[Our Line] #15 A Crossroad of Love

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Drrttt.. Drrttt..

Drrttt.. Drrttt..

Evilkyu calling…….

Morin hanya menatap layar ponselnya yang berkedip-kedip menunjukkan nama Kyuhyun. Untuk saat ini, suara Kyuhyun berada diurutan pertama suara yang tak ingin dia dengar.

Morin menekuk kedua lututnya di depan dada, menyembunyikan kepala di antara tekukan yang dibentuk oleh kedua lututnya. Memikirkan apa yang akan dia lakukan, bagaimana dia harus mempertahankan hubungannya dengan Kyuhyun. Dia tak ingin jika hubungan yang selama ini berusaha dipertahankan harus berakhir begitu saja. Dia tak ingin berpisah dengan Kyuhyun di saat dia mulai merasakan cinta yang tulus untuk Kyuhyun. Morin menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan teriakan yang mungkin akan keluar dari bibirnya. Terlalu banyak pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya yang setiap detik membuat kepalanya terasa semakin berdenyut nyeri.

-oooOooo-

Bangkok, Thailand. February 17, 2013.

Tut……….. Tut………… Tut…………

Lagi-lagi Kyuhyun hanya mendengarkan nada tunggu. Kyuhyun menggigit-gigit bibir bawahnya seiring dengan setiap bunyi dari nada tunggu. Sudah berkali-kali dia menghubungi Morin tapi Morin sama sekali tak menjawab panggilannya.

“Apa dia marah padaku?” gumam Kyuhyun pelan.

“Wae?” sebuah tepukan pelan pada bahu Kyuhyun menyebabkannya kembali sadar akan dimana dirinya berada.

Kyuhyun menoleh dan mendapati Donghae yang menatap dengan tatapan ingin tahu andalannya.

“Kulihat kau terus saja menghubungi seseorang tapi sepertinya tidak berhasil. Panggilan sibuk?” tanya Donghae.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak diangkat,” jawab Kyuhyun singkat memandang keluar jendela van meski dia tak dapat melihat apa-apa selain jalanan yang gelap.

“Morin?” tanya Donghae lagi dengan nada yang tidak menunjukkan pertanyaan,

Kyuhyun mengangguk. “Tadi malam aku marah padanya dan mengatakan jangan hubungi aku lagi. Mungkin dia sekarang marah padaku karena itu. Padahal aku tak berniat mengatakan hal seperti itu padanya.”

“Morin bukan gadis seperti itu,” Donghae menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba posisi senyaman mungkin. “Percayalah.”

“……”

“Besok saat kita pulang, kau bisa menemuinya,” saran Donghae.

“Iya kalau dia sudah pulang,” gumam Kyuhyun pelan yang tak didengar Donghae.

-oooOooo-

Beijing, China. February 18, 2013.

“Nona Morin yakin akan kembali ke Seoul sekarang?” bibi Jung menatap Morin dengan tatapan sedih.

Morin tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.

“Tapi nona belum lama disini. Nona juga belum bertemu tuan besar. Apa nona yakin?” bibi Jung kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Morin.

“Bibi,” rengek Morin dan Naya bersamaan.

“Kau sungguh-sungguh tak ingin aku mengantarmu ke bandara?” tanya Naya.

Morin kembali mengangguk. “Jangan perlakukan aku seolah-olah aku hendak pergi ke medan perang,” omel Morin.

Naya dan bibi Jung hanya saling tersenyum mendengar omelan Morin.

“Arraseo,” pelan Naya.

“Bibi, aku pergi,” pamit Morin pada bibi Jung yang langsung memeluk Morin.

“Jaga diri nona baik-baik di Seoul. Pulanglah lagi saat nona liburan,” pesan bibi Jung.

“Arraseo bibi. Bibi juga jaga diri baik-baik.”

Morin beralih menatap Naya. Lalu buru-buru memberinya pelukan sayang.

“Aku menyayangimu,” gumam Naya pelan.

“Nado,” balas Morin melepas pelukannya dengan Naya. “Jaga diri baik-baik. Kau bisa mengunjungiku ke Seoul jika kau mau.”

“Jinjja?” pekik Naya.

Morin mengangguk.

Naya tersenyum senang lalu mengantar Morin ke taksi dan menutup pintu taksi.

“Saat kau sedih kau bisa menghubungiku, dua puluh empat jam aku siap menemanimu,” pesan Naya.

“Arraseo. Sampaikan salamku pada appa saat appa pulang,” ucap Morin sebelum akhirnya taksi beranjak pergi.

Naya melambaikan tangannya pada taksi yang semakin menjauh.

“Rumah akan kembali sepi,” keluh Naya.

Bibi Jung mengangguk menyetujui ucapan Naya. Lalu mereka berduapun kembali masuk ke dalam rumah.

Dari jendela di lantai dua, tampak nyonya Im yang menatap taksi kuning yang membawa Morin hingga menghilang dari pandangan. Kini jarak diantara dia dan putrinya semakin jauh.

-oooOooo-

Seoul, South Korea.

“Aish jinjja. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan,” lagi-lagi Kyuhyun menggerutu saat hanya mendengar nada tunggu. Sudah berhari-hari tak ada kabar apapun dari Morin. Dan bagaimanapun juga meski tak mengatakannya pada siapapun tapi Kyuhyun tetaplah mengkhawatirkan Morin. Dia juga merasa bersalah pada Morin karena telah mengatakan pada Morin untuk tak menghubunginya. Namun selama ini mereka berdua tidak pernah benar-benar marah hanya karena hal-hal semacam itu.

Kyuhyun kembali menghubungi Moirn, tak mempedulikan blitz dari kamera-kamera yang berkerumun di bandara.

“Terkadang aku khawatir dengan hubungan Morin dan Kyuhyun,” ucap Donghae serius pada Eunhyuk.

“Entahlah. Mereka tampak seperti sama sekali tak punya pengalaman dalam hal semacam ini tapi yang membuatku terkejut mereka masih bisa bertahan selama ini,” sahut Eunhyuk menatap punggung Kyuhyun.

“Kalian tak tahu kekuatan cinta?” Siwon tiba-tiba saja telah muncul di antara Eunhyuk dan Donghae.

Donghae dan Eunhyuk mengangguk-angguk serempak. Lalu mereka bertiga hanya diam memperhatikan gerak gerik Kyuhyun.

Kyuhyun memasukkan kembali ponselnya ke dalam salah satu saku tasnya, sepertinya tak ada gunannya lagi menghubungi Morin, jalan satu-satunya adalah pergi langsung ke rumah Morin dengan harapan dia telah kembali dari Beijing.

“Hyung,” panggil Kyuhyun pada manajernya.

“Wae?”

“Bisakah aku tidak pulang bersama kalian?”

“Apa maksudmu?” balik tanya manajernya.

“Aku tidak akan langsung pulang ke dorm.”

“Kau mau kemana?” lagi-lagi manajer hyung mencoba menginterogasi Kyuhyun.

Kyuhyun mengehal nafas kesal. Ini tak ada gunanya. Manajernya tak akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa memberi alasan yang masuk akal. Manajer hyung mensejajari langkah Kyuhyun menunggu jawaban dari Kyuhyun.

“Aku akan pulang ke dorm,” jawab Kyuhyun.

Manajer hyung mengangguk. “Good boy,” lalu mempercepat langkahnya mendahului Kyuhyun.

Kyuhyun mengatur letak maskernya, tiba-tiba saja dia merasa sesak menggunakan masker. Kyuhyun menoleh dengan iseng ke arah papan informasi kedatangan dan keberangkatan pesawat. Dan disana di bawah Bangkok tertulis Hongkong, 30 menit setelah kedatangan pesawat dari Hongkong.

Kyuhyun menghentikan langkahnya beberapa saat, berpikir bagaimana jika ternyata Morin baru pulang dari Beijing hari ini. Mungkin saja mereka bisa bertemu di bandara, hanya jika Kyuhyun mau menunggu beberapa menit lagi sampai pesawat benar-benar telah mendarat.

“Palli,” Sungmin menepuk bahu Kyuhyun menyuruhnya untuk segera kembali melanjutkan jalannya.

Kyuhyun melangkah dengan ragu menuju ke arah van yang telah siap. Tidakkah ini ide gila jika dia duduk di salah satu kursi lalu menunggu sampai Morin lewat di depannya padahal dia sendiri belum yakin benarkah Morin ada di penerbangan hari ini.

Baru beberapa detik van berjalan Kyuhyun sudah meminta manajer hyung untuk berhenti.

“Wae?” tanya manajer hyung.

“Hyung aku harus ke toilet,” ucap Kyuhyun meringis.

“Mwo? Untuk apa?”

“Kenapa kau harus menanyakan hal semacam itu,” jawab Kyuhyun buru-buru menggeser pintu van.

“Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu. Aku tidak akan lama,” pamit Kyuhyun lalu berlari kembali ke dalam bandara.

“Aish! Anak itu. Oh, ngomong-ngomong kenapa dia harus membawa tas ke toilet?” tanya manajer hyung pada anak-anak lain.

“Dia hanya malas menaruhnya. Sejak dia masuk van dia tidak melepasnya tadi,” jawab Ryeowook tak acuh.

Sedangkan Donghae, Siwon dan Eunhyuk hanya saling berpandangan. Mereka mencium aroma mencurigakan.

Lalu detik berikutnya Donghae mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Kyuhyun.

To : Uri Maknae

Apa yang sedang kau rencanakan kali ini? Aku terang-terangan mencurigaimu.

Tak cukup lama muncul jawaban dari Kyuhyun.

From : Uri Maknae

Satu kali ini saja tolong bantu aku hyung. Kumohon. Jeongmal gomawo. Aku menyayangimu.

Donghae buru-buru menyerahkan ponsel miliknya pada Eunhyuk begitu membaca kalimat terakhir Kyuhyun. Kata-kata semacam itu sangat bukan tipe Kyuhyun.

“Apa yang dia rencanakan?” tanya Sungmin dari bangku di belakang kursi Donghae mencondongkan kepalanya ke arah Donghae.

“Molla,” jawab Donghae tanpa suara hanya gerak bibir.

“Haish anak itu kenapa lama sekali di toilet. Apa terjadi sesuatu?” gumam manajer hyung.

“Kalian tunggu disini, hyung akan melihatnya,” pesan manajer hyung turun dari van. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan van, manajer hyung kembali ke arah van.

“Kalian tidak akan macam-macam kan? Kalian tidak akan kabur dari van kan?” tanya manajer hyung memastikan.

“Hyung kami sudah dewasa,” jawab Siwon tenang.

Manajer hyung mengangguk lalu kembali melanjutkan jalan menuju toilet.

Beberapa menit kemudian ponsel Siwon berdering. Sebuah panggilan masuk dari manajer hyung.

“Ne hyung?” jawab Siwon.

“Apa Kyuhyun sudah kembali ke van? Aku tak menemukannya disini.”

Siwon terlihat ragu beberapa saat lalu menatap member satu persatu. Donghae tampaknya mengerti apa yang sedang ditanyakan manajernya lalu dia mengangguk.

“Ne,” jawab Siwon.

“Haish anak itu. Baiklah aku akan segera kembali kesana.”

“Ne,” jawab Siwon singkat lalu sambungan telepon terputus.

“Oh tidak, aku telah membuat kebohongan. Tuhan pasti akan marah padaku,” ucap Siwon panik. Baru beberapa menit yang lalu dia menunjukkan wajah tenangnya namun detik berikutnya dia telah berubah menjadi panik karena hukuman Tuhan yang mungkin akan diterimanya.

Member lain menatap Siwon dengan tatapan malas. Sudah menduganya.

-oooOooo-

“Ini benar-benar mengerikan,” gumam Kyuhyun begitu menutup pintu kamar mandi. Mengehela nafas lega untuk beberapa waktu.

Kyuhyun buru-buru melepas mantel yang dipakainya dan segera menggantinya dengan mantel yang baru dikeluarkan dari dalam backpacknya. Juga mengeluarkan kaca mata hitam serta topi. Setidaknya dia tidak boleh terlihat terlalu mencolok di antara orang-orang di bandara.

Ini benar-benar ide gila yang pernah dilakukannya. Bagaimana jika agensinya tahu tentang ini. Kyuhyun mencoba menenangkan diri. Dia percaya pada keluarganya.

Setelah mengamati pantulan dirinya di kaca akhirnya Kyuhyun berjalan keluar dari kamar mandi.

“Hanya lakukan ini satu kali dan jangan pernah mencoba untuk mengulanginya,” ucap Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Buk.

“Joseong hamnida,” ucap perempuan yang tak sengaja menabrak Kyuhyun membungkuk 90 derajat pada Kyuhyun.

Kyuhyun hanya balas membungkuk. Sama sekali tak berani menegakkan tubuhnya atau bahkan memandang ke arah perempuan yang membungkuk dihadapannya.

Perempuan itu lalu bergegas menjauh dari Kyuhyun.

“Rabbit?” Kyuhyun mengamati tubuh perempuan itu semakin jauh darinya.

-oooOooo-

Morin menyandarkan kepala ke pintu taksi, menatap kendaraan yang datang dan pergi di bandara dengan tatapan kosong. Hembusan nafasnya memburamkan kaca dihadapannya, udara masih dingin meski sekarang telah berada di pertengahan Februari.

Morin menatap ponsel yang dipegangnya. Membuka kuncinya namun tak melakukan apa-apa. Hanya mengulangnya beberapa kali dan membiarkannya kembali terkunci.

“Hhhhh,” Morin menghela nafas pelan. Dihapusnya bekas uap air dari kaca menggunakan tangannya.

“Aigoo. Kenapa kursi di taksi ini nyaman sekali.”

“Joseong…?” Morin menoleh terkejut ke sampingnya.

“Ahjussi palliwa.”

Super taksi yang baru masuk ke dalam taksi menatap terkejut pada Kyuhyun.

“Palliwa.”

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Morin dingin.

“Apa yang aku lakukan disini?” ulang Kyuhyun. “Ya! Kenapa kau tak menjawab panggilanku,” seru Kyuhyun merebut ponsel dari tangan Morin dan mengecek banyaknya panggilan masuk darinya yang sama sekali tak dijawab Morin. “Apa sulitnya menjawab panggilan. Haish jinjja.”

“Neo michoseo aniya?”

“Oh. Kau puas?”

“Hhhhh,” lagi-lagi Morin hanya menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggunya. Dari pantulan kaca dia dapat melihat bahwa supir taksi berkali-kali melirik pada Kyuhyun.

“Ahjussi?” panggil Kyuhyun saat sadar bahwa supir taksi itu melirik penuh rasa penasaran padanya.

“N… Ne?” jawab supir taksi tergagap.

“Kau tau siapa aku?”

“Ne. Super Junior Kyuhyun,” jawab supir taksi itu yakin.

“Kau yakin tak salah mengenaliku?”

“Aku sangat yakin,” jawab supir taksi lagi menoleh ke arah Kyuhyun untuk meyakinkan.

“Jadi. Apa kau akan menyebarkan ini ke internet?”

“Ne?”

“Setidaknya kau harus punya foto kami berdua untuk lebih meyakinkan jika kau mau menyebarkan masalah ini ke internet,” ucap Kyuhyun santai.

“Ani. Aku tak akan melakukannya.”

“Aku juga berharap seperti itu,” jawab Kyuhyun lalu menoleh pada Morin sambil mengedikkan bahunya.

“Palli ka!” perintah Morin dingin.

“Kenapa kau tak menjawab panggilanku?” tanya Kyuhyun serius.

“Palli ka!” tegas Morin.

“Aku bertanya kenapa kau tak menjawab panggilanku.”

“Palli ka!” seru Morin.

“Anka!” balas Kyuhyun.

Morin memijit pelipisnya, putus asa. “Jangan membuat segalanya bertambah kacau.”

“Aku tak pernah membuatnya kacau sampai kau yang tiba-tiba membuatnya kacau.”

“Aku lelah.”

“Mwo? Kau lelah? Kau pikir aku tidak lelah?”

“Aku sibuk.”

“Kau sibuk? Kau pikir apa yang aku lakukan hanya bermain-main. Cih! Lihatlah sekarang kau tak mau menatapku saat kita bicara.”

“……”

“Aku menyempatkan waktu disela-sela kesibukanku. Tapi kau sama sekali tak mau menjawab panggilanku atau membalas pesanku. Lalu tiba-tiba sekarang kau beralasan kau sibuk.”

“Kau terpaksa melakukannya? Untuk apa kau melakukannya? Bahkan aku tak pernah memintamu untuk melakukannya.” Morin dapat melihat Kyuhyun sekarang mulai marah padanya. Tampak dari cara Kyuhyun menatap tajam dirinya.

“Ahjussi, berhenti disini. Antarkan tuan ini sampai ke tempat tujuan. Jangan berbuat macam-macam, aku akan mencatat nomor polisi taksi ini. Aku juga hafal dengan wajah ahjussi,” ancam Morin.

“N…Ne…” jawab supir taksi kembali terbata.

“Anio. Aku yang akan pergi. Gunakan taksinya,” ucap Kyuhyun pelan bersiap untuk turun dari taksi.

“Kau ingin aku mendapatkan masalah? Jangan bertindak sesuka hatimu.”

Kyuhyun dan Morin saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya Morin menghela nafas lalu berbalik hendak turun namun Kyuhyun menahan lengannya.

Morin melepas pegangan tangan Kyuhyun yang menahan lengannya lalu meninggalkan Kyuhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

-oooOooo-

SJ’s Dorm 11th Floor.

“Kau darimana saja?” tanya Sungmin saat Kyuhyun baru saja kembali ke dorm.

Kyuhyun tak mengacuhkan pertanyaan Sungmin dan langsung berjalan menuju kamarnya.

Sungmin hendak mengikuti Kyuhyun ke dalam kamar namun Eunhyuk mencegahnya.

“Dia terlihat tidak baik.”

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Sungmin.

“Molla.”

“Dengan Morin lagi?”

“Molla,” jawab Eunhyuk lagi karena dia memang tidak tahu.

“Haish jinjja. Kenapa selalu saja seperti ini. Benar-benar kekanakan,” keluh Sungmin melipat kedua tangan di dadanya.

“Bukannya wajar hal seperti ini.”

“Tapi tidak harus sesering ini. Mereka membuatku bosan,” lagi-lagi Sungmin mengeluh dan masih terus mengeluh saat kembali ke kamarnya.

“Dan apa sekarang dia mau tidur?” tanya Sungmin mengarah ke pintu kamar Kyuhyun yang tertutup. “Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran mereka.”

Kyuhyun melempar backpacknya ke meja lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Diremasnya rambutnya dengan kasar.  Dia bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Sebelumnya dadanya seperti akan meledak karena rasa rindunya pada Morin tapi kemudian semuanya menjadi seperti ini. Kyuhyun membalik tubuhnya. Membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Berusaha meredam teriakan yang keluar dari bibirnya.

Tok.. Tok.. Tok..

“Manajer sudah ada disini. Bukankah kau ada wawancara hari ini?”

Kyuhyun melempar bantal ke arah dinding. “Arraseo.”

-oooOooo-

Beijing, China. February 19, 2013.

Nyonya Im duduk termenung di dalam ruang kerjanya. Menatap meja dihadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya berkelana ke pertemuan dengan Seung Hoon beberapa jam yang lalu.

“Apa ini?” tanya nyonya Im saat Seung Hoon menyodorkan amplop coklat padanya.

“Anda akan tahu saat membukanya,” jawab Seung Hoon.

Nyonya Im menatap Seung Hoon beberapa saat lalu membuka amplop coklat dihadapannya.

“Apa-apaan ini?” kaget nyonya Im.

“Seperti yang anda lihat. Itu hanya foto putri anda dan… kekasihnya,” jawab Seung Hoon santai.

“Apa kau memata-matai Morin selama ini?”

“Bukankah anda juga melakukan hal yang sama dengan saya?” balas Seung Hoon.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya nyonya Im menatap tajam Seung Hoon.

“Saya belum tahu. Apa anda punya saran?”

“Jangan macam-macam.”

“Apa maksud anda?” tanya Seung Hoon mengerutkan dahinya.

“Aku ingin Morin bahagia.”

“Saya tahu. Morin akan bahagia jika bersama saya.”

“……”

“Apa anda tidak berfikir demikian? Apa anda tak menginginkan saya menjadi menantu keluarga Im?”

“Morin adalah putriku. Jadi jangan melakukan apapun yang dapat melukainya,” ancam nyonya Im bersiap pergi.

“Lalu apa anda pikir selama ini anda tidak melukai Morin?” tanya Seung Hoon tersenyum meremehkan.

Nyonya Im menarik pegangan laci dan mengeluarkan amplop coklat dari dalamnya. Dibukanya benang pengunci amplop dan dikeluarkannya beberapa lembaran foto dari dalam amplop. Diperhatikannya foto putrinya cukup lama sampai akhirnya ketukan di pintu menyadarkannya.

“Ne. Masuklah,” jawab nyonya Im sambil memasukan lembaran foto ke dalam amplop. Lalu mengembalikannya ke dalam laci dengan hati-hati.

Naya memperhatikan apa yang dilakukan ibunya dengan tatapan tajam.

Ibunya tersenyum pada Naya. “Ada sesuatu yg ingin kau bicarakan honey?”

“Apa yang baru saja ibu masukkan?”

“Hanya foto-foto kakakmu… Jadi, apa ada yang ingin dibicarakan dengan eomma?”

Naya menatap ibunya beberapa saat sebelum akhirnya angkat bicara. “Apa eomma puas membuat Morin menangis?”

“Ne?”

“Apa sebenarnya yang eomma inginkan dari Morin?”

“Ne?” ibunya masih tersenyum pada Naya. Sama sekali tak mengerti apa yg Naya tanyakan.

”Kenapa eomma melakukan ini pada Morin? Apa eomma bahagia melakukannya? Apa eomma pikir Morin akan bahagia jika menuruti apa yg eomma inginkan?” Ibunya hanya menatap Naya.

“Berhentilah mengedepankan ego eomma, cobalah berpikir layaknya eomma ada diposisi Morin.”

“Kau hanya belum mengerti Naya.”

“Belum mengerti? Di usia Naya ini? Lalu apa kelak eomma akan melakukan hal yg sama pada Naya? Jika jawabannya iya, Naya akan menolaknya mulai dari sekarang. Mungkin Morin memang anak penurut, tapi Naya tidak. Naya bukan Morin,” Naya mengakhiri pembicaraannya dan langsung berbalik keluar dari ruang kerja ibunya. Naya menutup pintu ruang kerja dengan sangat keras meninggalkan ibunya yang hanya menatap kepergian Naya dengan tatapan shock.

Bagaimana mungkin putri bungsunya berani berbicara seperti itu pada dirinya? Seberapa burukkah dia menjadi ibu hingga kedua anaknya membangkangnya seperti ini.

-oooOooo-

SJ’s Dorm 11th Floor.

“Kalian sudah melihat internet hari ini?” tanya Donghae mengalihkan tatapan dari satu member ke yang lainnya.

“Wae?” tanya Ryeowook dan Henry bersamaan.

Donghae mengulurkan ipadnya pada Donghae.

“Apa dia sudah gila?” seru Ryeowook.

“W…wae?” tanya Sungmin yang terkejut mendengar seruan Ryeowook.

“Kyuhyun bilang dia tidak pernah berpacaran sama sekali.”

“MWO?”

“Dan itu menjadi topik pencarian teratas,” Donghae manambahkan.

“Apa dia berkata tanpa berpikir terlebih dahulu?” ucap Eunhyuk.

“Itu mungkin Kyuhyun,” ucap Zhoumi saat mendengar suara pintu terbuka.

“Aku pulang~”

Semua member saling menatap dalam diam, menunggu Kyuhyun hingga akhirnya tiba di ruang tengah.

“Wae?” tanya Kyuhyun saat mendapati seluruh member menatapnya dengan tatapan menuduh.

“Kau sudah tahu kalau wawancaramu kemarin sudah keluar hari ini?” tanya Donghae.

“Mm hm. Pihak majalah memberitahuku tadi pagi,” jawab Kyuhyun tak antusias lalu melemparkan diri di atas sofa yang kosong.

“Kemarin saat aku tanya bagaimana wawancaramu kau bilang semua baik-baik saja tak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap Eunhyuk.

“Tentu saja. Ini bukan kali pertamanya aku diwawancara jadi apa yang harus dikhawatirkan.”

“Kau yakin?” imbuh Zhoumi.

“Tentu saja. Ada apa ini sebenarnya. Kenapa kalian membicarakan wawancaraku kemarin. Tidak seperti biasanya. Sejak kapan kalian tertarik dengan wawancaraku di majalah.”

“Apa kau juga tahu kalau kau sekarang menjadi topik yang paling banyak dicari di internet?” tatap Sungmin tajam.

“Jinjja? Aku memangnya kenapa? Apa yang telah aku lakukan?” tanya Kyuhyun menegakkan tubuhnya.

“Justru itu yang seharusnya kami tanyakan,” jawab Ryeowook menyerahkan ipad milik Donghae pada Kyuhyun.

“Neo pabo aniya? Apa kau tak berpikir bagaimana perasaan Morin saat mengetahui hal ini huh?” tanya Sungmin.

Kyuhyun tak menjawab dan masih menatap ke layar ipad yang dipegangnya.

“Kau tak seharusnya membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Atau semuanya akan berantakan,” ucap Donghae.

“Kau bukan lagi rookie dalam bidang seperti ini, seharusnya kau bisa menemukan jawaban yang lebih baik dari jawaban itu,” imbuh Ryeowook.

Kyuhyun mengangkat kepalanya lalu memandangai membernya satu persatu.

“Kami tak bermaksud menyudutkanmu,” ucap Eunhyuk yang melihat berubahan di wajah Kyuhyun. “Kami sudah menganggap Morin seperti keluarga jadi kami khawatir padanya. Mungkin ini akan berpengaruh pada hubungan kalian,” lanjut Eunhyuk mencoba memilih kalimat yang tepat untuk tak membuat maknaenya itu tersinggung.

“Jangan bertindak sesuka hatimu,” ucap Sungmin pelan sama persis seperti yang pernah dikatakan Morin padanya.

“Haish, jinjja,” Kyuhyun mengacak-acak rambutnya kesal lalu berjalan menuju kamarnya. Membanting pintu dengan suara sangat keras.

“Sepertinya dia memang belum dewasa,” ucap Henry dramatis memandang pintu kamar Kyuhyun.

Semua member menatap tajam pada Henry setelah mendengar ucapannya.

“Arraseo. Aku akan diam.”

-oooOooo-

Morin’s Home.

“Kau memang seharusnya mengatakan hal semacam itu,” ucap Morin mengangguk-angguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop dihadapannya.

“Super Junior Kyuhyun tidak pernah pacaran. Arraseo. Kau memang hebat.”

Morin menutup laptopnya cukup keras lalu mendekapnya di dada hendak membawanya ke kamar saat bel gerbang berbunyi.

“Siapa yang bertamu tengah malam seperti ini,” gumam Morin berjalan ke arah intercom.

“Buka gerbangnya, aku ingin bicara denganmu.”

Morin duduk diam berhadapan dengan Kyuhyun namun pandangannya tak tertuju pada Kyuhyun melainkan pada bantal sofa yang berada di pangkuannya. 3 menit telah berlalu tapi belum ada satu patah kata pun yang keluar dari salah satu bibir mereka.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Morin menghentikan kebisuan yang mungkin akan terus berlanjut.

“Kau marah padaku?” tanya Kyuhyun pelan.

“Untuk apa?”

“Artikel.”

“Menurutmu sebaiknya aku bersikap seperti apa?” tanya Morin memberanikan diri mengangkat pandangan pada Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas pelan. “Aku tak bermaksud mengatakan seperti itu… Aku hanya tak tahu harus menjawab apa, ini sulit… Aku benar-benar bodoh… Mianhe.”

“Ini sulit? Ini memang sulit. Jadi kenapa kau menyeretku dalam kesulitan ini?” tanya Morin menggenggam erat ujung bantal sofa.

“Ne?”

“Apa kau sadar bahwa jarak di antara kita terlalu besar. Terlalu sulit untuk kita terus bersama tanpa melukai salah satu pihak. Pernahkah kau berpikir tentang ini?”

“Kenapa kau mengatakan semacam ini?”

“Aku lelah. Aku lelah seperti ini terus. Aku terlalu tertekan dengan hubungan ini. Aku sesak tiap kali memikirkan hubungan kita… Aku ingin menyerah,” seru Morin dengan suara bergetar.

-oooOooo-

SJ’s Dorm 11th Floor.

“Hyung, kau belum tidur?” tanya Kyuhyun yang mendapati lampu dapur masih menyala ketika dia tiba di dorm.

“Ya! Kau darimana saja? Kenapa jam segini baru pulang?” hardik Sungmin setelah mengecek jam yang tergantung di dinding dapur.

“Menemui Morin,” jawab Kyuhyun pelan. Ditariknya kursi dihadapan Sungmin.

“Wae? Apa terjadi sesuatu diantara kalian? Kenapa wajahmu seperti itu?”

“Molla,” gumam Kyuhyun sambil menuang air mineral ke dalam cangkir bersih di tengah meja.

“Molla? Haish, bagaimana mungkin.”

“Kami hanya membicarkan ini dan itu,” lanjut Kyuhyun lalu meneguk air mineralnya.

“Kedengarannya bagus,” sahut Sungmin menangguk-angguk. “Cepatlah pergi tidur. Seharusnya kau tak pergi keluar hari ini. Besok pagi-pagi kita harus sudah berangkat ke bandara.”

“Arraseo,” jawab Kyuhyun tersenyum pada Sungmin.

“Aku yakin pasti terjadi sesuatu dengan mereka. Dia tidak pernah selemas dan tidak bersemangat seperti sekarang ini,” gumam Sungmin. “Jalja,” lanjutnya saat melihat Kyuhyun menutup pintu.

Kyuhyun hanya mengangguk sekilas lalu mulai menutup pintu pelan. Tangannya meraba saklar lampu di dinding namun mengurungkan niat untuk menyalakannya. Dibiarkannya kamar tetap dalam kondisi gelap. Karena sepertinya memang tak akan ada bedanya.

Kyuhyun membaringkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Matanya menatap menembus kegelapan namun tak ada yang dapat dilihatnya. Kecuali hitam. Sama halnya dengan hubungannya. Terlalu gelap. Sulit untuk melihat bagaimana masa depan hubungannya dengan Morin.

Kyuhyun memejamkan mata, ingatannya kembali pada percakapannya dengan Morin.

“Selama ini kita telah melewati jalan yang sama bersama-sama… Meski jalan yang kita lalui sulit namun kita mampu bertahan hingga sejauh ini… Dan sekarang kita berada di persimpangan jalan… Akan lebih baik jika kita berhenti sejenak untuk kembali memikirkan apa kita masih akan melanjutkan jalan kita bersama… atau kita akan mengambil jalan masing-masing,” ucap Morin memandang lurus ke depan.

Kyuhyun menegakkan kepalanya menatap Morin lembut. Digenggamnya tangan Morin erat.

“Tidak perlu memaksakan diri untuk melanjutkan jika memang punya keraguan,” ucap Morin tersenyum pada Kyuhyun. Namun Kyuhyun dapat melihat lebih dari hanya sebuah senyuman. Ada banyak yang disembunyikan di balik sebuah senyuman. “Mari tidak saling bertemu untuk beberapa waktu.”

“Bukankah terlalu beresiko berada di persimpangan jalan dalam keadaan gelap?” gumam Kyuhyun pelan. Bagaimana seandainya dia tetap menginginkan bersama-sama melalui jalan yang sama dengan Morin sedangkan Morin menginginkan sebaliknya?

“Hhhh,” Kyuhyun menghela nafas. Ditariknya selimut hingga menutupi dagunya. Memejamkan mata, mencoba untuk tidur meski dia yakin tidak akan bisa tidur untuk saat ini.

-oooOooo-

Morin’s Home.

Morin menatap cahaya dari lampu tidur di samping ranjangnya. Berkali-kali dia memainkan saklar lampu, menghidupkannya kemudian kembali mematikannya. Jam di meja menunjukkan pukul 4 pagi namun matanya sama sekali belum terpejam sejak semalaman.

“Hhhh,” lagi-lagi Morin hanya bisa mendesah. Bingung apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Entahlah apa yang terjadi pada dirinya hingga dia berubah menjadi gadis yang terlalu sensitif. Sesungguhnya dia tak terlalu marah pada Kyuhyun karena artikel itu, tapi dia sendiri tak tahu kenapa dia bersikap seolah-olah Kyuhyunlah yang menyebabkan semuanya menjadi seperti ini. Dia hanya berpikir bahwa cepat atau lambat dia memang harus mengatakan hal itu pada Kyuhyun. Terlepas dari ada atau tidaknya artikel itu. Ibunya sudah sangat dengan jelas menentang hubungannya dengan Kyuhyun jadi masih haruskah dia mempertahankannya. Masa depan hubungannya ibarat fatamorgana, semakin dia dan Kyuhyun mendekat, semakin jauh masa depan itu, semakin panjang jalan yang harus mereka tempuh. Mengejar fatamorgana sama halnya mengejar sebuah kekosongan yang tak akan pernah terjadi. Tak akan pernah memiliki ujung.

Morin memejamkan mata, dan ingatan tentang percakapannya dengan Kyuhyun sebelum Kyuhyun pergi kembali terngiang-ngiang di benaknya.

“Katakan padaku sejujurnya, apa yang kau harapkan dari hubungan kita?” tanya Kyuhyun menatap Morin menuntut jawaban.

“Tidak seharusnya aku menjawab sekarang. Pikiran sesaat yang tidak benar-benar dipikirkan hanya akan disesali kedepannya,” jawab Morin tersenyum lembut pada Kyuhyun.

“Lalu seandainya salah satu dari kita tetap menginginkan untuk bersama apa itu bisa terwujud?” tanya Kyuhyun lagi. Ada keseriusan dari sorot matanya. Namun bagi Morin itu tetaplah sulit.

“Kenapa dia justru membuatnya semakin sulit.”

-To be Continue-


a/n:

annyeong 🙂 kkk, aku datang membawa lanjutan our line.

untuk yg udah mau komen makasih. untuk yg belum mau komen semoga segera mau komen 😀

Advertisements