[Our Line] #13 Only You

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Morin’s Home. February 5, 2013.

“Saranghamnida.”

Morin membulatkan matanya terkejut, terlalu terkejut bahkan. Hingga lidahnya tak mampu mengucapkan satu katapun, tidak siap untuk mendengar kata-kata pengakuan semacam ini. Pria dihadapannya ini adalah pria yang pertama kali masuk ke dalam kehidupannya, juga pria yang dicintainya sekaligus cinta pertamanya dan juga pria paling diinginkannya.

Sang Hoon semakin memperpendek jarak di antara dirinya dan Morin, sedangkan Morin hanya diam terpaku di tempat.

Jarak Sang Hoon dan Morin semakin dekat. Bibir keduanya hampir bersentuhan hanya dibatasi garis tipis tak kasat mata.

Morin memejamkan mata namun tiba-tiba saja bayangan Kyuhyun yang menatapnya dengan tatapan terluka tiba-tiba saja muncul dibenaknya.

Andwae, batin Morin lalu dengan gerakan cepat dia berdiri dari duduknya.

Semua yang dipikirkannya tadi adalah pikirannya 7 tahun yang lalu. Semua perasaan itu hanyalah perasaan 7 tahun yang lalu. Mulai saat ini Morin harus lebih tegas pada dirinya sendiri. Siapa pria pada masa lalunya dan siapa pria yang akan menjadi masa depannya.

Sang Hoon menatap Morin. Meski tak mengucapkannya tapi Morin tahu ada perasaan terluka yang tampak dari sorot mata Sang Hoon. Namun Morin lebih tak sanggup melihat tatapan terluka dari Kyuhyun daripada Sang Hoon. Dan membuat Kyuhyun terluka, secara tidak langsung juga pasti akan melukainya.

“Mianhe.. oppa,” lirih Morin dengan suara memohon.

Sang Hoon menatap mata Morin, menuntut.

Morin kembali menggeleng sebagai jawaban.

-oooOooo-

Morin’s Home. February 8, 2013.

Morin mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di atas meja, menimang-nimang apa seharusnya dia menghubungi Kyuhyun atau bagaimana. Terkadang Kyuhyun membuatnya ragu tentang perasannya, apa benar Kyuhyun mencintainya atau masih hanya menyukainya.

Morin menatap layar ponselnya yang masih saja bertahan dengan warna hitam gelap.

“Hhh, apa dia sesibuk itu hingga tak ada waktu menghubungiku? Dia bisa saja mengirimiku pesan atau setidaknya dia bisa sekedar mengatakan halo padaku ditelepon. Aku hanya ingin mendengar suaranya,” keluh Morin.

Baru beberapa hari yang lalu Morin benar-benar yakin akan perasaan Kyuhyun padanya tapi lagi-lagi semua harus tergoyahkan saat ini. Kyuhyun selalu mengombang-ambingkan perasaannya.

“Apa aku perlu menghubunginya?” tanya Morin pada dirinya sendiri.

Namun beberapa saat kemudian Morin mengurungkan niatnya untuk menghubungi Kyuhyun. Perasaan bersalah seolah menguasainya, padahal kenyataannya dia tidak melakukan kesalahan apapun. Baiklah jika hampir berciuman dengan pria lain disaat dirinya masih berstatus menjadi kekasih pria lain bisa dikatakan kesalahan berarti Morin memang bersalah. Ditambah lagi Morin sempat berpikir bahwa dia mencintai Sang Hoon.

“Aaa,” Morin menggigit bantal sofanya gemas.

Disatu sisi dia, hmm, baiklah, mari kita sebut merindukan Kyuhyun dan disisi lain Morin merasa bersalah pada Kyuhyun.

“Oke. Mari berpikir positif dan anggap dia sibuk lalu kau bisa menghubunginya hanya untuk sekedar menanyakan bagaimana kabarnya.”

Morin meraih ponselnya lalu menekan salah satu nomor yang tersimpan di phonebooknya. Menunggu beberapa saat sampai terdengar sahutan di seberang sana.

“Yeoboseyo?”

“Oppa,” Morin tersenyum senang mendengar suara Donghae. Beberapa menit yang lalu Morin memang berniat mengubungi Kyuhyun namun detik berikutnya dia beralih untuk menghubungi Donghae. Setidaknya dia bisa menanyakan beberapa hal pada Donghae sebelum benar-benar menghubungi Kyuhyun.

“Kau salah menekan nomor telepon,” lanjut Donghae.

“Ne?”

“Ini ponsel si tampan Lee Donghae bukan si evil Cho Kyuhyun kekasihmu.”

“Aku memang berniat menghubungimu,” jawab Morin ketus. Tak adakah orang yang setidaknya bersikap baik padanya. Sepertinya menghubungi Donghae adalah pilihan yang salah.

“Wae?” tanya Donghae terdengar lebih serius.

“Gwencahana. Aku hanya merindukan kalian,” jawab Morin mencoba menghindar saat mendengar suara Donghae yang berubah serius.

“Aku sebenarnya tak terlalu merindukanmu. Satu tahun tidak bertemu denganmu pun sebenarnya aku akan tetap sulit untuk merindukanmu. Tapi tidak dengan Kyuhyun. Dia pasti sangat merindukanmu.”

Morin tersenyum hambar mendegar jawaban Donghae. Kyuhyun merindukannya. Donghae memiliki mulut yang sulit untuk dipercaya orang lain.

“Oppa. Apa kalian sangat sibuk?”

“Sebenarnya tidak. Kami sudah mengakhiri masa promo SJM di program musik. Wae?”

“Gwenchana.”

“Apa ponsel Kyuhyun tidak aktif sampai kau menghubungiku?”

“….”

“Kau ingin bicara dengannya? Sekarang dia sedang ada di depan computer. Akan ku panggilkan dia.”

“Anio,” cegah Morin buru-buru.

“….”

“Tidak perlu. Juga, jangan katakan aku menghubungi oppa.”

“Kau ada masalah dengan dia?”

“Ani.”

“Lalu?”

“Wae?” Morin samar-samar dapat mendengar suara Kyuhyun dari ponsel Donghae. Pria yang dirindukannya. Setidaknya Morin tahu bahwa Kyuhyun masih hidup.

“Aku sedang bicara ditelepon,” jawab Donghae terdengar samar, nampak dia mencoba untuk menjauhkan speaker dari mulutnya.

“….”

“Katakan sesuatu,” ucap Donghae menyadarkan Morin.

“Entahlah. Aku hanya merasa Kyuhyun menjauhiku untuk alasan yang aku sendiri tak tahu.”

Sebenarnya Morin juga tak tahu persis apakah Kyuhyun menghindarinya atau bagaimana tapi perasaannya mengatakan bahwa Kyuhyun memang menghindarinya.

“Oh, itu sebabnya Kyuhyun tak berniat mencharge ponselnya yang sudah mati beberapa hari ini.”

“Ne?” kaget Morin.

“….”

Donghae tak menjawab, sepertinya dia telah salah mengatakan sesuatu.

“Jadi dia memang menghindariku,” gumam Morin pelan.

“Jamkam,” Morin memutuskan sambungan telepon sebelum Donghae sempat mengatakan sesuatu lagi.

Morin terduduk lesu, meletakkan kepalanya di atas meja. “Apa lagi sekarang? Apalagi kesalahanku kali ini?”

Lagi-lagi Kyuhyun membuatnya seperti ini.

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor. February 9, 2013.

Kyuhyun berguling-guling tak nyaman di atas ranjang. Lalu melempar begitu saja selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tidak bisa tidur, benar-benar tidak bisa tidur bahkan computer yang ada di kamarnya sama sekali tak menarik perhatiannya.

“Morin, neo jinjja. Kau bukan hanya mengganggu kehidupanku bahkan sekarang kau mengganggu pikiranku,” Kyuhyun menyerah atas usahanya untuk tidur dan berjalan keluar kamar.

“Hyung apa kau sudah tidur?” panggil Kyuhyun pelan mengetuk pintu kamar Sungmin. Sejak Yesung tidak tinggal lagi di dorm, Kyuhyun dan Sungmin harus berpisah kamar. Kyuhyun tetap menempati kamar lamanya sedangkan Sungmin beralih menempati kamar Yesung.

“…..”

Kyuhyun memutar knop pintu lalu melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Di atas ranjang terdengar suara nafas teratur Sungmin yang menandakan bahwa pria itu memang sudah terlelap. Kyuhyun menghela nafas pelan lalu kembali menutup pintu.

Jam di dinding ruang tengah menunjukkan pukul 2 dini hari sudah dapat dipastikan jam seperti ini semua member pasti tidur.

Kyuhyun berjalan dengan malas menuju sofa terdekat lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Menimang-nimangnya beberapa saat. Dia berniat menghubungi Morin namun ini sudah terlalu larut, dia sangat yakin bahwa Morin akan berteriak-teriak memarahinya seperti kerasukan iblis jika dia nekat menghubungi Morin sekarang.

Kyuhyun kembali menghela nafas sambil masih terus memandangi layar gelap ponselnya.

Drrttt.. Drrttt..

“Hoh,” Kyuhyun terkejut saat layar ponselnya menyala. “Untuk apa pria ini menghubungiku di waktu sedini ini,” keluhnya saat melihat nama Donghae di layar ponselnya lalu segera mengusap icon jawab dan menempelkannya ke telinga. “Hmm.”

“Kau tidur?” tanya Donghae.

“Tentu saja tidak karena kau menelponku.”

“Kau tidak bisa tidur?”

“Begitulah. Wae?”

“Aku juga tidak bisa tidur. Kau ingin pergi ke gym?”

“Michoseo?” teriak Kyuhyun. “Mana ada gym yang buka jam dua pagi?”

“Teuki hyung justru pernah mengajakku ke gym jam tiga dini hari,” jelas Donghae lirih. “Tentu saja ada yang buka. Kau mau tidak?”

“Shireo,” jawab Kyuhyun tegas. Dia memang tidak bisa tidur tapi dia tidak mau ketidakbisaannya tidur harus berakhir di tempat gym.

“Jebal~” rengek Donghae dengan suara memelas.

Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya beberapa saat sambil berpikir. “Bagaimana kalau kita pergi keluar? Jalan-jalan? Atau minum kopi mungkin?” Kyuhyun sedikit tidak yakin dengan ajakan untuk minum kopi.

“Call. Ayo pergi jalan-jalan,” jawab Donghae antusias.

“Sampai bertemu di basement beberapa menit lagi.”

“Tidak. Aku akan menemuimu di dorm, tunggu aku.”

“Ne~”

-oooOooo-

“Kau bodoh atau apa. Kenapa membawaku kemari,” hardik Donghae pada Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dari tulisan TWOSOME di puncak bangunan.

“Aku tidak tahu coffee shop mana yang buka dini hari seperti ini,” elak Kyuhyun.

“Dan apa kau pikir Siwon akan dengan senang hatinya membukakan coffee shopnya untuk kita berdua yang kesulitan tidur ini?”

“Kenapa tidak dicoba?” jawab Kyuhyun berbinar.

“Lupakan saja,” kesal Donghae merapatkan syal hitamnya lalu kembali menyusuri jalan pulang menuju dorm.

“Ya! Lee Donghae tunggu aku,” teriak Kyuhyun lalu berlari-lari kecil mengikuti Donghae.

“Neo jinjja,” Donghae semakin kesal dengan Kyuhyun. “Jangan teriakan namaku seperti itu,” Donghae mengedarkan pandangan ke sekitarnya namun jalanan cukup sepi dan dapat dipastikan tidak ada fans yang berkeliaran dini hari seperti ini.

“Ayo minum kopi di dorm.”

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor.

“Ku kira kau baru saja pulang dari musical saat aku menelponmu tadi,” ucap Donghae.

“Ani. Aku sudah pulang beberapa jam sebelumnya,” sahut Kyuhyun.

“Kau kenapa tidak bisa tidur?” tanya Donghae menuang banyak susu ke dalam kopinya.

“Terlalu banyak pikiran,” jawab Kyuhyun mengedikkan bahunya.

“Cih. Sejak kapan kau banyak pikiran?”

“Aku serius Donghae-ya.”

“Masalah Morin?” tebak Donghae.

Kyuhyun menggangguk ragu.

“Itu alasannya akhir-akhir ini kau tampak seperti menghindarinya?”

“Aku bukan menghindarinya. Aku hanya mencoba untuk meyakinkan sesuatu.”

Donghae mengangguk paham. “Dan apa sekarang kau sudah yakin?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya sekali lagi, pertanda bahwa dia memang belum menemukan jawaban atas keraguannya.

Donghae menekuk tangannya di atas meja, siap mendengarkan.

“Mungkin ini masalah sepele tapi aku hanya terlalu membesar-besarkannya.”

Donghae masih menatap Kyuhyun memaksa.

Kyuhyun menghela nafas lemah. “Sebenarnya aku ragu dengan hubunganku dan Morin. Entahlah aku tidak yakin dengan ini tapi aku rasa Morin tidak mencintaiku,” Kyuhyun terkejut dengan kata-katanya sendiri yang meluncur tak terkontrol.

“Wae?”

“Selama ini aku sama sekali belum pernah mendengar Morin mengatakan bahwa dia mencintaiku.”

“Terkadang perkataan tidak terlalu penting,” jawab Donghae beralih mengaduk kopinya.

“Tapi tetap saja akan lebih bermakna saat diungkapkan hyung,” jawab Kyuhyun memain-mainkan cangkir kopinya.

“Kau seharusnya lebih mengenal Morin daripadaku. Morin bukan tipe orang yang mudah mengatakan hal semacam itu. Tapi sikap yang ditunjukkan Morin membuktikan kalau dia memang mencintaimu. Terkadang aku justru ragu kaulah yang sebenarnya tidak mencintai Morin.”

“Kau bercanda! Aku mencintanya hyung. Aku hanya sulit untuk menunjukkannya. Seharusnya hyung juga lebih mengenalku daripada siapapun.”

Donghae meniup kopinya sebelum menyeruputnya, menahan jawabannya untuk pernyataan Kyuhyun.

Kyuhyun meraih teko kecil berisi susu, menimang-nimangnya beberapa saat untuk menuangkannya atau tidak ke dalam kopi.

“Kau tahu. Tidakkah kalian merasa kalian ini terlalu keras kepala? Cobalah untuk lebih dewasa,” lanjut Donghae meletakkan kembali cangkirnya.

“Aku sedang mencobanya,” bela Kyuhyun meletakkan kembali teko susu, mengurungkan niatnya untuk menuangkannya ke dalam kopi.

“Benarkah? Kau tidak benar-benar mencobanya.”

“Hyung jangan menggodaku.”

“Coba minum kopimu,” perintah Donghae menunjuk cangkir Kyuhyun.

Kyuhyun menatap bingung Donghae namun pada akhirnya menuruti apa yang diperintahkan Donghae.

Donghae menunggu reaksi Kyuhyun setelah meminum kopinya.

“Blah. Pahit,” Kyuhyun mengeryit dan menyadari bahwa Donghae sedang mengerjainya.

“Sudah saatnya kau harus mencicipi kopi pahit.”

“Aku tidak suka minuman pahit hyung,” rungut Kyuhyun sebal.

“Aku tahu. Kau tak bisa selalu memilih minuman manis dan mengesampingkan minuman pahit. Saat kau dihadapkan pada kopi pahit yang perlu kau lakukan adalah mencari cara agar kopi yang akan kau minum menjadi manis,” Donghae mengangkat teko kecil berisi susu lalu menuangkannya sedikit ke dalam kopi Kyuhyun.

“….”

“Sekarang minumlah,” perintah Donghae.

Kyuhyun menuruti apa yang dikatakan Donghae lalu kembali menyeruput kopinya.

“Bagaimana?”

“Lebih baik dari yang sebelumnya.”

“Kau tidak menyukai kopi pahit bukan berarti kau tak bisa sama sekali meminumnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah pencari cara untuk membuat kopi pahit menjadi manis sehingga kau yakin untuk meminumnya. Seperti halnya masalahmu. Jika kau hanya duduk disini dan berkutat dengan pikiranmu sendiri kau mungkin tak akan pernah mendapat jawaban. Kau hanya perlu mencari cara agar kau bisa tahu bagaimana sebenarnya perasaan Morin padamu. Jika dia memang tak mencintaimu kau masih bisa membuatnya mencintaimu. Layaknya susu yang membuat kopi manis dan kau mau meminumnya. Yakinkan Morin bahwa kau benar-benar tulus mencintainya dan dia akan mencintaimu.”

“….”

Kyuhyun mencoba mencerna semua nasihat Donghae.

Sedangkan Donghae sibuk meminum kopinya.

“Hyung,” panggil Kyuhyun pelan.

“Ne?” Donghae melirik Kyuhyun dengan ekor matanya masih dengan posisi cangkir menempel pada bibirnya.

“Gwenchana,” jawab Kyuhyun tersenyum ringan. Kyuhyun baru saja berniat menanyakan benarkah pria yang duduk didepannya itu adalah Lee Donghae, karena Donghae yang dikenalnya adalah pria dewasa yang selalu bersikap kekanakkan. Tapi mengurungkannya karena tahu itu semua akan merusak semuanya.

-oooOooo-

February 10, 2013.

Morin berjalan menunduk sambil memperhatikan langkah kakinya, menyembunyikan sebagian wajahnya pada syal abu-abu yang dikenakannya. Musim dingin sebentar lagi akan berakhir namun rasa dingin justru semakin hari semakin buruk. Beberapa kali Morin menghela nafas berat menyebabkan uap putih dingin keluar dari mulutnya.

“Aku harus segera tiba di rumah sebelum aku mati kedinginan di luar,” keluh Morin mempercepat langkahnya.

Namun langkah Morin terhenti saat melihat seorang pria yang tengah memainkan arloji di pergelangan tangannya tak jauh dari tempat Morin berada.

Morin meyakinkan pandangannya. Sebenarnya dia masih memiliki penglihatan yang normal, hanya saja dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak salah melihat.

“Apa yang kau lakukan disini,” tanya Morin heran sambil meneliti penampilan Kyuhyun sekilas. Terlalu mencolok. Topi hitam dan masker hitam.

“Menjemputmu,” jawab Kyuhyun singkat.

“Kaja-kaja. Cepat masuk ke dalam mobil,” Morin mendorong Kyuhyun agar segera masuk ke dalam mobil saat merasa beberapa orang mulai melirik ke arahnya sambil berbisik-bisik.

“Kenapa kemari?” tanya Morin lagi dengan nada mengeluh kali ini walaupun sebenarnya dia senang dengan kemunculan Kyuhyun yang tiba-tiba. Hanya saja dia tidak ingin mengundang banyak perhatian.

“Sudah kubilang menjemputmu,” jawab Kyuhyun melepas topi dan maskernya lalu menaruhnya di atas dashboard.

“Dalam rangka apa? Kau tidak akan macam-macam kan? Biasanya kau tidak pernah melakukan hal semacam ini,” selidik Morin.

“Ya! Kelinci. Cobalah sekali saja bersikap baik padaku.”

“Cukup kau tahu saja, aku selalu bersikap baik padamu. Kau saja yang selalu menghindariku,” Morin menambahkan kalimat terakhir itu dengan hanya sebuah gumaman.

“Baiklah. Bisakah kau menuruti kata-kataku kali ini.”

“Tergantung,” jawab Morin mencoba menyalakan pemutar musik milik Kyuhyun. Mencari-cari lagu yang tepat sebagai backsound momen kebersamaan dirinya dan Kyuhyun lagi.

Morin mencoba menyembunyikan kekehannya akibat pikirannya sendiri.

“Kita mau kemana?” tanya Morin kembali menegakkan tubuh. Tak lagi berniat memutar musik karena saat ini suara Kyuhyun lebih merdu dari musik manapun.

Morin menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa sekarang dirinya mulai kacau juka berada didekat Kyuhyun.

“Aku lapar sedangkan di dorm tak ada seorang pun. Jadi kau akan menemaniku makan malam.”

“Kemana yang lainnya?”

“Mana aku tahu,” jawab Kyuhyun ketus.

“….”

“Kau akan mentraktirku?” tanya Morin selanjutnya berharap.

“Anio. Aku yang akan makan, sedangkan kau hanya menemaniku.”

“Ya! Kau pikir aku binatang peliharaanmu.”

“Bukannya kau memang kelinci piaraanku. Karena aku tuanmu jadi jangan macam-macam.”

“Aish jinjja.”

“Tapi kalau kau bersikap baik padaku aku akan mempertimbangkan untuk memberikanmu makan.”

“Lupakan.”

Setelah cukup lama akhirnya mobil Kyuhyun pun menepi dan mulai berhenti.

“Kita sudah sampai?” tanya Morin.

“Ne.”

“Ku kira tadi kita akan pergi ke Jepang. Kenapa mau makan malam saja harus ke tempat yang sejauh ini,” keluh Morin.

“Jajangmyeon disini sangat lezat. Kau akan ketagihan setelah mencobanya,” jawab Kyuhyun mulai turun dari mobil.

“Jadi kita jauh-jauh kemari hanya untuk makan jajangmyeon. Bagus,” geram Morin sebelum akhirnya mengikuti apa yang Kyuhyun lakukan.

“Jam!” Morin mencegah Kyuhyun.

“Wae?” tanya Kyuhyun menghentikan langkahnya.

Morin bergegas mendekati Kyuhyun, melepas syal abu-abu yang dikenakannya lalu memasangnya di leher jenjang Kyuhyun, menutupi sebagian dari mulutnya. “Pabo. Kau mau hidup kita berakhir di tempat makan ini. Setidaknya kenakan sesuatu untuk menyembunyikan wajahmu,” omel Morin.

Kyuhyun menatap datar Morin, sudah berniat menginterupsi namun mengurungkannya kembali.

“Kaja,” ucap Kyuhyun mengulurkan tangannya pada Morin.

Morin menatap uluran tangan Kyuhyun. “Ah, sepertinya akan. . . .”

Ucapan Morin terhenti oleh genggaman tangan Kyuhyun pada tangan Morin lalu menariknya berjalan. Kali ini dengan langkah yang tidak tergesa. Tidak seperti situasi pertama saat mereka berada di basemant rumah sakit. Selain itu, genggaman tangan Kyuhyun kali ini lebih hangat dan lebih erat, seolah mengisyaratkan bahwa dia tak akan melepaskan ikatan di antara dirinya dan Morin.

Morin membalas genggaman Kyuhyun. Sekarang dia yakin bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Kyuhyun. Dia tak lagi ragu dengan perasaannya pada Kyuhyun. Dia juga tak lagi ragu dengan perasaan Kyuhyun padanya.

Kyuhyun menoleh pada Morin saat merasakan Morin balas menggenggam tangannya.

Morin hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu. Sedangkan Kyuhyun terkekeh pelan, terlalu bodoh untuk menyembunyikan perasaannya dan untuk tetap bersikap cool.

-oooOooo-

Morin’s Home.

Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat berhadapan dengan sebuah mobil yang sudah sejak awal terparkir di depan rumah Morin. Kyuhyun memperhatikan mobil itu. Mobil yang tak asing bagi Kyuhyun.

Dari arah samping, Morin melirik Kyuhyun dengan ekor matanya. Dia tahu mobil milik siapa itu. Dan dilihat dari gerak gerik Kyuhyun, tampaknya dia juga hafal mobil milik siapa itu.

Dari arah mobil yang terpakir di hadapan mobil Kyuhyun, Sang Hoon keluar dengan gaya angkuhnya.

Kyuhyun menatap tajam Sang Hoon, merasa dejavu dengan apa yang terjadi malam ini.

Morin menelan ludah takut. Dia hanya tak ingin kali ini lagi-lagi Sang Hoon merusak segalanya. Morin perlahan melepas seatbelt yang dikenakannya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Kyuhyun begitupun sebaliknya.

Namun saat Morin berbalik hendak mendorong pintu mobil, dia merasakan sebuah tangan lembut menahan lengannya. Morin menoleh, bertemu dengan tatapan Kyuhyun yang sulit diartikan.

“Jika aku memintamu untuk jangan keluar apa kau akan menurutiku?” tanya Kyuhyun pelan.

“….”

“Jangan temui dia.”

Tiba-tiba saja Morin merasakan dadanya sesak. Kyuhyun baru saja memintanya untuk tak menemui Sang Hoon.

Kyuhyun masih menatap Morin, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir Morin yang terkunci rapat.

“Aku akan menemuinya,” jawab Morin menghancurkan harapan Kyuhyun.

Kyuhyun merenggangkan genggaman tangannya pada lengan Morin. Hanya mengangguk sekali mengerti akan pilihan Morin.

“Aku akan menemuinya dan aku akan kembali kemari, jadi pastikan kau tetap disini,” lanjut Morin.

Kyuhyun menatap Morin, mencoba mencari tahu kebenaran dari perkataan Morin.

Morin tersenyum lembut, mengangguk, mencoba meyakinkan Kyuhyun bahwa dia tidak sedang berbohong.

Kyuhyun membalas senyuman Morin lalu mengangguk pelan. Membiarkan Morin untuk turun dari mobil dan menemui Sang Hoon. Kali ini saatnya Kyuhyunlah yang mencoba untuk mempercayai Morin.

Morin melirik ke arah Kyuhyun sebelum melangkah menemui Sang Hoon. Meski kaca gelap mobil menyembunyikan segala yang ada di dalam mobil namun Morin yakin saat ini Kyuhyun tengah memperhatikannya.

Sang Hoon tersenyum dengan senyum khas miliknya saat Morin telah mendekat.

“Kau baru pulang dari kampus?” tanya Sang Hoon lembut.

“Ne.”

Sang Hoon mencuri tatapan ke arah belakang tubuh Morin, dimana mobil milik Kyuhyun berada. “Apa temanmu tak akan pulang?”

“Dia menungguku.”

Sang Hoon menatap Morin bingung.

Morin menghela nafas berat. “Oppa. Mianhe karena aku tak bisa membalas perasaanmu padaku. Bagaimanapun juga aku akan tetap menganggap kau sebagai oppaku.”

“Apa karena pria yang ada di dalam mobil itu?” tebak Sang Hoon.

Morin mengangguk pelan.

“Apa cintanya padamu melebihi cintaku padamu?” tanya Sang Hoon menuntut.

“Aku tak peduli seberapa besar cintanya padaku dan seberapa besar cinta oppa padaku,” jawab Morin tak meyakinkan. Karena dia sendiri tak yakin seberapa besar Kyuhyun mencintainya.

“Karena yang terpenting adalah aku mencintainya,” lanjut Morin.

“Kau mencintainya?” cibir Sang Hoon.

Morin mengangguk mantap. “Ne. Seribu kalipun aku mengatakan bahwa aku mencintainya tak akan pernah cukup untuk menjelaskan betapa aku mencintainya. Cinta ini tumbuh semakin dalam seiring berjalannya waktu.”

“Cih.”

“Aku bahagia bersamanya.”

“Dan apa kau tak bahagia bersamaku?” tanya Sang Hoon menegakkan tubuhnya.

“Oppa tak pernah tahu bagaimana perasaanku saat bersamanya. Bagaimana rasa bahagiaku saat berada didekatnya. Bagimana perasaan rindu saat aku tak melihatnya atau tak mendengar suaranya. Bagaimana perasaan khawatir saat dia mencoba menghindariku dan bagaimana perasaan takut akan kehilangannya,” jelas Morin tersenyum pada Sang Hoon. Bagaimanapun juga Morin harus tetap bersikap baik pada Sang Hoon.

“Lalu, bagaimana dengan rencana perjodohan kita?” tanya Sang Hoon menyeringai.

Morin membulatkan kedua bola matanya. “Oppa tahu tentang itu?”

“Hanya kau yang sama sekali tidak tahu tentang rencana perjodohan kita. Bahkan Naya pun tahu.”

Morin menatap Sang Hoon terkejut.

“Kau tahu siapa yang menyuruhku datang kemari?” tanya Sang Hoon.

“….”

“Ibumu dengan senang hati mengijinkanku untuk kembali mendekatimu. Bahkan dia memintaku untuk menjauhkanmu dari Cho Kyuhyun.”

Morin semakin menatap Sang Hoon bingung. Bagaimana Sang Hoon bisa mengetahui tentang Kyuhyun dan juga bagaimana ibunya bisa mengetahuinya padahal Morin sama sekali tidak pernah membicarakan sedikitpun tentang Kyuhyun pada ibunya.

“Apa kalian berdua telah menikmati waktu senggang yang kalian miliki?” tanya Sang Hoon mendekati Morin lalu meletakkan tangannya di salah satu pundak Morin.

Morin menepis tangan Sang Hoon dan hanya menatapnya dengan tatapan marah.

“Percayalah. Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku,” lanjut Sang Hoon hendak meraih tubuh Morin namun tiba-tiba saja sebuah tangan telah mencengkeram kerah bajunya. Menjauhkan dirinya dari Morin.

“Jangan berani-berani mendekatinya,” geram Kyuhyun melayangkan tinjunya tepat mengenai rahang Sang Hoon.

Morin yang untuk beberapa saat hanya diam mematung memikirkan banyak hal tiba-tiba saja tersadar saat melihat Kyuhyun memukul Sang Hoon.

“Geumanhe,” Morin mencegah Kyuhyun untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar meninju Sang Hoon sekali. Sebagai publik figur, Kyuhyun tak seharusnya melakukan hal seperti itu.

“Cih. Kau tahu. Disini kau adalah yang terbodoh,” ucap Sang Hoon meludahkan darah ke samping Kyuhyun.

Morin menggenggam tangan Kyuhyun, mencoba menenangkan amarahnya lalu membawa Kyuhyun menjauh dari Sang Hoon ke dalam rumahnya. Rumah sepertinya memang satu-satunya tempat yang paling ingin Morin tuju saat ini.

“Gwenchana?” tanya Kyuhyun menatap Morin yang hanya diam termenung.

Kini mereka telah berada di dalam rumah Morin. Terlindung dari suhu minus derajat celcius di luar sana.

Morin masih diam. Terlalu shock. Bukan karena perlakuan Sang Hoon padanya tapi lebih karena perkataan Sang Hoon.

“Gwenchana?” tanya Kyuhyun sekali lagi karena Morin tak kunjung menjawabnya.

Morin menoleh pada Kyuhyun dan tersenyum meyakinkan bahwa dia memang baik-baik saja.

“Apa dia mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kau dengar?” tanya Kyuhyun lagi.

“Ani. Dia tidak mengatakan apa-apa.”

“Arraseo,” ucap Kyuhyun kecewa karena Morin tak berniat memberitahunya tentang percakapan Morin dan Sang Hoon.

“Kyuhyun-ah!” panggil Morin.

“Ne?” Kyuhyun menoleh dengan terkejut karena ini pertama kalinya Morin memanggil Kyuhyun seperti itu.

Morin menggerak-gerakkan bibirnya ragu.

Kyuhyun menelengkan kepalanya mencoba menebak apa yang ingin Morin sampaikan padanya. Tapi gagal.

“Apa kau meragukan cintaku padamu?” tanya Morin setelah berhasil memberanikan diri mengatakannya.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun menutupi keterkejutannya. Bukan karena makna dari pertanyaan Morin tapi lebih karena bagaimana Morin bisa tahu bahwa sebelumnya dia menghindari Morin karena terlalu ragu dengan perasaan Morin, atau mungkin hanya kebetulan saja Morin bertanya tentang itu.

“Aku mencintaimu. Itu yang perlu kau tahu. Jadi mulai sekarang jangan lagi meragukan bagaimana perasaanku padamu.”

“….”

“Apa aku perlu mengucapkannya berkali-kali agar kau yakin bahwa aku mencintaimu?” tanya Morin dengan suara sedikit bergetar.

Kyuhyun meraih tubuh Morin dan memeluknya erat. “Kebodohan yang pernah aku perbuat adalah meragukan cintamu padaku.”

“Saranghaeyo,” bisik Morin membalas pelukan Kyuhyun.

“Nado saranghaeyo,” balas Kyuhyun memeluk Morin semakin erat.

Morin dapat merasakan kehangatan dan rasa aman yang diberikan Kyuhyun lewat pelukannya. Morin menyadari betapa dia sangat mencintai Kyuhyun menyebabkan matanya mulai berair saat kembali teringat perkataan Sang Hoon.

“Wae?” tanya Kyuhyun melepas pelukannya dan beralih mencengkeram lembut kedua bahu Morin hanya untuk menatap sepasang mata milik Morin.

“Gwenchana. Hanya saja tiba-tiba aku merindukan keluargaku. Merindukan Beijing. Merindukan China,” jawab Morin asal.

Kyuhyun menatap Morin, dapat merasakan kesepian yang menghimpit Morin melalui tatapan yang ditunjukkan Morin.

“Disini kau punya aku. Apa kau masih kesepian?” goda Kyuhyun.

“Hanya saja terkadang aku merasa lelah berada jauh dari keluargaku.”

“Dan kau akan meninggalkanku untuk kembali ke Beijing?” tanya Kyuhyun panik.

“Tapi setelah bertemu denganmu aku merasa memiliki keluarga baru disini,” jawab Morin menatap setiap inci bagian wajah Kyuhyun dari jarak yang cukup dekat. Mencoba menanamkan kenangan tentang pria paling dicintainya itu diingatannya.

“Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” tanya Kyuhyun heran karena sejak tadi Morin hanya diam dan menatap wajahnya.

“Anio. Kau tampan.”

Kyuhyun terkekeh geli. “Lebih tampan dari Choi Minho?” goda Kyuhyun.

Morin menggeleng polos. “Tidak lebih tampan dari Choi Minho.”

Kyuhyun hendak memprotes Morin namun mengurungkannya. “Tidak lebih tampan dari Minho tapi lebih kau cintai dari siapapun,” goda Kyuhyun.

Morin mengedikkan bahu pura-pura tak tahu.

Kyuhyun tertawa lalu mengacak-acak rambut Morin pelan.

Lagi-lagi Morin hanya diam, pasrah oleh kejailan Kyuhyun. Menikmati saat-saat dia dapat berada sedekat itu dengan Kyuhyun dan memperhatikan tawa Kyuhyun.

‘Kau tahu, aku hanya melihat ke arah satu pria dan itu kau. Hanya kau,’ batin Morin tersenyum..sedih.

-oooOooo-

Morin duduk termenung di dalam kamarnya yang gelap karena kebiasaannya yang tak bisa tidur saat lampu masih menyala terang.

“Gwenchana. Dia sudah pergi,” Morin mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Sang Hoon memang sudah pergi. Bahkan kalau Morin boleh menebak, dia sudah kembali ke Beijing. Namun walaupun Sang Hoon tak lagi ada di Korea tapi perkataannya masih saja terngiang di telinga Morin.

Jika ibunya memang telah mengetahui tentang hubungannya dengan Kyuhyun, kenapa selama ini ibunya diam tak mengatakan apa-apa dan bersikap seolah-olah dia tak mengetahui apa-apa?

Tiba-tiba saja Morin merasa dadanya sesak, matanya mulai memanas dan air mata mulai mengalir dari kedua bola matanya.

Morin menelungkupkan tangan dan kepalanya di atas meja dan mulai terisak pelan. Morin tak bergeming. Terisak dalam diam. Morin tak ingin hubungannya dengan Kyuhyun harus berakhir disaat dia mulai menyadari bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Kyuhyun. Dia tahu, suatu saat nanti hubungannya dengan Kyuhyun akan berakhir namun haruskah secepat ini? Tak bisakah dia mempertahankan hubungannya dengan Kyuhyun? Tak bisakah dia memiliki Kyuhyun untuk selamanya? Tak bisakah mereka hidup bahagia di masa depan? Morin semakin terisak karena pemikirannya sendiri. Selama ini dia jarang menangis. Dia bukan gadis yang cengeng. Dia bukan gadis yang akan dengan mudah menangis. Tapi perasaan takut kehilangan Kyuhyun itulah yang membuat Morin menangis.

Bayangan wajah Kyuhyun muncul setiap saat di dalam ingatannya dan semakin bayangan itu muncul semakin tumbuh kuat pula perasaan tak ingin kehilangan Kyuhyun.

Sepertinya dia memang harus pulang ke Beijing, membicarakan tentang hubungannya dan Kyuhyun. Bicara dari hati ke hati dengan ibunya. Tapi Morin yakin tak akan semudah apa yang dipikirkannya. Dia tahu bagaimana sifat ibunya. Jika ibunya sudah memutuskan sesuatu berarti memang harus sama persis seperti apa yang dia putuskan.

-oooOooo-

Suju’s Dorm 11th Floor. February 11, 2013.

“Jangan lupa tanggal empat belas jam delapan malam konser Poseidon di ilsan,” ulang manajer hyung pada Kyuhyun berkali-kali sambil mengecek beberapa jadwal lain di layar ipadnya.

“Arraseo. Kau sudah mengatakannya berkali-kali. Lagipula jika aku lupa kau juga pasti yang akan mengingatkanku lagi. Jadi simpan saja tenagamu sampai hari H,” keluh Kyuhyun bosan dengan manajer hyungnya yang cerewet.

“Arraseo. Kalau begitu masuklah dan istirahat, hyung akan menemui yang lainnya di lantai atas,” ucap manajer hyung kembali masuk lift.

“Bagaimana mungkin aku harus menyanyikan The Way To Break Up di hari kasih sayang,” omel Kyuhyun sambil memasukkan password dorm lalu segera setelah berhasil dia melempar begitu saja bagpacknya ke sofa lalu berjalan dengan langkah malas ke arah dapur, menuang segelas susu ke dalam gelas dan meneguknya hingga hanya tersisa separuh gelas.

“Hhh,” berkali-kali Kyuhyun mendesah. Dia tak pernah merasa semalas ini sebelumnya.

“Hyung~” teriak Kyuhyun.

“….”

Kyuhyun melirik arloji di pergelangan tangannya, Sungmin pasti belum pulang dari Sukira. Sedangkan Eunhyuk yang pengangguran itu pasti sedang berada di lantai atas bersama pasangan penganggurannya yang lain.

Drrttt.. Drrttt..

Kyuhyun dapat mendengar getar dari ponselnya dan segera mengambilnya dari dalam salah satu saku pada backpacknya.

“Hmm?” jawab Kyuhyun setelah tahu Morin yang menghubunginya.

“Kau masih recording?” tanya Morin memastikan.

“Aniya. Baru saja pulang. Wae?” tanya Kyuhyun merebahkan diri di sofa sambil mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas meja.

“Uhm. Lusa aku akan ke Beijing.”

“Ne?” kaget Kyuhyun menegakkan punggungnya.

“Aku sudah memesan tiket.”

“Tak bisakah kau menggantinya ke tanggal lima belas?” tanya Kyuhyun berharap.

“Wae?”

“Kami akan ke Bangkok tanggal itu. Mungkin kita bisa bertemu di airport?” usul Kyuhyun.

“Jangan konyol. Masih banyak tempat untuk bertemu selain bandara.”

“….”

“Kapan kau akan ke China?” tanya Morin lagi.

“Dua puluh satu kami akan pergi ke Taipe. Kau masih di Beijing hari itu?”

“Entahlah. Mungkin tidak. Aku tak begitu yakin. Apa jika aku masih disana kau akan menemuiku?”

“Kami akan ke Hongkong selanjutnya lalu kembali ke Seoul. Tidak ada waktu untuk menemuimu.”

“Arraseo.”

“Berapa lama kau akan disana?” tanya Kyuhyun. Dia dan Morin berada di kota yang sama saja sudah sangat jarang bertemu bagaimana jika mereka harus berada di negara yang berbeda untuk waktu yang lama.

“Mungkin dua atau tiga hari. Tidak lebih dari itu.”

“Ne. Kau pasti akan kembali lagi ke Seoul?” tanya Kyuhyun lagi.

“Tentu saja. Setidaknya aku harus menyelesaikan kuliahku.”

“Arraseo.”

“Istirahatlah. Aku tahu sudah terlalu mengganggu. Jalja~” putus Morin.

“Jalja,” sahut Kyuhyun menurunkan ponsel dari telinganya.

Entah kenapa tiba-tiba saja Kyuhyun khawatir bagaimana jika Morin tak kembali ke Seoul?

-To be continue-

Advertisements