[Our Line] #8 It’s Gonna Be Hard

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

“Berhenti sebentar.”

Pria yang berada di belakang kemudi menghentikan mobilnya sesuai dengan yang diperintahkan padanya.

Di bangku penumpang seorang perempuan paruh baya tengah menatap lurus ke depan ke arah seorang gadis yang baru saja keluar dari mobil hitam lalu berjalan menuju taman. Perempuan itu mengarahkan pandangan menuju ke arah gadis itu berada yang hanya terlihat samar bersama seseorang yang lain.

“Jalan,” titahnya lagi setelah tersenyum sinis.

-oooOooo-

9 December 2012.

“Honey.”

Morin menghentikan langkah untuk semakin mendekati gerbang rumahnya saat mendengar suara seseorang di belakangnya lalu berbalik dengan terkejut.

“Eomma?” pekik Morin kaget.

Perempuan paruh baya yang ternyata adalah ibu Morin itu tersenyum pada Morin.

Sedangkan Morin masih tak bergerak di tempatnya berdiri.

“Ya! Kau mau jadi anak durhaka? Kenapa kau tak memeluk ibumu ini?” serunya pada Morin sambil merentangkan tangan lebar-lebar.

“Cih!” Morin mendengus pelan.

“I miss you soooo much Mom,” pelan Morin dalam pelukan ibunya.

“Miss You too Honey,” balas ibunya mengelus rambut Morin.

Dari arah belakang ibunya, Morin dapat melihat sopir pribadi ibunya mengangguk hormat pada Morin yang dibalas dengan senyuman ramah dari Morin.

“Kenapa tak memberitahu Morin kalau akan ke Seoul? Setidaknya Morin bisa menjemput ke bandara.”

“Bagaimana mungkin kau menjemput kalau kau saja jam segini baru pulang?” balas ibunya melepas pelukan.

Morin hanya membalas dengan senyuman lalu merangkul ibunya dan berjalan ke dalam rumah.

“Apa ada urusan di Seoul?” tanya Morin mengenyahkan pikiran bahwa ibunya datang ke Seoul memang hanya untuk bertemu dengannya bukan karena urusan lain.

“Eomma akan menghadiri pembukaan sebuah galeri seni di Seoul,” jawab ibunya yang langsung memudarkan senyum dari bibir Morin.

“Sudah kuduga,” gumam Morin pelan.

“Ngomong-ngomong. Apa kau belum mandi?” tanya ibu Morin.

Morin hanya menjawab dengan cengiran tak berdosa andalannya.

“Take a bath now! Bagaimana mungkin seorang gadis berkeliaran hingga malam seperti ini tapi sama sekali belum mandi,” omel ibunya yang justru membuat Morin terkekeh lalu buru-buru berlari ke kamar mandi.

Morin ingat, sejak sore hari dia berada di dapur bersama Donghae. Berpeluh-peluh demi membuat kue tart untuk Minho. Jadi sudah dapat dipastikan betapa mengerikannya bau Morin saat ini. Tapi tadi saat dia bersama Kyuhyun, Kyuhyun tidak mengeluh apapun tentangnya, itu berarti tidak terlalu buruk lah.

Dan memikirkannya membuat Morin semakin terkekeh senang.

-oooOooo-

Selesai mandi Morin teringat dengan kue buatannya lalu buru-buru mengambil ponsel dan mengetikan sebaris nomor yang kini telah benar-benar dihafalnya di luar kepala.

“Apa?” sahut Kyuhyun setelah nada tunggu yang cukup lama.

“Uhm, bagaimana kue ulang tahun untuk Minho? Apa Donghae oppa telah memberikannya?”

“Hm mm.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat bersenang-senang,” ucap Morin lalu segera menutup flip ponselnya.

“Aish jinjja. Kenapa aku jadi sedikit canggung bicara dengan tuan setan artis tak tahu diri itu.”

“Kenapa kau menggerutu seperti itu?” tanya ibu Morin yang telah berdiri bersandar pada pintu kamar Morin.

“Gwenchanayo. Hanya menggerutu pada seseorang yang selalu menaik turunkan moodku seperti roller coaster. Roller coaster yang mengerikan,” Morin bergidik saat teringat pengalamannya naik roller coaster bersama member suju yang mengerjainya.

Ibunya menatap Morin dengan mata memicing.

“Sudahlah~” Morin meletakkan ponselnya lalu beranjak menghampiri ibunya dan bergelanjut manja dilengannya.

Ibunya mengangguk mengerti. “Kau ingin makan keluar?”

Morin menggeleng. “Bagaimana kalau kita minum teh?” tawar Morin namun dijawab oleh tatapan penasaran ibunya.

“Maksudnya Eomma minum teh dan aku akan minum cola,” lanjut Morin.

“Kaja.”

-oooOooo-

Kyuhyun menghela nafas lega setelah sambungan teleponnya dari Morin terputus.

“Hyung~” panggil Minho dari luar kamar kecil sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Kyuhyun segera membuka pintu dan mendapati Minho berdiri di luar pintu dengan wajah kesal pada Kyuhyun.

Dan tanpa sepatah kata apapun, Minho langsung masuk ke dalam kamar kecil dan menutup pintunya dengan hentakan keras.

Kyuhyun hanya terkekeh pelan kemudian berjalan kembali menuju ke ruang karaoke yang disewa Minho untuk merayakan ulang tahunnya.

“I don’t need a man. I don’t need a man,” suara rocker yang dibuat Heechul dan Kangin menyambut kedatangan Kyuhyun ketika membuka pintu ruang karaoke.

Kyuhyun hanya menggeleng-geleng melihat tingkah kedua hyungnya yang menyanyikan lagu milik Miss A dengan suara rocker seperti itu.

Kyuhyun lalu duduk didekat Changmin dan melirik dua kue ulang tahun yang terjajar di atas meja. Sebuah kue ulang tahun dengan tempelan-tempelan coklat pada permukaan luar kue serta toping irisan buah-buahan dan juga krim putih itu adalah kue yang dibelinya sebelum kemari lalu dia beralih pada kue berbentuk persegi berwarna putih dengan hiasan sederhana berwarna coklat sambil menahan rasa gelinya. Kue itu dibawa ole Donghae jadi sudah dapat ditebak kue itu pasti buatan Morin.

“Semoga tak ada yang sakit perut setelah memakan kue buatannya,” gumam Kyuhyun pelan bersamaan dengan Minho yang baru saja kembali dari kamar kecil.

“Ayo berfoto,” ajak Minho yang diikuti oleh anggukan setuju dari semuanya.

“Kalain berfotolah, aku ingin ke kamar kecil,” ucap Heechul lalu segera beranjak keluar ruangan.

“Ya! Jonghyun hyung jangan minum terlalu banyak. Fans akan tahu kalau kau mabuk di dalam foto nanti,” nasehat Minho yang hanya dijawab oleh anggukan dari Jonghyun.

“Lalu siapa yang akan memfotokan kita?” tanya Kangin.

Kyuhyun, Minho, Donghae, Changmin serta Jonghyun tersenyum menatap Kangin dan itu sudah membuat Kangin cukup yakin bahwa dia sendirilah yang akan memfotokan mereka.

“Kalian semua sungguh-sungguh dongsaeng durhaka,” omel Kangin namun pada akhirnya tetap menerima uluran ponsel dari Kyuhyun.

“Jika kau ikut berfoto bersama kami, nanti tidak semua wajah bisa tampak di kamera,” balas Kyuhyun dengan sok polosnya.

“Arraseo. Araaseo,” sergah Kangin. “Baiklah ayo bersiap. Hana. Dul. Set.

Ckrek.

“Gomawo Kangin hyung,” uap Minho.

Kangin hanya mengangguk lalu duduk di antara Jonghyun dan Changmin.

“Hyung aku akan menguploadnya ke twitter,” ucap Minho bersemangat.

“Memangnya kau punya akun?” tanya Kyuhyun sambil menyumpit daging dari piringnya.

“Akunmu,” jawab Minho dengan santai.

“Mwo?”

Minho mengangguk dan mulai memain-mainkan ponsel Kyuhyun.

“Aku tahu email dan passwordmu. Apa kau lupa?” tanya Minho.

“Ah, benar. Terserah kau saja,” pasrah Kyuhyun pada akhirnya.

Ini kedua kalinya Minho membajak akun twitter pribadi Kyuhyun. Dan Minho melakukannya seperti tanpa dosa.

-oooOooo-

Morin’s Home. 13 Desember 2012.

“Kau tak ingin ke dorm hari ini?” tanya Yesung menggunakan telepon milik Kyuhyun untuk menghubungi Morin.

“Waeyo oppa?” balik tanya Morin.

“Pastikan kau datang kalau tidak kau akan menyesal.”

“Ne?” tanya Morin bingung.

“Mm hm,” jawab Yesung yang sama sekali tak ada artinya.

Morin melirik ke arah ibunya yang berjalan ke arahnya. “Aku akan menghubungimu lagi nanti,” ucap Morin menutup ponselnya secepat yang ia bisa.

Ibunya menatap Morin dengan curiga. “Kenapa kau menutup telepon secepat itu?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah telepon yang tak terlalu penting,” jawab Morin berbohong.

“Dan apa kau sudah siap?” tanya ibunya pada Morin.

“Siap,” ucap Morin berdiri sigap dari duduknya.

Ibunya menatap penampilan Morin dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu mengangguk-angguk. “Sudah sangat lama sejak pertama kalinya eomma mengajakmu pergi ke acara sepert ini.”

Morin hanya tersenyum seadanya. Seperti yang sudah ditebak Morin bahwa ibunya memang kebetulan ke Seoul untuk menghadiri sebuah pembukaan pameran lukisan di galeri milik istri salah satu teman Appa Morin, bukan murni untuk menemui Morin.

-oooOooo-

Morin’s Mom Car.

“Honey! Apa kau tak merindukan Lee Sang Hoon?”

Morin yang sejak tadi hanya melihat keluar ke arah lampu-lampu di pinggir jalan menoleh kepadanya ibunya. “Mwo?”

“Tahun depan dia akan kembali dari Kanada,” lapor ibunya dengan santainya sambil memainkan jari-jarinya pada layar ponselnya entahlah apa yang sedang dia lakukan.

Sedangkan Morin tak tahu harus memasang ekspresi seperti apa mendengar berita tentang kepulangan Sang Hoon dari ibunya.

“Dan kurasa dia akan segera menemuimu sedetik setelah dia menginjakkan kaki di Beijing,” ucap ibunya lagi melebih-lebihkan.

Morin dengan susah payah menelan ludahnya. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan hingga membuatnya kesulitan untuk merespon ucapan ibunya.

—–

“Untukmu.”

Morin menerima sekotak coklat yang diulurkan padanya.

“Dalam rangka apa? Kau tak akan menyogokku untuk tak mengadukan kenakalanmu pada orang tuamu kan?” tanya Morin curiga pada pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu.

“Hari ini valentine,” jawabnya singkat sambil menyentil dahi Morin.

Morin hanya mengelus-elus bekas sentilan di dahinya sambil menatap tak terima namun pada akhirnya tetap mengucapkan terima kasih. Bukan untuk sentilan yang diterimanya tapi untuk sekotak coklatnya.

Lee Sang Hoon mengacak-acak rambut Morin sambil tersenyum senang. “Tahun depan kau akan masuk junior high?” tanya Sang Hoon yang hanya dijawab anggukan dari Morin.

“Dan rencanamu untuk bersekolah di Seoul tidak akan berubah?” tanya Sang Hoon lagi.

“Entahlah. Eomma masih sering membujukku untuk tetap bersekolah di Beijing. Tapi oppa tau sendiri kan kalau aku ingin mandiri.”

“Aku tahu. Kau memang tak terlalu suka dengan kehidupan mewah seperti ini.”

“Kau tahu persis bagaimana sifatku.”

“Aku juga akan pergi ke Kanada.”

“Ne?”

“Aku akan pindah sekolah ke Kanada.”

“Tapi bukankah kau belum lulus senior high?”

“Aku akan melanjutkan disana mulai semester depan. Dan berlanjut kuliah disana.”

Morin mengangguk-angguk paham. “Tapi kenapa kau tak melanjutkan kuliah disini? Pendidikan di China tak kalah dengan di Aussy.”

“Dan kau sendiri kenapa kau memilih Seoul daripada China.”

“Itu hanya, karena aku merindukan masa-masa di Seoul dulu. Dan kenapa kau tak kuliah di Seoul saja? Bagaimanapun juga kau tetap pria Korea Selatan.”

Sang Hoon hanya tertawa mendengar ucapan Morin.

“Aku pasti akan sedih jika aku terus berada di Beijing sedangkan kau berada di Kanada. Jadi aku sudah membulatkan tekad untuk bersekolah ke Seoul.”

Sang Hoon kembali mengacak-acak rambut Morin dengan gemas.

“Stop it please!” teriak Morin melotot pada Sang Hoon.

“Ok dear,” jawab Sang Hoon mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Morin sambil merapikan rambutnya.

“Lusa.”

“Are You Crazy? Kau akan berangkat lusa dan baru mengatakannya padaku hari ini.”

“Haha, aku tak pernah menduga kau akan bereaksi seperti ini.”

“Tentu saja. Kau satu-satunya teman bermainku. Maksudku selain adik perempuanku.”

Sang Hoon menoleh pada Morin dan tersenyum lembut.

“Ini sudah terlalu malam jadi aku akan pulang.”

“Apa tak akan ada farewall party?” goda Morin.

“Untuk apa hal-hal semacam itu.”

“Setidaknya kita harus melakukan pesta perpisahan.”

“Dan kau yakin akan datang? Bukankah kau bukan tipe orang yang senang dengan keramaian seperti itu?”

Morin tak menjawab dan hanya mengedikkan bahu. Kau ingin bertemu ayah dan ibuku sebelum pergi?”

Sang Hoon menggeleng. “Sampaikan salamku pada mereka.”

Morin mengangguk dan setelah Sang Hoon pergi, dia beranjak menuju kamar orang tuanya untuk menyampaikan salam dari Sang Hoon sebelum dia akhirnya lupa.

“Kurasa Sang Hoon pria yang baik. Dia pintar, tampan, sopan dan yang paling terpenting dia putra tunggal investor terbesar di perusahaan kita. Satu-satunya cara untuk menyatukan kedua perusahaan besar yang berpengaruh di Asia hanya dengan menyatukan kedua keluarga.”

—–

Meskipun usia Morin saat itu belum terlalu dewasa namun dia sudah cukup mengerti apa yang dimaksud dengan kedua orang tuanya dengan menyatukan kedua keluarga.

Mungkin dulu Morin pasti telah menyetujui perjodohan itu saat dia hanya mengenal Sang Hoon sebagai satu-satunya pria terdekatnya di Beijing. Saat dia tahu hanya Sang Hoon lah satu-satunya teman yang benar-benar tulus berteman dengannya bukan karena kedudukannya sebagai putri tertua keluarga pemilik perusahaan yang sangat berpengaruh di Asia.

Tapi sekarang apakah Morin akan tetap menyetujuinya? Saat semua kehidupannya telah berubah semenjak dia tinggal jauh dari keluarganya di Seoul. Kini dia dekat dengan member Super Junior yang Morin tahu meskipun mereka sering menjailinya, mengolok-ngoloknya atau berbuat jahat –yang masih dapat diterima– padanya atau sebaliknya namun sebenarnya Morin benar-benar sayang pada mereka. Keluarga Kyuhyun yang cukup baik padanya, ya walaupun baru sekali bertemu ibu Kyuhyun juga kakak perempuan Kyuhyun yang telah dianggapnya seperti kakak perempuannya sendiri sekarang. Juga Caena, sahabatnya yang benar-benar menyayanginya betapapun seringnya Morin berdosa pada Caena. Dan yang terpenting dari semuanya adalah Kyuhyun. Mungkin sampai saat ini belum ada terlalu penjelasan yang pasti bagaimana hubungannya yang sebenarnya dengan Kyuhyun. Tapi bagaimanapun juga, Kyuhyun adalah pria yang berarti baginya. Semua itu tak Morin miliki dulu, tapi dimilikinya sekarang. Saat Morin berniat kembali ke kehidupannya yang dulu, saat itu jugalah semua yang dimilikinya saat ini akan menghilang. Dan Morin tak cukup punya nyali untuk melepas semua yang dimilikinya saat ini.

“Honey? What’s wrong?”

Morin tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara ibunya.

“Nothing.”

Dan pada akhirnya ibu dan anak itu hanya diam hingga akhirnya mobilpun memasuki pelataran galeri yang dipenuhi mobil-mobil mewah serta orang-orang berdasi dan bergaun mahal yang keluar dari masing-masing mobil.

“Eomma,” panggil Morin setelah mobil benar-benar berhenti.

Ibunya hanya mengangkat wajah menatap Morin.

“Kurasa Morin tak bisa ikut masuk. Mianhamnida,” ucap Morin dan tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Morin sudah membuka pintu mobil dan berjalan begitu saja menuju jalanan dan langsung mencegat taksi pertama yang dilihatnya.

Sedangkan di belakang ibunya menatap kepergian Morin dengan terkejut namun perhatiannya tak bertahan lama karena sapaan seorang perempuan lain di belakangnya.

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor.

Morin mengamati penampilannya sekali lagi. Mantel coklat selututnya yang menutupi dress selutut yang juga dikenakannya. Stocking hitamnya. Juga sepatu flat berwarna peach yang senada dengan warna dressnya. Lalu menyentuh rambutnya yang ditarik tinggi-tinggi ke atas.

Morin menatap pintu putih dihadapannya kemudian dengan desahan nafas panjang mengurungkan niat untuk menekan bel pintu dan berjalan berbalik. Menunduk ke arah lantai, seperti telah menyesali keputusannya pergi ke dorm padahal pada akhirnya memutuskan untuk tak jadi menekan bel pintu. Namun langkahnya terhenti saat melihat ujung sneaker putih yang berhenti tepat di depannya.

Morin mendongakkan kepala dan melihat Eunhyuk yang nyengir dengan pandangan layaknya menemukan tikus yang diam-diam ingin mencuri keju dari atas meja makannya.

Eunhyuk merangkulkan tangannya ke bahu Morin membawa Morin berbalik ke arah pintu tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

Morin hanya menatapnya dengan kebingungan.

“Aku menemukan gadis cantik ini di depan pintu dorm kita,” ucap Eunhyuk setelah menutup pintu dorm di belakangnya.

Sungmin yang terlihat tengan menekuri sebuah buku di atas sofa langsung mendongak ke arah Morin dan Eunhyuk.

“Kau pikir dorm ini kamar hotel bisa membawa masuk gadis yang kau temukan di depan pintu dorm begitu saja?”

Morin hafal pemilik suara itu. Kyuhyun. Dan setelah mendengar kalimatnya rasanya Morin ingin menjejalkan sekarung wortel ke dalam mulut Kyuhyun.

Beberapa detik kemudian Kyuhyun muncul dari ruang tengah ke ruang tamu dan tampak terkejut saat melihat gadis-cantik-di-depan-dorm yang dimaksud Eunhyuk adalah Morin.

“Morin-ah! Ini kali pertama oppa melihatmu memakai pakaian seperti itu. Dan kau tampak manis,” puji Sungmin setelah meneliti penampilan Morin beberapa saat.

“Sudah ku bilang dia gadis cantik,” kekeh Eunhyuk lalu meninggalkan Morin begitu saja ke dalam kamar membuat Morin tersenyum canggung.

Sedangkan Kyuhyun hanya mendengus setelah mengamati Morin untuk beberapa saat. “Kurasa kau salah tempat. Disini sedang tak ada pesta.”

Morin tak menjawab dan hanya diam. Bagaimanapun dia tak akan pernah mau kehilangan keluarga barunya ini.

“Ngomong-ngomong dimana Yesung oppa? Dia yang menyuruhku kemari.”

Kyuhyun tak menjawab dan hanya melenggang pergi. “Ya! Lee Hyukjae. Jangan main-main dengan level yang kumainkan. Kau akan menghancurkan semuanya. Aish jinjja.”

Morin tersenyum mendengar teriakan Kyuhyun. Meski Morin tak terlalu yakin dengan perasaannya saat ini namun dia sangat yakin, suatu saat nanti dia akan sangat merindukan suara itu.

“Dia sedang keluar dan akan kembali tidak lama lagi,” jawab Sungmin singkat.

“Hei kelinci,” panggil Kyuhyun.

“Ap…” Morin baru hendak mengucapkan ‘apa’ saat tiba-tiba sebuah buku tebal melayang ke arahnya yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Morin.

Morin yang masih terkejut hanya memandang sampul novel yang sekarang ada di pegangannya.

“Kau meninggalkannya disini. Sebenarnya kenapa kau senang sekali meninggalkan barang-barang milikmu disini,” jutek Kyuhyun.

“Aku tidak ingat kalau meninggalkannya disini,” jawab Morin lalu meletakkan novel itu di samping tas selempang juga mantelnya.

“Sebenarnya aku heran kau membaca buku-buku seperti itu,” ucap Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di dinding sambil melipat tangannya di depan dada. “Aku sadar aku mencintainya, dengan setiap helai rambut, sel kulit, bahkan tetesan darahku,” Kyuhyun menirukan sebait kalimat dalam novel yang baru dilemparkannya pada Morin dengan nada mencibir. “Cih!”

“Ya. Setidaknya ini lebih baik daripada novel roman cengeng Romeo Juliet yang sering kau baca,” jawab Morin dengan nada bahwa dia lebih keren daripada Kyuhyun.

“Bagaimanapun juga Romeo Juliet lebih nyata daripada makhluk-makhluk immortal yang mencari cinta sejatinya selama ratusan tahun. Cih! Dan kau menulis di lembar terakhir bahwa kau menginginkan Damenmu sendiri. Kau tak akan menemukannya di dunia nyata.”

“Kau pikir kau sendiri tak mengerikan. Aku tahu kau sangat berharap bertemu sosok perempuan seperti Julliet,” jawab Morin menggeleng-geleng dengan dramatis.

Sungmin yang berada tak terlalu jauh dari Morin dan Kyuhyun membanting bukunya yang tak kalah tebal ke atas meja yang langsung mengundang perhatian Morin dan Kyuhyun.

“Kalian tahu. Kalian sudah seperti Uni Soviet dan Amerika pada perang dunia. Aku heran bagaimana hubugan kalian bisa bertahan sampai sejauh ini dengan sifat-sifat kalian yang seperti anak kecil ini,” ucap Sungmin yang sepertinya sudah mulai lelah dengan pertengkaran kekanakan Morin dan Kyuhyun.

Sedangkan Morin dan Kyuhyun hanya menatap Sungmin sambil mengerjap polos seolah tak berdosa dengan keributan yang baru saja diperbuatnya.

“Aish jinjja! Kenapa orang-orang seperti kalian bisa bersatu,” keluh Sungmin yang mulai frustasi melihat tingkah Morin dan Kyuhyun.

“Aku pulang~”

Semuanya yang ada di dalam dorm kini menoleh pada Yesung sebagai penyelamat hari ini sebelum akhirnya Sungmin harus menjadi korban kekerasan dalam pertempuran Morin dan Kyuhyun.

“Aku merasakan aura tidak enak disini. Apa terjadi sesuatu?” tanya Donghae yang menyusul Yesung bersama Ryeowook.

“Tidak terjadi sesuatu,” jawab Sungmin ketus.

“Oppa kenapa kau menyuruhku kemari?” tanya Morin menghampiri Yesung.

“Sebenarnya aku tak yakin ini penting atau tidak. Hanya saja mulai hari ini aku tidak akan tinggal di dorm lagi,” jawab Yesung.

“Ne?” Morin tampak terkejut lalu menoleh pada Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun hanya mengangkat bahu membiarkan Yesung yang akan menjelaskan semuanya.

“Aku akan tinggal di rumahku sendiri bersama orang tuaku.”

“Apa itu artinya aku tak dapat melihatmu lagi saat aku datang ke dorm?” tanya Morin.

Yesung hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Waeyo?” tanya Morin dengan nada merengek.

“Karena semua member akan sibuk di China jadi untuk itulah lebih baik aku tinggal bersama keluargaku.”

“Kenapa satu persatu orang meninggalkan dorm ini?”

Yesung hanya mengangkat bahu.

“Lalu apakah ini perpisahan?” tanya Morin lagi.

“Tentu saja bukan. Kita masih bisa tetap bertemu.”

“Apa maksudmu aku harus bertamu ke rumahmu begitu? Apa kata orang tuamu nanti.”

“Bukan seperti itu. Aku mungkin akan sering datang ke dorm.”

“Dan akan seberapa sering kau kemari?” tanya Morin lagi.

“Morin-ah,” panggil Ryeowook.

“Ne?”

“Apa kau tak sadar kalau kau terlalu mengkhawatirkan orang lain bahkan di depan kekasihmu sendiri.”

“Apa kau cemburu padaku?” tanya Yesung pada Kyuhyun.

“Ne?” Kyuhyun yang mendapat pertanyaan mendadak dari Yesung sontak terkejut.

-oooOooo-

Kona Beans. 20 Desember 2012.

Morin melambai pada sesosok perempuan muda yang berada di belakang mesin counter dengan senyum cerah di bibirnya. Morin juga tersenyum ramah pada Sungjin yang diketahuinya merupakan adik kandung dari Sungmin.

Perempuan itu membalas lambaian tangan Morin hingga lalu menghampiri Morin dan memeluknya untuk beberapa saat. “Kau tahu, eonni merindukanmu,” ucap Ahra setelah melepas pelukan Ahra pada Morin.

“Nado bogoshipo eon,” balas Morin jujur.

“Kemarilah,” ajak Ahra menarik tangan Morin lalu membawanya menuju meja counter dimana Sungjin juga tengah memerhatikan Morin yang berjalan semakin mendekatinya.

“Annyeong Sungjin oppa,” sapa Morin ramah pada Sungjin. Kedatangannya yang cukup sering ke Kona Beans sudah cukup membuat Morin akrab dengan Sungjin.

“Annyeong Morin-ah,” balas Sungjin.

“Dan berhubung hari ini kami kekurangan pegawai maka kau akan menjadi pegawai kami hari ini.”

“Eeii~ kenapa kalian selalu kekurangan pegawai saat aku kemari?” Morin memberi tatapan menuduh pada Sungjin lalu pada Ahra.

Sungjin hanya mengedikkan bahu tak tahu apa-apa.

“Itu karena kau memang punya ikatan batin dengan cafe ini,” jawab Ahra yang membuat mulut Morin ternganga lebar. Apa coba maksudnya dari memiliki ikatan batin.

“Kalau begitu bisakah aku bekerja disini selama liburan nanti? Tak perlu menggajiku hanya saja beri aku makan.”

-oooOooo-

“Kau ingin minum kopi?” tawar Sungjin pada Morin yang duduk di sampingnya. Sekarang mereka berdua sedang duduk di salah satu bangku tak jauh dari Kona Beans di daerah Apgujeong.

“Boleh kalau oppa yang akan membelikannya,” jawab Morin tersenyum jail.

Sungjin tersenyum mengangguk. “Jamkaman. Aku akan segera kembali.”

Morin mengangguk mengiyakan.

Morin memandangi riak sungai Han yang tenang memantulkan cahaya dari lampu-lampu sekitar layaknya bintang-bintang di langit.

Morin beralih menengadahkan kepala memandang langit malam kota Seoul yang gelap. Dan untuk pertama kalinya Morin memikirkan hubungannya dengan Kyuhyun. Kyuhyun adalah bintang, dia bersinar dan jauh. Meskipun Kyuhyun adalah kekasihnya, tapi bagi Morin Kyuhyun tetaplah jauh, terlalu sulit untuk diraih. Kyuhyun adalah milik para penggemarnya dan sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan dia akan tetap menyembunyikan Morin di balik sinar terangnya. Tersembunyi dan gelap meski sebenanrnya niat Kyuhyun adalah untuk melindunginya. Itulah mengapa bagi Morin terlalu sulit untuk meraih Kyuhyun. Mungkin saat ini Morin akan memaklumi bagaimana Kyuhyun menyembunyikannya namun suatu saat nanti ada batasannya hingga Morin merasa lelah dengan hubungannya dan Kyuhyun. Dan saat Morin ataupun Kyuhyun merasa lelah itulah semuanya akan berakhir.

“Hah~” Morin mendesah pelan.

“Kau mengeluh pada langit?” tanya Sungjin yang tiba-tiba saja sudah muncul di samping Morin dengan dua cup kopi panas.

Morin menerima satu cup kopi yang diulurkan Sungjin untuknya. “Gomawo.”

“Ne,” jawab Sungjin setelah duduk kembali di samping Morin. “Dan apa yang kau keluhkan pada langit?”

Morin menoleh pada Sungjin masih tanpa melepas cup dari bibirnya lalu mengedikkan bahu. “Kurasa Seoul tak terlalu indah akhir-akhir ini.”

“Karena Kyuhyun hyung sangat indah hingga kau merasa Seoul tak terlalu indah lagi,” Sungjin melirik Morin dengan ekor matanya tak terlalu jelas kalimat yang baru saja dikatakannya itu pernyataan atau pertanyaan.

“Apa maksudmu?” tanya Morin terkejut.

“Kurasa kau tahu apa maksudku.”

Morin memandang Sungjin takut-takut.

“Tenang saja. Aku tidak sedang bekerja dengan sebuah majalah atau acara gosip di stasiun televisi,” kekeh Sungjin melihat Morin yang tampak cemas.

Morin menghela nafas lega. “Apa Sungmin oppa yang memberi tahumu?”

“Sebenarnya aku pernah tak sengaja melihatmu baru saja keluar dari dorm mereka kemudian melihat betapa dekatnya kau dengan Ahra nuna jadi aku bisa menyimpulkan kau memang sedang ada hubungan dengan Kyuhyun hyung.”

“Itu hanya dugaanmu saja.”

“Tapi sepertinya dugaanku terbukti beberapa detik yang lalu.”

“Ah, sial!” rutuk Morin pelan.

Mereka berdua diam untuk beberapa saat.

“Bagaimana kau memandang sebuah hubungan sepasang kekasih?” tanya Morin tanpa menoleh pada Sungjin.

“Kau sedang ingin berkonsultasi denganku masalah percintaan?” goda Sungjin.

Morin menatap tajam pada Sungjin.

“Cih! Jangan menatapku seperti itu. Sejujurnya bagiku dalam sebuah hubungan itu yang terpenting adalah bahagia. Sebuah hubungan yang mampu memberikan kebahagiaan patut dipertahankan namun untuk sebuah hubungan yang selalu memberikan kesedihan untuk apa dilanjutkan. Tapi entahlah, setiap orang memiliki pandangan masing-masing untuk hal ini.”

“Tidakkah itu terlalu egois? Tidak selamanya sebuah hubungan akan tetap bahagia. Adakalanya kesedihan itulah yang akan membawa sebuhungan untuk mencapai kebahagiaan.”

“Definisi dari kebahagiaan itu sendiri juga berbeda bagi setiap orang. Sesuatu yang membuatku bahagia belom tentu akan membuatmu juga karena kebahagiaan punya kadar masing-masing,” jawab Sungjin menatap lurus ke depan.

Morin hanya tersenyum, terlalu bingung untuk menanggapi apa yang dikatakan Sungjin.

“Apa kau ingin aku mengantarmu pulang?” tanya Sungjin menawarkan diri pada Morin.

“Anio,” jawab Morin buru-buru. “Antar aku sampai halte dan aku akan pulang naik bus,” lanjut Morin.

Sungjin hanya tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.

-oooOooo-

Morin’s Home.

“Lakukan yang terbaik. Dan yang pasti jangan sampai mereka mencurigaimu.”

“Aku pulang~” seru Morin pada ibunya yang tampak tengah menelpon di ruang tamu.

“Aku akan menghubungimu lagi nanti,” ibunya menurunkan ponsel dari telinganya lalu beralih pada Morin. “Kau sudah pulang?” tanya ibunya tersenyum lembut pada Morin.

Morin hanya mengangguk namun pandangannya lebih tertarik pada tas yang tergeletak di lantai tak jauh dari sofa. “Apa eomma akan kembali ke Beijing hari ini?”

Ibu Morin mengangguk sambil mengetikkan sesuatu di ponsel layar sentuhnya. “Eomma tidak bisa lama-lama berada di Seoul.” Bagaimana mungkin ponsel yang dimilikki ibu Morin lebih bagus dan lebih mahal daripada ponsel milik Morin.

Morin mengangguk mengerti.

“Apa kau ingin berlibur ke Beijing? Bukankah sebentar lagi kau akan liburan?”

Morin hanya tersenyum lalu menggeleng. “Aku akan sedikit sibuk disini setelah ujian,” jawab Morin yang telah merencanakan akan mencoba membantu Ahra di Kona Beans selama liburannya.

“Ibu mengerti. Jangan macam-macam selama berada di Seoul, arraseo?”

“Ne. Arraseoyo.”

Ibunya lalu beranjak dari sofa lalu meraih tas tangannya sedangkan tas besarnya yang lain dibawakan oleh sopirnya.

“Morin akan mengantar eomma sampai ke bandara.”

“Tidak perlu. Hanya beri eomma pelukan yang sangat erat.”

Morin melangkah menuju ibunya dan memeluknya dengan erat. “Bahkan eomma belum terlalu lama di Seoul.”

Ibunya hanya tersenyum dan mengelus rambut Morin.

“Sampaikan salam sayang Morin pada appa dan juga Naya,” pesan Morin sambil mengantar ibunya menuju mobilnya.

“Kim ahjusi! Mengemudilah dengan hati-hati,” pesan Morin pada supir pribadi ibunya itu.

“Kau juga harus hati-hati. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tak eomma inginkan terjadi padamu di Seoul,” pesan ibu Morin sekali lagi sambil menatap Morin tajam.

Morin mengangguk sambil tersenyum canggung merasakan sesuatu yang aneh dari cara ibunya menatapnya kali ini.

-to be continue-


a/n:

aku tau kok kalian baca. aku juga ‘nggak marah’ kok kalian belom meninggalkan komentar sampai saat ini. tapi aku menunggu kesadaran kalian buat komen disini ya. gomawo ^^

Advertisements