[Our Line] #17 It’s Time for Goodbye

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

 

Star City appartment 11th Floor.

Seoul.

 

Kyuhyun menatap Morin mencoba menebak jalan pikirannya melalui tatapan yang diberikan Morin padanya. Meski dia tak yakin dapat menebaknya, Morin juga hanya menatapnya untuk beberapa saat lalu menunjuk ke arah CCTV yang terpasang di sudut lift menggunakan dagunya.

Kyuhyun mengikuti arah pandangan Morin dan mengangguk mengerti lalu mengucapkan kata maaf pelan pada Morin. Diliriknya bawaan Morin pada masing-masing tangan lalu diambil alihnya. Kali ini tidak mencoba menebak apa yang ada di dalamnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun menatap lembut Morin. Ada banyak emosi yang tersembunyi dalam tatapannya.

“Baik.” Morin menggaruk belakang lehernya canggung tanpa membalas tatapan Kyuhyun. Ini adalah situasi paling canggung yang pernah Morin alami. “Bagaimana denganmu?” balik tanya Morin menatap pergantian angka.

“Baik.”

“Aku merindukanmu,” imbuh Kyuhyun.

Morin terkesiap lalu melirik Kyuhyun yang masih tetap menatapnya. Jujur Morin juga merindukan Kyuhyun, sangat merindukannya, namun entah kenapa dia kesulitan mengatakan kata itu. Walaupun kata itu telah terkumpul di dalam tenggorokkannya siap untuk melompat keluar kapanpun dia mau. Dan kesempatan Morin untuk mengatakannya hilang karena pintu lift yang terbuka. Dia menghela nafas lega tanpa sepengetahuan Kyuhyun dan segera keluar disusul Kyuhyun. Dia merasakan bahwa tatapan Kyuhyun tetap mengarah padanya selama perjalanan menuju dorm.

“Mereka juga merindukanmu, pasti mereka akan senang dengan kedatanganmu.” Kyuhyun melepas tatapan pada morin saat membukakan pintu dorm lebar-lebar untuknya.

“Ada Morin,” ucap Kyuhyun meletakkan bawaannya ke atas meja dihadapan mereka. Di belakangnya Morin tersenyum cerah.

“Morin!” teriak Sungmin dan Donghae bersamaan lalu bergegas menghampirinya.

Sungmin mengulurkan tangan untuk memeluk Morin sedangkan dari belakang Sungmin, Donghae mengacak-acak rambutnya disusul Eunhyuk, Zhoumi dan Henry yang balas tersenyum cerah padanya. Ryeowook menyeruak diantara mereka, mendekati Morin lalu menariknya ke sofa.

Sesaat Morin melirik Kyuhyun yang berjalan menuju kamarnya dan tak kunjung keluar. “Kalian semua bebas malam ini?”

“Mm hm. Kau ingin minum sesuatu?” tanya Sungmin sudah siap menuju dapur.

Morin buru-buru menggeleng lalu menunjuk kantong yang dibawanya. “Aku memenuhi janjiku pada kalian.”

“Kau tak perlu melakukannya,” jawab Ryeowook yang membantu mengeluarkan beraneka makanan jepang, ayam goreng dan cola.

Gwenchana, paling tidak aku harus melakukannya walau hanya sekali,” jawab Morin bercanda yang dibalas cibiran Donghae.

“Paling tidak lakukan sebulan sekali,” usul Eunhyuk.

“Jangan serakah dengan kebaikanku,” desis Morin.

Eunhyuk mendengus pelan lalu terkekeh.

Mereka berbincang, dan tertawa keras saat Henry menceritakan sesuatu yang lucu. Morin menatap mereka satu persatu. Ada perasaan rindu yang tiba-tiba muncul padahal sekarang dia sedang berada dengan mereka. Dia tak yakin akan adakah waktu lain untuk kebersamaan ini. Namun Morin segera menghentikan tawanya saat melihat Kyuhyun berjalan keluar dari kamar menenteng backpack di satu tangan dan topi di tangan yang lain.

“Ah, aku lupa kau hari ini ada jadwal. Sayang sekali. Sungguh bukan waktu yang tepat,” ucap zhoumi pada Kyuhyun.

“Kau masih punya hutang makanan padaku,” ucap Kyuhyun pada Morin lalu pergi setelah berpamitan.

Morin menatap punggung Kyuhyun lalu meraih sekotak ayam goreng dan bergegas menyusul Kyuhyun yang sekarang sedang mencari sneaker miliknya di dalam rak sepatu, dan menunggu hingga Kyuhyun mengenakan sneakernya lalu saat Kyuhyun mendongakkan kepala menatapnya, dia berjalan mendekat.

Wae?”

Morin mengulurkan sekotak ayam goreng padanya. “Apa kau sudah makan malam?”

Kyuhyun menggeleng lalu menerima sekotak ayam goreng yang diulurkan Morin. “Kau terlihat lebih kurus. Makanlah yang banyak dan jangan terlalu banyak pikiran,” pesan Kyuhyun setelah mengamati Morin beberapa saat.

Morin tersenyum lemah dan mengangguk. “Neodo.”

“Maaf aku justru harus pergi saat kau datang, aku benar-benar ada jadwal malam ini. Lain kali sebelum datang berilah kabar agar aku bisa memberitahu kapan aku tak ada jadwal.”

Arraseo. Aku hanya tiba-tiba ingat janjiku pada kalian.”

“Aku benar-benar harus pergi sekarang.” Kyuhyun tersenyum pada Morin, mengusap puncak kepalanya lalu berjalan keluar dorm. Namun sebelum mendorong pintu, Kyuhyun berbalik menatap Morin seolah merasa Morin akan mengatakan sesuatu meski dia tak yakin.

Dan sebelum Kyuhyun kembali berbalik dan pergi, Morin mengatakan kalimat yang sebelumnya telah dia tahan. “Aku juga merindukanmu.”

-ooOoo-

Im Family’s Home.

Beijing.

 

Nyonya Im melepas kacamata hitamnya dengan senyum puas menghiasi wajahnya lalu berjalan keluar dari mobil tanpa mengucapkan terimakasih pada supir yang telah membukakan pintu mobil untuknya.

Bibi Jung sebagai kepala pelayan menyambut Nyonya Im dengan sebuah bungkukan sopan ketika dia tiba di ruang tamu. Dan memberi kode pada pelayan di sampingnya untuk menyerahkan air minum yang dibawanya kepada Nyonya Im.

“Dimana Naya? Apa dia belum pulang?”

“Nona muda Naya mengatakan tidak akan pulang hari ini. Dia akan menginap di rumah temannya.”

Nyonya Im meraih ponsel dari dalam tasnya dan mulai menghubungi ponsel Naya. Dia menunggu beberapa saat namun tak ada nada sambung yang terdengar melainkan mailbox.

“Anak itu kapan akan belajar untuk meminta ijin.”

“Sejujurnya Nona muda telah meminta ijin kepada Tuan Besar.”

“Apa dia sudah pulang?” tanya Nyonya Im terkejut.

“Ya. Beliau ada di ruang makan.”

“Kenapa kau tak mengatakannya sejak tadi,” hardik Nyonya Im lalu melangkah menuju ruang makan.

Sedangkan Kepala Pelayan Jung tak menjawab dan hanya mengikuti Nyonya Im ke ruang makan. Dia terbiasa dengan hardikkan seperti itu.

Di ruang makan tampak Tuan Im tengah menikmati makan malam dengan diam bahkan sama sekali tak melirik kedatangan istrinya yang telah duduk di kursi sisi kanan.

“Kapan kau pulang?”

“Beberapa jam yang lalu.”

“Kenapa tak menghubungiku jika kau telah berada di rumah?”

Tuan Im mengelap bibir dengan serbet dan tak menjawab pertanyaan istrinya untuk beberapa saat.

“Apa urusanmu sudah selesai?” balik tanya Tuan Im mengalihkan pertanyaan awal istrinya.

Nyonya Im tampak jengkel namun tetap menjawab, “tentu”. Dia selalu membenci seseorang yang mengabaikan pertanyaannya.

“Apa barang itu terkirim dengan aman ke korea?”

“Ya―” jawab Nyonya Im sambil lalu yang tampak tak sadar sebelum akhirnya menatap suaminya. “A-apa―”

“Tidakkah kau merasa telah bertindak terlalu jauh?”

Nyonya Im ragu sesaat untuk menjawab jujur, namun dia tahu bahwa dia tak pernah bisa berbohong pada suaminya karena suaminya selalu tahu apa yang dia lakukan. “Aku bertindak layaknya orang tua pada umumnya.”

“Dengan sebuah ancaman? Itukah yang kau pikir tindakan yang akan dilakukan setiap orang tua?”

“Aku ingin melindungi putriku dari seseorang yang tidak baik baginya.”

“Melindungi dengan cara merusak kebahagiaannya?”

Nyonya Im menatap suaminya berapi-api. Bagaimana dia selalu tak pernah sependapat dengan suaminya tentang masalah perlindungan? “Suatu hari Morin akan berterima kasih padaku karena telah melakukan ini untuknya.”

“Ya. Kecuali kau tak akan menemukan suatu hari―”

Kali ini Nyonya Im benar-benar telah marah. Didorongnya kursi dengan kasar ke belakang. “Apa maksudmu?” tanya Nyonya Im dengan penekanan pada setiap kata.

“Tak ingatkah kau apa yang terjadi pada Suhwan?”

“Hentikan!” raung Nyonya Im. “Aku melakukan ini agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali. Aku tak akan kehilangan seorang anak lagi. Aku akan melindunginya.” Nyonya Im meraih tas dari kursi sampingnya dan berjalan lurus menuju kamar tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya.

“Kau pasti tak pernah lupa bahwa justru karena perlindungan yang selalu kau terapkanlah semuanya terjadi pada Suhwan.”

Nyonya Im hanya berhenti sebentar saat suaminya berkata seperti itu lalu melanjutkan langkahnya tanpa berhenti sedikitpun. Sedangkan Tuan Im yang masih duduk di kursi makan, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Bayangan jasad yang terbujur kaku berputar-putar di dalam kepalanya. Tentu, dia tak pernah ingin kehilangan anaknya sekali lagi.

Kepala pelayan Jung datang dengan sebotol obat lalu diserahkannya pada Tuan Im yang segera meminum 1 pil dari dalam botol obat. Dia memandang tuannya dengan perasaan sedih teringat kembali tuan muda Suhwan yang telah meninggal. Semenjak tuan muda Suhwan meninggal semuanya tak lagi sama seperti dulu. Nyonya dan tuannya sering bertengkar dan sering tak sependapat lagi. Sedangkan hubungan nona muda Morin dan Naya juga tampak merenggang. Keluarga ini telah berubah sejak kepegian tuan muda Suhwan.

-ooOoo-

Morin’s Home.

Seoul.

 

Morin menarik amplop coklat dari dalam laci. Melepas benang pengikat lalu mengeluarkan isinya. Diambilnya salah satu foto ketika Kyuhyun memukul Sang Hoon. Diamatinya foto itu sejenak lalu diletakkannya kembali bersama foto-foto lain di atas meja. Diliriknya pesan yang ada diantara lembaran foto lalu diremasnya dan dilemparkannya ke dalam tong sampah.

Kau tahu apa yang akan terjadi jika foto ini menyebar di media. Atau akan lebih menarik seandainya aku menuntutnya di pengadilan.

Morin menopang kepala dengan kedua tangannya dan meremas pelan rambut gelapnya. Kenapa Sang Hoon berubah seperti ini? Sang Hoon yang sekarang bukanlah Sang Hoon yang ia kenal dulu, pikir Morin. Morin mengangkat kepalanya beberapa saat lalu merebahkannya di atas meja, diraihnya bingkai foto dihadapannya dan diamatinya wajah dalam foto dengan tatapan penuh sayang. “Oppa… Apa yang harus aku lakukan?… Apa kau juga mengalami kesulitan seperti ini dulu?… Apa sebaiknya aku menyerah dan melepas semuanya?… Apa dulu kau juga akan menyerah jika kejadian itu tak pernah kau alami?”

“Oppa… Aku sungguh merindukanmu.”

-ooOoo-

Super Junior’s Dorm 11th Floor.

Seoul.

 

“Apa yang kau janjikan pada CEO Kim?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan mendapati Sungmin bersedekap sambil bersandar pada pintu masuk dapur, menatapnya tajam.

“Aku tak ingin perusahaan ikut campur dan akan menyelesaikan ini sendiri.”

“Dan bagaimana caranya? Dengan cara berpisah dengan Morin?” tuntut Sungmin.

Kyuhyun tak menjawab dan memberi tatapan ‘tak ada cara lain’ pada Sungmin.

“Jika kau memang melakukan itu, artinya sama saja dengan keputusan perusahaan. Itu bukan penyelesaianmu sendiri.” Sungmin tersenyum sinis pada Kyuhyun.

“Morin akan mengerti. Dia gadis yang baik dan kuat. Dia pasti akan mengerti. Aku melakukan ini bukan untuk menyakitinya tapi untuk melindunginya.”

Sungmin memberi senyuman sarkastis dan meninggalkan Kyuhyun sendiri namun berputar kembali menghadap Kyuhyun, “seandainya kau lebih berani untuk sedikit mengambil resiko mungkin kau tak akan pernah menyakitinya ataupun menyakiti dirimu sendiri. Hanya kau sendiri yang mengerti kebahagianmu, dan hanya Morin sendiri jugalah yang mengerti apa kebahagiannya.” Sungmin mengatakan kalimat itu sebelum akhirnya benar-benar pergi, tidak menuju kamarnya, tapi keluar dorm meninggalkan Kyuhyun sendirian.

-ooOoo-

Seoul.

 

Butiran-butiran salju berjatuhan bagai kapas-kapas halus yang indah namun membawa udara yang begitu dingin. Sudah hampir 30 menit Morin berdiam diri di halte sendirian, dan melewatkan 2 bisnya begitu saja. Saat ini, Morin benar-benar tak tahu harus pergi kemana, meski beberapa kilometer dari tempatnya duduk ada rumahnya yang hangat, namun dia tak benar-benar ingin pulang kesana, kini semua tempat terasa sama, dingin dan sepi. Dia telah memikirkan tentang berpisah dengan Kyuhyun beberapa hari yang lalu, dan hingga kini hal itu terus menghantuinya, dan bahkan sekarang dia tak sadar bahwa sebuah sedan hitam mengkilat yang berhenti di seberang jalan sejak tadi menglakson kepadanya.

“Morin-agashi.”

Morin mendongak dan terkejut saat matanya beradu tatap dengan sopir ayahnya dan lebih terkejut lagi saat dibalik tubuh supir itu, di dalam sedan mengkilat, ayahnya tersenyum kepadanya. Morin tersenyum kepada ayahnya, dan dia sadar bahwa itulah rumah yang dia ingin tuju, tempat dimana dia akan bisa mencurahkan semuanya.

Begitu pintu mobil tertutup, tak ada hal yang paling Morin inginkan selain menyeruak ke dalam pelukan ayahnya dan menangis tersedu-sedu disana. Dan inilah ayah yang sangat dia cintai, ayahnya tak mengucapkan sepatah katapun, hanya mengelus rambut Morin dan membiarkan Morin menangis, mengeluarkan semua emosi yang selama ini dia tahan.

“Jalan.”

Morin tak tahu berapa lama dia berada dalam posisi seperti itu dalam pelukan ayahnya, dan juga tak tahu berapa lama dia telah menangis hingga dadanya sesak dan mulutnya kering, juga tak tahu kemana tujuan mobil itu pergi.

“Kau menangis karena mencintainya.” Gumam ayahnya masih sambil mengelus rambut Morin. Itu bukan pertanyaan. “Kau menangis karena takut berpisah dengannya… Kau menangis karena merasa semua ini tak adil… Kau menangis karena tak pernah menyangka kalau rasanya akan sesakit ini…”

“Morin tak pernah tahu bahwa rasanya akan sesakit ini.”

Ayahnya hanya mengelus rambut Morin sebagai tanggapan bahwa dia mengerti.

Morin melepas pelukan ayahnya dan beralih menatapnya dengan mata berlinang-linang. “Appa tahu semuanya?”

“Semuanya.”

“Dan apa yang akan Appa lakukan?”

“Itu yang akan Appa tanyakan padamu.”

Appa akan menerima semua keputusan Morin?”

Ayah Morin mengangguk dan menatap Morin penuh rasa sayang. “Banyak pelajaran yang Appa ambil sejak kematian Suhwan. Appa tak pernah memaksakan apapun padamu. Appa juga tak akan pernah mencampuri keputusanmu, apapun itu, selama kau siap menerima setiap konsekuensi dan keputusan yang kau ambil. Dan Appa akan selalu mendukungmu.”

“Morin ingin pergi dari Seoul.”

“Kembali ke Beijing?”

Morin menggeleng. “London. Morin ingin tinggal disana beberapa tahun dan menyelesaikan kuliah disana.”

“Apa ini sebuah bentuk pelarian?”

Morin menatap ayahnya. Tangannya menutup wajahnya dan dia mengerang kecil. Dia tidak bermaksud untuk melarikan diri. Ataukah dia memang berniat melarikan diri? Kepala Morin berdenyut-denyut nyeri. “Morin akan pergi setelah menyelesaikan semuanya. Morin hanya ingin persetujuan dari Appa.”

“Dan berapa lama kau akan tinggal disana?”

“Morin belum tahu. Morin akan kembali ketika sudah siap untuk semuanya, termasuk membantu Appa di perusahaan. Morin janji.”

“Dan apakah ini artinya kau akan berpisah dengan pria muda itu?”

Morin diam beberapa saat. “Tak ada pilihan lain.”

“Selalu ada pilihan Morin, hanya jika kau tak berusaha menolak pilihan-pilihan lain.”

“Morin sudah memilih Appa.”

Ayah Morin mengangguk paham. “Kau sudah dewasa sekarang. Kau akan menjadi wanita yang kuat. Karena pengalamanlah yang akan mendewasakan seseorang. Percayalah, ada banyak pelajaran di balik ini semua.”

Morin mengangguk lalu memeluk ayahnya sekali lagi. Sekarang setelah menceritakan semuanya kepada ayahnya, dia merasa lebih yakin dengan keputusannya meski dia tahu betapa rasa sakit yang ditinggalkan oleh sebuah perpisahan tak akan mudah untuk diobati. Dan percayalah, dia berpisah dengan Kyuhyun bukan karena dia tak mencintainya, tapi justru karena dia sangat mencintainya. Dia tahu, menyanyi adalah impiannya, dan menyanyi adalah bagian dari hidupnya. Morin tak ingin memisahkan orang yang dia cintai dengan impiannya. Dia bersyukur pernah berada dalam kedudukan yang sama dengan impian itu meski hal itu tak berlangsung lama. Dia sadar, bahwa di dunia ini terkadang seseorang memang harus melepaskan beberapa hal dan tak membiarkan dirinya sendiri bahagia demi orang lain, karena ada begitu banyak kebahagiaan lain yang menyambut kedatangannya.

“Kenapa Appa bisa ada disini? Dan bagimana Appa bisa menemukan Morin?”

Appa tak pernah kesulitan menemukan dimana anak perempuan Appa berada.”

-ooOoo-

March 7, 2013

Jika hubungannya dengan Kyuhyun harus berakhir, Morin tak pernah ingin menunggu lebih lama. Bukan karena dia ingin segera mengakhirinya, tapi lebih karena takut rasa sakit yang ditimbulkan justru akan lebih dalam, juga karena takut dia akan lebih sulit untuk melepaskannya. Tapi kenyataannya, ketika melihat wajah Kyuhyun dihadapannya, perasaan takut itu justru semakin mencekam. Dan keinginan untuk menangis pun terasa lebih kuat.

Kyuhyun mengangkat tangannya yang bebas pada Morin yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya menyebabkan Morin membeku beberapa saat. Sedangkan tangan yang lain memegangi ponsel agar tetap menempel pada telinganya. “Yeoboseyo,” sapa Kyuhyun di telepon dengan seringaian jail yang selalu ditunjukkan ketika bersama Morin.

Morin bukan hanya terkejut karena Kyuhyun telah berada di depan rumahnya padahal jelas-jelas dia yakin bahwa nada tunggu dari ponselnya baru saja berakhir. Tapi juga karena kemunculan Kyuhyun di depan rumahnya pada jam 8 pagi tanpa berusaha menyembunyikan diri, kecuali dengan mengenakan topi hitam yang sering dia lihat Kyuhyun kenakan ketika berada di bandara. “Sejak kapan kau ada disini?” tanya Morin belum beranjak dari tempatnya.

“Uhm… sepuluh menit? Atau mungkin lebih?”

“Dan kau tak menunjukkan tanda-tanda akan memberitahu kedatanganmu.”

“Aku baru saja berniat untuk melakukannya sampai kulihat nomormu muncul di layar ponselku.”

“Tapi―”

Sebelum Morin berkata, Kyuhyun menyela dengan nada malas biasanya, “kututup teleponnya.”

Morin baru sadar bahwa mereka berbicara lewat telepon lalu segera menghampiri Kyuhyun. “Kenapa kau ada disini?”

“Pertanyaan yang sama yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kau meneleponku?”

Morin mendengus. Cukup lama mereka tidak bertemu bahkan sempat mengatakan saling merindukan tapi ketika kembali bertemu tak ada sama sekali yang berubah. Tapi Morin menyukainya. Dia tak sadar betapa dia menyukai semua yang ada pada Kyuhyun.

“Kau sibuk hari ini?”

Aniya. Itulah kenapa aku disini sekarang.”

“Baguslah. Masuk ke mobil. Ayo kita pergi.”

Kyuhyun memutar bola matanya. “Dia bersikap seolah-olah ini mobilnya.”

“Tak perlu banyak bicara, jalankan mobilnya.”

“Jangan bersikap seolah-olah ini mobilmu! Memangnya kita akan kemana?”

“Bersenang-senang.”

Kyuhyun menatap penuh curiga. “Wae?”

“Tenang saja. Kau akan kembali dalam keadaan utuh.”

“Aku justru khawatir mendengarnya,” cibir Kyuhyun.

“Ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu tapi kau tak pernah memiliki waktu untuk itu, jadi berhubung hari ini kau bilang tidak sibuk. Ayo lakukan itu semua.”

“Lagi pula kemana kita akan pergi pada cuaca seperti ini. Di luar suhunya minus sepuluh derajat.”

“Sudahlah, kau mengemudi saja dan aku akan memberi arah-arah setelah kita keluar dari tol.”

“Aku benci sikap dominanmu.”

Morin memandang Kyuhyun lalu tertawa bahagia. “Aku tak sadar melakukannya.”

“Itu sifat alamiahmu yang sebenarnya. Orang-orang mengatakan sifatku buruk dan memberi julukan setan. Tapi aku tahu kaulah setan yang sebenarnya.”

“Kau pasti tak sadar saat mengucapkannya,” gumam Morin pelan dengan gaya acuh. “Kaulah setan dari segala setan.”

Kyuhyun tertawa dengan tawa khasnya yang terkadang membuat merinding. “Dan kupastikan kau akan mati ditanganku.”

Morin mengulurkan tangannya menjitak kepala Kyuhyun. “Otakmu pasti rusak. Kaulah yang akan mati ditanganku.”

Appo,” teriak Kyuhyun mengusap kepalanya yang berdenyut. “Haish! Kau―”

“Diam!” Morin mengangkat tangannya di udara. “Aku suka lagu ini,” lanjutnya ketika Time of Our Lives milik Tyrone Wells bermain di radio.

Cih! Ini tentang perpisahan.”

“Ya, dan bukan perpisahan yang cengeng.” Morin menjawab pelan.

Kyuhyun tak menanggapi dan Morinpun diam. Mereka mendengarkan Time of Our Lives, dan memaknai setiap liriknya dalam diam.

-ooOoo-

“Kenapa kita kesini?” tanya Kyuhyun pelan sambil melepas seatbelt. “Kau bilang kita akan pergi bersenang-senang.”

“Ada yang ingin aku kenalkan. Kita akan bersenang-senang setelahnya.”

Nugu?”

“Kau akan tahu nanti. Sebenarnya dialah alasan terkuat kenapa aku tinggal di Seoul.”

Kyuhyun menatap Morin tak percaya. Mungkin mereka memang dijuluki setan tapi bukan berarti mereka juga harus bersenang-senang di pemakaman kan?

“Ayo!”

Kyuhyun mengikuti Morin menaiki undakan-undakan menuju bukit. Sejauh matanya memandang, yang tampak hanya pusara batu hitam berjajar dan rumput hijau yang menyembul di antara selimut-selimut salju yang kembali turun. Dia mencoba membaca nama-nama pada nisan meski tak yakin mengenalnya. Dan setelah berjalan beberapa meter akhirnya Morin behenti di depan sebuah nisan dengan nama ‘Im Suhwan’ terukir diatasnya, diikuti tanggal lahir dan juga tanggal kematian. Kyuhyun menatap Morin penuh rasa ingin tahu tapi menahan diri untuk bertanya karena Morin yang hanya diam beberapa saat menatap nama pada nisan sebelum akhirnya meletakkan buket bunga lili di atasnya lalu membungkuk memberi salam. Dan diapun mengikuti apa yang Morin lakukan.

Oppa…”

Kyuhyun menoleh pada Morin dengan terkejut. Begitu banyak hal tentang Morin yang selalu membuatnya terkejut. Seberapa banyak dia mengenal Morin? Mungkin jawabannya tidak banyak. Ada banyak rahasia tentang Morin yang tidak dia tahu, bahkan dia tak pernah berusaha mencari tahu. Seberapa sering dia berbincang dengan Morin? Jawabannya pasti jarang. Sekarang dia yakin bahwa sebenarnya selama ini dia tak pernah mengenal Morin. Morin selalu menjadi orang yang asing baginya. Betapa menyedihkan.

“… Dulu kau pernah mengatakan padaku untuk mengenalkan seorang pria padamu pertama kali sebelum orang lain mengetahuinya… Hari ini, aku memenuhi permintaanmu. Walau mungkin kau bukan orang pertama yang bertemu dengannya tapi kau orang pertama yang resmi aku perkenalkan padanya.”

Oppa, bagaimana menurutmu? Dia… seorang idol.” Morin tekekeh pelan. “Betapa takdir kita berkaitan oppa. Dia tidak terlalu tampan, juga memiliki kepribadian yang buruk. Dan sedikit bodoh. Tapi, dia pria pertama yang aku kenalkan padamu,” lanjutnya. “Setelah ini, akan ada jeda waktu yang cukup lama sebelum aku mengunjungimu lagi. Aku akan jaga diri baik-baik. Dan aku sungguh-sungguh merindukanmu.” Morin membungkuk sekali lagi pada pusara sebelum melangkah pergi.

Kyuhyun yang baru beberapa langkah mengikuti Morin berhenti dan kembali menatap nama pada nisan. “Selama ini, kau selalu menjaganya darisana. Mulai sekarang, aku akan mengambi alih tugasmu untuk menjaganya. Jadi jangan khawatir dan istirahatlah dengan tenang disana.”

Setelah berhasil menyusul Morin, Kyuhyun memberi jitakan cukup keras pada puncak kepala Morin lalu tertawa puas saat Morin menjerit kesakitan sambil mengelus kepalanya dan berusaha membalas apa yang baru saja dia lakukan. “Seharusnya kau mengatakan yang baik-baik tentangku tadi.”

“Aku tak mau berbohong di depan nisan orang meninggal. Lagi pula tak ada yang baik darimu yang perlu dipamerkan.”

YA!” teriak Kyuhyun saat Morin berjalan lebih cepat menuruni anak tangga. “Dia pasti akan mendapat jitakan yang lebih keras.”

 

“Sekarang kita akan kemana?”

“Pergi belanja,” jawab Morin santai.

Ne? Apa itu yang kau sebut dengan bersenang-senang?”

Morin mengangguk. “Kita tidak pernah pergi belanja bersama selama ini. Kenapa tidak kita lakukan hari ini walau hanya sekali.”

“Terserah kau.” Walaupun bagi Kyuhyun ajakan Morin untuk pergi belanja terdengar aneh tapi pada akhirnya dia juga tetap menuruti keinginan Morin. Tapi mereka berdua tidak bisa berlama-lama di supermarket sebab orang-orang mulai curiga ketika melihat Kyuhyun dan mulai berbisik-bisik jadi dengan sigap Morin menyeret Kyuhyun ke kasir dan segera kembali ke mobil kembali menuju rumah Morin.

“Untuk apa semua ini?” tanya Kyuhyun setelah menaruh tas belanjaan di meja dapur.

“Memasak.”

“Haha, jangan bercanda.”

“Aku tidak sedang bercanda. Kita berdua memang akan memasak.”

“Ya Tuhan. Cobaan apa lagi ini. Kita berdua bisa mati jika memaksakan diri untuk memasak.”

Morin menyerahkan celemek pada Kyuhyun dan membantu Kyuhyun mengenakan celemeknya. “Jangan berlebihan. Ini tidak akan sulit. Kita hanya perlu melihat ke buku resep, mengikuti apa yang diperintahkan dan voila semuanya sudah siap.”

“Memangnya kita akan memasak apa?” tanya Kyuhyun patah semangat.

“Spageti. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya di majalah dan kelihatannya mudah.”

“Kita masak ramyun saja bagaimana. Lebih mudah dan aku nyakin lebih aman untuk dimakan. Lagipula itu sama-sama mie.”

“Lidahmu pasti sudah mati rasa.”

“Kalau begitu kenapa kita tidak menonton DVD lalu memesan pizza atau ayam dan bir saja?”

Morin menatap Kyuhyun tajam. “Aku tak akan membiarkan kau ataupun aku sendiri mabuk ketika kita hanya berdua.”

“Aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu.”

“Kau yakin?”

Kyuhyun berpikir, lalu mengedikkan kepala.

YA!”

“Yasudah, yasudah, sebaiknya memang jangan mabuk ketika kita hanya berdua. Siapa tahu aku tak bisa mengendalikan diri.” Kyuhun mengerling jahil.

Secara spontan Morin mengambil satu langkah besar ke samping menjauhi Kyuhyun. Tapi Kyuhyun meraih pundak Morin agar kembali ke tempatnya semula. Kemudian mereka bekerja dalam diam. Tidak sepenuhnya diam sebenarnya, karena mereka terus beradu mulut tentang maksud dari langkah-langkah memasak yang ada di dalam majalah, padahal mereka hanya tinggal mengikutinya tapi semuanya tak semudah yang mereka pikirkan dan akhirnya mereka menyerah ditengah jalan. Gagal.

“Mau nonton DVD?” tawar Kyuhyun saat melihat wajah jengkel Morin.

Morin mendesah. “Aku akan ambilkan DVD terbaru di kamar, kau sipakan popcorn.”

Saat Morin berbalik, dia tersandung kaki kursi dan secara sigap Kyuhyun menangkap tangannya. Tapi bukannya menyelamatkan Morin, Kyuhyun justru ikut jatuh bersama Morin. Morin meringis menahan sakit ketika punggungnya memukul lantai dengan keras, ditambah lagi beban dari tubuh Kyuhyun yang jatuh menimpanya. Tapi rasa sakit itu menghilang seketika saat Kyuhyun menjulang di atas Morin bertumpu pada tangannya yang menekan lantai untuk menahan beban tubuhnya. Tatapan mereka beradu. Tanpa sadar secara kompak mereka sama-sama menahan nafas dan tubuh mereka merinding meski hanya sesaat.

Morin mendorong kening Kyuhyun dengan telunjuknya. “Hei hei hei, pikiran kotor apa yang ada di kepalamu.”

Kyuhyun menampik tangan Morin lalu menjawab tanpa menatap mata Morin. “Eopso.”

Gotjimal.”

“Terserah.” Kyuhyun menarik tubuhnya bangun lalu mengulurkan tangan membantu Morin berdiri.

“Ei, aku tahu kau sempat memikirkan sesuatu yang mesum tadi.” Morin merapikan bajunya.

“Bagaimana bisa berpikiran mesum dengan dada datar seperti itu,” jawab Kyuhyun sambil lalu.

Jemari Morin yang sedang menyisir rambutnya berhenti seketika. Dia menatap Kyuhyun dengan mulut menganga. Dan tanpa berpikir panjang Morin bergegas mengejar Kyuhyun yang berjalan memunggunginya lalu dengan sekuat tenaga menendang pantat Kyuhyun.

YA!” Kyuhyun berbalik menghadap Morin dengan tatapan marah. Tangannya menempel pada pantatnya yang sakit.

“Kenapa kau mengatakannya secara frontal!”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”

“Kau seharusnya tidak mengatakannya. Itu topik yang sensitif bagi perempuan!”

“Kau seharusnya juga tak perlu menendang pantatku!”

“Punggungku sakit karena kau. Kita impas!” Morin menuju sofa dan duduk di atasnya dengan hati-hati, Kyuhyun pun mengikuti Morin dan melakukan hal yang sama.

“Kau menendangku keras sekali,” keluh Kyuhyun.

“Bagaimana denganku. Kau pikir tubuhmu itu ringan.”

“Sepertinya aku tidak akan bangun dari tempat tidur untuk beberapa hari.”

Nado.”

“Lalu bagaimana dengan kelanjutan spageti itu?”

Molla.”

“Sudah kubilang di awal, sebaiknya kita beli pizza atau ayam.”

“Tapi aku ingin spageti.”

“Kita bisa memesannya lain kali. Aku janji akan meluangkan waktu untuk pergi makan spageti denganmu.”

“Argh, molla,” kesal Morin menyuruh Kyuhyun diam.

Lagi-lagi mereka terdiam, kali ini untuk waktu yang cukup lama. Pandangan mereka kosong. Tapi mereka memikirkan suatu hal yang sama. terbukti dari keduanya yang memanggil nama masing-masing secara bersamaan.

“Kau duluan.”

Kyuhyun mengambil nafas. “Ada yang ingin aku katakan padamu.”

Morin mengangguk. Terserah siapa yang melakukannya, kau ataupun aku, hasilnya akan sama, pikir Morin.

“Ini tentang… hubungan kita berdua. Agensiku sudah tahu hubungan kita berdua. Saat ini CEO ku sedang marah , dan ini bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang Super Junior. Karena jika salah satu dari kami mendapat masalah, maka akan berimbas pada yang lain.”

“Aku mengerti,” jawab Morin pelan.

“Aku memang egois. Di satu sisi aku tidak siap kehilangan Super Junior karena menyanyi adalah impianku. Tapi, di sisi lain aku juga tidak bisa kehilangan kau. Jadi yang ingin kukatakan adalah, maukah kau menungguku?”

Morin diam. Kyuhyun menunggu. Dan beberapa menit menunggu terasa seperti selamanya, Morin menggeleng. “Sampai kapan aku harus menunggumu?”

Morin melanjutkan karena Kyuhyun tak menjawabnya. “Aku tidak bisa. Untuk apa menunggu sebuah ketidak pastian. Sedangkan di lain pihak, orang tuaku telah merencanakan pertunanganku.” Morin berhenti sesaat untuk mengatur nafas. Jangan menangis Morin, jangan sekarang, pikir Morin. “Jangan mempersulitnya dengan membohongi diri sendiri. Kita buat ini jadi lebih mudah. Mari kita akhiri hubungan ini. Aku akan kembali ke Beijing dan tak akan pernah mengganggumu lagi. Jadi, silakan lanjutkan hidupmu dengan baik.”

“Kau akan bertunangan dengan Sang Hoon?”

“Ya. Sejak kecil keinginanku adalah menjadi istri Sang Hoon oppa.”

“Kenapa kau seperti ini Morin?”

Morin menangkap nada kecewa dalam suara Kyuhyun. “Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng dan berjalan pergi, tapi sebelum mencapai pintu, Kyuhyun berbalik. “Apakah kau pernah mencintaiku selama ini?”

Morin ingin berteriak ‘ya’ sekeras mungkin tapi yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan kata hatinya. “Aku tidak tahu.”

Kyuhyun tampak kebingungan kemudian kembali kepada Morin dan menarik tubuh Morin ke dalam pelukannya. “Seharusnya aku marah, dan aku memang marah, tapi ada perasaan lain yang tidak aku mengerti. Dan sebelum aku sadar perasaan apa itu, paling tidak aku harus melakukan ini. Terima kasih untuk waktu-waktu yang telah kita lalui bersama hingga hari ini. Maafkan aku karena berkali-kali membuatmu menangis, kecewa atau marah. Berjanjilah padaku untuk tetap sehat dan hidup berbahagia.”

Morin hanya mengangguk dalam diam sambil menggigit bibirnya kuat-kuat agar isakan tidak keluar dari bibirnya. Dan setelah melepas pelukan, dengan tanpa memandang Morin, Kyuhyun benar-benar pergi. Dan detik itulah pertahanan Morin pecah, dia menekan tangan ke mulutnya untuk meredam isak tangisnya. Rasanya begitu menyakitkan, seolah sebuah panah tak kasat mata ditembakkan ke dadanya kemudian di tarik kembali dengan paksa, menyisakan sebuah luka yang berdarah namun tak bisa disembuhkan.

TBC

Advertisements