[Our Line] #14 I Love You No Matter What

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Morin’s Home. February 13, 2013.

Morin memasukkan baju terakhir yang akan dibawanya ke Beijing. Kemudian menarik risleting backpacknya dalam satu kali tarikan panjang. Dia tidak berniat tinggal lama di Beijing jadi dia hanya membawa beberapa baju saja, lagipula dia bisa meminjam baju Naya. Seperti dulu, saat mereka masih tinggal bersama dan saling memakai pakaian masing-masing tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Morin tersenyum sekilas, betapa dia merindukan saat-saat kebersamaannya dengan adik perempuan satu-satunya. Sudah sangat sejak lama mereka tidak bertemu. Meskipun mereka sering bertengkar namun sebenarnya mereka saling menyayangi. Lewat pertengkaran itulah salah satu bentuk perhatian masing-masing.

Morin meletakkan paspport dan tiket pesawatnya di atas bsckpacknya dan berharap semua akan baik-baik saja besok. Semua hal, bukan hanya perjalanannya menuju Beijing tapi hal-hal lain yang menjadi salah satu alasannya untuk mengunjungi Beijing dan bertemu ibunya.

Morin menghela nafas panjang, mematikan lampu utama di kamarnya dan mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap satu-satunya cahaya yang berasal dari lampu taman yang menerobos melalui jendela kamarnya.

Padahal Morin belum berangkat menuju Beijing tapi dia sudah merasa rindu dengan Seoul. dengan rumahnya yang nyaman, dengan keluarga Seoulnya dan dengan Kyuhyun. Sebenarnya dia takut untuk pergi ke Beijing. Takut jika pertahanannya selama ini goyah dan tiba-tiba saja dia tak sanggup lagi pergi dari Beijing, meninggalkan keluarganya, ayah, ibu, dan Naya.

Lagi-lagi Morin menghela nafas, seolah masalah-masalahnya akan meninggalkannya, bersamaan dengan setiap nafas yang dihembuskannya. Meski sebenarnya dia tak cukup bodoh untuk mengetahui bahwa masalahnya masih ada disana, tetap dipikirannya.

Morin meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak manja di atas meja di samping ranjangnya. Sepertinya tak ada salahnya dia mengirim pesan pada Kyuhyun.

To: Evil Kyu

Apapun yang kalian menangkan malam ini, selamat. Akhir-akhir ini aku jarang mengunjungi kalian. Tapi kupastikan aku akan membawakan kalian makanan lezat saat berkunjung lagi nanti. Nikmatilah kemenangan kalian kali ini.

Morin menekan tombol pesan. Beberapa saat yang lalu dia membaca artikel di internet bahwa suju akan menghadiri Gaon Kpop Chart Award.

Morin mengeryit setelah membaca ulang pesan yang dikirimnya, lalu mulai memforward pesannya dan mengirimkannya pada seluruh member. Sepertinya salah jika mengirimkan pesan semacam itu hanya pada Kyuhyun.

Drrttt.. Drrttt..

Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ponsel Morin kembali bergetar.

From: Evil Kyu

Tak usah bersikap seolah kau punya banyak uang. Kami sudah makan makanan lezat setiap hari.

Morin tersenyum sekilas lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, berganti mengambil jam bekernya. Memastikan bahwa dia telah mengatur bekernya pada waktu yang tepat. Dia tidak mau ketinggalan pesawat hanya karena kebiasan tidurnya yang buruk.

Drrttt.. Drrttt..

Morin melirik ponselnya yang kembali bergetar. Sedikit malas untuk membaca pesan dari entah siapapun itu.

Namun pada akhirnya Morin pun mengambil ponselnya dan membuka pesan untukknya.

From: Evil Kyu

Penerbanganmu besok jam berapa?

To: Evil Kyu

Pagi. Penerbangan pertama.

From: Evil Kyu

Arraseo. Nikmati kunjunganmu ke rumah. Jaga diri baik-baik. Lusa SJM akan ke Bangkok.

To: Evil Kyu

Neodo.

Morin hanya membalas singkat pesan dari Kyuhyun lalu mengembalikan ponselnya ke tempat seharusnya dia berada. Dia harus tidur lebih awal.

“Beijing-Bangkok. Wow,” gumam Morin membayangkan betapa jauh jarak antara China dan Thailand.

-oooOooo-

SJ’s Dorm 11th Floor. February 14, 2013.

Kyuhyun mengucek-ucek matanya lalu menguap dengan lebar. Alarmnya baru saja berbunyi dan sangat tumben sekali Kyuhyun bisa bangun tepat bersamaan dengan alarm yang berbunyi nyaring.

Kyuhyun berjalan malas ke kamar mandi, menggosok gigi lalu mencuci mukanya. Dari arah dapur dia dapat mendengar suara senandungan Eunhyuk.

“Bagaimana kau bisa bangun sepagi ini?” kaget Eunhyuk menatap Kyuhyun tak percaya.

“Bunyi alarm itu membuat telingaku sakit,” jawab Kyuhyun singkat lalu berjalan menuju kulkas. Membuka pintu kulkas dan mengamati apapun yang ada disana.

“Siapa yang membeli coklat sebanyak ini?” tanya Kyuhyun menunjuk ke dalam kulkas yang dipenuhi kotak coklat.

“Semalam uri Henry membawa banyak coklat bersamanya. Kurasa dari fansnya,” jawab Eunhyuk mengoles mentega pada roti tawarnya.

Kyuhyun mengangguk mengerti dan kembali menutup kulkas setelah mengambil sekarton susu dan juga sekotak sereal serta menyambar mangkuk pertama yang dilihatnya.

“Lagi pula hari ini tanggal empat belas Februari,” lanjut Eunhyuk.

Kyuhyun nampak hanya setengah mendengarkan ucapan Eunhyuk dan hanya sibuk menyendok sereal dari mangkuknya sambil dengan iseng membaca komposisi yang ada pada kemasan sereal.

“Valentine Day,” Eunhyuk menggeleng beberapa kali setelah mengatakan hal itu lalu mulai menggigit roti selai menteganya.

Kyuhyun berhenti mengunyah serelanya lalu dengan gerakkan cepat menatap Eunhyuk. “Apa hari ini hari Valentine?”

“Aku baru mengatakannya,” jawab Eunhyuk malas, baru sadar bahwa sebenarnya Kyuhyun tak benar-benar mendengarkan ucapannya sejak tadi.

Kyuhyun menaruh kembali sendoknya lalu bergegas menuju kamar, mengambil kunci mobil serta kaca mata minus miliknya.

“Itu milik Henry,” Eunhyuk memperingatkan saat melihat Kyuhyun mengambil salah satu kotak coklat milik Henry yang berukuran paling besar dari dalam kulkas.

“Dia tidak akan kebaratan,” jawab Kyuhyun santai lalu sedikit berlari keluar dari dorm.

“Odika?” seru Eunyuk pada Kyuhyun tapi Kyuhyun hanya melambaikan tangan seolah mengatakan tak ada waktu untuk menjelaskan.

“Aku akan segera kembali.”

-oooOooo-

Morin’s Home.

Morin merapikan rambutnya, menguncir rambutnya hingga membentuk ekor kuda. Lalu mengambil mantel coklatnya sebelum akhirnya berjalan keluar kamar. Menjinjing backpacknya. Beberapa menit yang lalu dia telah memesan taksi, itu berarti pasti sekarang taksinya telah menunggu di luar gerbang.

Morin mendorong pintu gerbangnya membuka, dan benar saja, disana telah ada taksi yang menunggunya.

Sopir taksi itu dengan cekatan menghampiri Morin hendak mengambil alih backpack milik Morin.

Morin tersenyum dan menolaknya secara halus, dia bisa membawanya sendiri.

Morin masuk ke dalam taksi, lalu menurunkan sedikit kaca mobil untuk mengamati rumahnya.

“Jangan bersikap seolah kau tak akan kembali kemari,” hardik Morin pada dirinya sendiri.

Morin hendak menutup kaca mobil namun matanya menangkap sesuatu yang asing di kotak suratnya. Selama ini jarang ada surat yang datang untuknya.

“Jamkaman ahjussi,” sergah Morin pada supir taksi saat supir taksi itu mulai menjalankan taksi.

Supir taksi itu kembali menghentikan taksinya sesuai dengan yang diperintahkan Morin padanya.

Morin membuka pintu taksi bergegas menuju kotak surat. Membukanya lalu mengambil sebuah kotak coklat yang tergeletak manis di dalamnya.

Morin menatap bingung coklat itu lalu kembali masuk ke dalam taksi.

“Apa kita bisa berangkat sekarang agashi?” tanya supir taksi itu pada Morin.

“Ne ahjussi,” jawab Morin singkat masih menatap kotak coklat dengan bingung.

Dan ketika Morin membalik posisi coklat, tertempel sebuah memo kecil disana.

Morin menarik memo hingga terlepas lalu mulai membacanya.

To : My Rabbit

Coklat untuk menemanimu di pesawat. Ingatlah untuk jaga diri dan segeralah pulang ke Seoul. Kau punya hutang untuk membelikan kami makanan lezat. Bersiap-siaplah kehabisan uang, makan kami tidak sedikit.

Morin tersenyum lembut setelah membaca memo tersebut.

“Apa itu dari kekasihmu agashi?” tanya supir taksi pada Morin.

Morin hanya tersenyum menanggapinya.

“Banyak pasangan yang saling bertukar coklat di hari valentine,” lanjut supir itu.

Lagi-lagi Morin hanya tersenyum untuk membalas ucapan supir taksi itu, karena jujur saja Morin lupa kalau hari ini adalah valentine dan dia tak peduli dengan apa yang banyak pasangan lakukan di hari valentine.

Namun bagaimanapun juga Morin senang saat mendapat coklat dari Kyuhyun. Sebenarnya Morin senang bukan karena coklat pemberian Kyuhyun tapi lebih pada usaha Kyuhyun untuk datang pagi-pagi dan menaruh coklat di dalam kotak surat. Juga pada memo Kyuhyun. Disana tertulis cepatlah pulang ke Seoul, itu sudah sangat jelas berarti bahwa Kyuhyun tak ingin Morin pergi terlalu lama ke Beijing. Tak ingin Morin pergi terlalu jauh darinya.

Morin mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Kyuhyun.

-oooOooo-

SJ’s Dorm 11th Floor.

From : Rabbit

Pabo. Jangan letakkan disana. Bagaimana jika aku tak melihatnya.

Euhm, gomawo. Walau sebenarnya kelinci tidak makan coklat tapi hari ini kelinci akan makan coklat.

Kyuhyun merekahkan senyum lebar saat tahu bahwa Morin telah menerima coklat darinya.

“Henry-ah,” panggil Kyuhyun saat melihat Henry yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ne?”

“Gomawo,” ucap Kyuhyun masih dengan tersenyum lebar.

Henry hanya menatap Kyuhyun yang kini berjalan ke depan televisi sambil membawa mangkuk berisi sereal dan susu dengan tatapan bingung.

“Kenapa tiba-tiba saja dia berterimakasih padaku?” tanya Henry pada diri sendiri lalu mengedikkan bahunya tanda tak peduli.

“Kau dari mana pagi-pagi tadi?” tanya Sungmin saat Kyuhyun telah duduk di sebelahnya.

“Baru ada misi rahasia,” jawab Kyuhyun tak acuh.

“Cih! Misi rahasia mwoya.”

“Hyung, kau memakan coklatku?” seruan Henry pada Eunhyuk terdengar hingga ke ruang televisi.

“Tentu saja tidak,” jawab Eunhyuk tak terima.

“Kenapa coklatku berkurang satu,” gumam Henry.

Eunhyuk mengangkat kepala dari kegiatan tak pentingnya untuk melihat Henry. “Kau tau pria yang sedang duduk di depan televisi sambil makan sereal itu?” tanya Eunhyuk.

“Kyuhyun hyung?” balik tanya Henry memastikan.

“Dia yang mengambil coklatmu.”

Henry bergegas menemui Kyuhyun. “Hyung. Kau mengambil coklat tanpa seijinku?” tuduh Henry.

“Ah, itu karena kau masih tidur jadi aku tidak berani membangunkanmu. Tapi aku sudah mengatakan terimakasih padamu tadi,” jawab Kyuhyun santai.

-oooOooo-

Beijing, China.

“Xie xie,” Morin berucap ramah pada Supir taksi yang telah mengantarkannya sampai ke rumah.

“Bu xie,” supir taksi itu menjawab dengan sopan.

Morin menatap rumahnya penuh dengan kerinduan. Sudah sangat sejak lama dia tak merasakan kenyamanan rumahnya.

“Agashi!” pekik kepala pelayan saat melihat Morin yang berdiri di undakan paling bawah rumahnya.

“Bibi Jung,” balas Morin manja lalu segera mendapat pelukan dari kepala pelayannya itu. Semua pelayan di rumah Morin memang asli orang Korea jadi selama di rumah tidak asing penggunaan bahasa korea.

“Nona muda Morin bagaimana kabar anda?” tanya Bibi Jung.

“Sangat baik. Bagaimana dengan bibi?”

“Baik nona,” jawab bibi Jung dengan mata berkaca-kaca saat memperhatikan Morin dari ujung kepala hingga ujung kaki

“Kenapa bibi justru menangis saat Morin pulang,” rajuk Morin.

“Bibi menangis bahagia. Sudah lama nona tidak pulang ke Beijing. Bibi sangat merindukan nona Morin,” ucap bibi jung mengambil alih tas ransel Morin.

Kali ini Morin tidak ingin berdebat dengan kepala pelayannya dan hanya membiarkan ranselnya berpindah tangan.

“Apa nona akan pindah ke Beijing lagi?” tanya bibi Jung dengan senyum penuh harapan.

“Morin tidak mungkin meninggalkan kuliah bibi.”

Bibi Jung hanya mengangguk-angguk paham. “Tapi nyonya akhir-akhir ini bilang bahwa Nona muda akan kembali ke rumah.”

Morin menoleh terkejut pada bibi Jung. Dia sama sekali tak memberitahu ibunya akan kedatangannya tapi bagaimana mungkin ibunya bisa tahu dia akan pulang ke Beijing.

“Morin!”

Belum sempat Morin bertanya lebih jauh, pekikan lain menyusul dari arah puncak tangga.

Morin melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah pada sosok gadis yang lebih muda beberapa tahun darinya itu.

“Kau pulang?” serunya riang sambil berlari-lari kecil menuruni tangga.

“Kau merindukanku?” tanya Morin saat Naya berhenti tepat dihadapannya.

“Sangat merindukanmu,” ucapnya beralih memeluk Morin erat.

Morin terkejut dengan perlakuan Naya. “Jangan memelukku terlalu erat. Aku tak bisa bernafas.”

Naya tak mempedulikan protes Morin tapi justru mempererat pelukannya pada Morin.

“Ya! Naya-ssi!” teriak Morin.

“Muahaha,” Naya tertawa terbahak mendengar teriakan Morin. Sudah sejak sangat lama dia tak mendengarkan teriakan Morin seperti itu. “Kenapa kau pulang?”

“Karena kau merindukanku,” jawab Morin dengan ekspresi sok coolnya.

“Aku tidak merindukanmu!”

“Tadi siapa yang mengatakan sangat merindukanku?” sindir Morin.

“Aku hanya berpura-pura dihadapanmu. Sejujurnya aku sama sekali tak merindukanmu,” jawab Naya melipat tangannya di dada.

“Jinjja?” goda Morin memainkan-mainkan dagu Naya.

“Ya! Im Morin!” teriak Naya kesal.

“Ahaha,” tawa Morin senang.

“Nona muda Naya, biarkan nona muda Morin istirahat. Karena pasti dia sangat lelah setelah perjalanan jauh dari Korea,” bibi Jung memperingatkan.

Naya hanya mendengus pelan. “Arraseo. Aku akan mengantarmu ke kamar. Kajja.”

Morin menuruti apa yang Naya lakukan padanya.

“Tada~” seru Naya riang setelah membukakan pintu kamar Morin.

Morin menatap penuh kerinduan pada kamarnya lalu mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya. Menyentuh setiap benda yang ada di dalamnya. Tidak ada yang berubah. Sama persis seperti kamarnya sebelumnya. Morin menyentuh bed covernya lalu mulai duduk di ranjang, memperhatikan langit-langit kamarnya yang tinggi. Di sisi lain, Naya bercerita panjang lebar tanpa Morin sedikitpun menangkap apa yang Naya ceritakan padanya.

“……. Sang Hoon oppa baru datang kemari beberapa hari yang lalu. Dia bilang dia baru pulang dari Korea menemuimu.”

Morin mengalihkan pandangannya menatap Naya. “Sang Hoon oppa?”

“Ne. Kalian pasti memiliki waktu yang menyenangkan disana. Apa Sang Hoon oppa menyatakan perasaannya yang sesungguhnya padamu?” tanya Naya antusias.

Morin heran, sejak kapan Naya berubah menjadi gadis cerewet seperti ini.

“Apa kau tidak tahu? Dia jauh-jauh pulang dari Kanada karena ingin mengatakan hal itu padamu,” lanjut Naya tak menyadari perubahan pada raut wajah Morin.

“Dia banyak cerita padaku. Betapa dia sangat merindukanmu dan….”

“Honey.”

Belum sempat Naya melanjutkan ceritanya, ibu mereka muncul dari arah pintu dengan senyum khasnya lalu dengan gerakan gesit menghampiri Morin dan memeluknya erat.

“Eomma sudah menunggu-nunggu kepulanganmu,” ucap ibunya mengusap lembut punggung Morin.

Morin hanya mengeryitkan dahinya beberapa saat namun segera merubahnya kembali ke wajah normal saat pelukan antara dirinya dan ibunya berakhir.

-oooOooo-

Beijing, China. February 15, 2013.

“Nona ingin sesuatu yang lain?” tanya bibi Jung setelah pelayan meletakkan segelas jus wortel di meja.

“Aniya,” jawab Morin tersenyum lembut.

“Kalau begitu saya akan meninggalkan nona. Jika ada yang ingin nona inginkan, nona bisa memanggil saya.”

“Bibi Jung,” cegah Morin sebelum bibi Jung beranjak pergi dari taman. “Kapan appa akan pulang dari Jepang?”

“Jeosong hamnida. Bibi kurang tahu nona,” jawab bibi Jung sopan.

Morin mengangguk mengerti. “Gwenchana.”

Bibi Jung kemudian pergi meninggalkan Morin sendirian.

Morin menggerak-gerakkan ayunan kayunya pelan. Sampai saat ini Morin belum berbicara tentang hubungannya dengan Kyuhyun pada ibunya. Dia berencana mengatakannya sekaligus pada ayahnya. Tapi sampai kapan dia akan tinggal di Beijing sedangkan dia sendiri tidak tahu kapan ayahnya akan pulang dari Jepang.

“Aigoo,” desah Morin pelan. Pusing.

Morin melirik ponsel di sampingnya lalu mengambilnya dan berniat menghubungi Kyuhyun.

“The number you’re calling……” Morin mematikan panggilannya lalu mulai menghubunginya kembali. Namun lagi-lagi Morin hanya mendapati suara dari operator.

“Aigoo,” desah Morin semakin pusing.

-oooOooo-

Bangkok, Thailand.

“The number you’re calling…………”

Kyuhyun melempar kesal ponselnya ke atas sofa. Sudah sebanyak 4 kali dia mencoba mengubungi Morin dan sebanyak 4 kali pulalah dia hanya mendapati suara operator.

“Berada di belahan bumi sebelah mana sebenarnya dia. Apa dia ada di Antartika,” omel Kyuhyun frustasi.

Drrttt.. Drrttt..

Kyuhyun dengan sigap segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

From: Manager Hyung

Segera turun dalam beberapa menit lagi.

“Aish jinjja,” kesal Kyuhyun kembali melemparkan ponselnya ke sofa.

Ckrek.

“Manager hyung menyuruh kit…..” Henry melongokkan kepalanya ke dalam kamar Kyuhyun dengan wajah riangnya sebelum akhirnya berubah mendung saat mendapat hardikan dari Kyuhyun.

“Arraseo!”

Henry menutup kembali pintu kamar Kyuhyun kalem.

“Mereka pikir aku bocah. Tidak perlu mengingatkanku berkali-kali,” omel Kyuhyun meraih backpacknya dari atas ranjang lalu segera pergi keluar kamar.

Kyuhyun melangkah dengan langkah sebal di sepanjang koridor hotel sebelum akhirnya berhenti teringat androidnya yang tertinggal di kamar hotel dan segera berputar kembali ke kamar.

“Benda kecil itu sungguh menyusahkan,” lagi-lagi Kyuhyun masih menggerutu saat membuka pintu kamar.

Drrttt.. Drrttt..

Drrttt.. Drrttt..

“Arraseo arraseo. Kau bawel sekali,” gerutu Kyuhyun pada suara getar ponselnya yang diyakininya dari manager hyung yang memintanya untuk segera turun ke loby.

Kyuhyun menyambar ponselnya dalam gerakan cepat. “Jackpot,” seru Kyuhyun saat membaca nama rabbit di screen ponselnya.

Kyuhyun berdeham sekali sebelum menjawab panggilan telepon dari Morin. “Hmm.”

Tut tut tut.

Sambungan telepon terputus.

Drrttt.. Drrttt..

Drrttt.. Drrttt..

“Kau jangan main-main denganku. Seharian aku menghubungimu tapi tidak aktif dan tiba-tiba saja tadi kau mematikan sambungan begitu saja,” hardik Kyuhyun.

Tut tut tut.

“Aish jinjja!” kesal Kyuhyun lalu melakukan panggilan ulang pada nomor Morin.

“Kenapa kau menghubungiku?” jutek Morin.

“Kenapa kau mematikan telepon?” balas Kyuhyun dingin.

“Aku jauh-jauh menelponmu dari Beijing bukan untuk mendengar teriakan-teriakan marahmu. Biaya telepon mahal dari sini,” seru Morin.

“Kalau begitu tak usah menghubungiku!”

“Terserah kau saja.”

Tut tut tut.

Kyuhyun menjilat bibirnya kesal. Bagaimana mungkin dia bisa dihadapkan pada gadis menjengkelkan seperti Morin.

“Bisakah kau lebih cepat? Atau kau tak mau sarapan dan langsung pergi ke acara?” tanya manager hyung yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu.

“Aku akan sarapan,” jawab Kyuhyun memasukkan ponsel ke saku bagian depan tasnya dan segera bergegas menyusul manager hyung.

-oooOooo-

Beijing, China.

Morin menatap langit-langit kamarnya. Disampingnya, Naya berbaring dengan tenang, menggunakan gaun tidur putih yang sama dengan yang dikenakannya.

“Naya?” panggil Morin pelan.

“Eung?” sahut Naya pelan.

“Kau tidur?”

“Ani. Wae?” jawab Naya menolehkan sedikit kepalanya untuk menatap Morin.

“Uhm… Tentang Sang Hoon oppa. Tidakkah kau merasa dia berubah?”

“Berubah?” balik tanya Naya. Tanpa melihatpun Morin dapat membayangkan bagaimana ekspresi Naya saat ini. “Ani. Dia masih seperti Sang Hoon oppa yang kita kenal dulu. Pria yang selalu kau impikan untuk menjadi suamimu,” kikik Naya.

Morin tersenyum getir.

“Wae?” tanya Naya merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersila menatap Morin.

“Terkadang apa yang menjadi keinginan kita saat kecil tak lagi menjadi harapan kita saat dewasa.”

“Apa maksudmu?” tanya Naya bingung.

Morin hanya menoleh pada Naya sambil tersenyum lembut.

“Jangan bilang kau sekarang tidak menyukai Sang Hoon oppa,” pekik Naya. “Omo! Morin. Kau pasti bukan Morin.”

“Lalu kau pikir aku siapa,” jawab Morin dengan nada datar malas khasnya.

“Bagimana mungkin? Apa karena dia terlalu lama meninggalkanmu? Atau karena kau menemukan pria lain yang kau cintai?” tanya Naya menuntut.

Morin ragu beberapa saat namun pada akhirnya mengangguk. Tidak ada salahnya jika dia menceritakan yang sebenarnya pada adiknya sendiri.

Naya menutup mulutnya dengan terkejut. Terlalu berlebihan bagi Morin.

“Jinjja? Bagaimana mungkin?”

“Tidak ada yang tidak mungkin.”

“Apa pria itu sangat tampan?”

Morin hanya mengangguk.

“Lebih tampan dari Sang Hoon oppa?” tanya Naya lagi.

Lagi-lagi Morin hanya mengangguk. “Dia… Sempurna. Terlalu sempurna bahkan hanya untuk kau yakini keberadaannya.”

“Taylor Lautner?” tanya Naya berlebihan.

Morin menatap Naya tajam. “Robert Pattinson.”

“Jinjja?” pekik Naya sekali lagi. “Daebak.”

Morin tak dapat menahan tawanya saat menyadari bahwa dia membandingkan Kyuhyun dengan Robert Pattinson.

“Tapi Morin, bagaimana dengan rencana perjodohanmu dengan Sang Hoon oppa?” tanya Naya. Ekspresi riang yang sebelumnya memenuhi wajahnya hilang seketika.

Morin memejamkan matanya beberapa saat. Teringat kembali akan rencana awalnya kembali ke Beijing. “Aku akan bicara pada eomma.”

“Tapi eomma……”

“Aku tahu bagaimana sifat eomma,” potong Morin. Dia tak perlu mendengar penjelasan dari Naya tentang bagaimana sifat ibu mereka. Morin sudah tahu. Sudah sangat cukup tahu.

-oooOooo-

Beijing, China. February 16, 2013.

“Eomma eodiso?” tanya Morin pada bibi Jung saat tak dapat menemukan ibunya di dalam kamarnya.

“Nyonya besar ada di ruang kerja. Apa ingin bibi panggilkan nona?”

“Aniya. Morin akan menemuinya sendiri,” cegah Morin lalu meninggalkan bibi Jung setelah mengucapkan terima kasih.

Morin mengetuk pintu ruang kerja ibunya sepelan mungkin. Dan setelah mendengar jawaban halus dari ibunya, Morin mendorong pintu terbuka dan masuk ke dalam ruang kerja ibunya.

“Honey?” kaget ibu Morin saat melihat Morin yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya.

“Eomma akan pergi?” tanya Morin saat melihat ibunya telah berpakaian rapi.

Ibunya hanya mengangguk.

Morin menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari meja kerja ibunya lalu mengangguk mengerti sebagai jawaban atas ucapan ibunya.

“Sepagi ini?”

“Ibu hanya tidak ingin terlambat,” jawab ibunya santai kembali membaca entah apa yang ada di atas meja.

“Eomma jangan lupa untuk istirahat yang cukup,” ucap Morin tersenyum penuh rasa sayang pada ibunya.

“Arraseo,” jawab ibunya membalas senyum Morin.

Beberapa saat tak ada pembicaraan. Morin hanya memain-mainkan bibirnya dengan gelisah.

“Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan pada eomma Honey?” tanya ibunya penuh selidik saat melihat tingkah Morin.

Morin mengangguk sekali.

“Katakan,” suruh ibunya tersenyum.

“Eomma yakin tak akan terlambat untuk menghadiri perjanjian eomma?” tanya Morin memastikan.

“Mungkin sedikit terlambat tidak masalah,” jawab ibunya santai menurunkan kacamatanya.

“Ini tentang Cho Kyuhyun,” ucap Morin pelan. Sepertinya dia tak perlu lagi berbasa-basi karena pada akhirnya semua pembicaraan akan mengarah pada satu orang, Cho Kyuhyun.

Detik berikutnya Morin dapat melihat perubahan ekspresi yang terjadi pada ibunya saat mendengar nama Cho Kyuhyun disebut.

“Eomma tahu siapa dia?”

“Memangnya siapa dia?” balik tanya ibunya sambil kembali memasang kaca mata baca dan kembali membaca sesuatu di atas meja.

“Eomma, Morin mohon jangan bersikap seperti ini pada Morin.”

“Apa maksudmu honey?”

“Kenapa eomma hanya diam saja dan bersikap seolah-olah eomma tidak tahu apa-apa? Morin tahu sebenarnya selama ini eomma menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Morin selama di Seoul,” tuntut Morin.

“Jangan bicara yang tidak-tidak honey.”

“Eomma!” seru Morin dengan nada tinggi.

Ibu Morin tampak terkejut dengan apa yang baru saja Morin lakukan padanya.

“Morin mohon, bicaralah yang sejujurnya pada Morin. Jangan bersikap seperti ini pada Morin.”

“Eomma tidak suka dengan pria bernama Cho Kyuhyun itu.

“……”

“Sang Hoon jauh lebih baik daripada dia,” jawab ibu Morin enteng masih tanpa mengalihkan tatapan dari kegiatan membacanya.

“Eomma belum mengenal sama sekali tentang Kyuhyun dan tiba-tiba saja eomma langsung mengatakan bahwa tidak menyukai Kyuhyun.”

“Tidak ada hal lain lagi yang perlu dikenal dari anak muda itu. Sedangkan untuk Sang Hoon kita sudah sama-sama mengenalnya sejak lama. Dia anak yang cerdas, baik, dan juga dari keluarga terpandang.”

“Morin tidak menyukai Sang Hoon!” ucap Morin tegas.

“Mungkin kau memang masih belum puas bermain-main dengan ‘pria muda’ itu.”

“Morin tidak bermain-main dengannya eomma. Morin mencintai Kyuhyun tak peduli apapun. Dan kelak Morin hanya akan menikah dengan Kyuhyun!”

Ibu Morin menatap Morin yang berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam. Tampak dari raut wajah keduanya bahwa mereka saat ini tengah bersitegang.

“Eomma. Morin hanya ingin kebahagian Morin sendiri. Ijinkan Morin untuk mencari arti kebahagian Morin sendiri tanpa harus eomma meminta Morin melakukan ini dan melakukan itu. Morin bukan anak kecil lagi. Morin juga bukan boneka eomma. Morin layak untuk bahagia. Ini hidup Morin,” ucap Morin dengan suara bergetar menghadapi ibunya yang terkenal sangat tegas.

“Dan apakah itu artinya kau tidak mengharapkan eomma sebagai ibumu lagi?”

Morin menatap terkejut pada ibunya. “Justru karena Morin sangat menyayangi eomma, Morin ingin eomma mengerti kondisi Morin.”

“Apa yang telah pria itu lakukan padamu sampai kau bisa berubah seperti ini?” tanya ibunya lagi berdiri dari duduknya, meraih tasnya dan berniat untuk pergi.

“Morin hanya lelah dengan semua yang eomma lakukan pada hidup Morin,” ucap Morin pelan.

Morin sadar, semakin dia membantah apa yang ibunya katakan semakin dia akan sulit mendapatkan apa yang dia inginkan saat ini. Morin memejamkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya menekuk kedua lututnya dan berlutut dihadapan ibunya.

“Morin mohon pada eomma. Selama ini Morin tak pernah meminta apapun pada eomma. Kali ini Morin berharap eomma akan mengabulkan apa yang Morin minta,” ucap Morin tak mampu lagi menahan air mata yang menggenang di sudut matanya.

Ibu Morin hanya menatap Morin beberapa saat sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Morin tanpa sepatah kata apa pun.

“Morin mohon,” ratap Morin namun ibunya terus saja berjalan meninggalkannya seorang diri.

Morin terduduk dengan lemas di lantai sambil menangis terisak. Dia tahu ini adalah akhir dari segalanya. Dia tidak bisa mempertahankan dua hal sekaligus, dia harus merelakan salah satu dari dua pilihan. Morin menutup mulutnya untuk menahan isakan tangisnya yang semakin lama semakin keras.

Beberapa detik kemudian ruangan ibunya kembali terbuka menampakkan Naya yang berlari ke arahnya karena terkejut melihat Morin terduduk sambil menangis terisak di lantai lalu buru-buru memeluk Morin.

“Morin jangan menangis lagi. Naya tahu selama ini hubungan persaudaraan kita memang tak seperti hubungan persaudaraan pada umumnya tapi yang perlu kau tahu aku tetaplah adikmu. Aku akan mendukung apapun keputusan yang akan kau ambil nantinya. Ketahuilah aku menyayangimu melebihi apapun. Jangan menyakiti dirimu seperti ini. Aku tahu kau adalah gadis yang kuat. Kau bisa melalui segala macam masalah apapun dan disini aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu ada di sisimu,” Naya meraih pundak Morin dan memeluknya.

Sedangkan Morin hanya terus menangis. Terlalu sulit untuknya mengatakan sesuatu saat ini. Bayangan Kyuhyun yang tersenyum padanya terus saja berputar-putar di kepalanya.

-oooOooo-

Morin’s room.

Drrttt.. Drrttt..

Drrttt.. Drrttt..

Evil Kyu calling…….

-to be continue-

Advertisements