[Our Line] #12 Love isn’t Simple

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

“Berikan penanganan terbaik untuk Morin. Sebagian biaya aku yang akan tanggung. Gadis itu pasti akan curiga jika aku membayar penuh perawatannya.”

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan dia?” tanya Seungjo yang hanya dijawab oleh senyuman penuh rahasia dari Sang Hoon.

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu pada Morin,” pesan Sang Hoon sebelum mencapai pintu.

“Pasti,” jawab Seungjo mengangguk.

Sang Hoon berlari-lari di sepanjang rumah sakit, berusaha secepat mungkin untuk mencapai pintu kamar Morin. Dia sangat bersyukur Seungjo mau menghubunginya tentang kondisi Morin malam ini.

Sang Hoon mendorong pelan pintu kamar Morin namun detik berikutnya kembali menarik pintu menutup.

Sang Hoon menghela nafas panjang. “Kau berubah,” ucapnya pelan bersandar pada dinding di samping pintu kamar Morin.

“Ternyata tujuh tahun mampu mengubah segalanya. Termasuk perasaan seseorang,” ucap Sang Hoon tersenyum.

Sang Hoon mengangkat tangan kirinya, melihat jam tangan mengkilap yang melingkar di pergelangan tangannya, pesawatnya pasti telah berangkat beberapa menit yang lalu jadi sudah tak ada gunanya lagi dia terburu-buru untuk kembali ke bandara.

“Aku kembali dan akan kupastikan semuanya akan kembali, termasuk kau. Harus kembali,” ucapnya pelan melirik pintu kamar Morin sebelum akhirnya melangkah pergi.

-oooOooo-

Suju’s Dorm. 3 February 2013.

Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang hanya diam berjalan di depannya tanpa sama sekali menyapanya. “Darimana kau?”

“Ne?” Kyuhyun sedikit melonjak mendengar pertanyaan Sungmin.

Sungmin mengerutkan dahi menyadari bahwa sejak tadi sebenarnya Kyuhyun tidak sadar telah berjalan di dalam dorm.

“Hanya jalan-jalan,” jawab Kyuhyun singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya mencapai kamar.

“Ah,” Kyuhyun kembali berbalik menatap Sungmin. “Apa hyung sendirian di dorm?”

“Ne. Aku kesepian, apalagi kau juga tidak ada di dorm.”

“Dimana Hyukjae?”

“Dilantai atas, menonton film bersama Donghae, Siwon dan kurasa Ryeonggu juga.”

“Kaja kita ke lantai atas,” ajak Kyuhyun melempar topi yang dikenakannya begitu saja ke sofa.

“Bagaimana mungkin aku yang ulang tahun tapi justru mereka yang bersenang-senang. Tak akan kubiarkan,” gerutu Kyuhyun tak terima.

Sungmin menahan tangan Kyuhyun, mencegahnya untuk keluar dorm. “Apa yang terjadi?”

“Ne?” tanya Kyuhyun bingung.

“Baru tadi pagi seolah-olah kau enggan untuk bernafas, bahkan makanpun seolah enggan menelannya lalu tiba-tiba malam ini kau bahagia seolah baru saja kembali dari medan perang dan kau mendapatkan emas ribuan gram. Memangnya sejak kapan kau moody seperti itu?”

Kyuhyun menatap hyungnya itu sambil tersenyum. Memang hanya Sungmin yang sangat mengenal dirinya luar dalam, bahkan perubahan kecil pada dirinya tak luput dari perhatian Sungmin.

“Gwenchana hyung,” ucap Kyuhyun meyakinkan.

“Kau yakin?” selidik Sungmin mencoba mengartikan senyuman yang tersungging di bibir Kyuhyun.

“Tentu. Hyung gomawo.”

“Kenapa kau tiba-tiba berterimakasih padaku? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Ani,” jawab Kyuhyun menggeleng. Aku hanya ingin berterimakasih untuk orang-orang yang selalu berada di sampingku sampai diusiaku ini. Dan aku berharap kita semua akan selalu bersama-sama sampai sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun yang akan datang.”

“Anak bodoh, Kita semua memang akan selalu bersama-sama apapun yang terjadi. Kita semua adalah keluarga.”

“Arraseo,” jawab Kyuhyun lalu akhirnya mereka berdua berjalan menuju lantai atas untuk menemui yang lainnya.

“Arraseo,” jawab Kyuhyun lalu akhirnya mereka berdua berjalan menuju lantai atas untuk menemui yang lainnya.

-oooOooo-

Seoul Hospital.

Promise you.

Kimiwo omotte bokuwa ikiruyo.

Tsunagatteiru kokoroto kokorokara.

Promise you.

Tsutaetainowa tada aishiteru.

Chikauyo eienno kakerawo.

Morin mendengarkan dengan seksama setiap alunan musik yang mengalir ke dalam telinganya. Matanya terlalu sulit untuk terpejam meski jam di dinding telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tidur bukanlah hal yang sulit baginya selama ini, tapi tidak hari ini. Dia telah memaksa dirinya sendiri untuk terlelap, namun meskipun matanya tertutup, otaknya masih saja terus bekerja.

Morin menyentuh bibirnya. Mencoba untuk tak mengingat ciuman pertamanya dengan Kyuhyun tapi ingatan tentang ciuman itu justru menari-menari di dalam kepalanya, seolah mengolok-ngoloknya bahwa ternyata kini dia memang telah jatuh pada pesona Cho Kyuhyun.

Morin sadar, bahwa dia menyukai Kyuhyun. Morin menyukai setiap hal apapun yang Kyuhyun lakukan. Morin menyukai bagaimana Kyuhyun menatapnya, bagaimana Kyuhyun mengkhawatirkannya, bagaimana Kyuhyun memperlakukannya, bagaimana Kyuhyun mengolok-ngoloknya. Morin menyukai hari-hari dimana dia dan Kyuhyun saling bertengkar, hari-hari dimana dia dan Kyuhyun saling memperhatikan. Morin juga menyukai bagaimana Kyuhyun membuatnya marah, sedih, kecewa, khawatir, frustasi dan bahagia. Morin menyukai setiap hal yang Kyuhyun lakukan untuknya. Morin juga menyukai segala hal yang ada pada Kyuhyun. Dan yang terpenting dari semuanya adalah Morin mencintai Kyuhyun. Tapi meskipun Morin telah mengakui dengan sepenuhnya bahwa dia mencintai Kyuhyun, namun tetap ada sebagian dalam diri Morin yang tak mengijinkan Morin untuk mencintai Kyuhyun. Seiring berjalannya waktu hubungannya dengan Kyuhyun akan semakin sulit. Dan dia terlalu takut dengan perasaannya sendiri jika kelak dirinya dan Kyuhyun bertemu pada batas dimana hubungan mereka harus berakhir.

Semua itu tak semanis dan semudah lirik dalam lagu. Lirik lagu ini terlalu manis, dan terlalu sulit untuk menjadi kenyataan.

-oooOooo-

4 February 2013. Suju’s Dorm.

“Aigoo, punggungku,” rengek Henry merangkak di atas sofa ruang tamu.

Kyuhyun menghembuskan nafas kasar saat menghempaskan pantatnya ke sofa bersebelahan dengan Henry.

“Hyung, kapan kau akan membawa kekasihmu kemari?” tanya Henry dengan polosnya pada Kyuhyun yang tengah memejamkan mata.

“Sebenarnya sebelum kami pergi ke China, Morin sangat sering datang kemari tapi entahlah akhir-akhir ini dia jarang muncul,” Donghae beralih menatap Kyuhyun, meminta Kyuhyun untuk memberitahunya kenapa Morin tidak pernah ke dorm lagi.

“Kau bertengkar dengan Morin?” tanya Ryeowook.

“Atau kau sudah putus dengan Morin?” pekik Eunhyuk yang membuat semua mata kini menatap shock pada Kyuhyun.

“Kalian jangan berspekulasi yang tidak-tidak,” jawab Kyuhyun santai masih sambil memejamkan matanya.

“Lalu? Apa yang terjadi? Malhaebwa,” desak Sungmin.

“Morin masuk rumah sakit. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Kyuhyun setelah mendengus pelan.

“Mwo?”

“Bagaimana mungkin Morin masuk rumah sakit sedangkan kau bersikap seolah-olah Morin sedang liburan di rumah sakit?” teriak Sungmin.

“Ne?” kaget Kyuhyun mendengar teriakan Sungmin.

“Dia masuk rumah sakit dan kau hanya bilang ‘tidak ada yang perlu dikhawatirkan’. Neo jinjja,” lanjut Sungmin.

Donghae buru-buru mengambilkan android Kyuhyun sedangkan Eunhyuk mengambilkan iphone Kyuhyun lalu secara bersamaan menyerahkan pada Kyuhyun.

Donghae hanya menatap Eunhyuk seolah berkata ‘kenapa kau selalu ikut-ikutan apa yang aku lakukan’

Kyuhyun menerima semua uluran ponsel dari Eunhyuk dan Donghae lalu meletakkannya kembali di sampingnya dengan wajah heran.

“Setidaknya kau harus menanyainya apa dia sudah makan, bagaimana keadaannya hari ini? Apa dia sudah baik-baik saja sekarang? Apa dia kesepian?” Zhoumi yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengeluarkan suaranya diikuti anggukan sangat setuju dari member lainnya.

“Perlu kalian tau aku sudah menjenguknya,” ucap Kyuhyun lalu mengambil dua ponsel miliknya dan beranjak menuju kamarnya meninggalkan seluruh membernya yang hanya menatap dengan tatapan kosong ke arahnya. “Lagipula untuk apa menanyakan hal-hal semacam itu. Dia berada di tempat yang tepat saat ini. Di kelilingi oleh para dokter dan suster yang sewaktu-waktu bisa menolongnya jika ada sesuatu yang terjadi.”

Seluruh member menatap Kyuhyun dengan mulut sedikit terbuka. Mereka benar-benar tak pernah tahu bagaimana model hubungan percintaan antara Kyuhyun dan Morin yang sesungguhnya.

“Kalian ingin bicara dengan Morin?” tawar Sungmin pada dongsaengdeulnya.

Mereka saling pandang lalu mengangguk dan beranjak mendekati Sungmin yang telah bersiap dengan ponsel ditangannya.

Terdengar bunyi tunggu beberapa saat hingga akhirnya suara nyaring Morin menyeruak dari loudspeaker ponsel Sungmin.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo,” jawab Sungmin lalu mengerling pada dongsaengdeulnya untuk ikut menyapa Morin.

“Annyeong, Morin-ah,” seru Donghae, Eunhyuk juga Ryeowook.

“Oppa~” rengek Morin. “Bogoshipo~”

“Nado.”

“Oh disini juga ada member SJM kami,” jelas Sungmin. “Henry dan Zhoumi.”

“Annyeong nuna. Henry imnida,” jawab Henry riang pada Morin.

“Annyeong haseyo, Zhoumi imnida.”

“Annyeong, Morin imnida.”

“Morin-ah, Kyuhyun bilang kau sekarang di rumah sakit?” tanya Donghae.

“Ne~ dan aku kesepian disini,” jawab Morin menirukan suara menangis.

“Mian kami belum bisa menjengukmu,” ucap Ryeowook.

“Gwenchana. Aku besok sudah diijinkan pulang,” jawab Morin senang.

“Jinjja?”

“Ne~”

Eunhyuk menyeringai lalu mulai berkata pada Morin. “Bagaimana kalau kau keluar dari rumah sakit malam hari? Kyuhyun akan menjemputmu.”

Semuanya mengerti kemana arah pembicaraan Eunhyuk.

“Ne. Dia pasti akan menjemputmu karena jadwal dia kosong setelah kami kembali dari program musik besok,” lanjut Donghae.

“Mianhe, kami juga tidak bisa untuk ikut menjemputmu. Kurasa kami juga belum ada waktu untuk menjengukmu dalam waktu dekat,” ucap Sungmin.

“Gwenchana~” jawab Morin. Ada sedikit keluhan dari suaranya.

“Sekarang tidurlah yang nyenyak dan ingat untuk tak pulang dulu sebelum Kyuhyun menjemputmu, arraseo?” pesan Sungmin.

“Ne~”

“Jaljja~”

“Neodo~”

“Jadi apa rencana kalian kali ini?” tanya Henry tepat sedetik setelah Sungmin memutuskan sambungan telepon. Bertahun-tahun berada di sekitar membernya, membuat Henry sangat mengerti bagaimana kepribadian membernya dan dia juga tahu kalau mereka sedang merencanakan sesuatu.

Eunhyuk menyeringai licik lalu mereka pun duduk semakin mendekat membuat lingkaran kecil.

-oooOooo-

5 February 2013. Seoul Hospital.

Kyuhyun berlari-lari kecil di sepanjang koridor rumah sakit. Tadi ketika SJM sedang berada di program musik dia mendapat pesan dari kakaknya yang memberitahu bahwa Morin hari ini pulang dari rumah sakit. Dan setelah kembali dari program musik, tepatnya baru saja SJM turun dari van, Sungmin menahannya untuk menuju dorm dan melemparkan begitu saja kunci mobil miliknya, menyuruhnya menjemput Morin karena Morin sudah menunggu. Kyuhyun belum sempat untuk bertanya lebih lanjut namun Eunhyuk dan Donghae telah menyeretnya menuju mobil.

“Aish jinjja,” gerutu Kyuhyun jika mengingat bagaimana dia bisa sampai berada disana, masih tetap dengan berlari-lari kecil.

Langkah Kyuhyun terhenti sebelum mencapai pintu kamar inap Morin karena perhatiannya teralihkan pada seorang pria yang tengah memapah seorang gadis. Cukup lama Kyuhyun hanya memperhatikan pasangan kekasih itu. Mungkin bagi sebagian orang hal itu bukanlah sesuatu yang terlalu istimewa, tapi tidak bagi Kyuhyun. Kyuhyun tidak bisa memeluk Morin di tempat umum, Kyuhyun tak pernah bisa menggandeng tangan Morin di keramaian. Kyuhyun tak pernah bisa mengajak Morin berkencan, menonton atau bahkan sekedar berjalan-jalan beriringan berdua. Terlalu beresiko. Bukan, bukan karena Kyuhyun terlalu pengecut, tapi karena Kyuhyun ingin melindungi Morin.

Kyuhyun menghentikan pikiran-pikirannya saat sepasang kekasih itu sudah terlalu jauh dari jarak tangkap pandangan Kyuhyun. Lalu Kyuhyunpun segera berjalan kembali menuju kamar inap Morin.

Sreeettt.

Morin menarik risleting tas jinjingnya bersamaan dengan Kyuhyun yang masuk ke dalam kamarnya.

“Kau disini?” tanya Morin yang terkejut dengan suara pintu terbuka.

“Kudengar hari ini kau sudah diperbolehkan untuk pulang,” jawab Kyuhyun melepas topinya namun tak berniat melepas kaca mata minusnya.

“Mm hm.”

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk.

“Beberapa menit yang lalu aku telah memesan taksi. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” lapor Morin pada Kyuhyun lalu mengangkat tasnya dari ranjang.

“Kau mau menemaniku menunggu sampai taksinya tiba?” tanya Morin lagi pada Kyuhyun yang tak merespon.

Kyuhyun hanya mengangguk.

“Kaja,” ucap Morin lalu berjalan mendahului Kyuhyun.

Kyuhyun buru-buru memakai topinya lalu menyusul Morin yang sudah berjalan lebih dulu.

Kyuhyun dapat mendengar Morin menggerutu panjang pendek namun tak terlalu jelas apa yang menjadi bahan gerutuan Morin.

Untuk hari ini, cobalah melindungi gadis ini dengan cara lain, batin Kyuhyun lalu tersenyum. Membenarkan letak kacamatanya, menarik topinya semakin ke bawah lalu bergegas menghampiri Morin.

“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Kyuhyun mengambil alih tas jinjing Morin lalu menggenggam tangan Morin erat.

Kyuhyun menarik tangan Morin, memaksanya untuk berjalan lebih cepat dibanding siput yang baru saja terlindas sebuah truk pengangkut batu bara. Morin baru saja berniat untuk menyuruh Kyuhyun agar tidak berjalan terlalu cepat namun mengurungkan niatnya saat sadar bahwa tempat itu bukanlah tempat yang tepat untuk berjalan dengan santai. Dan Kyuhyun melakukan semua itu tanpa sedikitpun menoleh pada Morin.

Morin hanya memandang punggung Kyuhyun, mencoba menahan diri untuk tidak tersenyum namun usahanya gagal karena pada akhirnya sudut-sudut bibir itu tertarik melengkung membentuk sebuah senyuman.

Namun senyuman Morin memudar begitu dia sadar dimana dirinya berada. Basemant. Yang penuh dengan mobil-mobil dengan kaca hitam.

Morin berusaha melepas genggaman Kyuhyun pada jemarinya namun gagal karena Kyuhyun semakin mengeratkan genggamannya.

Morin menoleh takut-takut pada setiap mobil yang dilewatinya. Pikirannya mulai berimajinasi bagaimana jika ternyata dibalik kaca-kaca gelap mobil itu bersembunyi paparazi dari Dispach, Osen, Sport Seoul atau apapun yang mengenali Kyuhyun lalu tiba-tiba keesokan paginya foto dirinya dan Kyuhyun akan beredar luas di internet dengan judul artikel ‘Does Kyuhyun Have A Girlfriend?’ tercetak besar-besar serta akan menjadi topik pencarian nomor satu dalam setiap search engine.

Morin menelan ludah ngeri membayangkan semua itu. Lalu buru-buru menggeleng untuk menghilangkan imajinasi-imajinasinya sendiri. Tidak. Semua itu pasti tidak akan terjadi. Mana ada paparazi yang bersembunyi di sekitar rumah sakit. Seharusnya mereka berada di tempat-tempat yang lebih meyakinkan untuk dikunjungi para idol ketika sedang berkencan.

Ckrek.. Ckrek..Ckrek..

“Faboulus.”

Ckrek.

-oooOooo-

Drrttt.. Drrttt..

Ponsel Kyuhyun di atas dashboard bergetar beberapa saat, Kyuhyun mengambilnya lalu segera membukanya dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang lainnya sibuk dengan kemudi mobil.

From : Ahra Nuna

Kyuhyunnie, mampirlah ke rumah sebentar sebelum kau mengantar Morin pulang. Ada sesuatu hal penting yang ingin aku berikan untuk Morin.

“Ahra Nuna meminta kita mampir ke rumah sebentar apa tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun pada Morin.

Morin hanya menganggguk sekilas lalu menolehkan kepala ke luar jendela, melihat ke arah jalanan yang dipenuhi dengan cahaya.

-oooOooo-

Cho’s Family Home.

“Kau tak berniat membukakan pintu untukku juga kan?”

“Anio.”

“Syukurlah. Kau hari ini sedikit membuatku takut.”

Kyuhyun menoleh pada Morin, tersenyum sekilas. Morin tetaplah Morin.

“Makanan kalengku pasti sudah kadaluarsa,” keluh Morin sambil membuka pintu mobil.

“Kau masih berniat memakannya?” tanya Kyuhyun dari arah belakang Morin.

“Sayang kalau dibuang begitu saja,” jawab Morin membelakangi Kyuhyun.

“Kau masih mau makan sampah yang sudah membawamu ke rumah sakit itu?” tanya Kyuhyun melipat tangannya di depan dada.

Morin memutar tubuhnya menghadap Kyuhyun lalu mengedikkan bahunya.

Berikutnya, Kyuhyun mendorong pintu gerbang kayu membuka setelah memasukkan kombinasi password keamanan lalu memimpin Morin menuju rumahnya.

“Sebenarnya apa yang akan nuna berikan untukmu?” tanya Kyuhyun berbalik pada Morin.

“Molla,” jawab Morin yang melihat Kyuhyun berhenti berjalan dan menunggunya.

“Kenapa jalanmu lelet sekali,” keluh Kyuhyun menghampiri Morin lalu membantunya berjalan.

Morin hanya menatap sengit Kyuhyun. Terlalu sayang pada tubuhnya untuk membalas ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun dan Morin akhirnya telah tiba depan pintu rumah lalu Kyuhyun mendorong pintunya terbuka.

Gelap.

“K..kenapa bisa gelap seperti ini?” tanya Morin.

“Molla,” jawab Kyuhyun. “Nuna~”

Kyuhyun mencoba memanggil kakaknya sambil berusaha masuk ke dalam rumah dan meraba-raba sakelar lampu di dinding.

Detik berikutnya seluruh lampu menyala.

THAR!

Conffetti mulai berjatuhan ke arah Morin dan Kyuhyun.

“Surprise~” koor semua orang yang berada di dalam rumah.

Kyuhyun berdiri mematung bersandar pada dinding di dekat sakelar masih sambil memegangi dadanya dengan tatapan shock sedangkan Morin hanya tersenyum riang menatap kepada member suju di depannya beserta Ahra, ibu Kyuhyun, juga Sungjin.

Di belakang mereka semua, tergantung sedikit lebih tinggi dari puncak kepala Siwon sebagai yang tertinggi di dalam ruangan tergantung kain berwarna biru bertuliskan ‘Welcome Home Our Dear Morin’

Ibu Kyuhyun adalah yang pertama menghampiri Morin lalu merengkuh Morin ke dalam pelukannya. “Mian, eommanim belum bisa menjengukmu saat kau di rumah sakit.”

“Gwenchana,” jawab Morin yang merasakan kenyamanan berada di pelukan ibu Kyuhyun yang menepuk lembut punggungnya.

“Eonni sudah menanti saat-saat kau pulang,” Ahra memeluk erat Morin lalu melepasnya setelah beberapa detik.

“Dorm sepi karena kau tak pernah datang lagi kesana,” Sungmin mendekati Morin lalu mengusap lembut puncak kepalanya penuh sayang diikuti member lain serta Sungjin yang mengucapkan selamat untuk kepulangan Morin.

“Gomapseumnida,” ucap Morin tersenyum canggung.

Dari arah kerumunan muncul satu pria asing tampan dan tampak ceria lalu mendekati Morin dan dengan secepat kilat mengulurkan tangannya pada Morin begitu jarak di antara mereka telah dekat membuat Morin sedikit kaget. “Henry.”

Morin segera membalas uluran tangan Henry lalu menyebutkan namanya. Selanjutkan Henry dan Morin mengakhiri perkenalan ala barat itu dengan saling melepas jabatan tangan mereka.

“Dan itu Zhoumi,” tunjuk Henry pada pria tertinggi kedua setelah Siwon di dalam ruangan.

Zhoumi hanya tersenyum lalu melambai singkat pada Morin.

“Kami semua berkumpul disini khusus untuk menyambut kepulanganmu,” Ahra memberi tahu Morin tampak puas.

Morin menoleh pada Kyuhyun yang masih tetap berdiri di tempatnya.

“Jangan tanyakan apapun padanya, dia tidak tahu apa-apa,” cibir Siwon.

Kyuhyun terlihat menegakkan tubuh lalu mulai memasang wajah sok coolnya lagi membuat Morin terkekeh pelan.

“Pria itu hanya tahu tidur dan main game saja,” imbuh Eunhyuk mencibir.

“Bahkan kami harus memaksanya untuk menjemputmu,” Donghae tampak puas membeberkan keburukan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menunjukkan tatapan maut pada Donghae yang menunjukkan tatapan melawan pada Kyuhyun.

“Kau pasti sangat tersiksa dengan makanan di rumah sakit, sekarang ayo ke ruang makan, eommanim telah memasakkan banyak makanan untukmu,” ajak ibu Kyuhyun meraih pundak Morin dan membimbingnya menuju ruang makan.

“Untuk kalian juga,” imbuh ibu Kyuhyun saat mendapati semua memeber hanya diam mematung.

“Ne~” kompak seluruh member riuh lalu mengikuti ibu Kyuhyun menuju ruang makan.

“Aish jinjja. Disini siapa yang anak kandungnya,” heran Kyuhyun menatap punggung-punggung yang menuju ruang makan.

“Kau lihat, betap sayangnya eomma pada Morin,” Ahra mendekati Kyuhyun lalu meninju lengannya.

“Ouch,” Kyuhyun meringis memegang lengan atasnya karena tinjuan cukup keras dari Ahra.

“Jangan sampai kau mengecewakannya,” imbuh Ahra lalu mengikuti semuanya menuju dapur. “Ya! Henry-ah jangan kau habiskan bagian nuna.”

Kyuhyun hanya tersenyum pelan lalu mengikuti yang lainnya menuju dapur.

-oooOooo-

Morin menatap pantulan dirinya di kaca persegi dihadapannya lalu menata sedikit rambutnya yang menjuntai menutupi matanya.

Sekali lagi dia menyapukan pandangan ke dalam kamar mandi yang bersih itu sebelum membuka pintu, keluar.

Morin sedikit terkejut saat melihat Kyuhyun yang bersandar di dinding di samping pintu kamar mandi, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, memain-mainkan kakinya ke lantai dan kepala menunduk memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh kakinya.

“Kau ingin menggunakan kamar mandi juga?” tanya Morin mengagetkan Kyuhyun.

“Ne?”

Morin menunjuk ke arah pintu kamar mandi.

“Ani. Hanya memastikan kau tidak tersesat,” jawab Kyuhyun asal.

Morin menatap Kyuhyun heran lalu menggeleng-geleng dan meninggalkannya.

“Tak adakah yang ingin kau bicarakan padaku?” sergah Kyuhyun.

Morin berhenti melangkah lalu berputar kembali menghadap Kyuhyun sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Sepertinya tidak ada,” jawab Morin setelah diam beberapa saat.

“Jinjja?” tanya Kyuhyun dengan ekspresi datarnya.

Morin mengangguk.

“Arraseo,” Kyuhyun mengeluarkan tangannya dari saku dan menegakkan tubuhnya lalu berjalan mendekati Morin. “Kalau begitu, aku yang akan bicara denganmu,” ucap Kyuhyun meraih tangan Morin lalu membawanya menuju teras samping rumahnya.

Morin merasakan jantungnya berdetak-detak tak karuan di setiap langkah yang dia ambil.

“Duduklah,” perintah Kyuhyun meminta Morin untuk duduk di sofa yang tersedia.

Morin mengikuti apa yang diperintahkan Kyuhyun padanya tanpa melepaskan tatapan dari Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil duduk tepat di sofa di samping Morin.

Morin menatap tegang kepada Kyuhyun ditambah lagi saat dia melihat Kyuhyun menghela nafas berat sebelum akhirnya membuka suara.

“Jika kau pikir aku baik-baik saja saat aku melihat pria lain memelukmu, berarti kau salah.”

Glek.

Morin menelan ludahnya berat.

Ini. Ternyata Kyuhyun secara tidak langsung memintanya untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Sang Hoon tapi Morin tak menyadarinya dan justru menjawab tidak ada yang ingin dia bicarakan dengan Kyuhyun.

“Jadi sekarang katakan padaku, ada hubungan apa kau dengan pria itu?” tanya Kyuhyun mengunci tatapannya pada Morin.

Dan kini Morin baru tahu kenapa Kyuhyun hanya diam saja dan baru hari ini bertanya tentang hal ini pada Morin, semua itu bukan karena Kyuhyun sama sekali tak peduli tapi Kyuhyun hanya mencari waktu yang tepat. Dan luar biasanya lagi adalah pertanyaan Kyuhyun yang langsung menanyakan apa hubungan Morin dengan Sang Hoon bukan pertanyaan mendasar seperti siapa sebenarnya Sang Hoon.

“Dia Lee Sang Hoon, putra teman bisnis appaku,” jawab Morin singkat.

Kyuhyun hanya diam masih menatap Morin yang itu artinya dia menunggu kelanjutan dari kalimat Morin.

Morin medesah pelan. Sepertinya ini memang saatnya lah untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Mungkin dengan melewati beberapa hal yang dirasanya belum atau tak seharusnya dikatakannya.

“Sejak kecil kami sering bersama. Sang Hoon oppa sangat sering datang ke rumah kami. Dulu kami berada di satu sekolah yang sama sampai akhirnya Sang Hoon oppa memutuskan untuk melanjutkan study ke Kanada dan aku pergi ke Seoul.”

Kyuhyun masih tetap diam, menunggu. Karena sebenarnya Morin belum menjawab pertanyaan yang diajukan Kyuhyun, tentang apa hubungan Morin dengan Sang Hoon.

Morin mengerti lalu melanjutkan. “Kami tidak ada hubungan khusus apapun. Hanya ya, keluarga Sang Hoon oppa kerabat keluargaku dan kami dekat karena kami bersahabat sejak kecil. Tapi aku sudah menganggapnya sepertinya kakakku sendiri.”

Bohong! Kapan Morin pernah berpikir bahwa dia menganggap Sang Hoon seperti kakaknya sendiri, karena sampai saat ini pun Morin belum pernah mengatakan pada dirinya sendiri sekalipun bahwa dia hanya menganggap Sang Hoon seperti kakak laki-lakinya sendiri.

“Kau jangan mendorong-mendorongku pabo,” suara-suara berisik terdengar dari arah pintu tak cukup jauh dari Morin dan Kyuhyun berada.

“Bergeserlah sedikit.”

“Kau sudah punya akses penuh jadi jangan mendorong-dorongku.”

Bug.

Enam tubuh tampak saling tindih di atas lantai dengan kamera di tangan mereka.

“Ouch. Tubuh kalian berat,” teriak Eunhyuk yang berada di tumpukan paling bawah sambil menahan nafas.

Kyuhyun dan Morin menolah serempak ke arah mereka berenam.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Kyuhyun menatap tajam pada membernya.

“Kami tidak melakukan apa-apa,” jawab Siwon mencoba untuk berdiri karena dia berada di paling atas.

“Untuk apa kamera di tangan kalian?” tanya Kyuhyun lagi pada Henry, Eunhyuk dan Donghae.

“Itu. hanya. Karena,” Eunhyuk menjawab kebingungan.

Kini semua dari mereka telah berhasil tegak kembali.

“Mereka berniat merekam kalian,” lapor Sungmin yang baru muncul dari belakang tubuh mereka.

“Ide siapa ini?” tanya Kyuhyun lagi.

Semua tangan menunjuk ke arah Henry.

“Mwo? Ani. Bukan ideku,” elak Henry. “Hyung, bukankah ini idemu,” Henry menuduh Eunhyuk yang hanya berpura-pura tak tahu apa-apa.

Kyuhyun menatap Henry dengan tatapan mautnya.

“Tidak. bukan. Aku bersumpah ini bukan ideku. Ini ide Eunhyuk hyung. Kau kan tahu siapa yang punya otak yadong disini.”

“Ani. ini bukan salahku. Lagi pula kalau mereka ingin melakukannya tidak mungkin disini,” ucap Eunhyuk dengan polosnya.

“YA! APA YANG KAU PIKIR AKAN KAMI LAKUKAN?” teriak Kyuhyun dan Morin berapi-api.

Semua member menelan ludah ngeri. Lalu pergi dari teras dan segera berpamitan untuk pulang. Ini berbahaya jika dua setan telah bersatu.

-oooOooo-

“Ya! Tuan artis, kenapa aku merasa pipimu semakin tembam sekarang? Kau sekarang jadi gendut,” Morin mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun yang tengah mengemudikan mobil.

“Tentu saja tidak. Aku ini pria seksi,” jawab Kyuhyun memperhatikan jalanan di depannya.

“Cih. Seksi kau bilang? Bagian tubuh mana yang kau sebut seksi?” cibir Morin menarik tubuhnya untuk kembali tegak.

“Apa ini tidak seksi?” Kyuhyun menoleh beberapa saat sambil mengusapkan ibu jari tangannya pada bibir bawahnya.

Morin diam beberapa saat. Gugup.

“Seksi mwoya? Tidak ada seksi-seksinya sama sekali,” elak Morin mencibir lalu tertawa untuk menutupi rasa gugupnya.

“Bagaimana dengan leherku yang jenjang?” tanya Kyuhyun lagi.

“Hahahaha,” kali ini Morin sungguh-sungguh tertawa terbahak atas pertanyaan Kyuhyun. “Ani.”

“Terserah kau saja,” Kyuhyun menyerah karena dia sendiri tidak tahu bagian tubuh mana yang menurutnya seksi.

Morin hanya tersenyum puas.

“Kau harus banyak makan sayur dan buah-buahan mulai dari sekarang,” saran Kyuhyun setelah diam beberapa saat.

“Wae?”

“Kau harus banyak makanan berserat. Makanan berserat baik untuk tubuh.”

“Bagaimana dengan kau sendiri? Kau sendiri tidak pernah makan sayur kenapa menyuruh-nyuruh orang lain untuk makan sayur.”

“Siapa bilang aku tidak suka sayur? Aku suka sayur.”

“Jinjja?” goda Morin.

“Mm hm.”

“Arraseo. Kalau begitu, jika nanti aku datang ke dorm aku akan membawakan banyak sayur mentah untukmu. Bayam, lobak, sawi, kubis, tomat hijau, buncis, kol, paprika.”

“Ya! Paprika bukan sayur.”

“Tentu saja sayur.”

“Itu paprika pedas.”

“Rasa pedas tidak berarti paprika bukan sayur. Apapun yang berwarna hijau itu berarti sayur.”

“Kau bodoh. Mulai sekarang kau sepertinya harus banyak belajar tentang sayuran.”

“Kau yang bodoh. Paprika itu jelas-jelas sayur.”

Morin dan Kyuhyun terus saja bertengkar tentang jenis-jenis sayur sampai akhirnya mobil Kyuhyun berhenti tepat di depan gerbang rumah Morin.

Morin dan Kyuhyun sama-sama menghentikan perdebatan mereka dan memandang lurus ke depan ke arah sosok pria yang berdiri bersandar pada pintu mobil.

Sang Hoon.

Morin melirik Kyuhyun sekilas sebelum akhirnya membuka pintu mobil diikuti oleh Kyuhyun.

Morin menoleh pada Kyuhyun yang ikut turun dengannya. “Pulanglah, kembali ke dorm. Bukankah Sungmin oppa bilang kau tidak boleh kembali terlalu malam?”

Kyuhyun menatap Morin beberapa saat, ragu untuk pulang.

Morin hanya tersenyum lalu mengangguk seolah mengatakan ‘percayalah padaku’.

Kyuhyun mengangguk lalu berputar kembali masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil setelah mendapat lambaian tangan dari Morin.

Kyuhyun memperhatikan Sang Hoon dan Morin dari kaca spion mobilnya sampai akhirnya mobilnya berbelok ditikungan jalan dan pantulan Morin serta Sang Hoon menghilang dari tangkapan kaca spion mobilnya.

Kyuhyun menghela nafas pelan. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menguasai dirinya.

-oooOooo-

Morin’s Home.

“Apa oppa sudah menunggu lama?” tanya Morin mengambil duduk di samping Sang Hoon setelah mengembalikan tas jinjingnya dari rumah sakit ke kamar.

“Hmm, dua puluh menit mungkin. Entahlah oppa tak begitu ingat.”

“Memangnya oppa tahu darimana Morin pulang dari rumah sakit hari ini?”

“Apa yang tidak oppa tahu,” jawab Sang Hoon santai.

“Iya, oppa pasti sangat mudah mendapat informasi semacam ini. Oppa hanya tinggal meminta orang untuk memata-matai Morin dan melaporkan semuanya pada oppa.”

Sang Hoon menatap Morin dengan wajah serius.

“Eiii~~ Morin hanya bercanda, jangan menunjukkan wajah seperti itu.”

“Oppa hanya heran, bagaimana mungkin kau tahu.”

“Jadi itu benar?” kini giliran Morin yang menatap Sang Hoon serius.

“Eiiii~~ oppa juga hanya bercanda.”

“Cih. Tidak kreatif,” cibir Morin.

Sang Hoon hanya diam untuk beberapa saat, memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Morin.

“Oppa ingin minum sesuatu?” tanya Morin tiba-tiba mengagetkan Sang Hoon.

Sang Hoon hanya menggeleng, masih memerhatikan Morin. Membuat Morin risih.

“Aku akan mengambilkan minum untuk oppa,” jawab Morin memaksa meski dia telah mendengar bahwa Sang Hoon tak ingin minum apa-apa.

Namun langkah Morin tertahan oleh pegangan tangan Sang Hoon pada lengannya.

Morin menghela nafas pelan lalu menoleh pada Sang Hoon yang menariknya untuk kembali duduk.

“Morin-ah,” panggil Sang Hoon.

“Ne?”

“Uhm. Oppa tahu sudah seharusnya oppa mengatakan ini sejak dulu namun oppa terlalu bodoh hingga baru menyadari perasaan ini sekarang.”

“…..”

“Awalnya mungkin oppa hanya menganggap kau sebagai putri dari rekan bisnis appaku hingga akhirnya kita semakin dekat. Ada perasaan dalam diri oppa untuk selalu melindungimu, untuk selalu membahagiakanmu dan tak akan pernah membuatmu menangis. Oppa menganggap itu hanyalah perasaan seorang pria yang lebih tua kepada gadis yang lebih muda daripadanya sebagai kakak dan adik. Hingga akhirnya oppa harus pergi ke Kanada. Saat itulah oppa sadar bahwa perasaan oppa padamu lebih dari hanya sebuah perasaan seorang kakak kepada adiknya. Tapi ini perasaan seorang pria kepada wanita.”

“…..”

“Saranghamnida.”

Morin membulatkan matanya terkejut, terlalu terkejut bahkan. Hingga lidahnya tak mampu mengucapkan satu katapun, tidak siap untuk mendengar kata-kata pengakuan semacam ini. Pria dihadapannya ini adalah pria yang pertama kali masuk ke dalam kehidupannya, juga pria yang dicintainya sekaligus cinta pertamanya dan juga pria paling diinginkannya.

Sang Hoon semakin memperpendek jarak di antara dirinya dan Morin, sedangkan Morin hanya diam terpaku di tempat.

Jarak Sang Hoon dan Morin semakin dekat. Bibir keduanya hampir bersentuhan hanya dibatasi garis tipis tak kasat mata.

-TBC-

Advertisements