitar didekapannya. “Ayo kita mulai lagi.”

Sungmin mengangguk.

Morin yang berhasil mengambil laptopnya hanya melihat sekilas pada Kyuhyun dan Sungmin lalu berjalan keluar kamar.

“Morin-ah!” panggil Sungmin.

Morin berhenti melangkah dan menoleh pada Sungmin.

“Kau ingin mendengarkan sebuah lagu? Hari ini tiba-tiba saja Kyuhyun memintaku mengajarinya bermain gitar.”

Morin terlihat tak begitu tertarik.

Sedangkan Kyuhyun hanya menatapnya dengan malas.

“Kemarilah,” ajak Sungmin menunjuk sebuah kursi di dekat meja.

Morin berjalan dengan malas lalu menarik kursi itu dan duduk di atasnya memerhatikan Kyuhyun.

“Biarkan saja dia pergi,” ucap Kyuhyun pada Sungmin namun dengan tatapan mengarah pada Morin.

Sungmin tak mengacuhkan ucapan Kyuhyun dan beralih menatap Morin. “Morin-ah, apa kau sudah pernah mendengar Kyuhyun bernyanyi secara langsung?” tanya Sungmin.

Morin hanya menggeleng.

“Aigoo. Bagaimana mungkin kau belum pernah mendengar suara merdu kekasihmu secara langsung.”

Kyuhyun dan Morin hanya saling pandang lalu mencibir satu sama lain.

“Berarti hari ini untuk pertama kalinya kau akan mendengar Kyuhyun menyanyi secara langsung. Kau akan benar-benar jatuh cinta pada kemerduan suaranya. Aku pastikan itu,” ucap Sungmin bersemangat sedangkan Morin hanya tersenyum seadanya.

“Tidak perlu memaksakan untuk tersenyum. Cih,” gumam Kyuhyun.

Morin hanya melirik Kyuhyun dengan tajam tanpa mengatakan apa-apa.

“Kyuhyunnie, ppaliwa!” perintah Sungmin.

Kyuhyun berdeham beberapa kali sebelum akhirnya memetik gitarnya.

Girl you’re so one in a million

You are

Baby you’re the best I ever had

Best I ever had

And I’m certain that

There ain’t nothing better

No there ain’t nothing better than this

Dan tiba-tiba saja petikan nada yang salah menyebabkan konser mini yang sangat di antisipasi akhirnya gagal.

“Uh,” gumam Kyuhyun.

Morin yang sejak awal memang tak begitu tertarik dengan pertunjukan gitar Kyuhyun hanya bisa tertawa terbahak-bahak saat melihat kesalahan yang dilakukan Kyuhyun lalu berjalan keluar kamar masih sambil tertawa dan tanpa sepatah komentar apapun.

“Gadis itu~” desis Kyuhyun dengan tatapan berapi-api pada Morin.

“Kau tak akan bisa langsung pandai bermain gitar hanya dalam waktu satu hari,” Sungmin berkata dengan kalem.

Sedangkan di luar kamar Morin bergegas keluar dorm dan buru-buru masuk ke dalam lift begitu lift terbuka.

“Hah~” desahnya pelan. “Ini sedikit mengerikan,” ucap Morin menyadari bahwa lagu yang dinyanyikan Kyuhyun tadi sama persis dengan lagu yang dinyanyikan Kyuhyun untuknya di dalam mimpi ditambah lagi dengan Kyuhyun yang menyanyikan lagu itu menggunakan gitar meski penampilannya kali ini tak sesempurna penampilannya di dalam mimpinya. Dan itu membuatnya sedikit takut. Sebenarnya bukan takut kata yang paling tepat untuk saat ini tapi entahlah Morin sendiri juga tak begitu paham kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini.

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor. 12 November 2012.

Kyuhyun duduk diam di dalam kamarnya. Melirik ponselnya sekilas lalu beranjak keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Meneguknya hingga hanya menyisakan setengah botol lalu memasukkan kembali ke dalam kulkas sambil mendesah pelan.

“Kau ingin pergi keluar?” tanya Eunhyuk yang sudah muncul di ruang dapur.

Kyuhyun hanya menggeleng.

“Kalau begitu kenapa kau begitu rapi?” tanya Eunhyuk lagi memerhatikan penampilan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengangkat bahu lalu berjalan keluar dapur menuju ruang televisi. Duduk disana beberapa saat. Menggonta ganti chanel televisi tanpa niatan untuk menonton acaranya.

“Aku pulang~” seru Yesung yang baru kembali dari Y style. “Dia kenapa?” tanya Yesung pada Sungmin yang tengah membaca buku begitu melihat tingkah aneh Kyuhyun.

Sungmin melirik Kyuhyun lalu menjawab dengan sebuah gelengan.

Kyuhyun kembali mendesah. Kali ini dengan desahan yang lebih panjang daripada sebelumnya.

Eunhyuk yang baru bergabung dengan Yesung dan Sungmin ikut mengamati Kyuhyun.

Kyuhyun mematikan televisi dan tiba-tiba memutar tubuh menghadap 3 hyungdeulnya. “Hyung!”

“Ne?” jawab Sungmin, Yesung dan Eunhyuk serempak.

Kyuhyun terlihat berpikir beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu. “Sudah lupakan saja,” ucap Kyuhyun pada akhirnya lalu berjalan meninggalkan ruang televisi untuk kembali lagi ke kamarnya.

Kyuhyun meraih ponselnya di atas meja. “Sekarang atau tidak sama sekali,” ucapnya lalu menekan sebuah nomor yang hampir dihafalnya meski sebenarnya jarang dihubungi.

Terdengar nada tunggu beberapa saat hingga akhirnya sebuah suara seorang perempuan menjawab di ujung sana.

“Ada apa?”

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Kau tinggal bicara saja apa susahnya?”

Kyuhyun memejamkan mata mencoba untuk tidak balas berkata dengan ketus pada orang yang di telepon. “Jam berapa kau pulang kuliah?”

“Uhm, kurasa setengah jam lagi.”

“Arraseo. Hubungi aku saat kau keluar kelas,” pesan Kyuhyun.

“Mm hm.”

Kyuhyun meraih kunci mobilnya dan kembali berjalan keluar kamar.

“Kau mau pergi?” tanya Ryeowook yang entah sejak kapan sudah berada di dorm.

Kyuhyun hanya mengangguk sekilas.

“Tapi hari ini kita harus latihan,” ucap Ryeowook mengingatkan.

Kyuhyun baru ingat kalau seminggu lagi adalah konser KRY di Jepang. Dia terlihat bimbang beberapa saat, tidak mungkin dia untuk absen latihan dengan alasan jadwal mendadak karena manajer hyung telah memilihkan hari yang kosong khusus untuk latihan KRY sebelum berangkat ke Jepang tanggal 19 nanti.

“Kau mau absen latihan?” curiga Sungmin mengawasi tingkah Kyuhyun.

“Kalian berangkat saja dulu,” ucap Kyuhyun pada Ryeowook dan Yesung. “Untuk kali ini saja biarkan aku datang terlambat. Beri alasan apapun yang meyakinkan untuk keterlambatanku kali ini. Aku usahakan akan kembali secepat mungkin. Aku berjanji,” ucap Kyuhyun lalu bergegas keluar dorm.

“Sebenarnya dia kenapa? Tidak biasa-biasanya dia seperti itu,” heran Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya.

-oooOooo-

Kyu’s Car.

Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jemari tangannya pada kemudi mobil hingga akhirnya getar ponsel mengejutkannya.

“Kau sudah keluar kelas?”

“Ne. Wae?”

“Sekarang kau dimana?”

“Di halte.”

“Tunggu sebentar aku akan kesana,” ucap Kyuhyun mengakhiri pembicaraan lalu melajukan mobilnya menuju halte terdekat.

Kyuhyun menghentikan mobil beberapa meter dari halte karena di halte itu cukup banyak mahasiswa yang tengah menunggu bis hingga akhirnya sebuah bis datang dan menyisakan seorang gadis yang kini tampak duduk sendirian sambil mendengarkan musik.

Kyuhyun lalu melajukan mobilnya dengan pelan semakin mendekati halte hingga akhirnya berhenti di depan halte itu.

Morin yang melihat sebuah mobil berhenti dihadapannya hanya menoleh sekilas, tak mengacuhkannya.

Kyuhyun meraih ponsel di atas dashboard lalu menempelkannya ke telinga setelah memastikan menekan sebuah nomor yang tepat.

“Kenapa kau hanya diam disitu,” ucap Kyuhyun sambil menatap Morin dari dalam mobilnya.

“Tentu saja aku menunggumu bodoh,” ucap morin mendengus. “Dan berapa lama lagi aku harus menunggu? Aku baru saja melewatkan bis terakhirku. Awas saja kalau tiba-tiba kau memutuskan tidak datang,” ancam Morin.

Kyuhyun hanya tersenyum simpul. “Kau tidak lihat mobil yang berhenti di depanmu?”

Tampak Morin yang kini memerhatikan mobil Kyuhyun beberapa saat. “Wae? Kau mau bilang kalau itu kau?”

“Ne.”

“Jinjja?” pekik Morin lalu berlari-lari kecil mendekati mobil Kyuhyun dan mengetuk kacanya dengan pelan.

Kyuhyun sedikit menurunkan kaca mobilnya. “Masuklah,” perintah Kyuhyun.

Morin mengangguk lalu memutari mobil.

“Bagaimana mungkin tuan artis yang katanya sibuk tiba-tiba ingin bertemu denganku?” tanya Morin mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun tak menjawab dan hanya diam, fokus pada jalan yang terbentang dihadapannya.

“Apa kau mengosongkan jadwalmu demi bertemu denganku?” tanya Morin lagi karena Kyuhyun yang hanya diam.

Kyuhyun masih saja tetap diam.

Morin  mendengus dengan keras lalu menarik tubuhnya dan memasang seatbelt. “Apa dia tidak punya mulut? Kenapa dia hanya diam saja? Atau mungkin dia kerasukan setan bisu? Tapi mana mungkin setan kerasukan setan?”

Kyuhyun menoleh pada Morin dengan tiba-tiba saat mendengar ucapan Morin.

Morin balik menatap Kyuhyun dengan tatapan datar namun sebenarnya sudah bersiap-siap untuk membalas apapun yang akan keluar dari mulut Kyuhyun.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Kyuhyun tak terduga yang menyebabkan Morin hanya mengerjap-ngerjap beberapa saat sampai akhirnya mengangguk.

“Baik,” jawab Morin masih menatap Kyuhyun penasaran menunggu jawaban selanjutnya tapi Kyuhyun hanya diam melihat ke depan.

Cukup lama Morin mengamati Kyuhyun hingga suara Kyuhyun mengejutkannya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Kyuhyun tanpa menoleh kepada Morin.

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku penasaran, hari ini kau tampak berbeda.”

“Jadi kau ‘penasaran’ padaku?” tanya Kyuhyun dengan penuh penekanan pada kata penasaran.

“Mm hm,” jawab Morin mengangguk.

Kyuhyun hanya menahan tawa mendengar jawaban polos Morin.

“Kau benar-benar ‘penasaran’ padaku?” ulang Kyuhyun.

Lagi-lagi Morin mengangguk.

“Apa karena kau menyukaiku makanya kau penasaran padaku?”

Morin mengangguk. “Ne~”

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk namun tiba-tiba lengkingan Morin membuat konsentrasi mengemudinya sedikit terganggu.

“MWO? Aniyo. Aku tak menyukaimu.”

Kyuhyun kembali mengangguk-angguk.

“Aku tak menyukaimu. Benar-benar tak menyukaimu,” ucap Morin lagi.

Kyuhyun kembali hanya mengangguk-angguk yang tak dapat ditebak apa arti dari anggukan-anggukan itu.

Morin mengalihkan tatapan dari Kyuhyun dan berganti menunduk sambil memukul pelan kepalanya sendiri. “Pabo.”

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Morin setelah diam cukup lama. Berada di dalam mobil yang sama dan hanya diam bukanlah hal yang menyenangkan.

“Uhm entahlah. Aku masih memikirkannya.”

“Jadi sebenarnya kau tadi tidak benar-benar ingin bicara denganku?”

“Entahlah,” jawab Kyuhyun enteng yang membuat Morin menatap penuh amarah pada Kyuhyun namun Kyuhyun hanya diam saja tak merespon amarah Morin.

“Ngomong-ngomong berapa lama lagi kita akan sampai?” tanya Kyuhyun pada Morin.

“Sebentar lagi. Kau hanya perlu menurunkanku di persimpangan jalan utama dan aku akan berjalan menuju rumahku.”

Kyuhyun hanya mengangguk.

Setelah beberapa menit akhirnya mobilpun berhenti.

“Apakah aku harus berterimakasih untuk tumpangan ini?” tanya Morin pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menggeleng.

Morin kembali menatap heran Kyuhyun. Hari ini sepertinya ada yang aneh dengan Kyuhyun. Memang mungkin Morin belum terlalu lama mengenal Kyuhyun tapi dia bisa merasakan perubahan itu meski hanya kecil. Morin mengangkat bahu tak mau terlalu ambil pusing dengan sikap aneh Kyuhyun lalu bersiap-siap membuka pintu mobil. “Hari ini ceritanya dia menjadi supirku,” gumam Morin lirih.

“Jangan pergi,” tiba-tiba suara Kyuhyun menghentikan Morin yang belum sempat membuka pintu mobil.

Morin diam mematung di tempatnya masih dengan posisi membelakangi Kyuhyun.

“Jangan pernah pergi dari sisiku. Bagaimanapun sulitnya bersamaku,” ucap Kyuhyun dengan ekspresi yang sama sekali tak diketahui Morin karena tubuhnya yang membelakangi Kyuhyun.

“Naneun joahe,” ucap Kyuhyun lirih namun terdengar sangat jelas di telinga Morin.

Morin hanya membelalak menatap bayangan Kyuhyun yang terpantul samar dari kaca mobil. Rasanya Morin ingin membalikkan badan dan berteriak pada Kyuhyun kalau setan yang merasukinya hari ini sudah keterlaluan tapi satu bagian dalam tubuh Morin melarangnya.

-oooOooo-

Caena’s Room. 15 November 2012.

“Caena-ya?” panggil Morin pelan sambil memainkn sumpit yg dipegangnya.

“Wae?” tanya Caena tanpa sedikitpun memalingkan wajah dari majalah di hadapannya.

Cukup lama Morin tak menjawab.

“Apakah terjadi sesuatu?” tanya Caena masih tanpa memandang Morin.

“Uhm. . .” Morin memberi jeda yg cukup panjang sebelum akhirnya melanjutkan. “Bagaimana menurutmu jika ada seorang pria mengatakan bahwa dia menyukaimu?”

Caena sontak menoleh pada Morin dan dengan gaya ‘sok’nya dia menaruh jari telunjuk di dagu sambil berpikir. “Ku rasa dia hanya akan main-main denganku. Dia hanya mengatakan suka kan? Kecuali dia mengatakan kalau dia mencintaiku.”

“Tapi tak sedikit juga pria yg mempermainkan gadis-gadis bahkan setelah dia mengatakan mencintai mereka.”

“Kau benar,” setuju Caena tampak berusaha mengoreksi argumennya sendiri. “Tidak sedikit juga pria dan wanita yang saling mencintai berawal dari rasa suka.”

Morin mengangguk. “Bagaimana jika pria itu juga mengatakan agar kau tak meninggalkannya betapapun sulitnya bersamanya?”

“Lalu dia akan meninggalkanku saat dia merasa kesulitan bersamaku?” seru Caena.

Morin menatap Caena tampak sangat shock.

“Cih! aku hanya bercanda. Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu padaku.”

Morin menghela nafas pelan.

“Terkadang banyak orang yang salah mengartikan tentang rasa suka dan cinta. bagi beberapa orang menganggap bahwa suka berarti cinta namun sebenarnya cinta jauh melebihi suka. Suka itu lebih seperti hasrat untuk memiliki. Saat kau menyukai seseorang ada hasrat dalam dirimu untuk memiliki dia namun saat kau mencintai seseorang, kau akan merasakan hal yang berbeda. Dalam cinta, melihat orang yang kau cintai bahagia itulah yang terpenting bukan berambisi untuk memilikinya.”

“Uhwo~ betapa dewasanya uri Caena sekarang,” goda Morin mengacak-acak rambut Caena.

“Ah! Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu?” tanya Caena dengan nada menyelidik sambil berusaha merapikan rambutnya yang berantakan karena serangan mendadak dari Morin.

“Hanya bertanya.”

“Jinjjayo? Bukankah seorang pria baru saja menyatakannya padamu?” goda Caena.

Morin menatap Caena ragu lalu mengangguk pelan.

“Jinjja?” pekik Caena tampak tertarik dengan anggukan Morin.

Morin kembali mengangguk.

“Nugu?”

“Kau sungguh ingin tahu?” goda Morin.

Caena mengangguk-angguk antusias.

Morin diam sesaat sebelum akhirnya menjawab. “Choi Minho.”

Antusiasme yang sebelumnya menghiasi wajah Caena mendadak menghilang entah kemana mendengar jawaban Morin tergantikan dengan wajah datar penuh kemalasan.

“Choi Minho baru saja menyatakan cinta padamu? Jung Yonghwa baru saja melamarku dan mengajakku menikah.”

-oooOooo-

Suju’s Dorm 12th Floor. 16 November 2012.

“Donghae-ya?”

“Ya! Cho Kyuhyun. Kau pikir aku adikmu?”

Kyuhyun hanya menyeringai menanggapinya.

“Oh ya. Kau tak berniat mengajakku kolaborasi dalam konser KRY yang akan datang?” tanya Donghae dengan tatapan penuh harap.

“Untuk apa? Suara KRY sudah terlalu sempurna, tidak perlu kolaborasi-kolaborasi segala. Apalagi kolaborasi dengan orang yg bahkan kualitas suaranya diragukan,” jawab Kyuhyun menggeleng-nggeleng mendramatisir.

“Ya! Aku bahkan berada di urutan ketiga pemilik suara emas setelah KRY dan Sungmin,” jawab Donghae tak terima.

“Kau bahkan juga bodoh. Seharusnya kau urutan kelima setelah Cho Kyuhyun, Yesung, Ryeowook, dan Sungmin.”

“Baiklah. Urutan kelima jika dihitung seperti itu,” ucap Donghae pasrah.

“Cih, dasar.”

“Aku merasa semenjak Teuki hyung pergi wamil dorm terasa semakin sepi?” keluh Donghae.

“Tidak terlalu,” jawab Kyuhyun.

“Dasar maknae durhaka,” teriak Donghae tak terima. “Berbicara denganmu benar-benar menguras tenaga.”

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk berbicara denganku,” balas Kyuhyun dengan tatapan sok polosnya.

“Cih,” Donghae hanya menahan diri untuk tidak kembali berteriak menghadapi maknaenya itu. “Kyuhyunnie, bagaimana menurutmu kalau kita tidur bersama?”

“Mwo?” teriak Kyuhyun menjauhkan diri dari Donghae sambil melindungi tubuhnya dengan memeluk tubuhnya sendiri. “Kau jangan macam-macam denganku.”

“Ya! Maksudku bukan seperti itu. Tapi bagaimana jika kita bertujuh tinggal di satu dorm saja?”

“Shireo,” tolak Kyuhyun mentah-mentah.

“Tapi aku merasa kesepian hanya tinggal bertiga dengan Kangin hyung dan juga Ryeong.”

“Shireo,” ulang Kyuhyun sekali lagi. “Perusahaan sudah membayar mahal-mahal untuk dua dorm kenapa sekarang tiba-tiba kita harus tinggal dalam satu dorm. terlalu sesak, membuatku sulit bernafas.”

Donghae mendengus kesal. “Ah, aku punya ide. Bagaimana kalau besok malam kita berkumpul disini?” tawar Donghae.

“Wae?”

“Molla. Hanya berkumpul saja. Aku akan mengajak Morin kemari agar kau senang,” goda Donghae. “Lagi pula tanggal sembilan belas nanti KRY akan pergi ke Jepang, membuatku merasa semakin kesepian,” rajuk Donghae dengan manja.

“Apa kita juga akan pesta?” tanya Eunhyuk yang baru keluar dari kamar mandi.

“Kau baru saja keramas?” tanya Donghae menatap rambut Eunhyuk yang basah.

Eunhyuk hanya mengangguk.

Donghae mencoba mencium aroma shampoo yang semerbak. “Kau menggunakan shampooku?” tanya Donghae.

“Molla. Aku hanya menggunakan shampoo begitu saja di kamar mandi.”

“Itu shampooku,” teriak Donghae. “Aku membelinya jauh-jauh dari LA. Bahkan aku menghemat untuk menggunakannya dan sekarang kau tanpa seijinku menggunakannya.”

“Kenapa kau pelit sekali hanya masalah shampoo,” balas teriak Eunhyuk.

“Itu shampoo mahal,” jawab Donghae tak terima.

“Aish~ mereka berdua,” keluh Kyuhyun lalu keluar dari dorm meninggalkan EunHae.

Di luar pintu dorm Kyuhyun memikirkan kembali ide Donghae yang mengajak Morin untuk datang ke dorm. “Ini pasti akan sulit,” keluhnya sambil menggaruk-nggaruk kepala.

To be Continue-


a/n:

kritik, saran atau pertanyaan silakan disampaikan di kolom komentar ^^

Advertisements