[Our Line] #10 Unimaginable

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

SJ-M’s Dorm. 20 January 2013.

“Kyuhyunnie hyung,” panggil Henry penuh semangat memberi isyarat dengan tangannya agar Kyuhyun mendekat.

Kyuhyun menyeret kakinya dengan kemalasan tinggi mendekati Henry dan saat melihat dua joystick di tangan Henry sepertinya dia tahu apa yang akan dikatakan Henry padanya. “Tidak untuk malam ini.”

“Wae? Ayolah~” rengek Henry.

“Aku benar-benar lelah hari ini.”

“Hanya sebentar, satu kali permainan,” goda Henry.

“Mainlah dengan Donghae atau Eunhyuk.”

“Shireo. Donghae hyung sedang sibuk dengan buku berbahasa inggrisnya. Dia benar-benar terobsesi untuk bisa bahasa inggris. Sedangkan Eunhyuk hyung pasti akan marah jika aku mengganggunya, dia sedang berduaan dengan laptopnya,” jawab Henry cemberut.

Kyuhyun baru hendak membuka mulutnya saat seruan Sungmin mendahuluinya.

“Henry-ah!”

“Ne?” jawab Henry pada Sungmin yang memanggilnya dari arah dapur.

“Biarkan uri Kyuhyunnie tidur. Jangan mengajaknya bermain game setidaknya untuk malam ini. Kau tidak kasihan padanya, besok dia harus pergi ke Jepang. Kau bisa mengajak Siwon atau Zhoumi untuk bermain.”

“Ne~” jawab Henry patuh setelah Sungmin turun tangan. “Dia pasti bercanda menyuruhku bermain dengan Siwon hyung yang hanya bisa game angry bird,” gerutu Henry.

Kyuhyun hanya terkekeh lalu masuk ke dalam kamarnya yang juga merupakan kamar Sungmin. Mungkin saat di Korea Kyuhyun tak lagi sekamar dengan Sungmin tapi selama di China mereka kembali sekamar. Dan saat Kyuhyun menutup pintu kamarnya dia dapat mendengar Henry yang membujuk Donghae untuk berhenti belajar dan beralih bermain game bersamanya.

“Hah~” Kyuhyun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya benar-benar sudah lelah tapi matanya masih tetap sulit terpejam ditambah lagi suara teriakan Henry yang menyuruh Donghae untuk berhenti bertingkah kekanakan karena disini dialah maknae terdengar dari kamar Kyuhyun, disusul dengan jawaban tak terima dari Donghae.

“Aish jinjja! Mereka berdua. Tak bisakah mereka berdua diam,” keluh Kyuhyun lalu meraih iphone-nya yang telah ditancapi earphone dan mulai menyumbatkannya ke dalam kedua lubang telinganya.

Kyuhyun menscrol daftar lagu di layar iphonenya dan memilih lagu terbaru dari album perdana KRY. Dia mulai memejamkan mata menghayati setiap lirik yang mengalun di telinganya. Rasanya mungkin sedikit aneh karena mendengar lagu yang penyanyinya adalah dirinya sendiri tapi Kyuhyun menyukai lagu baru KRY itu.

Untuk beberapa saat Kyuhyun terlihat diam, tampak seperti sudah terlelap namun pada detik berikutnya dia membuka mata lalu mulai membuka menu pesan pada ponselnya, lalu jemarinya mulai menari dengan lincah di atas layar keyboard smartphonenya.

To : Rabbit

Kau bisa bahasa Jepang?

Beberapa hari yang lalu Kyuhyun baru saja mengganti nama kontak Morin menjadi Rabbit.

Kyuhyun memain-mainkan bibirnya sementara dia menunggu balasan pesan dari Morin. Sampai lagu Promise You dan juga Hanamizuki berputar sebanyak masing-masing 5 kali belum ada sama sekali balasan dari Morin lalu Kyuhyun mematikan musiknya dan mulai memejamkan matanya tanpa melepas earphone yang tetap menyumbat kedua lubang telinganya.

-oooOooo-

Morin’s Home.

Tampak Morin yang tengah tertidur dengan kepala terkulai di atas meja belajarnya dengan buku-buku masih berantakan menandakan bahwa dia tidak sengaja tertidur saat sedang belajar.

Kriinggg…

Kepala Morin yang awalnya hanya bergerak-gerak karena mendengar suara bising di dalam kamarnya kini telah tegak dan setelah mendorong kursinya ke belakang Morin berjalan menuju jam bekernya masih dengan mata terpejam, mematikannya, kemudian bergeser ke tempat tidurnya dan beralih merebahkan tubuhnya disana.

Beberapa menit Morin sama sekali tak bergerak lalu pada menit berikutnya Morin membuka matanya sambil mengerjap-ngerjap mencoba menyesuaikan pandangannya dengan lampu kamarnya yang terlalu terang lalu mulai menguap lebar.

Morin hanya menatap langit-langit kamarnya dengan malas-malasan sebelum akhirnya bangun untuk melihat jam di bekernya lagi, yang menunjukkan pukul 11.15 malam. Memang sebelumnya Morin telah mengatur bekernya agar berbunyi pada jam sekian untuk berjaga-jaga jika dia tak sengaja tertidur saat belajar.

“Wajarkah makan malam pada jam seperti ini? Setidaknya minum susu okelah,” gumamnya pada diri sendiri tapi pada akhirnya dia tetap berjalan ke kamar mandi, mencuci muka sebelum akhirnya turun menuju dapurnya.

Morin membuka lemari pendinginnya mengambil sekarton susu lalu langsung meneguknya tanpa menuangkannya terlebih dahulu pada gelas saat merasa perutnya terasa sakit. “Arraseo, aku akan memberimu makan,” ucapanya pada perutnya yang terlantarkan.

Morin mengambil ramyun dari lemari dan mulai memasaknya dan setelah matang dia mengangkat pancinya lalu meletakkan di atas meja makan lalu mengambil mangkuk kecil juga sumpit dan kembali ke meja.

“Jal meokge sseumnida,” ucapnya pelan lalu mulai memakan ramyunnya.

Namun Morin menghentikan mengunyah ramyunnya saat merasa perutnya kembali sakit. Morin meletakkan mangkuk juga sumpitnya di atas meja lalu mulai meremas perut kanan bawahnya. Morin mengatukkan puncak kepalanya pada sisi meja sambil mengatupkan giginya rapat-rapat seiring rasa sakit pada perutnya.

Cukup lama Morin terdiam pada posisi seperti itu sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya saat sakit pada perutnya berangsur-angsur berkurang, tampak peluh menetes dari dahinya saat dia berdiri dari duduknya. Lalu berjalan menuju kotak obat setelah menelan secara paksa ramyun yang sejak tadi masih tertahan di dalam rongga mulutnya.

“Hah~” Morin mendesah pelan saat sudah berada kembali berbaring di dalam kamarnya.

Kini dia hanya memandang langit-langit kamarnya yang gelap karena dia telah mematikan lampunya.

Drrttt.. Drrttt..

Morin dapat mendengar ponselnya yang bergetar pelan di atas meja namun sama sekali tak mengacuhkannya dan mulai memejamkan mata berharap besok pagi dia akan baik-baik saja jika tak ingin melewatkan ujiannya.

-oooOooo-

SJ-M’s Dorm. 21 January 2013.

“Kyuhyunni hyung~” Henry mengguncang-guncang tubuh Kyuhyun yang tersembunyi di dalam selimut tebalnya.

Sedangkan tubuh Kyuhyun hanya bergerak sesaat sebelum akhirnya kembali diam.

“Aish jinjja! Kenapa aku yang selalu bertugas membangunkanmu. Hyung~” keluh Henry.

“Wae?” ucap Kyuhyun pelan.

“Ireona, ppali. Kau akan ketinggalan pesawatmu.”

“Jam berapa sekarang?”

“Tujuh.”

“Masih jam tujuh kenapa sudah berisik.”

“Kau harus mandi, bersiap-siap, makan, lalu berangkat. Kau tak ingin terjebak macet kan,” omel Henry. “Sebenarnya disini siapa yang maknae? Kenapa aku bersikap seperti ibu-ibu tua begini.”

“Mm hm.”

Henry mengangguk setelah mendengar jawaban Kyuhyun lalu keluar dari kamar Kyuhyun dan mendapati Sungmin serta Ryeowook telah berada di dapur.

“Bangunkan yang lain juga,” kalem Sungmin tanpa menoleh pada Henry.

“Mwo?”

“Donghae dan Eunhyuk masih terlelap.”

“Ne?”

“Ppali.”

“Shireo~,” rengek Henry.

“Ppali!” perintah Ryeowook dan Sungmin serempak.

Henry hanya merutuk pelan namun pada akhirnya tetap berjalan menuju kamar Eunhae.

“Ya! Ireona,” teriak Henry begitu membuka pintu kamar Eunhae.

“Omo! Anak ini. Jangan berteriak-teriak seperti itu,” balas teriak Donghae.

Henry hanya mencibir lalu menutup kembali pintu kamar Eunhae setelah memastikan bahwa mereka telah terbangun karena teriakkannya yang tak pernah berani dilakukannya pada Kyuhyun.

“Keut,” lapor Henry pada Sungmin dan Ryeowook di dapur yang sekarang sudah ditemani Siwon dan Zhoumi.

“Kau ingin sereal atau sandwich?” tanya Ryeowook. “Atau kopi?” imbuhnya sambil melirik secangkir kopi panas yang masing-masing ada dihadapan Siwon dan Zhoumi.

Henry memain-mainkan bibirnya selama berpikir lalu menggeleng dan berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil sekarton susu lalu menuangkannya ke dalam gelas.

“Kyuhyunni belum bangun?” tanya Siwon.

“Seharusnya sudah. Henry telah membangunkannya tadi,” jawab Sungmin sambil melirik dengan tatapan menuduh pada Henry.

Henry yang masih dengan posisi gelas menempel pada bibirnya berjalan menuju kamar Kyuhyun, berniat membangunkannya kembali namun belum sempat Henry memutar gagang pintu, Kyuhyun telah keluar terlebih dahulu.

“Cih!” dengus Kyuhyun saat melihat Henry yang dengan polosnya buru-buru meneguk habis susu dalam gelasnya. Pasti dia berpikir Kyuhyun akan merebutnya.

“Kau sudah bangun?” sambut Sungmin begitu Kyuhyun memasuki dapur.

“Mm hm.”

Ryeowook lalu menyodorkan semangkuk sereal dengan susu tanpa bersusah payah untuk menanyai Kyuhyun ingin makan apa.

“Gomawo,” ucap Kyuhyun pelan.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Siwon.

“Baik. Aku sudah siap ke Jepang sekarang,” jawab Kyuhyun dengan mulut penuh sereal.

“Telan dulu makananmu sebelum menjawabku,” omel Siwon.

“Seharusnya kau jangan menanyaiku saat mulutku penuh,” balas Kyuhyun. Berdebat dengan Kyuhyun memang tak akan pernah ada habisnya.

Manajer hyung datang bersamaan dengan Donghae dan Eunhyuk yang baru saja menyusul ke dapur dan tampak mengeluh tentang cara Henry membangunkannya, tapi Henry yang hanya senyum-senyum tak berdosa sedangkan Kyuhyun yang tak memperdulikan semua aktifitas di sekitarnya, mengeluarkan ponsel dari saku celana dan tak mendapati satu pesanpun di dalam ponselnya.

“Apa dia mau balas dendam denganku?” pelan Kyuhyun lalu mematikan ponselnya bahkan sebelum dia tiba di bandara.

“Ayo anak-anak, lima menit lagi kita akan berangkat,” manajer hyung mengingatkan seluruh member yang kini sibuk menghabiskan sarapan mereka dengan cepat.

“Semoga konser kalian sukses, KRY fighting,” Sungmin memberi semangat pada Kyuhyun dan Ryeowook.

Siwon menepuk pundak Kyuhyun juga Ryeowook. “Jaga kesehatan. Dan jangan menyusahkan Yesung hyung atau manajer hyung,” pesan Siwon.

Kyuhyun dan Ryeowook hanya tersenyum, sepertinya akan sulit mengiyakan pesan terakhir.

“Hyung~ sebenarnya aku ingin pergi ke Budokan menghadiri konser kalian tapi sepertinya aku lebih baik tinggal disini istirahat,” ucap Henry dengan polosnya.

“Dia bohong,” tuduh Donghae sewot pada Henry.

“Gwenchana. Gunakan waktu istirahatmu dengan baik,” jawab Ryeowook sedangkan Kyuhyun malas menjawab Henry.

“Kyuhyunnie hyung, ryeong hyung sampai bertemu tanggal dua puluh enam. Sungmin hyung, Siwon hyung, Eunhyuk hyung dan Donghae hyung sampai bertemu tanggal dua puluh lima.”

“Jangan bersikap sok manis,” Eunhyuk berkata datar.

“Aniyo, bukankah aku selalu bersikap manis pada kalian.”

“Sebenarnya kau senang kan kami kembali ke Korea sedangkan kau tetap tinggal di China,” ucap Donghae yang hanya diikuti tatapan menuduh dari member lain.

“Ya!” seru Henry. “Aku tidak seperti itu.”

“Kenapa kalian masih bertengkar, ayo berangkat,” desak manajer hyung.

“Ne,” koor mereka semua.

Kyuhyun dan Ryeowook mengikuti manajer hyung yang akan pergi bersama mereka ke Jepang sedangkan Sungmin, Siwon, Donghae dan Eunhyuk akan kembali ke Korea. Mereka harus berpisah disini karena Kyuhyun juga Ryeowook akan melakukan penerbangan menuju Jepang melalui bandara Hongkong sedangkan Sungmin dan yang lainnya akan kembali ke Korea melalui bandara Nanjing.

-oooOooo-

Seoul. 25 January 2013.

Morin berjalan dengan sangat pelan di sepanjang jalan menuju rumahnya. Perutnya kembali sakit di saat yang tidak tepat. Berkali-kali dia berhenti berjalan menarik nafas dalam lalu kembali melanjutkan. Beberapa kali dia merutuki dirinya sendiri yang lebih memutuskan pulang kuliah naik bis daripada taksi.

“Tidak lucu jika aku pingsan disini,” keluhnya sambil mengusap peluh yang mulai menetes-netes dari dahinya. Jalanan di sekitar rumahnya terlihat sepi.

Morin tersenyum saat melihat tikungan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Dan begitu tiba di depan gerbang rumahnya dia tidak langsung membukanya tapi justru mengetukkan-ngetukkan kepalanya ke pintu gerbang sambil tangan kanannya tetap memegangi perut bagian kanan bawahnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Morin menoleh dengan terkejut ke arah sumber suara.

Kyuhyun keluar dari bayang-bayang hitam yang menyembunyikannya dari sinar lampu lalu berjalan mendekati Morin. Bagaimana mungkin Morin tak mengetahui jika disana terparkir mobil Kyuhyun.

“Kk.. kau berniat membunuhku?” tanya Morin sengit berusaha menegakkan tubuhnya lalu beralih memegangi dadanya yang bergemuruh.

“Apa kau terkejut?” balik tanya Kyuhyun pura-pura kaget.

“Tentu saja. Dan apa yang kau lakukan di depan rumahku malam-malam seperti ini? Kau mau menguntitku?”

“Mworago? Baiklah aku akan kembali pulang kalau begitu,” putus Kyuhyun hendak berbalik.

“Pulanglah,” usir Morin meremas selempang tasnya kuat-kuat sungguh-sungguh berharap Kyuhyun benar-benar akan pulang, dia datang di saat yang tidak tepat.

“Tapi aku sudah jauh-jauh kemari, jadi biarkan aku masuk,” ucap Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk pergi lalu memaksa Morin untuk membuka gerbangnya.

Morin akhirnya menyerah dan membiarkan Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya.

“Apa kau baru saja pulang?” tanya Kyuhyun sudah berjalan lebih dulu di depan Morin.

Sedangkan Morin hanya berdiri di dekat pintu gerbangnya menyandarkan tubuhnya. “Ne,” jawabnya meringis menahan sakit.

“Kenapa suaramu seperti itu?” tanya Kyuhyun berbalik dan kaget saat melihat Morin yang masih berhenti di dekat gerbang.

“Aku mungkin flu,” jawab Morin berbohong lalu kembali menegakkan tubuh. Nyeri yang dirasakan di perutnya sudah berangsur-angsur berkurang.

“Sudah kuduga,” jawab Kyuhyun tampak puas, seolah-olah tindakannya mengirim obat jauh-jauh dari Beijing berguna. “Gadis sepertimu memang sangat mudah terkena flu.”

Morin hanya menggeleng-geleng heran pada Kyuhyun lalu mengikuti Kyuhyun yang kini telah berdiri di depan pintu kayu berukirnya.

“Apa kran di rumahmu sudah diperbaiki?” tanya Kyuhyun melemparkan diri ke sofa di ruang televisi Morin.

“Ne,” seru Morin dari arah dapur membawa dua botol cola.

“Kau menggunakan kaca mata?” tanya Morin kaget setelah Kyuhyun melepas topi yang dikenakannya. Bagaimana mungkin Morin baru sadar bahwa Kyuhyun memakai kaca mata padahal dia sudah berbicara dengan Kyuhyun sejak beberapa menit yang lalu.

Kyuhyun hanya mengangguk.

“Sampai saat ini aku heran bagaimana mata milikmu bisa tetap sehat padahal kau hampir setiap hari berada di depan komputer, tapi ternyata tidak,” celoteh Morin lalu ikut duduk di sebelah Kyuhyun.

“Ngomong-ngomong kapan kau pulang dari China?”

“Empat hari yang lalu tapi aku pergi ke Jepang dan baru pulang hari ini.”

“Kau baru kembali dari Jepang? Hari ini?” kaget Morin menoleh pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk dengan wajah lelah.

“Apa kau tak lelah?”

“Tentu saja lelah. Crazy schedule. Korea, China, Jepang, comeback SJ-M, album perdana KRY, Radio Star, Catch Me If You Can,” keluh Kyuhyun menyenderkan punggungnya pada punggung sofa.

Morin tersenyum mengerti dengan jadwal gila Kyuhyun. “Kalau tahu seperti itu kenapa kemari? Kurasa ranjang di kamar lebih nyaman.”

Kyuhyun menoleh pada Morin dengan mata menyipit, apa itu sebuah pertanyaan jebakan? Tapi saat melihat Morin yang menatap prihatin padanya, Kyuhyun tahu bahwa Morin tak bermaksud seperti itu. “Itu karena.. uhm.. untuk memastikan apakah paketan dariku sudah kau terima.”

“Sangat berguna,” jawab Morin mengangguk-angguk melebih-lebihkan.

Sesaat suasana hening hanya terdengar suara jarum jam yang bergerak tiap detiknya.

Morin mengambil colanya lalu mulai meneguknya, mungkin pilihan yang salah untuk Morin meminum cola padahal beberapa menit yang lalu nyeri di perutnya baru saja kembali tapi Morin sama sekali tak mempedulikannya.

“Kelinci,” panggil Kyuhyun.

“Ne?” jawab Morin tanpa menoleh pada Kyuhyun.

“Hmm, apa yang paling ingin kau lakukan dengan kekasihmu?”

Morin hanya diam mendengar pertanyaan Kyuhyun, bukankah Kyuhyun saat ini kekasihnya, lalu apa maksud dari pertanyaannya.

Morin menggaruk belakang kepalanya sebelum menjawab tanpa menoleh pada Kyuhyun.

“Uhm, mungkin bersama-sama mendengarkan…”

Belum sempat Morin melanjutkan kalimatnya, sebuah earphone telah dipasangkan di telinga kanannya.

Morin menatap Kyuhyun, pasangan lain dari earphone yang sekarang terpasang di telinga kanannya juga terpasang di telinga kiri Kyuhyun. Bagaimana mungkin Kyuhyun dapat mengerti apa yang dia ingin katakan bahkan sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Morin tersenyum menatap Kyuhyun sedangkan Kyuhyun hanya tetap menghadap ke depan, pura-pura tak melihat Morin di sampingnya yang tersenyum padanya.

Kemudian selanjutnya Morin dan Kyuhyun hanya diam, fokus pada lagu yang mengalun dari earphone di masing-masing telinga mereka.

Morin tampak mendengarkan dengan serius, terlihat dari kerutan-kerutan di dahinya yang muncul cukup sering. Beda halnya dengan Kyuhyun yang mendengarkan dengan santai.

“Apa judulnya?” tanya Morin setelah lagu berakhir menoleh pada Kyuhyun.

“Promise You. Ini lagu baru KRY. Bagaimana menurutmu?” tanya Kyuhyun.

Morin hanya mengerjap. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. “Bagus.”

“Dan apa arti dari kata bagus itu?” Kyuhyun melirik tajam Morin.

“Bagus berarti bagus,” jawab Morin ragu.

Kyuhyun semakin menatap tajam Morin.

Morin merosotkan tubuh di atas sofa saat melihat tatapan tajam Kyuhyun. “Sejujurnya aku tidak mengerti bahasa Jepang. Sama sekali tidak mengerti. Tapi aku bisa menikmati lagu ini walau tak mengerti apa arti dari liriknya.”

Kyuhyun hanya mendesah pelan, sudah menduga.

“Dan apa arti lagu ini?” tanya Morin tampak antusias.

“Kemarikan ponselmu.”

“Wae?” tanya Morin tapi tetap menyerahkan ponselnya.

Kyuhyun mengirim lagu Promise You dari ponselnya ke ponsel Morin, lalu menggunakannya sebagai nada dering.

“Sekarang tugasmu mencari arti dari lagu ini,” pesan Kyuhyun.

“Ne?”

“Aku akan kembali ke dorm. Oh, besok aku akan kembali ke China setelah itu SJ-M akan ada promosi di Korea. Luangkan waktumu untuk melihat kami, atau datanglah ke dorm, aku akan mengenalkanmu pada dua member SJ-M yang pasti belum kau kenal,” ucap Kyuhyun melambai pada Morin sebelum akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.

-oooOooo-

Beijing. 26 January 2013.

Van yang membawa semua member dari SJ-M baru saja memasukki basemant dorm yang tampak sepi. Satu persatu member keluar dengan wajah tampak lelah dan mengantuk.

“Kyuhyunnie, ponselmu tertinggal,” panggil manajer hyung yang masih berada di belakang kemudi.

“Ne,” jawab Kyuhyun berlari-lari kecil kembali ke van untuk mengambil ponselnya.

“Hyung akan kembali dalam beberapa menit lagi,” ucap manajer hyung kemudian kembali melajukan van sudah dapat ditebak dia akan membelikan makan malam untuk member.

Kyuhyun memijit tengkuknya saat tiba-tiba dua orang berpakaian rapi, berjas dan berdasi menahan langkahnya.

Kyuhyun menatap curiga kepada kedua orang itu sambil berpikir bahasa mandarin apa yang tepat dia ucapkan pada saat ini. Dia tidak pernah belajar percakapan untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Apa anda tuan Cho Kyuhyun?” tanya salah satu dari kedua pria tersebut menggunakan bahasa korea dengan wajah serius.

“Ne,” jawab Kyuhyun mengangguk bingung. Apa mereka salah satu dari penggemarnya?

“Tolong ikut kami.”

Kyuhyun tak menjawab dan hanya menatap kedua pria itu lalu memerhatikan ke arah belakang kedua pria tersebut, tapi dia sama sekali tak menemukan satu member pun yang menunggunya di pintu masuk.

“Tolong ikut kami,” ulang salah satu dari pria itu lagi terdengar lebih memaksa dibanding yang pertama.

“Anda tidak perlu khawatir, kami tidak akan berbuat macam-macam pada anda.”

Kyuhyun akhirnya mengangguk lalu mengikuti satu pria yang berjalan di depannya sedangkan yang lainnya berjalan di belakang Kyuhyun, memastikan bahwa Kyuhyun tak akan melarikan diri.

Mereka bertiga berjalan mendekati mobil hitam mengkilat yang terpakir di sudut basemant. Kyuhyun sangat yakin, mobil yang dihadapannya itu adalah volvo, dan bertanya-tanya siapa yang mungkin menjemputnya dengan mobil mewah itu.

Pria yang berada di depan membukakan pintu untuk Kyuhyun dan mempersilahkan Kyuhyun masuk ke dalam mobil.

Kyuhyun masuk dengan patuh ke dalam mobil disusul pria berdasi di belakangnya sedangkan pria yang membukakan pintu untuknya berjalan memutar lalu membuka pintu depan.

“Jalan,” perintahnya pada supir yang duduk di belakang kemudi lalu volvo hitam mengkilat itu melaju meninggalkan dorm.

Kyuhyun sedikit cemas di kursi belakang, memikirkan apa yang mungkin akan pria-pria berdasi ini lakukan padanya.

“Kita akan kemana?” tanya Kyuhyun tak dapat mencegah kekhawatiran dari nada suaranya. Bagaimanapun juga dia harus tahu kemana volvo itu akan membawanya pergi.

Tapi tak ada jawaban dari satupun orang yang berada di dalam mobil bersamanya.

-oooOooo-

Volvo hitam mengkilat itu akhirnya memelan, memasuki gerbang kokoh yang menyembunyikan bangunan serta seluruh aktifitas di dalamnya. Setelah berada di dalam gerbang, volvo itu terus melaju menuju satu-satunya bangunan terbesar disana sebelum akhirnya benar-benar berhenti.

Pria berjas yang duduk di depan turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Kyuhyun lalu mengantarkan Kyuhyun memasuki rumah yang super besar tersebut, meninggalkan satu yang lain tetap di mobil.

Kyuhyun menatap takjub saat berada di dalam rumah. Rumah bergaya eropa classic dengan langit-langit tinggi serta lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah, di setiap dinding dihiasi lukisan-lukisan yang sama sekali tak Kyuhyun kenali siapa pelukisnya, yang Kyuhyun tahu lukisan itu indah. Suara langkah sepatu bergema di penjuru ruangan. Berkali-kali Kyuhyun berpapasan dengan pelayan-pelayan berseragam. Salah satu dari pelayan itu yang dapat ditebak sebagai kepala pelayan ­terlihat dari seragam berbeda yang dikenakannya­ tersenyum ramah lalu membungkuk hormat kepada Kyuhyun yang dibalas dengan bungkukan ragu-ragu dari Kyuhyun.

Pria berjas yang menunjukkan jalan padanya itu membuka pintu ukir yang menampakkan ruang makan dengan meja panjang.

“Silahkan duduk,” ucap pria berjas itu menarik keluar sebuah kursi untuk Kyuhyun.

Kyuhyun duduk dengan ragu dan setelahnya pria berjas itu berjalan keluar ruangan, meninggalkan Kyuhyun seorang diri.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya lalu mengumpat pelan saat menyadari ponsel miliknya mati. Lalu Kyuhyun memilih untuk diam, mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja kayu di depannya sampai akhirnya muncul seorang laki-laki paruh baya berjalan ke arahnya, diikuti kepala pelayan yang tadi sempat tersenyum pada Kyuhyun. Pria yang tidak asing di mata Kyuhyun.

Kyuhyun memaksakan otaknya untuk mengingat lalu bayangan sebuah foto dalam cover majalah di rumah Morin memenuhi kepalanya. Pria yang sama, dan memiliki mata yang sama dengan mata milik Morin. Kyuhyun menelan ludah berat, sepertinya mulai sadar dia berada di dalam kondisi seperti apa.

Kyuhyun segera berdiri dari duduknya menunggu sampai laki-laki itu mendekat dan memposisikan dirinya dengan nyaman di kursi dihadapannya baru setelah itulah Kyuhyun kembali duduk.

Hening.

Laki-laki itu hanya menatap Kyuhyun, bukan dengan tatapan penghakiman atau menuduh tapi lebih dengan tatapan penasaran, dan penuh rasa ingin tahu. Tapi masih dengan diam.

Kyuhyun juga hanya diam meski sebenarnya dia tidak tahan berada dalam kondisi seperti ini tapi bagaimanapun juga dia harus tetap menjaga sikapnya.

“Apa kau sudah makan malam?”

“Ne,” Kyuhyun mengangguk meski berbohong. Dia tampak lega karena akhirnya laki-laki dihadapannya itu mengeluarkan suara setelah suasana hening yang sangat lama.

“Sayang sekali. Bagaimana kalau kita minum wine, kudengar kau sangat menyukai wine.”

Kyuhyun hanya tersenyum meski sebenarnya dia sangat ingin bertanya bagaimana mungkin laki-laki itu tahu tentang hal tersebut. Tapi sepertinya tidak perlu.

Satu menit kemudian, kepala pelayan kembali memasuki ruangan diikuti seorang pelayan pria lain yang mendorong meja kecil berisi satu botol wine dan dua buah gelas.

Kepala pelayan tersebut lalu menaruh masing-masing satu gelas dihadapan mereka. Kemudian mulai mengisi sepertiga bagian gelas.

Laki-laki dihadapan Kyuhyun mengangkat tangkai gelasnya terlebih dahulu, mengamati red wine yang ada di dalam gelasnya lalu menggoyang-goyangkannya sebentar kemudian menghirup aromanya sambil memejamkan mata sebelum akhirnya menempelkan bibir gelas pada bibirnya dan mulai mencicipi winenya.

Kyuhyun hanya melakukan hal yang sama. Meskipun dia belum terlalu banyak mencoba bermacam-macam jenis wine tapi Kyuhyun sudah cukup ahli bagaimana cara meninkmati wine.

Laki-laki dihadapan Kyuhyun tampak mengangguk-angguk kecil. “Kau tampak terampil.”

“Saya biasa meminumnya meskipun tidak terlalu sering,” jawab Kyuhyun sopan.

Laki-laki itu kembali mengangguk lalu melirik ke arah kepala pelayannya yang langsung mengerti dan menarik kursinya.

Laki-laki itu akhirnya meninggalkan Kyuhyun, tanpa kata-kata apapun, tanpa nasehat apapun, bahkan dia juga tak menanyakan pertanyaan apapun pada Kyuhyun.

Kyuhyun buru-buru mendorong kursinya ke belakang kemudian berseru. “Jeosongeyo, Sajangnim?”

Laki-laki paruh baya itu menghentikan langkahnya namun tak membalikkan tubuh untuk menghadap Kyuhyun.

Kyuhyun menelan ludah sebelum berkata. “Mungkin saya memang harus lebih banyak belajar tentang cinta, tapi saya mencintai putri anda. Saya mencintai dia dengan cara saya sendiri, dan saya akan membahagiakannya juga dengan cara saya sendiri,” ucap Kyuhyun tanpa ragu.

Laki-laki yang ternyata adalah ayah Morin itu tak menjawab maupun menoleh pada Kyuhyun lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun. “Dasar anak muda.”

“Kenapa tuan tersenyum seperti itu?” tanya kepala pelayan pelan pada ayah Morin.

“Hanya merasa anak muda itu cukup pemberani,” jawab ayah Morin masih sambil tersenyum.

Kepala pelayan itu mengangguk mengerti lalu menoleh pada Kyuhyun sambil tersenyum.

“Aish! Jinjja! Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu,” omel Kyuhyun mengetuk-ngetukkan kepalanya ke permukaan meja, menyesali perkataannya. Bagaimana mungkin kemampuannya menjadi MC tak dapat digunakannya dalam kondisi seperti ini. Dia seharusnya meyakinkan ayah Morin bahwa dia akan berusaha keras membahagiakan putrinya bagaimanapun caranya.

“Hah~” Kyuhyun mendesah panjang, menegakkan kembali tubuhnya lalu meneguk sisa wine-nya, tak peduli lagi dengan bagaimana cara menikmati wine yang benar.

Kyuhyun baru melangkah beberapa meter dari meja makan saat seorang wanita yang tampak seusia dengan ibunya memasuki ruangan.

“Duduklah,” titahnya namun Kyuhyun masih tetap berdiri menunggu hingga wanita itu duduk di tempatnya. Setidaknya dia harus bersikap sopan.

Wanita itu tidak menuju kursi, tapi hanya berjalan mendekat ke arah Kyuhyun hingga akhirnya mereka berdua berhadap-hadapan.

Kyuhyun sangat yakin bahwa wanita yang sekarang dihadapannya itu adalah ibu Morin, garis-garis wajahnya menunjukkan kemiripannya dengan Morin.

Wanita itu menatap dengan tatapan dingin ke arah Kyuhyun yang balik menatapnya dengan sedikit takut.

Ya. Takut! Kalian tak salah membacanya.

Bagaimana mungkin dia tidak takut. Wanita yang dihadapinya saat ini adalah istri seorang presiden direktur sebuah perusahaan asuransi terkenal di China dan mungkin juga Asia ditambah lagi wanita itu adalah ibu dari kekasihnya. Dan perasaan Kyuhyun mengatakan bahwa situasi yang dihadapinya saat ini tak lebih baik daripada situasi sebelumnya.

“Jadi kau yang bernama Cho Kyuhyun?” tanya wanita itu memecah kesunyian dengan nada anggun yang membuat Kyuhyun sedikit bergidik kalau boleh jujur.

Kyuhyun membungkuk sopan. “Senang bertemu dengan anda.” Ucapan itu hanya untuk meyakinkan bahwa pria muda dihadapannya itu cukup sopan untuk dibiarkan dekat dengan putri sulungnya. Lalu sedetik kemudian Kyuhyun menyesal karena sebelumnya dia tidak memperkenalkan diri pada ayah Morin.

Wanita itu meneliti penampilan Kyuhyun mulai dari ujung rambut kemerahan Kyuhyun hingga sepatu sneaker yang dikenakan Kyuhyun. Oke mungkin ini sedikit penampilan yang tidak tepat untuk bertemu ibu dari kekasihnya karena mungkin sebaiknya dia mengenakan setelan jas terbaik yang dimilikinya dan juga sepatu kulit yang mengkilat.

“Maafkan aku sampai harus membawamu kemari ditengah kesibukan kalian saat ini.”

Jika ibu Morin mengatakan bahwa dialah yang membawa Kyuhyun kesana itu berarti ayah Morin telah mengambil start terlebih dahulu untuk menemui Kyuhyun dan mungkin tanpa sepengetahuan ibu Morin. Kyuhyun hanya tersenyum mencoba meyakinkan bahwa hal itu tidak masalah sama sekali.

“Jadi sudah berapa lama kau dekat dengan putriku?”

Kyuhyun tampak diam sejenak. “Sudah cukup lama.”

Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk mengerti sebelum akhirnya melanjutkan. “Apa kau sudah tahu darimana Morin berasal? Maksudku latar belakang keluarganya.”

Kyuhyun tak menjawab dan hanya diam.

“Kuartikan itu berarti iya,” lanjut wanita itu sedikit menegakkan posisi tubuhnya yang sebenarnya sudah tegak sejak mereka mulai berbicara. “Dan karena aku tahu kau masih akan sangat sibuk setelah ini jadi aku tidak akan terlalu lama berbasa-basi.”

Kyuhyun mengerutkan dahinya bingung namun tetap berusaha tampak tenang.

“Aku hanya akan mengatakan ini sekali,” ucap ibu Morin diam beberapa saat untuk memberi jeda. “Jauhi Morin. Lebih tepatnya tinggalkan Morin dan jangan pernah lagi mengusik kehidupannya. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya sendiri karena aku yakin dia hanya akan bahagia jika tak mengenalmu dan melanjutkan hidupnya sebagaimana mestinya.”

-to be continue-


a/n:

sampai kapan kalian akan mengacuhkan kolom komentar? setidaknya tinggalkan jejak bahwa kalian memang pernah berkunjung disini ^^

Advertisements