Don’t Forget

by monamuliaa

Don't Forget

Oneshot ║ Angst, Romance, Songfic

Im Morin (OC) ║ Cho Kyuhyun (SJ) ║ Choi Minho (SHINee)

 

.

 

 

Inspiration : Demi Lovato – Don’t Forget

 

Today.

Seoul, South Korea.

 

Tut~ Tut~ Tut~

Berkali-kali pria di dalam mobil itu menghubungi nomor ponsel kekasihnya namun sebanyak dia mencoba menghubungi itu jugalah tak ada satupun jawaban dari kekasihnya.

Pria itu mengetuk-ngetukkan jemarinya pada kemudi mobil sambil mencoba menghubungi kekasihnya untuk terakhir kali sebelum akhirnya menyerah untuk menghubungi kekasihnya.

Dia melirik ke luar kaca mobil. Gerimis mulai berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Beberapa kali dia mendongakkan kepala ke arah jendela-jendela gelap pada gedung apartemen di seberangnya. Salah satu dari sekian banyaknya jendela itulah apartemen dimana kekasihnya tinggal.

Pria itu menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya memutar mobilnya memasuki basement untuk memarkirkan mobilnya lalu beranjak turun dari mobil dengan sebelumnya mengambil sebuket mawar dan tas kertas berisi anggur merah yang telah disiapkannya.

Pria itu melangkah masuk ke dalam lift, tampak sesekali tersenyum saat menyadari bahwa dirinya akan bertemu dengan kekasihnya dalam beberapa menit lagi.

Tring.

Pintu lift terbuka tepat di lantai 5.

Pria itupun berjalan dengan langkah pelan di sepanjang koridor. Bunyi ketukan sepatunya menggema di penjuru lantai. Dia berusaha mempercepat langkah kakinya saat melihat tikungan koridor di hadapannya. Tinggal beberapa menit sebelum dia mencapai pintu kekasihnya. Namun langkahnya terhenti tepat di tikungan koridor saat melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Disana, hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, tepatnya di depan pintu apartemen kekasihnya. Dia melihat sekilas seorang pria dan seorang perempuan tengah berciuman lalu masuk ke dalam apartemen yang menjadi tujuan kedatangannya malam ini.

Pria itu masih tetap berdiri di tempatnya berada, menatap ke arah pintu apartemen yang telah menutup. Untuk beberapa saat dia sama sekali tak tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya namun pada detik berikutnya dia sadar telah berdiri tepat di depan pintu apartemen itu lalu menekan bel pintu, hanya sekali.

Cukup lama tak ada respon dari pemilik apartemen. Pria itu hanya menunduk, menunggu sampai kekasihnya membuka pintu apartemen.

Beberapa menit kemudian pintu apartemen terbuka menampakkan seorang perempuan dengan senyum cerah menyambut kedatangannya.

“Apa ini bunga untukku?” ucap perempuan itu mengambil alih bunga lalu meraih tangannya.

Pria tadi menepis tangan perempuan yang ada dihadapannya dan tanpa sepatah katapun langsung menerobos masuk ke dalam apartemen.

“Dimana kau menyembunyikannya?”

“Kyuhyun-ah, apa yang kau maksud?” tanya sang perempuan sambil bergelanjut manja pada lengan pria yang dipanggilnya Kyuhyun.

Kyuhyun menatap dengan tajam pada perempuan dihadapannya lalu menepis tangannya dengan kasar. “Keluarlah pengecut. Mari bicara layaknya pria sejati.”

“Kyuhyun-ah! Apa yang kau bicarakan?”

“DIAMLAH!” Kyuhyun berteriak dengan lantang bersamaan dengan bunyi prang dari botol anggur yang telah berserakan di lantai. Menyebabkan seluruh isinya menghambur ke segala arah.

“Argh!”

“Morin-ah! Gwenchanayo?” tiba-tiba seorang pria muncul dari arah ruang tengah. Bau alkohol tercium tajam, menandakan pria yang baru saja keluar dari ruang tengah itu sedang mabuk.

Perempuan yang dipanggil Morin tersebut berdiri dengan ketakutan sambil mulai terisak.

Kyuhyun menoleh pada pria yang muncul dengan tiba-tiba itu lalu tersenyum dengan sinis. Dan tanpa aba-aba langsung memukulnya dengan tinju yang cukup keras tepat mengenai wajahnya menyebabkan pria itu terhuyung jatuh ke lantai.

Pria itu hanya menatap Kyuhyun sambil mengusup sudut bibirnya yang berdarah. Sama sekali tak melawan, mungkin kesadarannya belum kembali sepenuhnya.

“Kyuhyun-ah! Aku bisa menjelaskan semuanya padamu,” Morin berlari ke arah Kyuhyun sambil menggenggam tangan Kyuhyun yang masih mengepal.

Kyuhyun mendorong Morin dengan kasar menyebabkannya terjatuh ke lantai. “Cih! Tiga tahun ternyata tak ada artinya sama sekali. Aku patut memberimu penghargaan untuk kepura-puraanmu selama tiga tahun ini. Oke, kurasa ini semua sudah cukup jelas.”

Kyuhyun berjalan keluar apartemen dengan langkah cepat. Nafasnya naik turun menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

Kajima! Jebal!” Morin beranjak dari lantai lalu berlari menyusul Kyuhyun, tanpa menyadari bahwa dia masih menggunakan sandal rumah. Morin berlari turun dari tangga darurat karena tak sabar menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka.

Setelah tiba di lantai dasar, Morin berlari-lari menuju basement parkir mobil. Dia melihat Kyuhyun yang hampir mendekati mobil miliknya dan cepat-cepat meraih tangan Kyuhyun sambil terisak. “Aku mencintaimu.”

“Ini yang kau bilang kau mencintaiku? KAU INGIN AKU PERCAYA PADAMU?” Kyuhyun menghentakkan tangannya lalu masuk ke dalam mobil dan menancap gasnya dengan hentakan keras menyebabkan bunyi dencitan ban dengan lantai.

Kajima! Jebal!” gumam Morin dengan air mata yang terus mengalir sambil berlari.

“Morin-ah!” cegah pria yang tadi ada di dalam apartemen Morin menahan tangan Morin.

“LEPASKAN,” teriak Morin tak peduli lalu berlari mengejar mobil Kyuhyun ke jalanan yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Ciiiiittttt.. Brak..

“ARGH!”

 

But somewhere we went wrong
We were once so strong
Our love is like a song, you can’t forget it

So now I guess this is where we have to stand
Did you regret ever holding my hand?
Never again, please don’t forget, don’t forget

==***==

Did you forget that I was even alive?
Did you forget everything we ever had?
Did you forget, did you forget about me?

 

3 Years Ago.

Prague, Ceko.

 

Ckrek.

Terdengar suara jepretan kamera pelan bersamaan dengan blitz kamera dari salah satu meja di dalam cafe yang cukup lenggang, hanya terdapat dua pengunjung di dalam cafe tersebut.

Seorang perempuan muda berwajah oriental terlihat tersenyum puas melihat hasil jepretannya pada coffee latte yang baru saja dipesannya dengan hiasan berbentuk hati pada puncak coffe.

“Kau sungguh berbakat Im Morin,” pujinya pada dirinya sendiri sambil meniup kertas foto yang dipegangnya kemudian meletakkan kamera polaroidnya di atas meja yang telah dipenuhi oleh kertas-kertas dan beberapa alat tulis yang berserakan.

Bermacam unsur di dalam cangkir, air, kopi, gula, cream, dan kehangatan. Coffee latte yang sempurna tercipta karena komposisi tepat dari bermacam unsur. Begitupun dengan cinta, komposisi yang tepat akan menjadikan cinta sempurna. ^^

Morin membaca sekali lagi tulisan yang dia tulis di baris bawah hasil fotonya lalu menyisipkannya ke dalam salah satu lembaran buku dihadapannya.

Di sudut cafe terpaut beberapa meja dari Morin, seorang pria muda yang juga berwajah oriental tengah duduk seorang diri.

Pria itu menatap penuh kerinduan ke arah jalanan Smetanovo yang dipenuhi lembaran putih salju. Namun sebenarnya pikirannya terbang jauh dari Prague. Ke Seoul, negara yang dirindukannya meskh dia belum terlalu lama tinggal di Prague.

Fighting! Cho Kyuhyun disini untuk belajar bukan untuk main-main,” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Beberapa detik kemudian, seorang pelayan cafe mengumumkan menggunakan bahasa Czech bahwa cafe akan segera ditutup karena salju yang terlalu lebat menyebabkan cafe sepi dari pengunjung.

Morin menoleh pada pelayan itu yang berucap maaf pada Morin. Morin hanya tersenyum lalu mengangguk menandakan bahwa dia tidak masalah dengan ‘pengusiran sopan’ tersebut.

Morin memasukkan seluruh barangnya ke dalam tas hitam di kursi sampingnya. Tidak lupa dia memasang sarung tangan tebal serta penutup telinga setelah melirik tumpukan salju di luar cafe.

Sebelum beranjak meninggalkan kursinya, Morin menoleh pada pria yang duduk si sudut cafe. Morin mengamati pria itu yang masih saja diam di tempat sama sekali tak ada niatan untuk beranjak dari kursinya.

Morin menoleh ke arah pelayan-pelayan cafe yang sudah mulai beres-beres lalu mendekati pria di sudut cafe itu, beranggapan bahwa dia tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan pelayan tadi.

Morin berdeham pelan mencoba untuk mencuri perhatian pria itu namun pria itu sama sekali tak bergerak.

Promiňte (Excuse me),” ucap Morin.

Kyuhyun mengalihkan pandangan dari luar cafe dan beralih menatap Morin.

Deg.

Untuk beberapa saat waktu seolah berhenti. Jarum jam klasik yang berdiri kokoh di sudut cafe seolah berhenti berputar. Seolah ada tangan-tangan besar dengan remote control ajaibnya yang mempause semua hal pada detik ini.

Kyuhyun menatap sepasang manik mata dihadapannya saat ini. Sepasang mata yang indah, bersinar dan bulat ditambah dengan bulu mata lentik yang mengelilinginya. Saat mata itu berkedip, memberikan kedamaian pada siapapun yang memandangnya.

Morin balas menatap mata Kyuhyun. Mata tajam, bagaikan magnet yang menarik Morin untuk tak mengalihkan pandangan dari sana. Tatapan dinginnya seolah memancarkan cahaya. Namun saat bola mata itu bergerak, tatapan dinginnya berubah menjadi kehangatan.

Jantung mereka bekerja dua kali lipat dari kerja jantung normal, namun ditelinga masing-masing dari mereka detak jantung itu seolah berirama. Mengalun lembut menembus batas keasingan. Dan tiba-tiba saja sebuah perasaan asing menyusup lembut pada relung hati mereka masing-masing.

Kalian percaya love at first sight? Mungkin apa yang dirasakan Kyuhyun dan Morin sat ini bisa disebut dengan love at first sight, mungkin.

Dan setelah detik yang cukup lama, Morin tersadar dengan tujuan utamanya lalu segera mengulang apa yang telah diucapkan pelayan tadi dengan sesopan mungkin dalam bahasa Czech pada Kyuhyun.

Mata Kyuhyun menyipit mencoba memahami apa yang dikatakan Morin. “Nerozumim. Nemluvim česky (I don’t understand. I don’t speak Czech),” pada akhirnya kata itulah yang meluncur dari bibir Kyuhyun. Karena hanya kata itulah yang dia kuasai dalam bahasa Czech. Setidaknya untuk saat ini.

“Ah,” Morin mengangguk mengerti lalu mengulang kalimatnya dalam bahasa Inggris. “The cafe will be closed by them at once.”

Kyuhyun menatap Morin beberapa saat dan tanpa mengucapkan apapun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Morin.

Morin hanya menghela nafas pelan. Dan saat dia hendak menyusul keluar dari cafe, matanya menangkap sebuah benda di lantai. Morin memungutnya. Sebuah dompet kulit berwarna hitam. Morin mengedarkan pandangan berkeliling, memastikan bahwa selama beberapa jam yang lalu hanya ada dua pelanggan di dalam cafe tersebut.

Dengan pelan Morin membuka dompet itu dan menemukan sebuah kartu mahasiswa disana. Di puncak kartu mahasiswa tersebut tertulis Charles University of Prague.

“Cho Kyuhyun. Seoul, South Korea.” Morin tersenyum saat menyadari bahwa pria yang baru saja ditemuinya beberapa menit yang lalu berada di universitas yang sama dengannya dan juga berasal dari negara yang sama dengannya.

Morin berbalik hendak menyusul Kyuhyun.

Děkuji (Thank you),” ucap pelayan cafe ramah pada Morin saat hendak melewati pintu.

Prosim (You’re welcome),” balas Morin ikut tersenyum ramah.

“Kyuhyun-ssi,” seru Morin saat melihat Kyuhyun yang berada belum terlalu jauh dari cafe.

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Morin dengan bingung karena perempuan yang berlari kearahnya saat ini memanggil namanya.

“Kau menjatuhkan ini di cafe,” ucap Morin dalam bahasa Korea sambil tersenyum ramah dan mengacungkan dompet hitam milik Kyuhyun lalu mengulurkannya pada pemiliknya.

Gamsahamnida,” balas Kyuhyun sambil membungkuk sopan pada Morin.

Ne. Cheonmaneyo,” balas Morin membungkuk sopan juga pada Kyuhyun lalu berbalik hendak pergi.

Begitupun dengan Kyuhyun yang berbalik hendak pergi ke arah yang berlawanan dengan Morin.

Mereka berdua tak pernah tahu bahwa Smetanovo nabřeži and Narodni adalah saksi bisu pertemuan pertama mereka. Pertemuan, yang selanjutnya akan membawa mereka ke dalam sebuah lingkaran hubungan yang disebut dengan…cinta.

 

==***==

Did you regret ever standing by my side?
Did you forget we were feeling inside?
Now I’m left to forget about us

 

2 Years Ago.

Prague, Ceko.

 

Morin dan Kyuhyun duduk di sebuah bangku di Old Town Square dengan Astronomical Clock yang berdiri kokoh di tengah-tengahnya. Lampu warna-warni dari beberapa bangunan di sekitar taman menjadikan pemandangan lebih indah. Ditambah dengan suara gesekan biola oleh seniman jalanan dari ujung lain taman menambah suasana menjadi romantis.

Morin memandang jam Astronom, menghitung setiap detik pergerakan jarum jam. Satu tahun yang lalu, ditanggal yang sama dengan saat ini dia bertemu Kyuhyun. Pria yang sekarang duduk di sampingnya.

Morin menoleh pada Kyuhyun yang juga memandang ke arah jam Astronom. Mungkin apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang dipikirkan Morin.

“Kyuhyun-ah!” panggil Morin pada Kyuhyun bersamaan dengan Kyuhyun yang menoleh padanya sambil tersenyum.

“Kau tahu, kita telah bersama selama satu tahun ini. Kita kuliah di universitas yang sama. Kau satu-satunya orang terdekatku di Praha. Begitupun dengan aku, satu-satunya orang terdekatmu di Praha. Setiap sabtu malam aku tak pernah pergi keluar bersama pria lain selain kau. Aku juga hanya menghabiskan tahun baru bersamamu. Saat mahasiswa-mahasiswa Korea lain mengambil liburan musim panas untuk pulang ke Seoul, hanya kau dan aku yang memilih untuk tetap di Praha. Bahkan sekarang kita berdua juga berbicara dengan banmal,” Morin memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan. “Uhmm, apa sekarang kita berpacaran?” tanya Morin dengan nada canggung.

Lama tak ada jawaban dari Kyuhyun menyebabkan Morin menoleh pada Kyuhyun yang hanya menatapnya dengan bingung sambil mengerutkan dahi.

Morin kecewa dengan reaksi Kyuhyun lalu beranjak pergi dari sana dengan langkah cepat meninggalkan Kyuhyun yang masih duduk mematung dengan penuh tanda tanya.

“Apa sebenarnya yang tadi dia katakan?” tanya Kyuhyun melepas earphone yang menyumbat telinganya dari balik topi rajut berbentuk kupluk musim dingin yang dikenakannya.

“Morin-ah!” panggil Kyuhyun lalu berlari mengejar Morin yang sudah berada cukup jauh dari Kyuhyun.

“Ini memalukan. Ini memalukan,” gumam Morin dengan mata berkaca-kaca. Beberapa detik lagi sudah pasti dia akan menangis.

Samar-samar Morin mendengar panggilan Kyuhyun namun sama sekali tak dipedulikannya.

Ya, Im Morin!” panggil Kyuhyun sudah dekat dengan Morin namun Morin sama sekali tak berhenti.

Kyuhyun menarik tangan Morin, memaksanya untuk berhenti. “Untuk apa kedua telinga ini jika bukan untuk mendengarkan panggilan orang lain,” ucap Kyuhyun menyentil telinga Morin.

Morin memalingkan wajahnya, tak mau menatap Kyuhyun. Tapi Kyuhyun dapat melihat butiran bening yang jatuh dari kedua mata Morin.

Gwenchana? Apakah aku menyentilmu terlalu keras?” tanya Kyuhyun sambil memerhatikan lebih seksama pada telinga Morin.

Morin tak menjawab dan hanya mengusap air matanya dengan kasar.

“Aku ingin kembali ke flat,” ucap Morin pelan melepas genggaman tangan Kyuhyun pada lengannya.

Jamkaman. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” Kyuhyun mencegah Morin untuk pergi.

Morin menurut. Dia membiarkan Kyuhyun mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

“Mungkin ini sudah sangat terlambat jika melihat kebersamaan kita selama satu tahun ini. Aku memang pengecut karena tak pernah berani mengatakannya sejak dulu. Tapi yang perlu kau tahu bahwa aku mencintaimu. Jauh sebelum kedekatan kita beberapa bulan terakhir ini, tapi sejak pertemuan pertama kita di cafe itu satu tahun yang lalu. Saat pertama kali aku melihat sepasang manik mata yang indah dihadapanku. Saat aku mendengar sapaan ramahmu untuk pertama kali. Dan saat aku melihatmu tersenyum untuk pertama kali. Miluji te. I love you. Saranghae.”

Morin terharu mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Kyuhyun. Mungkin Kyuhyun memang bukan tipe pria yang mudah merangkai kata membentuk barisan kalimat romantis, namun kalimat terakhir yang terucap itu adalah kalimat terromantis yang pernah Morin dengar. Melebihi sajak-sajak romantis yang selalu dituturkan oleh Romeo Montague dan Julliet Capulet ketika mereka tengah di mabuk cinta.

Nado saranghae.”

 

==**==

We had it all, we were just about to fall
Even more in love, than we were before
I won’t forget, I won’t forget about us

 

1 Years Ago.

Seoul, South Korea.

 

Morin dan Kyuhyun duduk berhadapan. Di atas ranjang berseprai coklat dengan motif-motif berwarna coklat muda.

Morin meraih kepala Kyuhyun, memaksanya untuk menghadap sepenuhnya pada Morin.

“Jangan pernah memandang wanita lain. Karena mata ini hanya untuk memandangku,” ucap Morin menatap penuh arti ke dalam mata teduh Kyuhyun.

Kyuhyun hanya terdiam, mencoba menghayati setiap kata yang terucap dari bibir Morin.

“Jangan pernah menggenggam tangan wanita lain. Karena tangan ini hanya untuk menggenggam tanganku,” lanjut Morin kini menyatukan jemari tangannya pada jemari tangan Kyuhyun.

Kyuhyun masih tetap diam, membiarkan Morin membaca entah jenis mantra apa yang sedang dilafalkannya.

“Jangan pernah mendekap wanita lain. Karena dekapan ini hanya untukku,” Morin beralih memeluk Kyuhyun dengan erat.

Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum lalu balas memeluk Morin dengan erat.

Mereka saling memeluk dengan erat. Mendekap kehangatan cinta yang mengalir di setiap sendi dalam tubuh mereka. Merasakan detak jantung berirama dari pusat kehidupan mereka. Menghirup aroma harum yang menguar dari masing-masing tubuh mereka.

“Dan yang paling terpenting, jangan pernah biarkan orang lain memiliki ini.” Morin meletakkan telapak tangannya ke dada bidang Kyuhyun. Mencoba merasakan detak jantung Kyuhyun melalui ujung-ujung saraf pada anggota tubuhnya.

Beberapa saat Kyuhyun terdiam, seolah terbius dengan kalimat magis yang baru saja diucapkan Morin.

Morin tersenyum lembut pada Kyuhyun.

“Rambut, dahi, mata, hidung, pipi, semua itu milikku. Jangan biarkan orang lain merebutnya dariku,” Kyuhyun membalas kalimat magis Morin lalu menyeringai dengan tatapan tajam pada Morin membuat Morin menautkan kedua alisnya karena bingung.

“Bahkan tubuh ini juga milikku,” Kyuhyun menyentuh kedua pundak Morin sambil mengedipkan sebelah matanya.

Ya! Jangan menatapku seperti itu,” ucap Morin berbalik berniat turun dari ranjang namun dia kalah cepat dengan tangan Kyuhyun yang menarik tangannya agar tetap duduk.

“Bibir ini juga milikku. Tak kubiarkan pria lain menyentuhnya sedikitpun,” gumam Kyuhyun pelan lalu dengan gerakan cepat Kyuhyun meraih tengkuk Morin dan mencium bibirnya dengan lembut.

 

==**==

Few Hours Ago.

Seoul, South Korea.

 

Morin mematikan mesin mobilnya setelah berada di dalam basement parkir mobil. Lalu berlari memutari mobilnya, berusaha mengeluarkan Minho dari dalam mobilnya.

Setelah berhasil mengeluarkan Minho, Morin memapahnya yang sedang mabuk berat.

Aish jinjja! Kenapa dia bisa berat sekali,” gerutu Morin sempoyongan menopang beban tubuh Minho.

Beberapa kali ponsel di dalam tas slempangnya berbunyi nyaring tapi Morin sama sekali tak menjawabnya karena terlalu sulit untuk menjawab panggilan telepon dalam kondisi seperti ini.

Masih dengan sempoyongan Morin memapah Minho menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai 5. Beberapa menit yang lalu seorang pelayan bar menghubunginya dan mengatakan bahwa seseorang yang dia kenal tengah tak sadarkan diri karena mabuk berat di bar. Dan karena Minho yang mabuk berat tak dapat mengingat apapun tentang password apartemennya, jadi pada akhirnya dengan terpaksa Morin membawa Minho ke apartemen miliknya sendiri. Dengan harapan Kyuhyun akan segera datang lalu mengajaknya pergi keluar agar tidak terlalu lama bersama Minho.

Tring.

Setelah pintu lift terbuka, Morin segera berjalan menuju pintu apartemennya. Di sepanjang perjalanan menuju pintu apartemen Morin, Minho merutuk dengan tak begitu jelas membuat Morin semakin kesal.

Morin berusaha menekan kombinasi angka membentuk password apartemennya dan tiba-tiba saja tanpa terduga Minho mencium bibirnya. Bau alkohol yang tajam menguar dari mulut Minho.

Morin mendorong Minho ke dinding setelah berhasil masuk ke dalam apartemennya. Masih dengan ternganga menatap Minho yang terkulai lemas ke lantai. Dan tanpa sadar, Morin menyentuh bibirnya. Bagaimanapun juga dia pernah menyukai Minho. Ya, hanya menyukainya. Jauh sebelum dia bertemu dengan Kyuhyun dan mencintai Kyuhyun.

Treeeettt.

Terdengar bel pintu yang berbunyi, tapi Morin tak segera membukanya. Dia raih tubuh Minho lalu membaringkannya di sofa ruang tengah. Menghapus peluh di dahinya dan mengatur nafasnya yang kelelahan. Lalu melepas sepatunya dan berganti dengan sandal rumah dan berjalan ke ruang depan.

Morin mengecek ke layar intercom, mencari tahu siapa tamu yang mengunjunginya.

Morin dapat mengenali pria yang berdiri di luar pintu apartemennya meski pria itu menundukkan kepalanya.

Sebelum membuka pintu apartemen, Morin menoleh ke arah ruang tengah memastikan bahwa Minho akan aman berada disana.

Lalu membuka pintu apartemen dengan wajah ceria.

 

==**==

Now.

Seoul, South Korea

 

Morin berlari-lari menuju basement parkir mobil. Dia melihat Kyuhyun yang hampir mendekati mobil miliknya dan cepat-cepat meraih tangan Kyuhyun sambil terisak. “Aku mencintaimu.”

“Ini yang kau bilang kau mencintaiku? KAU INGIN AKU PERCAYA PADAMU?” Kyuhyun menghentakkan tangannya lalu masuk ke dalam mobil dan menancap gasnya dengan hentakan keras menyebabkan bunyi dencitan ban dengan lantai.

Kajima! Jebal!” gumam Morin dengan air mata yang terus mengalir sambil berlari.

“Morin-ah!” cegah Minho menahan tangan Morin.

“LEPASKAN,” teriak Morin tak peduli lalu berlari mengejar mobil Kyuhyun ke jalanan yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Ciiiiittttt.. Brak..

“ARGH!”

Sebuah mobil yang melaju dengan kencang menghantam tubuh Morin hingga terpental beberapa meter dari jalanan. Darah yang mengalir dari tubuhnya berbaur dengan hujan yang berjatuhan.

Dorawa, jebal!” Morin mengucapkan dua kata terakhir itu dengan sangat pelan sebelum akhirnya dia benar-benar menutup mata…untuk selamanya.

Beberapa meter dari tempat Morin tergeletak, mobil hitam itu berputar. Berbalik ke arah lokasi kecelakaan.

Kyuhyun bergegas turun dari mobil. Tubuhnya lemas saat melihat perempuan yang dicintainya terbujur disana, diam, tak bergerak, juga tak bernafas. Meninggalkannya untuk selamanya. Meninggalkan semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Benang cinta sempurna yang pernah mereka rajut bersama rapuh beberapa menit yang lalu dan detik berikutnya putus, memisahkan dua ujung yang tak pernah dapat disatukan kembali karena kini mereka berada di dunia…yang berbeda.

 

And at last all the pictures have been burned
And all the past is just a lesson that we’ve learned
I won’t forget, please don’t forget us

Somewhere we went wrong
Our love is like a song but you won’t sing along
You’ve forgotten about us
Don’t forget

==END==


a/n:

annyeong *lambai2 bareng minho*

merasa pernah baca ff ini? jika jawabannya iya, tunggu dulu, jangan panggil aku plagiator! aku memang juga mengepost ff ini bersamaan di fb (Shining Fanfiction)

FF ini murni hasil pemikiranku saat mendengarkan lagu Demi. Walau sebenarnya musik Don’t Forget tak terlalu menyayat hati tapi aku suka setiap baris liriknya. Dan tadaaaa, jadilah ff ini, keke.

Děkuji~… annyeong…

Advertisements