[Our Line] #16 The Sense of An Ending

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Super Junior’s Dorm 11th Floor

February 21, 2013

 

Palli palli,” seru manajer menepuk-nepuk tangannya, memberi aba-aba agar semua member mempercepat kegiatan yang mereka lakukan . “Ya! Kyuhyun, telan makananmu. Jangan terlalu bermalas-malasan.”

“Mm hm,” gumam Kyuhyun sambil mengunyah makanan yang terasa hambar di mulutnya.

Hyung, makanan harus dikunyah dengan baik untuk membantu proses pencernaan,” protes Eunhyuk dengan mulut penuh nasi.

“Karena kalian telah melakukannya setiap hari tak masalah untuk hari ini kalian hanya perlu menelannya setelah 3 kali kunyahan,” jawab manajer berkali-kali mengecek tabletnya kemudian bergegas menuju kamar mandi dan mengetuk pintu dengan sedikit brutal. “Kenapa kau lama sekali di kamar mandi. Palliwa.”

Arraseo~” teriak Henry dari dalam kamar mandi.

Sedangkan Sungmin yang telah siap paling awal hanya duduk memperhatikan kelakuan setiap membernya sambil menggeleng-geleng.

“Kalian semua sudah siap?” tanya manajer sekali lagi memperhatikan seluruh member seksama sebelum membuka pintu dorm.

Ne.”

“Tidak ada yang ketinggalan?”

Ani.”

Kaja.”

“Aku takut perutku kembali mulas ditengah perjalanan,” keluh Henry.

“Salah siapa makan terlalu banyak. Kau pikir perutmu perut gajah,” hardik Eunhyuk.

“Aku benar-benar kelaparan. Semalam aku tidak makan malam,” lanjut Henry.

Eunhyuk hanya menggeleng menatap member SJM termuda itu.

“Kau tidak tidur semalam?” tanya manajer mensejajari langkah Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengangguk lemah.

“Ada lingkaran hitam di bawah matamu,” ucap manajer hyung menunjuk lingkaran di bawah matanya sendiri.

“Aku akan banyak tidur di dalam pesawat.”

“Sudah ku bilang jangan main starcraft sampai dini hari jika keesokan harinya kita akan pergi ke luar negeri.”

Arraseo~” jawab Kyuhyun patuh tak ingin berdebat lebih panjang dengan manajernya.

“Tak ada laporan sebelum pergi?” tanya Sungmin yang mensejajari langkah Kyuhyun.

Kyuhyun memperhatikan layar ponselnya yang gelap beberapa saat. Sampai saat ini, dia masih belum yakin apa yang dia inginkan, apa yang sebenarnya dia harapkan dengan hubungannya dan Morin. Jika mengingat perkataan Morin bahwa dia lelah dengan hubungan mereka, jujur Kyuhyun sendiri pun juga lelah. Lelah dengan semua kebohongan yang harus dia katakan saat orang lain bertanya tentang statusnya. Lelah merasa bersalah pada penggemarnya karena kepura-puraan yang selalu dia tunjukkan pada mereka. Lelah merasa iri pada orang lain yang bebas berkencan di tempat umum tanpa takut untuk menyakiti orang lain.

Ya! Cho Kyuhyun!”

“Huh?” Kyuhyun melihat manajernya yang menatapnya jengkel lalu segera masuk ke dalam lift.

Sungmin meremas bahu Kyuhyun, memberinya senyuman sekilas. Dari semua membernya, Sungmin memang yang paling sensitif dengan perubahan perilaku yang Kyuhyun alamai. Mungkin sekarang tanpa Kyuhyun mengatakannya, Sungmin tahu bahwa Kyuhyun tengah menghadapi masalah.

Kyuhyun membalas senyum Sungmin, meyakinkan bahwa semua baik-baik saja yang dibalas Sungmin dengan anggukan.

-ooOoo-

Seoul University

 “Saya berharap kalian semua mampu menyelesaikan tugas ini tepat waktu. Untuk tugas kali ini saya tidak akan lagi mentolerir keterlambatan pengumpulan.”

Morin mengarahkan pandangan kepada dosen pengajarnya, namun otaknya tak benar-benar mampu berkonsentrasi mencerna setiap perkataan dosennya. Suara-suara seolah hanya keluar masuk dari telinganya tanpa dia benar-benar mengerti apa maksud dari setiap perkataan yang diterima oleh indera pendengarannya.

Pikiran Morin kosong, tangannya sesekali menekan tanda kunci di ponselnya untuk menyalakan layar ponselnya. Dia memperhatikan foto Kyuhyun di layar ponselnya. Foto di bandara sebelum keberangkatan SJM ke China. Morin memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata Kyuhyun yang walau samar namun tertangkap indera penglihatannya. Dia tak pernah ingin memberikan waktu yang sulit pada Kyuhyun, tapi terkadang rasa lelah yang dia coba tenggelamkan kembali muncul ke permukaan. Walau dia sering meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa semua rasa lelah yang dia rasakan ini adalah sebuah bentuk resiko dari menjalin hubungan dengan seorang idol, tapi terkadang Morin tak mampu mencegah betapa dia lelah melihat kebohongan-kebohongan yang selalu Kyuhyun katakan ketika berada di depan kamera. Betapa dia terkadang ingin diakui sebagai kekasih Kyuhyun, betapa juga dia ingin berteriak pada semua orang bahwa Kyuhyun adalah miliknya. Betapa dia ingin bebas berjalan bergandengan tangan dengan Kyuhyun di tempat umum. Walaupun dia tak pernah mengatakannya pada Kyuhyun, tapi dia sering memikirkannya bahkan saat bersama dengan Kyuhyun sekalipun. Dan terkadang dia tak pernah bisa mencegah dirinya untuk berprasangka, mungkinkah Kyuhyun benar-benar mencintainya atau cinta yang dia rasakan ini hanya cinta sepihak.

Morin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.

“…jadi bagi kalian semua lebih baik segera mengerjakan tugas setelah perkuliahan selesai. Dan jika ada keraguan atau kesulitan kalian bisa mencari literature di perpustakaan…”

-ooOoo-

Beijing, China

“Jadi kau bilang tadi dia sedang ada di Taiwan?”

Ne, Sajangnim.”

Pria yang dipanggil Sajangnim itu diam beberapa saat sebelum akhirnya kembali bertanya pada asistennya. “Sampai kapan?”

“Besok. Karena lusa mereka akan terbang ke Chengdu Sajangnim.”

Lagi-lagi Sajangnim diam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pikirannya sendiri lalu mengangguk-angguk.

“Urus pertemuan untuk malam ini.”

“Tapi malam ini anda memiliki janji untuk makan malam bersama Direktur Kim beserta putranya.”

“Begitukah?… Bagaimana jika makan malam berempat?”

Sajangnim…”

“Hahaha, aku tahu itu bukan ide yang baik. Kalau begitu batalkan janji makan malam dengan direktur Kim hari ini. Sampaikan permintaan maaf dariku.”

“Ah. Pastikan jangan meminta maaf dengan tangan kosong,” imbuh Sajangnim.

Ne. Algaeshimnida Sajangnim,” ucap asisten pribadinya lalu beranjak pergi meninggalkannya sendiri di ruangannya.

Sajangnim meletakkan ballpoint yang sejak tadi dimainkannya, mengatur posisinya agar lebih nyaman di atas kursi kerja putar berpunggung tinggi kemudian menyandarkan punggungnya ke punggung kursi.

“Cho Kyuhyun.”

-ooOoo-

UPI Academic. Taiwan.

February 22, 2013

Annyeong haseyo,” Kyuhyun membungkuk ramah pada beberapa staf pengajar UPI ketika berpapasan dengannya di koridor sekolah.

Beberapa siswa yang kebetulan juga adalah penggemar Kyuhyun berbaris di sepanjang koridor menyambut kedatangannya. Kyuhyun hanya tersenyum ramah pada mereka sambil sesekali melambaikan tangan dan mengomentari beberapa hal tentang jam sekolah.

Kyuhyun tiba di depan ruangan dengan pintu coklat bertuliskan kepala sekolah kemudian mengetuk pintunya pelan.

Appa,” seru Kyuhyun melongokkan kepala ke dalam ruangan kantor ayahnya dengan senyuman mengembang penuh pada bibirnya.

Ayah yang tampak tekun dengan buku-buku dihadapannya mengangkat wajah dan menatap putranya sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas senyuman putranya dan menghampirinya.

“Kenapa datang kemari tak memberi tahu Appa?” tanya ayah merangkul pundak Kyuhyun mengajaknya duduk.

“Kejutan! Aku tahu, Appa merindukanku kan? Paling tidak ada orang lain yang Appa rindukan selain Eomma,” goda Kyuhyun.

Ayah tertawa senang mendengar jawaban putranya. Memang benar dia merindukan Kyuhyun. Ketika dia tahu bahwa SJM akan pergi ke Taiwan dia sangat berharap Kyuhyun mau meluangkan waktu untuk mengunjunginya namun saat tak mendapat kabar apapun dari putranya dia hanya pasrah mungkin memang putranya sangat sibuk tapi kemudian sekarang putranya dengan tiba-tiba berdiri dihadapannya.

Jamkaman.”

Kyuhyun menahan diri untuk duduk di sofa saat mendengar ayah yang mencegahnya.

“Kau sudah makan siang?” tanya ayah.

Ne.”

“Ah,” gumam ayah kecewa.

Kyuhyun melihat perubahan di wajah ayah lalu buru-buru menambahkan. “Tapi aku hanya makan sedikit. Makanan di hotel tidak terlalu lezat jadi aku ingin makan siang disini.”

“Sudah Appa duga. Kaja, kita pergi ke cafeteria.”

Kyuhyun mengangguk semangat lalu berjalan beriringan dengan ayahnya menuju cafeteria sekolah.

“Kau harus makan yang banyak,” ucap ayah menaruh banyak daging ke dalam mangkuk Kyuhyun.

Appa tidak lihat tubuhku sudah semakin membengkak,” keluh Kyuhyun.

“Tapi Appa jarang melihatmu seperti ini. Sebelum-sebelumnya kau sangat sibuk dan tidak mengatur pola makanmu sampai-sampai kau terlihat sangat kurus. Appa senang sekarang kau sedikit gemukan. Jadi Appa ingin kau mempertahankan beratmu seperti ini.”

“Bagaimana jika fansku berpaling dariku jika aku semakin gemuk.”

Ani. Kau justru semakin tampan dengan tubuh seperti itu.”

Jinjja?” tanya Kyuhyun dengan mata berbinar.

“Mm hm.”

Arraseo,” jawab Kyuhyun lalu mulai memakan makanannya dengan lahap.

“Ngomong-ngomong bagaimana kabar kekasihmu?” tanya ayah tiba-tiba.

“Huk…” Kyuhyun terbatuk pelan lalu buru-buru meminum air mineral yang ada di sisi mangkuknya.

Wae? Kau fikir Appa tidak tahu apa-apa? Kau mau menyembunyikan ini dari Appa?” tuduh ayah pada Kyuhyun.

Aniyo.”

“Kau jelas-jelas melakukannya. Kau telah mengenalkan kekasihmu pada Eomma dan Noona-mu. Tapi membiarkan Appa tidak tahu apa-apa.”

“Itu ketidak sengajaan,” jawab Kyuhyun.

“Jadi kau ingin bilang kalau sebenarnya kau ingin menyembunyikan ini dari kami semua?”

A-aniyo,” Kyuhyun buru-buru menjawab ucapan ayah.

“Jadi kapan kau akan mengenalkannya pada Appa?”

Ne?”

“Kau benar-benar tidak mau mengenalkannya pada Appa?”

“Aku akan mengenalkannya pada Appa.”

Jinjja?”

Ne?”

“Lalu kapan?”

“Akan aku pikirkan,” jawab Kyuhyun asal.

“Tapi tidak janji,” imbuh Kyuhyun pelan.

Ya! Jangan main-main dengan orang tua.”

Kyuhyun tak membalas ucapan ayah dan hanya memain-mainkan sumpit di dalam mangkuk nasinya.

Ayah mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi Kyuhyun yang tampak berubah. Ayah baru menyadari bahwa hari ini Kyuhyun tak banyak tersenyum seperti biasanya. “Sesuatu pasti terjadi diantara kalian.”

Kyuhyun mengangguk membiarkan ekspresi wajahnya menjelaskan semuanya pada ayahnya. “Aku tak ingin menyakiti hati seseorang, dan tak ingin menyakiti hati yang lain.”

“Pria sejati tak akan dengan mudahnya melepaskan gadis yang dicintainya begitu saja,” pesan ayah.

-ooOoo-

Sedan hitam mengkilat itu berhenti di depan sebuah hotel berbintang 5 yang ada di Taiwan. Seorang pria berjas yang menunggu di luar hotel membukakan pintu dan keluarkah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan yang terlihat gagah dengan setelah jas hitam. Pria lain yang telah menunggu di depan pintu mengantarkan tamu yang tampak seperti orang penting itu menuju lift yang akan membawa mereka ke restoran yang berada di puncak hotel. Salah satu restoran termahal di Taiwan yang biasanya hanya dikunjungi oleh bisnisman-bisnisman kaya dan terhormat.

Pintu lift terbuka, pria itu berjalan dengan tegap menuju seorang pria muda yang berdiri menanti kedatangannya.

Pria muda itu memberi bungkukan sopan ketika dia tiba di meja. “Annyeong hasimnika sajangnim.”

“Duduklah,” titahnya. “Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun mengangguk sopan lalu kembali menduduki kursi yang sebelumnya didudukinya sambil menanti Presdir sekaligus CEO perusahaan asuransi terbesar di China itu.

“Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu. Terakhir kali kita bertemu ketika kau diundang istriku untuk datang ke rumah meskipun aku tak yakin dia benar-benar mengundangmu,” ucap pria yang ternyata adalah tuan Im, ayah Morin dengan suara tegas. Terdengar dari suaranya bahwa dia adalah orang yang tegas dan disegani oleh seluruh bawahannya. Ada nada sayang dari suara yang keluar dari bibir tuan Im yang Kyuhyun tak tahu itu memang benar-benar pembawaannya atau hanya ditunjukkan padanya.

“Saya sangat baik Sajangnim.”

“Hahaha, kenapa kau terlihat tegang. Mari mengesampingkan kenyataan siapa aku dan bicara dengan lebih santai,” ucap tuan Im menatap Kyuhyun dengan tatapan seperti seorang ayah menatap putranya.

Kyuhyun mengangguk patuh mendengar ajakan tuan Im seperti itu. “Algeshimnida.”

“Berapa lama kau akan disini?” tanya tuan Im lagi bersamaan dengan seorang pelayan yang menuangkan wine ke masing-masing gelas di samping Tuan Im dan Kyuhyun.

“Saya akan kembali ke Seoul tanggal dua lima.”

Tuan Im mengangguk-angguk mengerti. “Apa ini menganggu waktumu?”

Animida,” jawab Kyuhyun segera.

Lagi-lagi tuan Im mengangguk mengerti. “Aku kira akan sulit mengajak seorang idol terkenal yang sangat sibuk hanya untuk makan malam. Tapi syukurlah ini tak begitu sulit. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Kyuhyun menelan ludah lalu menatap serius.

“Kau tahu, Morin pulang beberapa waktu yang lalu namun aku tak sempat bertemu dengannya. Aku tak tahu kenapa dia tak sabar menungguku pulang dari perjalanan bisnis. Dia ingin segera kembali ke Seoul pasti karena seseorang,” tuan Im tersenyum melirik Kyuhyun yang hanya dibalas Kyuhyun dengan sebuah senyuman. Karena kenyataannya, Morin pulang hanya untuk bertengkar dengannya.

“Usia Morin lebih muda daripadamu. Apa selama ini dia sering merepotkanmu dan membuatmu dalam masalah?”

Kyuhyun terhenyak mendengar pertanyaan Tuan Im. “Animida, walau kadang dia bersikap kekanakan untuk beberapa hal tapi selebihnya dia adalah orang yang baik.”

“Kuharap dia memang bersikap baik. Apa hubungan kalian baik-baik saja?”

Ne.”

Tuan Im lagi-lagi hanya mengangguk yang justru membuat Kyuhyun khawatir. Karena dia tidak tahu apa arti dari setiap anggukan yang ditunjukkan.

“Maaf atas perlakuan istriku waktu itu.”

Kyuhyun terkejut mendengar permintaan maaf Tuan Im. Dia tak tahu bahwa Tuan Im akan berbesar hati meminta maaf padanya untuk hal yang tidak dia sendiri lakukan. Morin patut bangga memiliki ayah seperti Tuan Im.

“Dia mungkin hanya perlu waktu sampai mau menyadari bahwa kaulah yang sebenarnya diinginkan Morin.”

Kyuhyun hanya diam patuh mendengar setiap perkataan Tuan Im tanpa sedikitpun berniat menginterupsi.

“Aku tahu ini pasti akan sulit tapi aku menginginkan seseorang yang memang tepat untuk berada di samping putriku. Seseorang yang mampu menjaganya, yang mampu membuatnya tersenyum saat sedang sedih dan seseorang yang mau memeluknya dengan erat saat dia merasa putus asa. Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan tapi semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi putrinya. Jadi kuharap kau mengerti. Aku tahu hubungan kalian saat ini sedang dalam sebuah garis dimana kalian akan menemui banyak rintangan. Dan alasan kenapa aku diam saja sampai sekarang adalah karena aku ingin tahu seberapa jauh kalian mampu menghadapi masalah ini. Aku menginginkan pedamping bagi putriku yang kelak mampu menyelesaikan permasalahan yang mungkin akan muncul.”

“Saya mencintai putri anda. Dan untuk itulah saya akan membahagiakannya. Saya akan membuktikan bahwa kami berdua memang mampu melewati masa sulit ini hingga nantinya anda dengan tulus akan mempercayakan saya untuk menjaga Morin.”

“Memang itu yang aku inginkan darimu,” Tuan Im tersenyum penuh arti pada Kyuhyun. “Tapi kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kelak. Tak ada yang pernah bisa memprediksi masa depan.”

Kyuhyun yang untuk pertama kalinya melihat Tuan Im tersenyum padanya menatap tak percaya. Ada sedikit kelegaan melihat senyum yang tersungging di bibir Tuan Im.

“Kau tahu Morin itu sebenarnya gadis yang sedikit manja ketika bersamaku tapi sepertinya sekarang dia benar-benar telah berubah menjadi gadis yang lebih mandiri. Aku senang dia tumbuh menjadi gadis yang baik bahkan saat harus berusaha keras hidup seorang diri di Seoul jauh dari pengawasanku. Dan sepertinya pertemuannya denganmu juga sedikit banyak membuatnya menjadi gadis yang lebih mampu berpikir dewasa. Dia juga bukan tipe gadis yang cengeng. Sepertinya sampai usia sekarang aku dapat menghitung berapa kali dia menangis.”

Kyuhyun menelan ludah kaku, teringat saat Morin menangis dihadapannya. “Maaf, jika mungkin saya membuatnya menangis.”

Tuan Im menatap Kyuhyun beberapa saat. “Kadang aku khawatir melihat dia menyembunyikan banyak emosi dalam dirinya namun saat mengetahui bahwa dia mau untuk lebih banyak berekspresi saat bersamamu membuatku sedikit mampu bernafas lega meski sebenarnya aku tak suka jika kau membuatnya menangis.”

Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum kaku. Terkadang dia bingung bagaimana dia harus menjawab setiap perkataan Tuan Im.

Tuan Im mengangkat gelas wine dan mengajak Kyuhyun untuk ikut mengangkat winenya. “Kudengar kau senang minum wine?”

Ne.”

“Lain kali kita akan minum wine lagi bersama.”

-ooOoo-

Seoul

February 23, 2013

Morin menghentikan langkahnya saat melihat Sang Hoon yang melambaikan tangan padanya dari seberang jalan. Morin menghela nafas lalu kembali melanjutkan perjalanannya seolah tak pernah melihat Sang Hoon. Dia tak ingin lagi bertemu dengan Sang Hoon yang sekarang telah barubah. Dia bukan lagi oppa yang dulu sangat Morin inginkan untuk menjadi suaminya kelak saat dia telah beranjak dewasa.

Jamkaman.”

Morin memejamkan matanya beberapa ketika merasakan seseorang menahan lengannya.

Oppa ingin bicara denganmu.”

Apa lagi kali ini, pikir Morin malas.

“Hanya sebentar. Oppa janji.”

Mari bertemu untuk terakhir kalinya dan tak bertemu lagi, pikir Morin lagi lalu mengangguk mengiyakan ajakan Sang Hoon.

Morin duduk dengan malas menatap makanan jepang yang tersaji dihadapannya. Menunggu Sang Hoon yang sedang berada di kamar mandi. Jika tidak dalam kondisi suasana hati yang buruk, mungkin Morin akan senang berada di rumah makan Jepang dan menikmati setiap hidangan yang tersaji. Namun karena suasana hatinya yang buruk ditambah dengan dia harus bersama Sang Hoon di dalam ruangan tertutup hanya berdua membuat Morin semakin malas.

“Kenapa harus rumah makan Jepang,” gerutu Morin pelan bersamaan dengan pintu ruangan yang tergeser terbuka.

“Kau tidak memakannya?” tanya Sang Hoon setelah menggeser kembali pintu ruangan.

“Aku baru saja berniat untuk memakannya,” jawab Morin datar lalu meraih sumpit di sisi kanannya.

Sang Hoon hanya tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Morin.

“Kudengar, beberapa saat yang lalu kau pulang ke Beijing?”

“Mm hm,” jawab Morin mengunyah ikan tuna yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.

“Tapi kau tak menemui Oppa? Padahal Oppa sangat merindukanmu.”

“Aku segera kembali ke Seoul karena sangat merindukan seseorang,” jawab Morin membalas perkataan Sang Hoon.

Sang Hoon meletakkan kembali gelas yang hendak diminumnya lalu menatap Morin dengan tatapan tajam.

“Kau masih bersama dengan kekasih artismu itu.”

“Akan terus bersama,” jawab Morin tenang lalu meraih gelasnya dan meneguknya.

“Kurasa mulai dari sekarang kau harus belajar mengucapkan selamat tinggal padanya. Bagaimanapun juga kalian akan berakhir dengan perpisahan. Percayalah kata-kataku. Dan kau akan kembali bersamaku.”

Morin menghentikan keinginannya untuk menyumpit udang dan meletakkan sumpitnya kembali ke atas meja. “Sebaiknya kita mengakhiri pembicaraan ini. Aku harus segera pulang.”

Morin meraih tas yang diletakkan disampingnya dan beranjak dari duduknya.

Anja.”

“Terima kasih untuk makanannya. Bagaimanapun juga, aku menikmatinya.”

“Ku bilang duduk!”

Annyeong,” ucap Morin berjalan ke arah pintu tapi Sang Hoon menahan lengannya dan menariknya kasar, membuat tubuh mereka terjatuh di atas lantai berubin kayu.

“Apa yang ka—” Morin belum sempat melanjutkan kalimatnya saat Sang Hoon mencium paksa bibirnya.

Morin meronta dan mendorong sekuat mungkin tubuh Sang Hoon dari atas tubuhnya. Ditamparnya pipi Sang Hoon dengan sepenuh kekuatan yang dimilikinya. “Kau pria gila!” teriak Morin lalu segera berlari keluar dari ruangan meninggalkan Sang Hoon yang menatap kepergian Morin dengan penuh kemarahan.

“Kau ingin bermain-main denganku,” desis Sang Hoon.

Morin segera menghentikan taksi pertama yang dia lihat dan segera meminta supir untuk membawanya pulang ke rumahnya. Air matanya mengalir membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika dia tak berhasil keluar dari tempatnya tadi. Memikirkannya saja telah membuat Morin ketakutan.

Hari ini benar-benar akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Sang Hoon.

-ooOoo-

Super Junior’s Dorm.

“Ngomong-ngomong apa kalian ada rencana keluar malam ini?” tanya Sungmin pada Donghae, Ryeowook, dan Zhoumi sebelum melangkah keluar dari lift.

“Aku tidak,” jawab Ryeowook dan Zhoumi serentak diikuti gelengan Donghae.

Sungmin mengangguk lalu keluar dari lift, membiarkan pintu lift menutup setelah mengucapkan selamat istirahat pada member yang tinggal di lantai 12.

“Bagaimana dengan kalian?” tanya Sungmin pada sisa member.

Aniyo,” jawab Henry ceria. “Tiduuuur.”

Eunhyuk menggeleng sambil membaca sesuatu pada layar ponselnya.

“Dan kau?” tanya Sungmin pada Kyuhyun yang dijawab Kyuhyun dengan gelengan lemah. “Baiklah.” Sungmin mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.

“Aku rindu kasurku,” rengek Eunhyuk memijat lehernya lalu berjalan ke dalam kamarnya diikuti Henry yang berlari-lari kecil di belakangnya.

Kyuhyun tak mengatakan apa-apa dan langsung menuju kamarnya. Dilemparnya tas sembarangan di atas kursi lalu merangkak ke atas tempat tidur. Aroma parfum dari seprai yang baru diganti menggelitik hidungnya. Dua hal yang dirindukannya ketika berada di luar negeri, yang pertama kamarnya yang hangat dan sekarang mungkin ditambah, Morin.

Ngomong-ngomong soal Morin, dia lupa kapan terakhir kali benar-benar memikirkan Morin. Beberapa hari ke belakang dia memang sengaja untuk tak memikirkan Morin karena beberapa hal selain karena kesibukkannya. Kembali ke Seoul artinya kembali memikirkan Morin tanpa harus benar-benar dia rencanakan. Rasanya sudah sangat lama dia tak benar-benar bicara dengan Morin. Ucapan ‘mari tak saling bertemu untuk beberapa saat’ terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sampai kapan dia harus menahan diri untuk tak menemui Morin.  Sampai kapan mereka tak akan saling bertemu. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk saling memikirkan apa yang masing-masing dari mereka inginkan dari hubungan mereka berdua. Mungkin selama Kyuhyun berada di China, dia bisa menghindar dari memikirkan tentang kelanjutan hubungannya dengan Morin karena kesibukannya, tapi sekarang saat dia telah kembali ke Seoul, dia tak bisa berhenti memikirkannya.

“Kyu?” panggil Eunhyuk melongokkan kepala ke dalam kamar Kyuhyun yang gelap.

Kyuhyun menyipitkan mata saat tiba-tiba saja lampu kamarnya menyala.

“Nyalakan lampu kalau belum tidur. Aku tak bisa melihat apa-apa. Kenapa kau senang sekali gelap-gelapan.”

Wae?” tanya Kyuhyun dengan malas.

“Manajer hyung menyuruhku memberikan ini padamu.” Eunhyuk mengangkat map coklat ke udara.

Kyuhyun meliriknya sekilas. “Itu apa?”

Molla.” Eunhyuk meletakkan map coklat itu di samping laptop Kyuhyun lalu berjalan keluar kamar.

Ya! Matikan lagi lampunya bodoh. Aku mau tidur,” teriak Kyuhyun tepat saat pintu menutup.

“Gerakan tubuhmu. Kau menimbun lemak dengan malas bergerak,” balas teriak Eunhyuk dari luar kamar.

Kyuhyun mendengus kesal lalu meraih ponsel dari atas meja. “MATIKAN LAMPUNYA!”

Beberapa menit kemudian, Eunhyuk kembali muncul dari pintu dengan wajah kesal lalu menekan saklar lampu dan kamar kembali gelap.

-ooOoo-

Kyuhyun menarik selimut menutupi seluruh wajahnya saat matahari menerobos masuk melalui jendela kamarnya.

“Bangun pemalas.”

Kyuhyun menyentak selimutnya cukup keras lalu memandang ke arah gorden kamarnya yang masih tertutup rapat.

Bahkan aku mulai berhalusinasi sekarang, gumam Kyuhyun dalam hati. Direnggangkannya tubuhnya layaknya kucing setelah bangun dari tidur lalu berjalan menghampiri map coklat di atas meja. Dibolak-baliknya map itu beberapa kali lalu diletakkannya kembali ke atas meja.

“Aku ingin roti panggang,” Kyuhyun dapat mendengar suara Henry dari arah dapur saat dia berjalan ke kamar mandi.

“Aku tiba-tiba sangat ingin makan kimchi,” jawab Sungmin lalu terdengar suara pintu kulkas terbuka.

Kyuhyun menatap pantulan dirinya sambil menggosok gigi dengan wajah mengantuk. Difokuskannya pendengarannya ke arah dapur dimana Sungmin dan Henry tengah mendiskusikan menu untuk sarapan walau sebenarnya tidak cocok untuk disebut sarapan karena sekarang sudah pukul 2 sore. Kyuhyun hanya menyebutnya sarapan karena dia baru saja bangun tidur.

Setelah keluar dari kamar mandi, Kyuhyun kembali ke dalam kamarnya. Mengecek ponselnya, sebuah pesan dari manajernya yang menyuruhnya ke kantor karena CEO Kim ingin bertemu dengannya malam ini. Matanya tertarik lagi ke arah map coklat di atas meja setelah meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Diraihnya map coklat itu dan dibawanya keluar kamar meskipun tak terlalu penasaran dengan isinya.

“Oh, Hyung. Kau punya usul sesuatu untuk kita makan?” tanya Henry saat Kyuhyun muncul di dapur dan mengambil duduk di sampingnya.

“Terserah,” jawab Kyuhyun singkat tanpa mengalihkan pandangan dari map coklat dihadapannya.

“Itu apa?” tanya Sungmin sambil menunjuk map coklat menggunakan dagunya.

Kyuhyun hanya memberi jawaban dengan mengedikkan bahunya dan memutar-mutar benang pada map untuk membukanya. Diliriknya Henry dan Sungmin yang juga mencondongkan tubuh dengan tatapan penasaran ke arah map yang sedang dibukanya.

Sebelum mengeluarkan apapun sesuatu yang berada di dalam map, Kyuhyun memeriksa isinya. Dikerutkannya dahinya saat hanya melihat lembaran-lembaran yang tampak seperti foto. Lalu dikeluarkannya foto itu dari dalam map.

Tumpukan foto teratas adalah dirinya yang baru saja keluar dari mobil di depan sebuah rumah berpagar tinggi. Diamatinya pagar rumah itu yang tampak tak asing. Diletakkannya tangannya di dagu, berusaha mengingat dimana foto itu diambil.

Hyung,” panggil Henry pelan.

Kyuhyun mengangkat wajah menghadap ke Henry yang memegang lembaran foto lain. Dia tidak tahu kapan Henry mengambil foto dari tumpukan dihadapannya. Namun dia tak terlalu tertarik untuk mengetahui kapan Henry mengambilnya yang membuatnya bingung sekarang adalah tatapan Henry, juga Sungmin kepadanya. Tatapan itu sama dengan tatapan yang didapatnya saat pertama kali mengatakan hubungannya dengan Morin, dulu. Hubungannya dengan Morin. Kenapa setiap hal selalu berhubungan dengan Morin.

Henry menyerahkan lembaran foto yang dipegangnya pada Kyuhyun tanpa mengatakan kalimat apapun.

Kyuhyun menatap heran lalu diambilnya lembaran foto itu. Dia ingat sekarang dimana foto itu diambil. Lokasi yang sama dengan foto dirinya sebelumnya. Di depan rumah Morin. Walaupun hanya tampak dari samping, Kyuhyun tahu, objek foto itu adalah dirinya dan Morin. Tangannya mengusap puncak kepala Morin. Itu adalah hari dimana untuk pertama kalinya dia mengucapkan ‘jalja’ pada Morin. Kyuhyun mengamati foto itu cukup lama sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Jika itu adalah dirinya dan Morin, tidak seharusnya mereka tertangkap kamera. Ada yang salah disini. Kenapa dia mendapat fotonya sendiri yang sedang bersama dengan Morin.

“Kyu.”

Kyuhyun membulatkan mata. Dia baru sadar sepenuhnya sekarang. Dia tak sebodoh Donghae, tapi kenapa dia bisa bersikap lebih bodoh daripada Donghae. Diperiksanya lembaran foto lain. Disana terdapat foto ketika dia menggandeng tangan Morin, ketika hendak mengantar Morin pulang dari Rumah Sakit. Ada foto lain ketika dia dan Morin hendak masuk ke dalam gerbang rumah Morin. Ditelannya ludahnya yang terasa mengganjal tenggorokan, sebongkah es yang dingin rasanya baru saja dipaksa melewati kerongkongannya lalu diangkatnya wajahnya pada Henry dan juga Sungmin.

Mereka berdua tak mengatakan sepatah katapun. Hanya diam menatapnya. Tapi Kyuhyun tahu persis apa arti dari tatapan itu.

Kyuhyun duduk diam, menatap kosong ke arah lembaran-lembaran foto di atas meja. Tak mempercayai semua yang baru disadarinya beberapa saat yang lalu. Seseorang sedang mengancamnya.

Member lain yang beberapa menit setelahnya datang ke dorm, ditahan Sungmin di ruang tengah dan kemungkinan besar telah mendengar cerita dari Sungmin. Namun sampai sekarang, belum ada satu diantara mereka yang mengatakan sesuatu padanya. Bagaimanapun juga, Kyuhyun berterimakasih. Untuk sekarang dia belum bisa memikirkan apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah memandang lembaran-lembaran foto.

Kyuhyun meremas foto yang masih dipegangnya. Tanpa pesanpun yang disertakan bersama dengan foto itu, Kyuhyun sudah tahu apa yang pengirim foto ingin dia lakukan. Foto itu sendiri telah menjadi pesan tersirat. Mengakhiri hubungan dengan Morin.

Kenapa dia melakukan ini, batin Kyuhyun. Sebelumnya dia yakin bisa meyakinkan ibu Morin untuk merestui hubungannya dengan Morin. Tapi sekarang, setelah mendapat ancaman semacam ini, rasa marah yang selama ini coba Kyuhyun tahan, kembali berdesir.

Kyuhyun beranjak dari duduk setelah memasukkan kembali lembaran-lembaran foto ke dalam map coklat. Lalu menuju kamarnya. Sekarang dia tahu, kenapa CEO Kim ingin bertemu dengannya.

“Tak perlu menungguku untuk makan malam, mungkin aku akan pulang terlambat.” Kyuhyun tak menatap membernya saat berjalan melewati mereka. Dia tak sanggup melihat tatapan kecewa dari mereka atas kecerobohannya.

“Kau tak harus menanggung masalahmu sendirian. Kami ada disini untuk membantumu,” kata Eunhyuk sebelum Kyuhyun mencapai pintu.

Kyuhyun hanya memberi senyuman sekilas lalu mengangguk. Dia terkejut karena membernya tak memberinya tatapan kecewa namun justru tatapan khawatir. Dia tahu, mereka mengkhawatirkannya. Jika CEO Kim telah mengetahui perihal foto, itu artinya, masalah ini akan menjadi masalah member juga. Tapi Kyuhyun tak mau mengakuinya. Membernya terlalu baik, mereka sudah layaknya keluarga sendiri baginya. Dia tak mungkin menyeret keluarganya ke dalam masalah yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Dia akan menyelesaikan masalah itu sendiri.

-ooOoo-

Kyuhyun berjalan dengan irama langkah yang tetap di sepanjang koridor menuju ruang CEO Kim. Seiring pergantian langkah, kakinya terasa berat. Dan saat menatap pintu bercat hitam dihadapannya, dia ragu. Seolah yakin bahwa seekor monster telah menanti kedatangannya di balik pintu itu dan bersiap mencabik-cabik tubuhnya dalam waktu sepersekian detik setelah dia membuka pintu.

Ketika Kyuhyun berada di dalam ruang CEO Kim, dia menyadari ada sesuatu yang berubah dengan tatanan ruangan. Tapi dia disini bukan untuk mengamati perubahan yang terjadi pada ruang kantor.

Di seberang Kyuhyun, duduk di kursi hitam berpunggung tinggi, Sajangnim mengamatinya lekat. Dilemparnya lembaran-lembaran foto ke atas meja. Kyuhyun tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Jelaskan semua ini,” hardik CEO dengan suara yang belum pernah Kyuhyun dengar sebelumnya.

Kyuhyun hahnya membungkukkan tubuhnya. “Jeosong hamnida.”

“Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau sudah bosan berada disini?”

Kyuhyun menahan diri untuk membantah setiap ucapan CEO Kim, semuanya akan lebih buruk jika dia mengucapkan kalimat yang justru akan membuat CEO Kim marah padanya. Jadi pilihan yang terbaik sekarang adalah diam dan mendengarkan.

“Kau sudah merangkak naik sejauh ini apa kau ingin meluncur jatuh begitu saja? Apa kau pikir mudah untuk menyapai tempat yang kau tempati sekarang. Berikan aku alamat gadis ini.”

Kyuhyun mengangkat wajahnya terkejut. “Saya akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Saya tahu bagaimana menyelesaikannya.”

CEO Kim menatap penuh selidik seolah menyangsikan Kyuhyun akan dapat menyelesaikan masalah itu tanpa membuat rugi perusahaan.

“Saya mohon… Saya tidak akan mengambil keputusan yang dapat merugikan perusahaan.”

“Ingat kontrakmu… dan yang perlu kau ingat juga adalah membermu. Kau tahu jika kau salah mengambil keputusan, membermu akan ikut menjadi korban.”

Kyuhyun membungkuk hormat sebelum keluar dari kantor CEO Kim. Kini denyut di kepalanya terasa semakin sakit, hingga dia perlu berpegangan pada dinding koridor jika tak ingin jatuh.

-ooOoo-

Morin menekan angka 11 pada barisan angka di sisi lift. Diketukkannya ujung sepatu ke lantai sambil menunggu pintu lift menutup. Namun sesaat sebelum pintu lift menutup, sebuah tangan mencegahnya hingga pintu kembali terbuka dan ikut masuk ke dalam lift. Morin membulatkan mata saat mengetahui siapa yang berada satu lift dengannya. Dan saat seseorang yang sangat dikenalnya itu mendongakkan kepala untuk menatapnya, dia hanya bisa mematung.

Kyuhyun terdiam beberapa saat menatap Morin yang balik menatapnya. Memastikan bahwa Morin yang berdiri dihadapannya bukanlah halusinasinya lagi. Kepalanya semakin berdenyut-denyut tapi otak Kyuhyun masih dapat bekerja normal untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis yang berada dihadapannya adalah Morin.

Kyuhyun tersenyum lega sekilas lalu meraih bahu Morin dan memeluknya erat. Sekarang, setelah melihat Morin, dia baru sadar betapa dia merindukan Morin. Penyebab kenapa selama ini dia tak pernah memikirkan tentang Morin ternyata bukan karena dia tak merindukan Morin, tapi karena dia memaksa dirinya sendiri untuk tak merindukan Morin, tak membiarkan dirinya sendiri untuk mengakui betapa dia merindukan Morin. Sangat merindukannya.

Kyuhyun memeluk Morin semakin erat, seolah itu adalah pelukan pertama yang pernah dia lakukan, atau memang itu adalah pelukan pertama? Karena Kyuhyun tak pernah yakin berapa kali dia telah memeluk Morin, seolah dibenaknya tak pernah ada bayangan tentang tubuh Morin yang berada di pelukannya.

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat, dia tak pernah tahu betapa melihat Morin akan terasa begitu melegakan, betapa memeluk Morin terasa begitu menenangkan dan betapa mendengar detak jantung Morin terasa begitu menentramkan. Dan detik ini juga, untuk pertama kalinya, dia ingin waktu untuk berhenti berputar.

Morin mempererat genggaman pada kantong makanan yang dibawanya. Menahan diri untuk membalas pelukan Kyuhyun betapapun dia merasa merindukan pria yang memeluknya sekarang.

“Ky—” Morin menggigit bibirnya dan mendorong tubuh Kyuhyun kasar.

-To be Continue-


a/n:

karena cukup lama (sangat lama malahan) dari terakhir kali nulis ff ourline, jadi sekarang sedikit agak canggung nulisnya. maaf kalo gak dapet feelnya.

ditunggu kritik dan sarannya. gomawo /pyong/

Advertisements