Kritik, Mengkritik, Dikritik

by monamuliaa

Tadi pagi seperti biasa aku terbangun karena “Special-alarm”. Ibu membangunkanku dengan lengkingan 8 oktaf ciri khasnya yang bisa bikin kaca-kaca jendela bergetar seketika.

Sebelum beranjak dengan malas dari ranjang –terhangat, ternyaman, teristimewa– lagi-lagi aku masih berguling-guling ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah seolah enggan mengakhiri kemesraan yang telah terjadi semalaman bersama ranjangku sampai akhirnya benda mungil hitam yang menjadi salah satu benda “sihir” dalam hidupku bergetar dengan pelan di bawah bantal.

Sebuah pesan masuk dari seorang sahabat. Isinya? Boleh dibilang keluhan kali ya. Yang intinya bahwa dia baru saja dapat kritikan yang cukup bikin dia nyesek dan down –itu kata sahabatku loh.

Layaknya orang yang sok penting, aku manggut-manggut baca pesan singkat dari dia tapi tentu saja sambil mikir, tidakkah ini masih terlalu pagi untuk mengeluh? Tapi aku pikir mungkin itu pesan yang dia kirim dari semalam, maklumlah sinyal di hapeku susahnya amit-amit deh. Niatnya seh ganti nomor tapi apalah daya udah terlanjur cinta sama nomor yang lama jadi ya sudahlah diterima saja ditambah lagi malas harus menghafal nomor baru yang belum tentu aku bisa hafal barang dua tiga hari sudah jelas menjadi alasan tersendiri untuk tidak ganti nomor, terlalu susah menghafal deretan angka-angka. Oke lupakan tentang sinyal hape gak penting –yang aslinya penting banget woy.

Dan layaknya seorang manusia yang sudah hidup lebih dari 75 tahun, udah pernah ngrasain asam garam kehidupan yang aslinya cuma sok-sokan aja biar meyakinkan, aku nasehati dia dengan nasehat bla bla bla dan bla yang pasti bikin dia males banget bacanya secara masih pag-pagi udah dapet ceramah panjang lebar dari manusia kayak aku. Tapi ujung-ujungnya dia jawab iya aja, entahlah dia sudah dapat tersugesti dengan kata-kataku atau hanya malas membaca lanjutan ceramahku yang mungkin tak akan berkesudahan.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir ya, kritik emang kadang gak bersahabat seh. Apalagi ditambah dengan cara penyampaian kritik secara kasar, frontal, nunjuk-nunjuk muka, goyang pinggul kanan, goyang pinggul kiri, stretching sudah sangat tentu itu kadang akan membuat orang down dan gak bersemangat untuk hidup.

Manusia di muka bumi ini sesungguhnya memang memiliki sifat-sifat yang beragam, ada orang yang gampang menangis hanya karena membaca atau mendengarkan kata-kata menyedihkan sepele terkadang ada juga orang yang susah banget terharu bahkan setelah mendengar cerita-cerita mellow picisan menyayat hati mendayu-dayu layaknya nyanyian putri duyung yang merana, lalu ada juga orang yang pandai menyampaikan sebuah kritikan dengan cara halus –tapi ujung-ujungnya jleb juga– yang terkadang bertele-tele demi agar tidak menyakiti orang lain serta ada juga orang yang menyampaikan kritikannya secara frontal langsung jleb tanpa tedeng aling-aling dan tepat sasaran, orang yang kayak gini lumayan banyak jumlahnya.

Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir, diamati, dicicipi, dan dicerna, kritik itu tidak sepenuhnya salah. Lha wong kritik itu sendiri kan katanya mampu menjadikan orang maju. Salah seorang guruku dulu pernah berpesan bahwa “Kritikan bisa menjadikan kalian manusia yang lebih berkualitas.”

Kenapa? Karena banyak orang yang akan berinterospeksi diri setelah mendapat kritikan. Orang-orang yang sebelumnya merasa bahwa dirinya paling hebat, paling kaya, paling pandai, paling gemuk akan berpikir dua kali untuk kembali menjadi “paling-paling lainnya” setelah mendapat kritikan.

Sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan serta berlimpah dosa –ngutip kalimat ustadz sebelah rumah– seharusnya kita mampu menerima kritik itu dengan tangan terbuka. Dengan kritik itu pula lah kita harus dapat mengintrospeksi diri, mana hal-hal yang harus kita perbaharui kearah yang lebih baik dan mana hal-hal yang memang perlu dipertahankan sebagai ciri khas kita. Kritik jugalah yang akan menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik melalui perbaikan-perbaikan yang kita lakukan. Jika seseorang mudah putus asa dan stuck di satu tempat sudah sangat pasti dia tak akan pernah bisa menjadi manusia yang lebih berkualitas, memang untuk mendapatkan sebuah perubahan manusia harus mau untuk bergerak. Mungkin aku memang bukan orang yang mudah menerima kritik tapi ujung-ujungnya aku pasti akan benar-benar memikirkan tentang kritik yang orang sampaikan padaku, dan mencoba merubah apa yang memang seharusnya aku rubah pada diriku.

Pesan singkat dari sahabatku telah menyentilku untuk berpikir bahwa di dalam kehidupan ini sendiri, manusia tak pernah lepas dari kritik, mengkritik dan dikritik seperti layaknya manusia yang tak pernah lepas dari gosip, menggosipkan dan digosipkan. Karena ya itulah salah satu pekerjaan sampingan manusia di muka bumi ini. Ada saat-saat manusia mengkritik orang lain dengan seenak jidatnya, ada kalanya juga orang tersebut dikritik tak kalah seenak jidatnya oleh orang lain. Layaknya siklus kehidupan yang tak pernah terputus seperti itulah fenomena kritik, mengkritik dan dikritik namun karena kritik mampu menjadikan manusia maju dan lebih berkualitas maka mari mencoba untuk menerima kritik tersebut dengan tangan terbuka. Namun ada kalanya juga sebuah kritik disampaikan justru untuk membuat kita menjadi pribadi yang semakin buruk, jadi bagaimanapun juga kita harus mampu mengendalikan diri kita sendiri untuk tidak terlalu mudah terombang-ambing dengan kritikan yang disampaikan oleh orang lain. Hanya, terima kritikan dengan lapang dada, cermati apakah jika kita berubah sesui dengan apa yang dikatakan pengkritik kita akan menjadi lebih baik atau justru akan menjadi pribadi yang buruk karena sesungguhnya kita sendirilah yang akan membuat diri kita sendiri maju dan berkualitas sedangkan kritikan itu hanya seperti sebuah cambuk agar kita mau bergerak maju.

-Sebuah renungan dipagi hari, setelah bangun tidur dan belum pergi mandi bahkan cuci muka ataupun gosok gigi, hihihi-

Advertisements