[Our Line] #11 Promise You

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

“Aku hanya akan mengatakan ini sekali,” ucap Ibu Morin diam beberapa saat untuk memberi jeda. “Jauhi Morin. Lebih tepatnya tinggalkan Morin dan jangan pernah lagi mengusik kehidupannya. Biarkan dia bahagia dengan kehidupannya karena aku yakin dia hanya akan bahagia jika tak mengenalmu dan melanjutkan hidupnya sebagaimana mestinya.”

“…..”

“Aku tidak yakin kau bisa membahagiakan Morin,” lanjut ibu Morin. “Aku tahu apa yang bisa membahagiakan Morin.”

“…..”

Ibu Morin lalu berbalik meninggalkan Kyuhyun.

“Maaf nyonya!” panggil Kyuhyun berjalan dengan langkah lebar menghampiri ibu Morin yang berhenti melangkah dan berbalik menatap Kyuhyun. “Tak sepatutnya anda memperlakukan putri anda seperti ini. Dia bukan boneka anda yang bisa anda dandani sekehendak hati. Terkadang anda juga harus mendengarkan isi hati putri anda untuk tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Terimakasih karena nyonya sudah berkenan untuk bertemu dengan saya,” ucap Kyuhyun kemudian berjalan dengan langkah mantap meninggalkan ruangan.

Sedangkan ibu Morin hanya menatap punggung Kyuhyun yang semakin lama semakin menjauh dengan wajah mengeras.

-oooOooo-

SJ-M’s Dorm. 27 January 2013.

Kyuhyun baru saja mendorong pintu dorm terbuka saat pertanyaan-pertanyaan dari manajer hyung membombardirnya.

“Kau darimana saja? Kau harus istirahat, besok pagi kalian ada jadwal tapi tiba-tiba saja kau pergi tanpa memberi pesan apapun? Dan kenapa ponselmu tak aktif? Aku kebingungan mencarimu.”

Kyuhyun mendesah pelan sebelum akhirnya menjawab. “Aku hanya pergi jalan-jalan dan ponselku mati.”

“Jangan lakukan itu lagi lain kali.”

“Arraseo, jeosongeyo,” jawab Kyuhyun sekenanya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu rapat dan menguncinya.

“Kau tak ingin makan malam dulu?” pertanyaan manajer hyungnya terabaikan saat pintu kamar telah benar-benar ditutupnya.

Ingatan Kyuhyun tentang perkataan ibu Morin terngiang-ngiang di kepalanya dan pertanyaan yang terus saja muncul dibenaknya adalah tentang benarkah Morin hanya akan bahagia jika tidak kenal dengannya terus saja berkelebatan membuat kepalanya berdenyut-denyut nyeri.

Kyuhyun melepas snekearnya lalu meletakkan begitu saja disudut kamar kemudian membaringkan diri di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar beberapa saat hingga teringat ponselnya yang mati lalu buru-buru mengeluarkan dan mengaktifkannya.

Sebuah pesan dari Morin yang mengatakan bahwa dia sudah mulai liburan dan tanpa pikir panjang lagi Kyuhyun menekan ikon panggil pada layar ponselnya lalu meletakkan ponselnya di telinga.

“Yeoboseyo?” terdengar sahutan bersemangat dari seberang yang Kyuhyun tak tahu itu disebabkan karena Morin telah mendapatkan liburan panjangnya atau karena mendapat panggilan dari Kyuhyun.

“Kau terdengar bersemangat.”

“Tentu saja. Kau tidak tahu aku benar-benar telah menanti saat-saat seperti ini. Terbebas dari laporan-laporan yang selalu memaksaku untuk berkutat dengan kaca mata tebal di depan laptopku, ujian-ujian dengan soal-soal mengerikan yang sering aku lewatkan untuk mempelajarinya malam sebelumnya dan kuis-kuis dadakan yang menjengkelkan nyaris membuat kepalaku meledak,” gerutu Morin pada Kyuhyun seperti Kyuhyunlah penyebab semua kekacauan yang dialaminya.

Kyuhyun hanya tersenyum lembut mendengar gerutuan Morin. “Dan apa rencanamu?”

“Uhm. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk menjadi stalker Minho.”

Hening.

“Haha, aku hanya bercanda. Besok lusa aku akan berkunjung ke Kona Beans mungkin aku dibutuhkan disana. Atau mungkin aku akan melamar pekerjaan disana.”

“Jangan main-main!”

“Apa maksudmu dengan main-main? Tentu saja aku serius. Sebenarnya aku telah melamar pekerjaan disana.”

“Lalu selanjutnya kau akan pergi berkencan dengan Sungjin begitu?” Kyuhyun teringat beberapa hari ke belakang, Morin pernah mengatakan pada Kyuhyun bahwa Sungjin tahu mengenai hubungannya saat mereka berbicara berdua sambil minum kopi.

“Aku tidak berkencan.”

“Terakhir kali kau bertemu dengannya sedang berkencan,” tuduh Kyuhyun.

“Ya baiklah jika minum kopi bisa dikatakan berkencan mungkin selanjutnya aku akan berpacaran dengan Sungjin oppa karena saat di Kona Beans aku pasti akan makan siang dengannya. Bercanda dengannya dan entah apalagi yang akan aku lakukan bersamanya yang tak bisa kulakukan denganmu,” sindir Morin.

“Teruslah menyindirku seperti  itu,” ucap Kyuhyun.

“Aku tidak menyindirmu. Aku hanya ingin kehidupan yang normal. Memiliki hubungan percintaan yang normal. Dan yang terpenting dari semuanya adalah kekasih yang normal,” Morin melirihkan suaranya untuk kalimat terakhir ini.

“Dan apakah kau pikir aku tidak normal?” tanya Kyuhyun mengeryit saat menyadari volume suaranya yang meninggi.

“Tidak. Bukan. Maksudku. Begini. Kau memang bukan vampir, immortals atau semacamnya tapi yah aku merasa hubungan kita tidak normal. Dalam artian yang berbeda. Kau tahu maksudku,” terdengar Morin yang sangat frustasi menjelaskan pemikiran-pemikirannya sendiri.

“Dan apa kau ingin bilang kalau sebenarnya kau tak bahagia bersamaku?”

“Omong kosong. Aku tak mengatakan seperti itu.”

Kyuhyun memijit pelipisnya untuk sedikit merilekskan diri karena dia sadar pembicaraannya dengan Morin akan semakin membawa mereka ke dalam pertengkaran. Bukan perdebatan-perdebatan kecil seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya. Tapi ini lebih serius. Dan Kyuhyun harus berusaha menghentikannya sebelum semuanya berakibat fatal.

“Aku terlalu lelah untuk berpikir. Setelah ini aku akan sangat sibuk jadi maaf kita harus menyudahi pembicaraan ini. Bersenang-senanglah dengan liburanmu,” ucap Kyuhyun tak menunggu jawaban Morin untuk memutuskan sambungan telepon.

-oooOooo-

Morin’s Home.

“Apa-apaan pria ini,” dengus Morin saat Kyuhyun mematikan sambungan telepon sepihak. “Kenapa tiba-tiba saja dia marah-marah padaku. Aish, jeongmal, pria ini,” Morin menepuk-nepuk dadanya mencoba menenangkan diri.

“Aku tidak bermaksud mengatakan seperti itu, kenapa dia begitu sensitif,” Morin berguling-guling di atas ranjang dengan frustasi menyebabkan bantal-bantal dan gulingnya berserakan di lantai.

Morin menghentikan aksi frustasinya lalu beranjak menghampiri meja belajar dimana laptopnya telah menyala sejak sebelum Kyuhyun menghubunginya tadi.

Jendela terakhir yang terbuka di aplikasi web browser-nya adalah sebuah postingan yang berisi translate dari lagu KRY – Promise You.

Morin membaca kembali beberapa kalimat yang tadi –sebelum Kyuhyun menghubunginya– sempat dibacanya.

Promise you. I will live thinking about you. We are connected by our heart to heart. Promise you.
What I want to tell you is just that I love you.
I will promise the piece of eternity.

“Cih! Omong kosong macam apa ini,” dengus Morin pada akhirnya menutup laptopnya tanpa berniat mematikannya terlebih dahulu.

Morinpun beranjak menuju ranjangnya, memikirkan Kyuhyun yang ternyata selain membuat mood serta emosinya naik turun kini juga bertambah membuat Morin frustasi.

-oooOooo-

Kona Beans. 1 February 2013.

Morin merogoh ponsel dari saku bajunya namun tak mendapatkan panggilan atau pesan satupun di ponselnya. Dia ingat, terakhir kali dia dan Kyuhyun berbicara di telepon adalah ketika tiba-tiba saja Kyuhyun berbicara padanya dengan nada emosi. Tidak seperti Kyuhyun yang biasanya.

Morin hanya menghela nafas pelan, mencuci kedua tangannya. Tak berniat menghubungi Kyuhyun. Mungkin membiarkan Kyuhyun istirahat beberapa saat tanpa mengganggunya akan lebih baik daripada menghubunginya tapi hanya berujung pertengkaran. Morin tahu sebuah hubungan tidak akan selamanya baik-baik saja, ada masa-masa dimana kesalahpahaman seperti ini akan mengganggu hubungan, tak terkecuali hubungannya dengan Kyuhyun. Namun jujur, Morin tak pernah sama sekali mengingkinkan hal seperti ini akan terjadi begitu cepat dalam hubungannya. Baginya hubungannya dengan Kyuhyun saat ini sudah cukup sulit tanpa ada hal-hal seperti itu. Sejujurnya meskipun tingkah Kyuhyun membuatnya frustasi namun Morin tak pernah bisa untuk tidak memikirkan tentang kemarahan Kyuhyun padanya, betapapun Morin berusaha untuk tak memikirkannya.

Tiba-tiba saja ingatan Morin tentang Sang Hoon muncul begitu saja ke permukaan. “Sang Hoon oppa. Kau tak akan benar-benar kembali mengusik kehidupanku kan?” ucap Morin menatap pantulan dirinya sendiri di cermin persegi dihadapannya.

“Argh! Tak bisakah aku hidup tenang dan damai~”

Morin memekik pelan, bersamaan dengan teriakannya, rasa nyeri di perutnya kembali kambuh. Rasa nyerinya semakin sakit hari demi hari dan rasa nyerinya kali ini sudah melampaui batas rasa nyeri yang sebelum-sebelumnya dirasakan Morin.

Morin berpegangan pada ujung wastafel saat merasa tubuhnya tak sanggup lagi untuk berdiri, peluh menetes-netes dari dahinya, jantungnya berdetak-detak tak terkendali dan tiba-tiba saja tubuhnya menggigil. Lalu Morin berjalan tertatih untuk mencapai pintu toilet namun belum sempat dia menyentuh pintu toilet, tubuhnya telah benar-benar merosot ke lantai.

“Aigoo, uri Morinnie kenapa bisa lama sekali. Apa dia tertidur di dalam toilet,” keluh Ahra berkacak pinggang di depan meja counter.

“Nuna, kenapa tidak kita tutup sekarang?” tanya Sungjin yang baru saja menghampiri Ahra.

“Morin di toilet,” jawab Ahra singkat.

5 menit.

10 menit.

“Nuna, tidakkah sebaiknya nuna melihat ke toilet. Sudah cukup lama dia berada di toilet.”

Ahra buru-buru mengangguk. Ada sedikit kekhawatiran dari raut wajahnya. “Kalau begitu pulanglah lebih dulu. Nuna akan menutupnya sendirian.”

“Arraseo, sampaikan salamku pada Morin,” pesan Sungjin lalu melambai pada Ahra.

Ahra mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju toilet.

Ahra mengetuk pintu toilet beberapa kali namun tak ada sahutan dari Morin. “Apa kau masih di dalam?”

“…..”

Ahra memutar gagang pintu perlahan lalu membuka pintu semakin lebar. “Omo,” pekiknya menutup mulut saat mendapati tubuh Morin merosot ke lantai.

“Eonni,” panggil Morin terdengar sangat lemah.

-oooOooo-

Seoul Hospital.

“Berdasarkan hasil tes darah, leukosit Morin agassi meningkat jauh di atas normal. Itu sudah jelas menandakan bahwa appendix Morin agassi memang bermasalah,” jelas dokter bedah yang baru saja keluar dari emergency room pada Ahra yang tampak panik.

“Morin agassi mengalami perforasi. Itu mungkin karena dia terlalu lama menahan sakitnya dan tidak segera pergi ke rumah sakit jadi malam ini juga harus dilakukan operasi,” lanjut dokter itu.

Ahra menutup mulutnya dengan terkejut. “Operasi?”

Dokter itu hanya mengangguk. “Kami akan menyiapkan operasinya dalam beberapa menit lagi.”

Ahra membungkuk sopan pada dokter saat dokter itu berjalan meninggalkannya

“Anak bodoh. Kenapa tidak segera pergi ke rumah sakit saat merasa sakit. Setidaknya akibatnya tidak akan separah ini,” omel Ahra pada Morin yang terbaring di ranjang.

“Eonni, Gomapta,” ucap Morin tulus pada Ahra. Bukan hanya karena kesediaan Ahra membawanya ke rumah sakit atau kesetiaan Ahra menunggunya namun Morin juga berterimakasih untuk kekhawatiran Ahra yang ditunjukkan padanya.

Ahra hanya tersenyum dan mengangguk.

“Eonni pulanglah. Ini sudah larut malam.”

“Gwenchana. Aku akan menungguimu sampai kau selesai operasi,” jawab Ahra. “Apa kau takut dioperasi?” tanya Ahra yang tiba-tiba melihat perubahan di wajah Morin.

“Ne,” jawab Morin jujur dengan tangan berkeringat.

“Apa perlu aku menelponkan Kyuhyun untukmu? Mungkin kita berdua bisa menungguimu selama kau operasi.”

“Aniyo,” jawab Morin buru-buru. “Dia pasti sibuk,” ucap Morin lirih menyadari dari ucapan Ahra bahwa Kyuhyun pasti telah kembali ke Seoul namun belum juga menghubunginya sampai saat ini.

“Dia pasti sudah kembali dari recording.”

“Gwenchana. Aku akan menghubunginya nanti setelah operasinya berakhir,” Morin tersenyum meyakinkan pada Ahra meskipun sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

-oooOooo-

SM Choreography Room.

“Kyu!” seru Eunhyuk untuk kesekian kalinya atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menatap Eunhyuk dengan tatapan polosnya.

“Berapa kali kita harus mengulangi latihan ini hanya karena konsentrasimu yang berantakan hari ini,” hardik Eunhyuk.

“Mian,” ucap Kyuhyun singkat lalu melangkah menepi meminum banyak-banyak air mineral berharap dia akan lebih baik setelahnya.

“Kenapa dia tiba-tiba saja meminta maaf padaku?” tanya Eunhyuk bingung.

“Karena kau membentaknya,” tuduh Henry.

“Dan sejak kapan Kyuhyun termakan dengan bentakkanku?”

Semua member hanya menggeleng lalu Sungmin mendekati Kyuhyun.

“Gwenchana?” tanya Sungmin menepuk bahu Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menggeleng sambil menatap ke arah botol air mineral yang ada dipegangannya.

“Kau yakin?” tanya Sungmin lagi terdengar semakin khawatir.

“Hm mm.”

“Dan kenapa kau bersikap aneh hari ini?”

Kyuhyun ragu ingin menceritakan semuanya pada Sungmin. Tentang pertemuannya dengan ibu Morin yang memintanya meninggalkan Morin, tentang pertengkarannya dengan Morin, dan tentang keraguan hubungannya dengan Morin yang mengakibatkannya tak menghubungi Morin sampai saat ini dan keraguan Kyuhyun semakin bertambah seiring dengan Morin yang juga tak kunjung menghubunginya.

“Aku baik-baik saja,” tapi akhirnya kalimat itulah yang meluncur dari bibir Kyuhyun.

“Kyu! Kau tidak lupa kan ada kami disini yang akan siap mendengar semua keluhanmu. Kami disini adalah keluargamu. Dan untuk apa kau menyembunyikan masalahmu dari keluargamu sendiri.”

Ada sebagian dalam diri Kyuhyun yang menyuruhnya untuk berhenti mengeluh pada orang lain dan mulai untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun bagaimanapun juga Sungmin benar. Untuk apa dia harus menyembunyikan masalahnya dari keluarganya sendiri disaat keluarganya siap mendegarkan semua keluhannya, disaat keluarganya bersamanya selama 24 jam penuh untuk mendengarkan masalah-masalahnya dan disaat keluarganya mungkin mampu untuk membantunya menyelesaikan masalah. Namun kenyataannya, Kyuhyun hanya diam. Tak ada niatan untuk berbicara sedikitpun tentang masalahnya pada Sungmin.

Beberapa saat kemudian Eunhyuk duduk dihadapan Kyuhyun, merebut botol minum yang dipegang Kyuhyun dan meneguknya hingga tak tersisa. Kyuhyun yang biasanya akan sangat marah jika orang lain meminum air dari botol miliknya kali ini hanya membiarkan Eunhyuk menghabiskan minuman dari botol miliknya, terlalu membuang-buang tenaga hanya untuk memperdebatkan masalah siapa minum dari botol siapa.

“Apa kau marah padaku?” tanya Eunhyuk.

Kyuhyun mendongak, menatap Eunhyuk. Tidak ingat apakah Eunhyuk telah berbuat kesalahan padanya akhir-akhir ini.

“Untuk yang tadi. Ketika aku membentakmu. Tidak seharusnya aku melakukan hal seperti itu.”

Hening.

“Eeiii~” Kyuhyun meninju bahu Eunhyuk pelan. “Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ni padaku?”

“Jadi kau tidak marah padaku?”

Kyuhyun menggeleng.

“Aish sial!” umpatnya lalu beranjak berdiri meninggalkan Kyuhyun yang mencoba untuk terkekeh pelan namun gagal.

-oooOooo-

Suju’s Dorm. 3 February 2013.

Kyuhyun menggeliat di atas ranjangnya lalu mulai membuka matanya. Melirik jam digital di samping ranjangnya yang menunjukkan pukul 6 lewat.

“Kenapa tak ada yang membangunkanku hari ini?” gumam Kyuhyun menggaruk-garuk pipinya yang gatal.

Drrttt.. Drrttt..

Kyuhyun meraih ponsel di atas meja di samping tempat tidurnya. Sangat ingin tahu siapa yang mengiriminya pesan sepagi ini.

From : Ahra Nuna

Uri Kyuhyunnie kini telah menginjak usia 26 tahun. Saengil Chukkae.

Sempatkan diri untuk pulang ke rumah sebelum berangkat ke program musik, eomma membuatkan sup rumput laut untukmu.

“Hari ini aku ulang tahun?” gumam Kyuhyun sepertinya lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

From : Yesungie hyung

Saengil Chukkae. Kau sekarang sudah semakin tua.

Bagaimana perasaanmu di usia dua puluh enam tahun?

Ngomong-ngomong, makanlah banyak sayur, bahkan kau tampak lebih tua dari usiamu yang sesungguhnya. Jangan kalah imut dariku^^

Kyuhyun meletakkan kembali ponselnya, tak berniat membalas pesan-pesan yang masuk untuknya bahkan dia tak berniat lagi membaca begitu banyak pesan di inbox-nya yang diyakininya berisi pesan ucapan selamat ulang tahun. Lalu dengan langkah malas Kyuhyun mulai menyeret kakinya keluar kamar.

“Saengil chukkaeyo,” seru seluruh member SJM, bahkan Siwon yang selama ini tak lagi tinggal di dorm pagi ini datang ke dorm.

Kyuhyun baru saja berniat menanyakan dimana Kangin saat dia teringat bahwa Kangin sedang berada di Vietnam dan beralih dengan hanya menatap membernya dengan tatapan mengantuk lalu Sungmin dan Ryeowook memberinya pelukan singkat diikuti ucapan selamat ulang tahun dari Henry dan juga Zhoumi.

“Eiii, pria ini sekarang sudah dua puluh enam tahun,” goda Donghae meninju bahu Kyuhyun yang hanya meringis.

“Bentuklah otot-otot pada tubuhmu. Kau terlihat lemah,” keluh Siwon mengamati tubuh Kyuhyun.

“Sup rumput laut sudah menunggu,” Ryeowook mendorong tubuh Kyuhyun ke arah dapur lalu menyodorkan semangkuk penuh sup rumput laut untuk Kyuhyun.

Seluruh member kini duduk berkililing di sekitarnya.

“Bukalah akun twittermu. Pasti mention-mu banjir dengan ucapan selamat ulang tahun dari ELF *termasuk author, lalalala* ” saran Siwon.

“Arraseo,” jawab Kyuhyun singkat.

“Morin sudah mengucapkan selamat ulang tahun padamu?” tanya Henry yang berkat kehebohan Kangin kini Henry dan Zhoumi telah mengetahui hubungan Kyuhyun dan Morin.

“…..”

“Sejak Kyuhyun kembali ke Seoul, Morin sama sekali belum kemari pasti dia menyiapkan kejutan untuk pria ini,” terawang Donghae. “Apa dia sudah memberi clue untukmu?”

“…..”

“Sebuah makan malam romantis?” tanya Siwon menimpali.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu.

“Kue ulang tahun seperti saat ulang tahun Minho?” tanya Ryeowook.

Kyuhyun mengangkat kepala menatap Ryeowook sekilas. Kue ulang tahun. Tapi Kyuhyun tak berharap Morin juga akan membuatkannya kue ulang tahun. Bagaimanapun juga, Kyuhyun tak ingin mendapat perlakuan yang sama dengan Minho. Dia harus mendapatkan lebih.

“Poppo? Kissue?” tanya Eunhyuk menatap Kyuhyun nakal.

“Eiiii~” seru seluruh member menatap Kyuhyun curiga.

“Aku akan mandi sebelum manajer hyung memarahiku karena aku belum siap-siap. Dan hentikan celotehan-celotehan tak penting kalian pagi ini,” jawab Kyuhyun beranjak dari duduknya lalu meninggalkan seluruh member.

“Eunhyuk hyung akan mengajarimu teknik berciuman pastikan saja kau mengatakan padanya,” seru Henry yang langsung mendapatkan cekikkan mematikan dari Eunhyuk.

-oooOooo-

Cho’s Family Home.

“Anak eomma yang paling tampan sekarang sudah dua puluh enam tahun,” ibu Kyuhyun memeluk Kyuhyun dengan erat. “Eomma berdoa untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesanmu.”

“Gomawo,” balas Kyuhyun melepas pelukannya dan menatap ibunya yang matanya mulai berair.

Oh tidak, jangan pagi ini, batin Kyuhyun. Pikirannya sudah terlalu kacau dan tak ingin ditambah dengan melihat tangisan ibunya di waktu sepagi ini karena itu akan merusak semuanya.

“Appa bangga padamu,” ucap ayah Kyuhyun menepuk-nepuk bahu Kyuhyun.

Kyuhyun hanya membalas ucapan ayahnya dengan senyuman tulus lalu beralih menatap kakaknya. “Tidak perlu memelukku.”

“Aku juga tidak berniat untuk memelukmu,” jawab Ahra memanyunkan bibirnya.

“Appa harus segera berangkat, apa tidak masalah kalau appa pergi sekarang?”

“Gwenchanayo,” jawab Kyuhyun mengangguk mengerti pada ayahnya yang disiplin.

“Eomma akan ikut mobil appa kalian. Eomma harus datang lebih awal hari ini ke Kona Beans.”

“Ne~” koor Kyuhyun dan Ahra lalu melambai pada ayah dan ibunya.

Ahra menyodorkan mangkuk sup rumput laut pada Kyuhyun. “Makanlah sedikit, aku tahu mungkin Ryeong sudah membuatkan untukmu di dorm.”

Kyuhyun hanya mengangguk.

“Apa hari ini kau akan pergi ke program musik?” tanya Ahra memainkan tangannya di atas meja makan.

Kyuhyun hanya mengangguk, mulutnya terlalu penuh untuk menjawab. Dan untuk apa Ahra menanyakan sesuatu yang sudah diketahuinya.

“Apa Morin sudah mengucapkan selamat ulang tahun padamu?”

“Belum.”

“Aish, jinjja! Sebagai kekasih seharusnya dia menjadi yang pertama mengucapkannya. Masuk rumah sakit bukan menjadi alasannya untuk mengabaikanmu begitu saja. Dasar anak itu,” omel Ahra bersiap dengan ponsel di tangannya.

“Jamkaman,” sergah Kyuhyun. “Siapa yang nuna maksud dengan masuk rumah sakit?”

“Kau belum tahu?”

Kyuhyun menggeleng.

“Morin baru saja melakukan operasi laparatomy.”

“Operasi laparotamy?” tanya Kyuhyun tak percaya lalu meletakkan sendok supnya. Sepertinya sudah tak lagi berselera untuk menghabiskan sup rumput lautnya.

“Aigoo. Kau bahkan lebih keterlaluan daripada Morin yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun padamu.”

Kyuhyun hanya diam, memikirkan betapa egoisnya dia bahkan di saat kekasihnya sendiri melakukan operasi dia sama sekali tidak tahu dan baru tahu 2 hari setelahnya.

-oooOooo-

Seoul Hospital.

Bunyi sirine ambulance, gesekkan roda-roda ranjang, langkah-langkah cepat suster, aroma obat, tangisan haru terdengar cukup jelas dari kamar inap dimana Morin berada.

Berkali-kali Morin mengeluh setiap mendengar suara-suara yang didengarnya tapi kenyataannya tak ada yang bisa Morin lakukan karena memang kesalahannyalah yang menyebabkan dirinya sendiri harus terkurung di dalam ruangan putih bersih yang penuh dengan aroma obat itu.

“Caena~” rengek Morin teringat satu-satunya sahabatnya justru tengah liburan bersama keluarganya dan tidak mungkin Morin akan mengacaukan liburan keluarga itu demi agar Caena menemani dirinya yang kesepian di rumah sakit.

“Ini terlalu membosankan,” keluh Morin menatap perputaran jarum jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 8 malam.

“Aigoo,” Morin mencoba untuk bangun dari rebahannya meski awalnya tubuhnya seolah mati rasa.

Morin membuka pintu kamar inapnya lalu mulai memperhatikan suasana koridor di kanan dan kirinya. Sepi. Dia benci dengan dirinya sendiri yang selalu terkurung di tempat yang sepi seorang diri.

Morin memutuskan untuk keluar dari kamarnya, meskipun dia tidak suka berada di rumah sakit, setidaknya berkeliling di rumah sakit adalah pilihan satu-satunya yang dimilikinya untuk membunuh kebosanan.

Morin berjalan membungkuk, tangan kanannya masih memegangi perut kanannya karena perutnya masih terlalu sakit untuk digunakan berdiri tegak, sedangkan tangan kirinya mendorong tiang infus yang tersambung ke tangannya.

“Hah~”

Morin menghempaskan pantatnya ke deretan kursi-kursi yang ada di rumah sakit, terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh lagi. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar tempatnya duduk dan sesosok pria yang berjalan beberapa ratus meter darinya benar-benar menarik perhatian.

Morin meyipitkan mata berusaha melihat lebih jelas pria yang berada cukup jauh darinya. Dan seiring langkah pria itu yang mendekat, Morin membulatkan matanya tak percaya.

“Oppa.”

“Morin-ah.”

Morin dan pria itu kini berdiri berhadapan, terlalu terkejut satu sama lain.

“Apa kalian saling kenal?” tanya dokter bedah yang menangani Morin, menoleh bergantian pada dua orang dihadapannya. “Sang Hoon-ssi apa kau mengenal Morin-ssi?”

“Ne,” jawab Sang Hoon tersenyum menoleh pada dokter bedah itu.

“Jinjjayo? Kenapa bisa kebetulan seperti ini. Dia pasienku. Kalau begitu, temui aku di ruanganku lagi nanti setelah kalian bicara.”

“Bagaimana oppa bisa ada disini?” tanya Morin setelah berada kembali di dalam kamar inapnya.

“Dokter bedah yang menanganimu tadi, dia sahabatku selama berkuliah di Kanada. Aku menemuinya karena dia tahu aku berada di Seoul.”

“Untuk apa oppa ada di Seoul?” tanya Morin masih tetap terkejut sejak pertemuannya dengan Sang Hoon yang tiba-tiba. Disaat waktu yang tidak tepat dan di tempat yang tidak tepat.

“Untuk menemuimu,” jawab Sang Hoon tersenyum cerah pada Morin. “Apa kau tidak merindukanku?”

“…..”

“Nan Jeongmal bogoshipoyo.”

“Na.. nado,” jawab Morin ragu.

Tiba-tiba saja Sang Hoon memeluk Morin erat dan hangat, masih sama seperti 7 tahun yang lalu, tak ada yang berubah. Tapi mungkin justru Morinlah yang kini telah berubah. Morin yang sekarang bukan lagi Morin yang sering menganggap bahwa dia hanya akan bahagia jika menikah dengan Sang Hoon dan hidup selamanya bersamanya, bukan lagi Morin yang selalu senang saat Sang Hoon tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan mengacak-acak rambutnya.

Dan saat Morin memikirkan tentang perubahan-perubahan pada dirinya, sekilas dia melihat sekelebat bayangan di luar pintu kamar inapnya.

“Oppa sangat ingin bertemu denganmu tapi tak berharap bertemu denganmu di rumah sakit,” ucap Sang Hoon melepas pelukannya.

“Oppa, kumohon jangan beritahu eomma atau appa atau Naya, atau siapapun,” mohon Morin pada Sang Hoon.

“Bahkan untuk masalah sebesar ini kau tidak ingin orang tuamu tahu?” tanya Sang Hoon menatap tajam Morin.

“Jebal~” Morin menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya memohon pada Sang Hoon.

Cukup lama Sang Hoon hanya menatap Morin tapi pada akhirnya mengangguk. “Arraseo.”

“Oppa, sekarang pulanglah.”

“Mwo?”

“Aku butuh istirahat, disini aku pasien. Jadi sekarang pulanglah, aku tidak menerima tamu lagi untuk malam ini,” ucap Morin pura-pura galak.

“Jinjja, anak ini. Arraseo, aku akan pulang ke Beijing.”

“Kau mau pulang ke Beijing? Malam ini?”

“Wae? Kau mau menahanku lebih lama disini saat tahu kalau aku akan pulang ke Beijing?” goda Sang Hoon.

“…..”

“Hahahaha. Oppa memang akan pulang ke Beijing malam ini. Ada urusan yang memang harus oppa selesaikan secepatnya. Dan karena oppa sudah bertemu denganmu jadi oppa tidak perlu berlama-lama lagi tinggal di Seoul,” jelas Sang Hoon lalu beranjak dari duduknya.

Morin hanya mengangguk lalu melambaikan tangan pada Sang Hoon tepat saat Sang Hoon menutup pintu kamar inapnya.

“Oppa akan mengunjungimu lagi di Seoul. Ada banyak hal yang ingin oppa bicarakan denganmu,” Sang Hoon melongokkan kepala ke dalam kamar untuk melihat Morin sebelum akhirnya benar-benar menghilang.

“Aigoo~ bahkan aku tidak menanyakan kapan dia pulang dari Kanada.”

Morin lalu memakai sandalnya kembali tak lupa mendorong tiang infusnya Morin bergegas keluar kamarnya.

Morin mengedarkan pandangan ke segala penjuru rumah sakit berharap menemukannya, bukan, bukan Sang Hoon, tapi, Kyuhyun. Morin bersumpah dia sempat melihat Kyuhyun di luar kamar inapnya, saat Sang Hoon memeluknya. Memang Morin tidak melihat Kyuhyun secara jelas, namun Morin cukup yakin bahwa orang itu adalah Kyuhyun.

“Pabo,” keluh Morin saat tak menemukan sosok Kyuhyun sejauh matanya memandang. Tiba-tiba matanya memanas karena pikiran-pikiran yang mulai berputar di kepalanya. Kenapa kesalah pahaman datang silih berganti akhir-akhir ini. Kenapa Kyuhyun kembali dari China tapi sama sekali tak menghubunginya, apakah Kyuhyun benar-benar marah padanya dan apakah setelah ini Kyuhyun tak akan menemuinya lagi dan tiba-tiba saja kepala Morin berdenyut-denyut.

“Dia pasti sudah kembali ke dorm,” ada perasaan tidak nyaman saat Morin mengatakan itu namun pada akhirnya Morin berjalan menunduk untuk kembali lagi ke kamarnya. Morin benci bagaimana sekarang dia merindukan Kyuhyun, bagaimana sekarang dia peduli dengan perasaan Kyuhyun, bagaimana sekarang dia mengkhawatirkan Kyuhyun, dan bagaimana dia takut kehilangan Kyuhyun.

“Ya! Kau kemana saja? Aku mengunjungimu sedangkan kau justru jalan-jalan dengan bahagia seperti itu.”

Morin mendongakkan kepala menatap Kyuhyun yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar inapnya, duduk-duduk santai dengan senyuman mengejek khasnya.

Sedangkan Morin hanya diam di ambang pintu, menatap Kyuhyun dengan perasaan kesal. Bagaimana mungkin dia bisa datang dan pergi begitu saja dari pandangan Morin dan bagaimana dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa padahal Morin sudah hampir menangis karenanya.

“Sebenarnya kau sakit atau tidak?” Kyuhyun kini beranjak dari duduknya untuk menghampiri Morin.

“…..”

“Kau terlihat baik-baik saja,” lanjut Kyuhyun mengamati Morin.

“Aku memang baik,” Morin mendorong tubuh Kyuhyun menepi untuk memberinya jalan masuk. “Sebelum kau tiba-tiba datang.”

Kyuhyun mengangguk-angguk.

“Tidak perlu membantuku,” sergah Morin saat Kyuhyun hendak membantunya duduk di ranjang.

“Wae?” Kyuhyun menatap Morin dengan tatapan tak berdosa andalannya.

“Wae? Wae? Kau tanya kenapa? Terakhir kali kita berbicara di telepon kau membentakku, dan setelah itu kau sama sekali tak menghubungiku, bahkan ketika kau sudah berada kembali di Korea aku sama sekali tidak tahu. Kau tahu betapa aku mengkhawatirkanmu, apakah kau benar-benar marah padaku, apakah kau tak akan pernah menemuiku lagi setelah itu, bagaimana aku menolak untuk menghubungimu karena ketakutan bahwa kau benar-benar marah padaku. Sampai akhirnya tiba-tiba saja kau dengan bodohnya hanya berdiri di luar kamar inapku melihat pria lain memelukku tanpa sama sekali berniat untuk masuk dan kemudian menghilang. Lalu aku mencarimu tapi tak menemukanmu dan saat itulah ketakutanku memuncak karena yakin mungkin itulah terakhir kalinya aku akan melihatmu tapi tiba-tiba saja saat aku kembali ke kamar kau dengan wajah tak berdosa dan senyum bodohmu itu tengah duduk dengan santai di sofa di dalam kamarku. Berhentilah mengombang-ambingkan perasaanku,” Morin tak peduli dengan suaranya yang meninggi di setiap pergantian kalimat yang diucapkannya bahkan dia tak peduli dengan jahitan di perutnya yang terasa tertarik-tarik paksa di setiap teriakannya.

Kyuhyun hanya menatap Morin, bukankah seharusnya Morin yang jangan mengombang-ambingkan perasaannya.

Morin menarik nafas dalam setelah mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya saat ini. “Pulanglah. Kepalaku pusing dan justru semakin pusing saat melihatmu berada disini.”

“Kau…”

“Uhhukk, huk huk.”

Kyuhyun tak melanjutkan ucapannya dan buru-buru mengambil tissue dari atas lemari bertingkat di samping tempat tidur Morin saat melihat darah keluar dari mulut Morin.

“Hukk hukk.”

Morin terkejut melihat darah yang keluar dari mulutnya namun tak dapat mengontrol batuknya.

“Jamkaman, aku akan memanggilkan dokter,” Kyuhyunpun langsung melesat keluar dari kamar setelah mengatakan hal itu meninggalkan Morin yang berusaha mengontrol batuknya.

Dokter bedah –yang juga adalah teman Sang Hoon– itu masuk ke dalam kamar Morin beberapa menit kemudian tepat saat Morin berhasil menghentikan batuk-batuknya.

“Jangan melakukan aktifitas yang terlalu kuat dulu. Jahitan pada perut Morin-ssi belum kering sepenuhnya, itulah yang menyebabkan Morin-ssi batuk dan mengeluarkan darah. Tapi untunglah jahitannya tidak tertarik terlalu kuat,” ucap Dokter setelah memeriksa kondisi Morin.

Morin hanya mengangguk mengerti kemudian selanjutnya dokter itupun keluar dari kamar. Oke sepertinya berteriak-teriak saat kondisinya seperti ini tidak baik untuk kesehatannya.

“Apa sekarang lebih baik?” tanya Kyuhyun menghampiri Morin.

“Gwenchana. Pulanglah aku baik-baik saja,” ucap Morin pelan menolehkan kepalanya membelakangi Kyuhyun.

Kyuhyun justru menarik kursi mendekat ke ranjang Morin dan duduk di atasnya. “Sudah berapa lama kau menahan sakit pada perutmu?”

“Aku tidak menahan sakit.”

“Laparotamy. Perforasi. Itu pasti karena kau tak segera pergi ke dokter saat merasa sakit sampai menyebabkan peradangan parah pada appendixmu.”

“Aku tidak merasa sakit dan tak merasa perlu ke dokter,” jawab Morin keras kepala padahal kondisinya saat ini yang baru saja melakukan operasi laparotamy telah menjelaskan semuanya.

“Kau tidak merasa sakit sampai akhirnya kau pingsan di dalam toilet. Bagaimana jika tak seorangpun menemukanmu di dalam sana?”

Morin tak menjawab dan hanya memejamkan mata. Berpura-pura tidur juga berpura-pura tak mendengarkan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun tahu betapa keras kepalanya Morin. Dan Kyuhyun tahu, berbicara dengan Morin yang keras kepala sama seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Morin bukan tipe gadis yang mudah menuruti perintah orang lain, persis sepertinya. Tapi Kyuhyun tidak suka bagaimana Morin berbohong padanya, bagaimana Morin menutup-nutupi sesuatu darinya, dan bagaimana Morin berpura-pura kuat meski sebenarnya dia tidak.

“Mulai dari sekarang cobalah untuk mempercayaiku, cobalah untuk meyakini keberadaanku. Aku ada disini, cukup dekat denganmu. Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku dan jangan berpura-pura menjadi gadis yang kuat dihadapanku. Katakan sakit jika kau memang sakit, katakan sedih jika kau memang sedang sedih, katakan bahagia saat kau memang merasa bahagia. Jangan mengeluh pada orang lain, mengeluhlah padaku. Jangan menangis sendirian, karena aku ada disini untukmu. Dan saat kau merasa lelah dengan semuanya, kau harus mengatakan padaku. Dan ketika kau marah padaku, jangan menyembunyikannya. Dan saat kau merasa terlalu banyak masalah yang kau hadapi cobalah untuk berbagi denganku,” Kyuhyun sadar sudah saatnya dia mengatakan ini. Sebagai pria dewasa dia sadar bahwa sudah seharusnya dia memikirkan segala hal dengan kepala dingin.

Morin hanya diam meski sebenarnya dia mendengarkan apa yang dikatakan Kyuhyun.

Tidak, kau tidak cukup dekat, batin Morin.

“Mianhe karena aku telah membuatmu khawatir dan tak menghubungimu cukup lama. Sebenarnya aku tak berniat marah padamu hanya mungkin karena aku terlalu lelah hingga menyebabkan aku mudah emosi,” Kyuhyun teringat kembali dengan perkataan ibu Morin yang menyuruhnya untuk meninggalkan Morin tapi buru-buru menggeleng-geleng untuk mengusirnya. Tak seharusnya dia mengatakan hal itu pada Morin.

Ya, ya, ya, kau memang tuan artis yang mudah marah, batin Morin.

Oke, sepertinya dia mudah sekali untuk tidak marah pada Kyuhyun hanya dengan mendengar permintaan maaf Kyuhyun yang Morin sendiri bahkan tak tahu bagaimana ekspresi yang Kyuhyun tunjukkan saat minta maaf padanya.

“Baiklah, aku akan kembali ke dorm. Istirahatlah dengan baik,” ucap Kyuhyun pada Morin yang tak kunjung menjawab ucapannya.

“Aku akan menjengukmu lagi setelah kembali dari recording,” pamit Kyuhyun lalu beranjak dari duduknya hendak pergi.

“Jamkaman!”

Kyuhyun berhenti lalu berbalik.

Morin tengah berusaha turun dari ranjang mendekati Kyuhyun.

“Uhm… Mianhe karena tak menjadi orang pertama yang mengucapkannya dan tak menyiapkan apapun.”

Kyuhyun mengerutkan dahinya. Bingung.

“Saengil chukha hamnida,” ucap Morin pelan lalu memberi Kyuhyun kecupan kilat pada bibirnya.

Kyuhyun diam ditempat menatap Morin.

“Ka,” usir Morin dengan tangannya. “Aku akan tidur.”

Dan satu lagi yang Kyuhyun benci, yakni ketika Morin dengan tiba-tiba menghentikan detak jantungnya dan sedetik kemudian berpura-pura tak terjadi apa-apa. Kyuhyun menarik tangan Morin agar menghadapnya.

“Wwa.. Wae?” tanya Morin takut-takut.

“Apa kau mencintaiku?”

Morin tak menjawab dan hanya menatap Kyuhyun.

“Katakan kau mencintaiku jika kau memang mencintaiku dan aku berjanji akan tetap berada disampingmu,” ucap Kyuhyun pelan lalu meraih tengkuk Morin dan menyentuhkan bibirnnya pada bibir Morin.

Sedetik Morin membulatkan matanya terkejut, dia tak pernah berharap Kyuhyun akan melakukan ini. Morin berusaha berpikir dengan akal sehatnya, memerintahka tangannya untuk mendorong tubuh Kyuhyun dan menolak perlakuan Kyuhyun namun akal sehatnya mengkhianatinya karena pada akhirnya Morin memejamkan mata sedangkan kedua tangannya meremas ujung baju Kyuhyun.

Pintu kamar inap Morin terbuka perlahan namun kembali tertutup. Seseorang yang berniat masuk ke dalam kamar, mengurungkan niatnya.

“Kau berubah.”

-To Be Continue-


a/n:

komen yg membangun itu penting^^

Advertisements