[Our Line] #18 Our Story Line (Final)

by monamuliaa

Our Line cover

Chapter ║ Friendship, Comedy, Romance

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

 

.

 

Im Family’s Home.

Beijing. China

October 29, 2013

 

Di luar ruang kerja ayahnya, Naya merenung. Pertengkaran orang tuanya begitu jelas hingga ke luar ruangan. Lagi-lagi orang tuanya bertengkar tentang Morin, padahal ini sudah berbulan-bulan sejak Morin pergi ke London. Dia tidak percaya jika para pelayan yang hilir mudik di depan ruangan mengaku tak tahu menahu tentang pertengkaran ini. Mereka pasti tahu, hanya saja berpura-pura tak tahu. Mereka tidak berada dalam posisi untuk ikut campur masalah majikannya. Seharusnya Naya juga pergi seperti pelayan yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan, dan bersikap pura-pura tak tahu. Tapi dia tak melakukannya. Naya berdiri disana, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari ayah dan ibunya. Mendengarkan ibunya yang berteriak pada ayahnya, dan suara dingin ayahnya. Ini tidak adil karena anak-anak yang harus menanggung penderitaan atas sifat keras kepala orang tua mereka. Dulu Suhwan, sekarang Morin, dan kelak bisa jadi dirinya. Baginya, orang tuanya lah yang harus bertanggung jawab penuh atas kematian kakak sulungnya. Mereka terlalu egois hingga tak pernah memikirkan perasaan anak-anaknya. Mungkin waktu itu ketika Suhwan kecelakaan, dia memang tak mengerti apa-apa karena dia hanyalah seorang anak kecil. Tapi sekarang, dia bukan lagi bocah berusia 5 tahun yang tak mengerti apa-apa. Dia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan seorang kakak lagi.

Hari itu juga, Naya membutuhkan sebuah tiket pesawat menuju Korea Selatan. Morin memang sudah berada di London dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kyuhyun, tapi Naya tahu betapa besar harga yang harus dikorbankan Morin untuk mengambil keputusan itu. Meski tak diketahui siapapun, tapi sebenarnya dialah yang paling mengerti Morin. Naya mengerti kenapa Morin tak pernah memberi kabar tentang kondisinya di London sejak telepon darinya berbulan-bulan yang lalu. Dia mengerti penderitaan yang dirasakan Morin, sedangkan orang tuanya percaya begitu saja dengan alasan sibuk yang Morin sampaikan kepada mereka. Naya mengerti rasa kehilangan Morin atas kematian Suhwan, bahkan hingga sekarang. Dia mengerti alasan sebenarnya Morin lebih memilih tinggal di Seoul daripada di Beijing, alasan yang orang tuanya pun tak pernah sadari. Diam-diam Morin juga menyalahkan orang tuanya atas kematian Suhwan, sama seperti dirinya. Tapi Naya dan Morin tak pernah mendengar permintaan maaf orang tuanya kepada Suhwan ketika Suhwan dimakamkan, atau rasa penyesalan ayah dan ibunya atas kematian Suhwan. Mereka menyalahkan orang lain, dan bersikap seolah orang lain itulah yang menyebabkan kematian Suhwan padahal sebenarnya mereka sendirilah yang secara tidak sengaja membunuh anak laki-laki mereka satu-satunya.

-ooOoo-

Seoul. South Korea.

October 30, 2013

 

Naya memandang rumah yang dulu pernah ditinggalinya bersama orang tuanya, Morin dan Suhwan. Sekarang rumah itu kosong. Suhwan telah pergi untuk selama-lamanya. Dan Morin, meski suatu hari nanti dia akan kembali, tapi Naya tahu bahwa dirinya tak akan mendapati Morin yang sama seperti dulu lagi. Rumah itu seolah menunjukkan betapa kosong sebenarnya ikatan keluarganya. Sebuah ikatan keluarga tanpa ada makna kekeluargaan yang sesungguhnya. Sedangkan disini, di rumah ini, bertahun-tahun yang lalu ikatan keluarga yang sebenarnya pernah terjalin. Meski sekarang semua itu telah sirna.

Ahjushi kita pergi sekarang.”

Untuk terakhir kalinya Naya memandang rumah yang penuh kenangan itu sebelum taksi yang ditumpanginya menghilang di tikungan jalan. Dia bukan Morin yang sebenarnya lemah tapi berpura-pura seolah begitu kuat. Dia tak akan menangisi apa yang sudah menjadi masa lalu. Dia tak bisa menghidupkan kembali Suhwan. Tapi dia bisa mengembalikan kebahagiaan Morin dan dia memang harus melakukan itu. Bukan hanya sebagai seorang adik, tapi sebagai saudara yang begitu menyayanginya.

Setelah mengucapkan terima kasih singkat dan menolak uang kembalian dari supir taksi, Naya melangkah memasuki gedung pencakar langit itu. Tak sulit menemukan tempat tinggal sebuah boy group terkenal betapapun banyak cara dilakukan untuk tetap merahasiakan tempat tinggal itu atau betapapun ketat penjagaan di gedung apartemen itu. Dengan gaya angkuh dan dinginnya, Naya berhasil melewati pemeriksaan di pos penjagaan dengan mudah.

Naya melangkah dengan mantap di sepanjang koridor lantai 11 di gedung apartemen itu. Tujuannya hanya satu. Sebuah unit apartemen yang merupakan tempat tinggal Kyuhyun. Naya menekan bel pintu kuat-kuat, membiarkan bel pintu itu berhenti beberapa saat lalu kembali menekannya hingga berulang-ulang sampai akhirnya pintu mendorong terbuka, dan seorang pria berambut pirang melongokkan kepalanya keluar.

“Kau mau apa? Foto? Tanda tangan? Ayo kita lakukan dan segera kembalilah pulang. Kau tidak boleh mengganggu kami setiap hari.”

“Aku ingin bertemu Kyuhyun.”

“Ya Tuhan berapa usiamu sampai-sampai kau bicara tidak sopan seperti itu kepada orang yang lebih tua.”

“Usiaku bukan urusanmu. Aku hanya ingin bertemu Kyuhyun. Jadi biarkan aku masuk, kemudian aku akan segera pergi setelah menyelesaikan urusanku dengan Kyuhyun.”

Eunhyuk mengacak rambutnya dengan kesal. “Aku merasa tidak asing dengan sikap seperti ini. Siapa namamu?”

“Kenapa kau hanya membuang-buang waktuku disini sedangkan aku punya urusan penting dengan Kyuhyun.”

“Ya Tuhan, kau benar-benar mengingatkanku pada Im Morin.”

“Aku adiknya.”

“Lucu sekali. Sekarang pulanglah karena Kyuhyun sedang tidak ada di dorm.”

“Biarkan aku menunggu di dalam.”

“Hah! Kau benar-benar seseorang yang gigih. Jangan mencari-cari alasan untuk masuk ke dalam dorm.”

Tepat saat itu, orang yang sedang Naya cari berjalan ke arah mereka. Kyuhyun berjalan dengan gontai. Dia terlihat sangat lelah, dan kantung matanya begitu gelap. Naya tak pernah melihat Kyuhyun seburuk dan seberantakan ini.

“Dia terlihat begitu―uh, bagaimana mengatakannya,” gumam Naya.

“Mengerikan.” Eunhyuk mengangguk. Membantu Naya mendeskripsikan penampilan Kyuhyun secara keseluruhan.

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dia baru putus dengan kekasihnya.” Eunhyuk mengatakannya sambil lalu tapi kemudian menatap Naya dengan terkejut. Dia memukuli mulutnya sendiri.

Wae?” tanya Naya penasaran pada sikap Eunhyuk.

“Kau tak akan menceritakan pada semua orang apa yang baru saja kukatakan kan?”

“Tidak, kenapa memangnya?”

Eunhyuk menghela nafas lega. “Bukan apa-apa. Sudah ku bilang pulanglah sekarang.”

“Tidak setelah aku melihat orang yang ingin aku temui.”

Cho Kyuhyun sama sekali tak melihat ke arah Naya. Dia bahkan tak mengatakan apa-apa ketika melewatinya. Pria itu benar-benar kacau. Lebih buruk ketika melihatnya dengan jarak begitu dekat. Dan Naya semakin meyakini bahwa kakaknya tidak mengalami penderitaan sepihak. Paling tidak itu yang bisa Naya nilai dari penampilan Kyuhyun. Kemudian secara tiba-tiba dia penasaran bagaimana kekacauan yang dialami kakaknya.

“Cho Kyuhyun?” Naya buru-buru memanggil nama Kyuhyun sebelum pria itu menghilang di dalam dorm.

Kyuhyun menoleh sekilas. “Aku sedang tidak dalam kondisi baik untuk berfoto denganmu, jadi pulanglah.”

“Kau dengar itu? Bahkan Kyuhyun pun juga menyuruhmu pulang.” Eunhyuk sudah bersiap-siap menutup pintu dorm.

“Uhm, sebaiknya aku memang memperkenalkan diri terlebih dahulu disini. Namaku Naya, Im Naya, adik kandung Im Morin.”

Eunhyuk melotot tak percaya pada Naya. Dia meneliti penampilan Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki, tapi Naya mengabaikannya. Dia menunggu, matanya tetap terarah pada Kyuhyun. Naya ingin tahu bagaimana reaksi pria itu ketika mendengar salah seorang dari keluarga Im datang menemuinya setelah berbulan-bulan tak pernah ada yang berani menyebut nama marga itu di dorm, ataupun di rumah. Namun ternyata reaksi Kyuhyun di luar dugaan. Pria itu tidak bersikap gembira dengan segera membukakan pintu dorm lebar-lebar lalu menyuruh Naya masuk tapi justru hanya menatap Naya dingin kemudian mengabaikannya.

Ketika Eunhyuk yang secara spontan menepi ke dinding dan membiarkan Naya masuk, dia berpikir tak perlu repot-repot mengucapkan terima kasih padanya karena Naya hanya peduli pada Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun bersikap dingin, tapi Naya tahu, Kyuhyun sebenarnya terkejut mendengar siapa dirinya, terlihat dari gerakan mata Kyuhyun yang tak luput dari pengamatan Naya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun yang sadar bahwa Naya mengikutinya.

“Untuk bertemu denganmu.”

“Apa yang kau inginkan?” tanya Kyuhyun memandang Naya dengan wajah lelahnya.

“Kita perlu bicara.”

Kyuhyun mendengus mendapati sikap Naya yang sok dewasa padahal dia tahu bahwa Naya masih berumur 17 tahun. Dan apa yang ingin dibicarakan gadis 17 tahun ditambah fakta bahwa gadis itu adalah adik dari mantan kekasihnya.

“Kita perlu bicara,” ulang Naya.

“Tentang?”

“Morin―uhm, hubungan kalian,” ucap Naya buru-buru mengoreksi.

“Hubungan kami? Tidak ada hubungan apapun diantara kami sekarang, kau salah orang. Seharusnya kau menemui Sang Hoon, bukankah dia calon kakak iparmu!”

Naya terkekeh singkat. “Kau bilang tak ada hubungan apapun diantara kau dan Morin, tapi kenapa aku mendengar nada cemburu?”

Gadis ini lebih menyebalkan daripada Morin, pikir Kyuhyun.

“Apa aku harus pergi?” tanya Eunhyuk yang tampaknya butuh waktu cukup lama untuk berpikir bagaimana sebaiknya dirinya bersikap.

Andwae! Aku tidak ingin terjadi kesalah pahaman disini,” jawab Naya. Kyuhyun mengangguk setuju.

“Ikut aku.” Kyuhyun membawa Naya ke ruang makan. Sebelum pergi, dia melihat Eunhyuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Ini jelas tak akan bisa dirahasiakan dari para member lainnya, pikir Kyuhyun.

“Jadi?” tanya Kyuhyun memandang Naya. Tubuhnya bersandar pada meja counter dapur dan tangannya menyilang di depan dada.

“Uhm, boleh aku duduk dan mendapat sekaleng cola jebal?”

Kyuhyun memutar matanya. Dia pikir akan menghadapi perbincangan serius tapi nyatanya, Naya bersikap layaknya seorang gadis 17 tahun pada umumnya. Dan meskipun demikian Kyuhyun tetap memenuhi apa yang Naya inginkan.

“Aku datang dari Beijing hari ini dan langsung kemari tanpa istirahat―”

Kyuhyun mengangkat tangan menghentikan Naya. “Katakan apa yang perlu kau katakan dan segera pulanglah.”

“Ngomong-ngomong, sebelum aku mulai bicara hal lain, apa kau tak ingin menanyakan kabar Morin?”

Lagi-lagi Naya berhasil membuat Kyuhyun menunjukkan rasa pedulinya pada Morin. Untuk sesaat dia percaya Kyuhyun akan mengiyakan karena jelas-jelas dia terlihat begitu ingin tahu tapi ternyata Kyuhyun cukup ahli dalam mengontrol emosinya.

“Tidak. Aku tahu dia hidup bahagia dan menjalin hubungan yang selama ini diidam-idamkannya bersama Sang Hoon di Beijing.”

Naya mengangguk-angguk yang bagi Kyuhyun terlihat justru semakin menyebalkan. “Pertama yang ingin kuberitahu adalah, jangan mempercayai alasan apapun yang diberikan Morin ketika meminta berpisah denganmu, karena semua itu bohong.” Naya tidak perlu mendengar cerita langsung tentang perpisahan mereka untuk tahu apa yang Morin sampaikan pada Kyuhyun. Kyuhyun sudah memberitahukannya pada Naya tanpa berniat melakukannya.

“Dia tidak tinggal di Beijing? Apakah Sang Hoon kembali ke Kanada? Dia juga pindah ke Kanada?”

Pria ini benar-benar bodoh, pikir Naya. “Morin tidak tinggal di Beijing, ya, ataupun di Kanada, ataupun di Seoul. Tidak juga berpacaran, bertunangan―atau apapun jenis hubungan yang ada di kepalamu―dengan Sang Hoon. Tak ada hubungan apapun diantara mereka berdua. Bahkan aku ragu kapan terakhir kali mereka bertemu.”

Kyuhyun menegakkan tubuhnya, kini dia memusatkan perhatiannya penuh pada Naya. “Jadi, dimana dia sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus. Sejak awal aku sudah memberimu kesempatan untuk menanyakan kabar Morin. Kalau saja tadi kau melakukannya, jelas kita tak akan berputar-putar seperti ini.”

Gadis ini sengaja mempermainkannya, pikir Kyuhyun. “Dimana dia sekarang? Bagaimana kabarnya?”

“London. Bagaimana kabarnya? Kurasa dia tak lebih baik darimu sekarang.” Naya meneliti penampilan Kyuhyun. “Aku bisa membayangkan betapa kacaunya dia. Lebih kacau darpada kau. Dia tak mungkin melarikan diri begitu jauh jika tidak benar-benar kacau. Sejak dulu dia terus-terusan melarikan diri, melarikan diri dari Beijing untuk tinggal di Seoul, kemudian sekarang melarikan diri dari Seoul untuk tinggal di London.” Naya meneguk colanya dan Kyuhyun tak berniat menyela karena dia merasa Naya belum selesai dengan ceritanya.

“Ketika aku memilih tinggal di Beijing dan melawan orang tuaku atas kematian Suhwan oppa dengan cara memberontak, Morin justru meninggalkanku dan tinggal menyendiri di Seoul. Morin seolah menganggap aku tak mengerti dirinya, dia tak pernah mau membagi apapun denganku. Dia selalu lebih memilih memendamnya seorang diri. Padahal sebenarnya aku begitu menyayanginya dan Suhwan oppa, akupun begitu merasa kehilangan atas kematian Suhwan oppa sama seperti dirinya.” Suara Naya bergetar dan segera mengusap matanya, tak membiarkan air matanya menetes.

Kyuhyun mendorong tissue di sisi lain meja makan kepada Naya. Baru hari ini dia tahu betapa kompleks masalah dalam keluarga Morin. Selama ini sebenarnya dia memiliki kesempatan untuk berbagi dengan Morin, tapi dia melewatkan kesempatan itu. Semakin hari, Kyuhyun semakin sadar betapa sedikit yang dia ketahui tentang Morin, betapa dia belum mengenal Morin seutuhnya. Bahkan diapun tak pernah tahu apa film kesukaan Morin.

“Kau sudah pernah dikenalkan Morin pada Suhwan oppa? Dia seusiamu ini ketika meninggal,” tanya Naya dengan perubahan emosi yang drastis.

“Ya.”

“Kau tahu kenapa oppa meninggal?”

“Kecelakaan?”

Naya terkekeh singkat. “Pasti Morin mengatakan seperti itu. Dan hanya itu.”

“Ya. Aku tak ingin membuat Morin sedih dengan menanyakan bagaimana tepatnya kematian Suhwan.”

“Kau seharusnya menanyakannya. Lalu kau akan tahu kenapa ibuku mati-matian melarang hubungan kalian berdua.”

“Kau tak perlu menceritakannya kepadaku jika kenangan itu begitu menyedihkan.”

Naya menggeleng. “Orang lain perlu tahu cerita sebenarnya,” jawab Naya mengenang. “Aku ingat sekali hari itu. Musim panas tahun 2002, kami sekeluarga pergi berlibur ke pulau jeju. Aku dan Morin berdiri di puncak tangga rumah penginapan ketika kami melihat oppa bertengkar dengan ayah dan ibu karena tanpa seijin mereka, oppa mengajak kekasihnya pulang untuk menginap disana sebab hujan tak kunjung reda. Sudah sejak lama orang tuaku tak menyetujui hubungan oppa dengan kekasihnya tapi baru hari itu terjadi pertengkaran yang begitu hebat. Bahkan ayahku juga menampar oppa. Dan aku ingat betul apa yang oppa katakan setelah ditampar ayah ‘aku akan meninggalkan rumah ini dan tak akan pernah kembali selamanya’ kemudian oppa pun pergi menaiki mobil kekasihnya dengan kecepatan tinggi.”

“Aku dan Morin berlari menyusul oppa dan hanya berdiri di teras karena hujan begitu lebat. Dan kemudian kami berdua melihat dengan mata kepala kami sendiri mobil yang ditumpangi oppa selip lalu meledak dengan suara ledakan keras. Asap mengepul ke udara, sedangkan kami berdua hanya bisa menangis menjerit-jerit. Oppa benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Dia tak akan pernah kembali untuk selamanya.”

“Bagian mana yang menjadi alasan ibumu melarang aku dan kakakmu menjaling hubungan?” Kyuhyun mulai merasa apa yang dilakukannya sekarang membuang-buang waktu. Tak seharusnya dia membiarkan Naya masuk ke dorm.

“Kau pernah mendengar seorang model bernama Rachel Kim?” balik tanya Naya.

“Model pertama Korea Selatan yang berhasil melakukan debut sebagai model internasional? Ya. Berita kecelakaannya dulu menjadi topik teratas pada portal pencarian dan acara berita menayangkan seminggu berturut-turut tentang kematiannya akibat kecelakaan itu.” Begitu selesai mengatakannya, sebuah lonceng di dalam kepala Kyuhyun seolah berbunyi. “Apa dia kekasih Suhwan?”

Naya mengangguk.

Kyuhyun menatap Naya tak percaya. “Tapi pemberitaan tak pernah menyebutkan bahwa ada orang lain di dalam mobilnya ketika kecelakaan itu terjadi.”

“Kau masih belum mengerti keluargaku? Tentu saja ayahku dengan kuasa dan uang yang dimilikinya membungkam semua pemberitaan media tentang keberadaan oppa di dalam mobil yang sama dengan Rachel Kim. Kau pasti juga tahu bahwa sebelum berhasil menjadi model intrnasional, Rachel Kim pernah menjadi salah satu model untuk majalah dewasa. Tentu saja bagi keluarg kami, merupakan hal yang memalukan memiliki seorang anggota keluarga yang berpacaran dengan model seperti itu. Karena peristiwa itulah ibuku begitu membeci para pekerja seni. Baginya, model, artis, penyanyi, mereka semua sama. Sedangkan ayahku, cukup lama terpuruk dalam rasa bersalah. Dan sejak saat itu, hubungan dalam keluarga kami tidaklah sama lagi.”

Naya terdiam. Begitupun Kyuhyun. Naya meneguk colanya dengan tenang. Sedangkan Kyuhyun berkutat dengan pikirannya sendiri. Jika itu alasannya, kenapa Morin tak mengatakan yang sebenarnya? Dan malah dengan begitu jahatnya berbohong dengan mengatakan bahwa dia akan bertunangan dengan Sang Hoon? Pikir Kyuhyun.

“Kau ingin tahu kenapa Morin berbohong padamu?” tanya Naya seolah membaca pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun tak menjawab.

Naya melanjutkan. “Karena dia takut hal yang serupa akan terjadi pada kalian. Bukan berarti dia takut mati, tapi dia takut kehilangan kau. Ibuku yang sekarang benar-benar berubah menjadi orang yang sulit dikendalikan. Morin takut ibu akan melakukan hal-hal yang buruk padamu. Jadi menjagamu tetap aman dengan menciptakan sedikit kebohongan adalah pilihan yang terbaik baginya. Dia yakin bahwa dengan membuatmu membencinya, kau akan lebih mudah untuk melupakan Morin dan tetap melanjutkan hidupmu dengan baik. Meskipun Morin harus mengorbankan kebahagiannya sendiri untuk ini.”

“Sekarang, setelah kau mengetahui yang sebenarnya. Silakan memutuskan sendiri sikap yang akan kau ambil. Kebahagiaan Morin bergantung keputusanmu. Dan akupun tahu, bukan hanya kebahagiaan Morin yang ada di tanganmu, tapi juga kebahagiaanmu sendiri. Terima kasih untuk colanya.”

Kyuhyun kehilangan fokus pandangan. Dunianya berputar. Dia melangkah dengan kaki diseret ke dalam kamarnya. Sedangkan Naya hanya memperhatikan Kyuhyun yang justru nampak lebih kacau dari sebelumnya menghilang di balik pintu kamar. Dia meraih tissue di atas meja dan mulai membersihkan air matanya sebelum pergi dari dapur juga.

Di ruang tamu, Eunhyuk spontan berdiri dan menatap khawatir padanya. Tapi sekarang dia tidak sendirian. Donghae dan Ryowook juga ada bersamanya disana. Ketika menatap Donghae, Naya mematung seketika. Ya Tuhan, Donghae oppa kenapa bisa terlihat begitu sempurna, ratap Naya dalam hati. Hilang sudah usahanya untuk bersikap angkuh dan tak peduli sekitar padahal sejak tadi dia sudah menahan diri untuk menjerit-jerit ketika melihat Eunhyuk. Hei, bagaimanapun aku adalah gadis 17 tahun yang tahu bagaimana cara bersenang-senang dalam hidup ini, pikir Naya.

“Donghae oppa, bolehkah aku minta berfoto?” Naya mengusahakan suaranya setenang mungkin meski seluruh tubuhnya dipenuhi gelombang kebahagiaan. Dan dia sadar akan lepas kendali ketika Donghae mengiyakan, karena kenyataannya sekarang dia memang melompat dan menjerit kegirangan.

-ooOoo-

Beijing. China.

March 3, 2014

 

Naya yang memainkan ponselnya sambil menggigiti coklat batangan di ruang tamu secara spontan langsung beridri dengan mulut menganga begitu melihat siapa yang datang. Dia meneliti Kyuhyun dari atas ke bawah berkali-kali. Kyuhyun yang berdiri di ruang tamu rumahnya begitu terlihat tampan terbalut dalam setelan hitam dan dasi kupu-kupu, rambutnya disisir rapi serta sepatu kulitnya begitu mengkilap. Selain itu, dia begitu wangi, sampai-sampai aroma parfumnya menusuk hidung Naya. Sebelumnya Naya pesimis dan menganggap Kyuhyun pengecut karena tak juga mendengar kabar apapun dari Kyuhyun bahkan setelah tahun baru dan Januari berakhir. Tapi setelah melihat Kyuhyun lagi sekarang di rumahnya, dia sadar butuh usaha dan tekad yang begitu kuat untuk memutuskan sesuatu yang tak akan pernah disesali kelak di masa depan.

“Kau sudah melaksanakan apa yang kuperintahkan di pesan tadi?”

“Y-ya. Ayah dan ibu ada di dalam. Tapi apa yang akan kau lakukan menemui ayah dan ibuku dengan dandanan seperti itu?”

“Kau akan tahu nanti adik ipar.” Kyuhyun mengerling misterius lalu meninggalkan Naya. Aroma parfum yang dikenakan Kyuhyun masih tercium bahkan setelah Kyuhyun pergi.

Naya sadar sesuatu. Dia berputar dan melotot pada punggung Kyuhyun. “Adik ipar?”

Meskipun penampilan Kyuhyun tampak begitu meyakinkan dan mantap, namun sebenarnya dia sangatlah gugup. Dia tak percaya akan melakukan ini di usianya yang masih tergolong muda. Tapi memang tak ada cara lain untuk meyakinkan kedua orang tua Morin selain ini. Berkali-kali Kyuhyun menghirup nafas, berhitung hingga 5 lalu mengeluarkannya pelan. Sial, ini bahkan lebih menegangkan dibanding hari pertama debut, pikir Kyuhyun. Paling tidak ketika menyanyi dia bisa menyombongkan diri. Tapi kali ini, tak ada apapun yang bisa dia sombongkan kecuali tekad dan kemantapan hatinya.

“Lama tidak bertemu Cho Kyuhyun.”

Sapa ayah Morin ketika Kyuhyun masuk ke dalam ruangan. Ayah Morin tersenyum ramah seperti terakhir kali dia menemuinya, sedangkan ibu Morin hanya menatapnya dingin dan angkuh.

“Selamat malam nyonya dan tuan. Maaf jika ini tergolong mendadak dan saya terlihat begitu tidak sopan. Tapi saya telah menitipkan pesan kepada Naya agar memberitahukan kedatangan saya ini beberapa jam sebelumnya.”

“Silakan duduk.” Ayah Morin mempersilakan. Dan diam-diam ibu Morin merasa takjub dengan keberanian Kyuhyun yang sekarang dibanding terakhir kali dia menemui anak itu.

Kyuhyun meposisikan diri senyaman dan sesopan mungkin di atas sofa beludru. Dia ingin memastikan bahwa tak ada sedikitpun hal yang akan mengurangi penilaian orang tua Morin terhadapnya meskipun sebenarnya mulutnya kering dan jantungnya serasa mau meledak saat ini.

“Aku dan istriku sebenarnya akan pergi makan malam dengan seorang teman tapi mengurungkannya karena Naya terus-terusan memohon agar kami berdua tetap tinggal.” Ayah Morin memberi tahu Kyuhyun dengan riang.

“Sekali lagi saya minta maaf telah mengganggu waktu anda.”

Gwenchana,” jawab ayah Morin masih dengan nada riang yang justru membuat Kyuhyun semakin gugup. “Aku senang melihatmu lagi setelah waktu yang cukup lama.”

Kyuhyun tersenyum. “Saya sengaja ingin bertemu anda, karena selama saya mengenal Morin, saya belum pernah secara formal datang untuk menyapa anda berdua. Dan walaupun sudah cukup lama, saya berharap anda tidak melupakan saya begitu saja.”

“Kau bertemu Morin lagi?” Akhirnya ibu Morin mengeluarkan suaranya.

Animida. Saya sebelumnya meyakinkan agensi saya untuk memasukkan London ke dalam daftar tur konser dunia kami November lalu. Tapi saya tidak sempat bertemu dengan Morin padahal saya sudah mencuri-curi waktu di antara persiapan konser untuk menyisir kota London. Tampaknya Morin benar-benar ingin menghindari saya.” Kyuhyun sedih hanya dengan membayangkan usahanya yang gagal menemukan Morin.

“Morin juga jarang menghubungi kami karena sibuk dengan jadwal kuliahnya. Padahal aku sangat merindukannya.”

“Maaf jika ini terdengar tidak sopan, tapi saya juga sangat merindukan Morin. Sebenarnya bisa saja saya kembali ke London setelah meminta nomor ponselnya kepada Naya lalu melacak keberadaannya. Tapi bagi saya itu terlihat tidak sopan dan saya merasa lebih bijaksana seandainya saya datang langsung kemari untuk meminta alamat Morin di London.”

“Tentu. Aku lupa alamatnya, tapi mencatatnya, aku akan mengambilkan―”

“Dan untuk apa kami harus memberikanmu alamat itu,” cegah ibu Morin.

Ayo katakan Kyuhyun, ayo, pikir Kyuhyun.

“Jelas-jelas hubungan kalian sudah berakhir dan Morin juga tak ingin bertemu denganmu. Jadi tak ada alasan bagi kami memberikanmu alamatnya.”

“Karena saya mencintainya. Dan karena tampaknya saya harus mendapatkan ijin dari anda hanya untuk mencintainya, maka saya ada disini untuk itu.”

Ibu Morin terpana. Sedangkan ayah Morin tersenyum bangga.

“Permintaan ijin saya ini adalah bukti betapa saya serius dan mempertanggung jawabkan apa yang saya ucapkan. Ini bukan berarti saya akan menikahinya dalam waktu dekat. Karena saya sadar, kami berdua sama-sama belum siap dan belum pantas untuk sebuah pernikahan. Setelah lulus Sarjana saya masih harus melanjutkan program Pasca Sarjana saya, begitupun Morin dari yang saya dengar. Sebagai seorang artis saya masih memiliki kontrak dengan agensi keartisan yang melarang saya menikah sampai usia tertentu. Ditambah lagi saya harus menjalankan kewajiban militer saya. Tapi ini bukan berarti saya tak akan menikahinya. Kelak ketika saya sudah merasa lebih pantas dan Morin masih tetap mencinta saya, saya berjanji akan datang kembali untuk meminta restu dari anda. Dan saya pastikan pada hari itu bagaimanapun caranya untuk mendapat restu dari anda berdua.”

“Kau bilang tadi kelak ketika Morin tetap mencintaimu, tapi bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanya ayah Morin pelan.

“Saya akan selalu mencintainya, bahkan ketika Morin tak lagi mencintai saya karena saya harus mempertanggung jawabkan perkataan saya hari ini.”

Ketika Kyuhyun pamit pulang setelah itu, ayah dan ibu Morin masih duduk termenung di dalam ruangan.

“Bukankah dia anak yang cukup berani?” tanya ibu Morin tanpa memandang suaminya.

“Begitukah menurutmu?” tanya ayah Morin.

Ibu Morin memutar bola matanya dan melotot pada suaminya.

Ayah Morin tertawa. “Kau akan menyukainya semakin kau mengenal anak itu.”

-ooOoo-

Sekembalinya dari Beijing, Kyuhyun pergi ke perusahaan SM. Dia menunggu CEO Kim di ruang kantornya. Kyuhyun merasa perlu meluruskan beberapa hal dengan CEO Kim. Jadi ketika CEO Kim kembali dari rapat pemegang saham, Kyuhyun tidak perlu berbasa-basi untuk menyampaikan tujuannya dengan jelas dan singkat.

“Tentang foto-foto yang anda terima waktu itu. Saya tidak peduli lagi sekarang. Saya akan bersikap baik dan mematuhi perusahaan selama saya masih memiliki kontrak dengan perusahaan. Tapi setelah kontrak saya berakhir, saya tak akan membiarkan perusahaan mendikte apapun yang harus saya lakukan atau ikut campur dalam kehidupan pribadi saya. Karena seperti yang anda bilang, selama saya masih terikat kontrak dengan SM, tak akan ada yang namanya kehidupan pribadi.”

Lalu tanpa menunggu jawaban CEO Kim, Kyuhyun permisi pulang. Di dorm, member Super Junior menatapnya khawatir dan Ryeowook menyuruhnya untuk makan, tapi dia menolak dan memilih pergi ke kamar setelah mengatakan pada mereka bahwa dirinya baik-baik saja. Di kamar, tanpa mengganti pakaiannya, Kyuhyun berbaring di tempat tidur lalu menyalakan lampu tidur. Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas lusuh.

Exhibition Road London SW7 A4. House No. 17.

-ooOoo-

London. England.

March 5, 2014.

Kenyataannya, aku memang tak pantas untuk bahagia. Semua kenangan indah dan penuh air mata itu telah kutanggalkan bersama diriku yang sempat menikmati kebahagiaan semenjak pesawat yang kutumpangi membawaku ke London. Yang kumiliki sekarang tak ubahnya tubuh yang tak berjiwa. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai diriku yang sendirian di dalam duniaku yang sepi dan menolak melakukan sosialisasi dengan dunia luar. Secara terang-terangan aku mengubah diriku sendiri menjadi seorang anti sosial.

Tak seorang pun di London yang kukenal, mengenalku atau berusaha untuk aku kenal. Kuhindari segala bentuk benda yang bisa menunjukkan tentang dunia luar. Bahkan aku tak peduli dengan hari esok, ataupun hari ini, juga tentang masa depanku, karena aku tak memiliki tujuan hidup. Aku adalah orang hidup yang mati.

Mengakhiri hidup bagi sebagian orang tampak begitu mudah. Mereka menemukan berbagai cara untuk mati. Aku juga ingin mengakhiri penderitaan ini, namun ternyata mati begitu sulit bagiku. Setahun yang lalu, seseorang berhasil membuatku berjanji untuk tetap sehat dan hidup bahagia. Sampai hari ini aku berusaha untuk menepatinya. Untuk tetap sehat, aku perlu energi dan membersihkan diri. Aku makan sekali dalam sehari untuk mendapatkan energi, mandi agar tetap bersih, juga pergi ke kampus karena yang terakhir ini janjiku pada ayahku. Dan sebagai manusia aku harus bernafas betapapun sakitnya dadaku. Tapi, apa aku bahagia? Sekarang, aku bahkan lupa apa itu bahagia, atau bagaimana cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Janjiku tidak dapat kupenuhi semua, tapi paling tidak aku menepati satu dari dua permintaan itu.

Pertama kali tiba di London, aku menangis, setiap hari. Tidak peduli di rumah, di kampus, atau di jalanan ketika lampu pejalan kaki berwarna merah. Dan setelah berbulan-bulan aku bisa mengendalikan diri untuk tidak lagi menangis. Sekarang justru, aku merasakan lagi keinginan kuat untuk menangis, ketika aku duduk sendirian di atas sofa, ketika aku menelan sendok demi sendok makananku atau ketika hingga dini hari aku masih terjaga. Aku juga ingin berteriak, menjerit-jerit marah tiap melihat pantulan diriku pada cermin. Aku ingin menumpahkan emosiku, mengeluarkan seluruh perasaan sakit yang bergejolak dalam diriku. Kenyataannya, aku tak menangis, tak juga berteriak. Karena air mataku kering, dan suaraku menghilang.

 

Morin menghentikan tulisannya dan meletakkan penanya karena sebuah ketukan di pintu. Selama dia tinggal di London, tak pernah seorang pun datang untuk menemuinya. Jadi ketukan yang tiba-tiba ini membuatnya sedikit bingung. Awalnya Morin hanya membiarkan ketukan itu, tapi karena setelah jeda cukup lama ketukan pada pintu kembali terdengar, akhirnya dia berjalan ke arah pintu. Biasanya Morin selalu mengintip dari jendela sebelum pergi keluar, sedangkan kali ini dia tak melakukannya. Dan betapa terkejutnya Morin melihat siapa orang yang mengetuk pintunya. Secara spontan Morin menutup kembali pintunya dan memutar kuncinya dua kali, lalu berlari ke arah saklar lampu dan mematikannya setelah melirik jam digitalnya. 07:48 pm.

Lagi-lagi terjadi ketukan pada pintu. Di belakang pintu, Morin berjalan mondar mandir seiring suara ketukan. Apa yang pria itu lakukan disini, pikir Morin. Suara ketukan pada pintu tidak terdengar tapi bahkan Morin tak berani untuk melihat melalui jendela. Sebenarnya apa yang dia takutkan? Morin sendiripun tak mengerti. Setelah cukup lama tak ada ketukan, Morin mendekati jendela, mengintip ke luar rumah. Jalanan kota London ramai, pedestrian dipenuhi pejalan kaki, tapi bukan itu yang Morin ingin ketahui. Dia melirik ke arah kursi di teras dan menemukan pria itu disana. Menyilangkan tangan di depan dada dan menundukkan kepalanya. Tampaknya sedang tidur, pikir Morin. Morin berjalan ke arah sofa yang menghadap ke teras rumah. Dia menggigiti kukunya dalam gelisah. Lalu tanpa sadar, dia pun tertidur disana. Kelelahan.

Saat terbangun, hal pertama yang Morin sadari adalah pria yang duduk di teras. Tapi tak ada siapa-siapa disana. Morin berlari ke arah pintu, menarik pintu hingga terbuka namun tak menemukan siapa-siapa. Langit masih gelap dan kota London tetap ramai, tapi tak ada tanda-tanda pernah ada seseorang disana. Morin kecewa, dia menutup pintu. Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, Morin kembali menangis. Dadanya terasa semakin sakit ketika melihat Kyuhyun kembali. Dan dia sadar betapa dia merindukan pria itu dengan seluruh jiwa raganya.

 

Morin meraih mantel serta syal dari gantungan, kemudian memakai boot coklat yang menyembunyikan kaki hingga setinggi betis. Dia tak bisa mengabaikan keinginannya untuk bertemu dengan Kyuhyun. Harapannya saat ini adalah, dia tahu dimana Kyuhyun menginap malam ini. Ketika Kyuhyun tadi datang Morin tidak mendegar suara mobil berhenti yang itu artinya Kyuhyun datang kesana dengan berjalan kaki. Berarti Kyuhyun menginap tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tapi dimana pria itu kira-kira tinggal, pikir Morin. Dia terus berjalan sepanjang pedestrian meskipun tidak mengerti kemana tujuannya. Kyuhyun adalah seorang yang terobsesi dengan kebersihan serta kenyamanan, jadi tidak mungkin dia menginap di motel, pikir Morin lagi. Kemungkinan hanya ada satu tempat dimana dia menginap, Citadines South Kensingthon Hotel, tidak jauh dari salah satu kampus Imeperial College di 35A Gloucester Road.

Ketika tiba di hotel Citadines, lonceng gereja berdentang sebanyak 12 kali. Tengah malam. Di belakang meja resepsionis, seorang perempuan berambut pirang menyapa Morin dengan sangat ramah, tapi keramahan itu berubah ketika Morin memaksanya untuk memberi tahu nomer kamar Kyuhyun. Morin memohon-mohon, tapi resepsionis itu dengan gigih menolak memberikan informasi pengunjung hotelnya. Morin mulai menangis. Jika tidak bertemu Kyuhyun hari ini, kemungkinan dia tak akan bertemu Kyuhyun lagi karen tak akan datang kesempatan yang sama untuk kedua kalinya. Dan dia tidak peduli membuat keributan di lobi hotel pada tengah malam agar bisa bertemu Kyuhyun. Keributan yang diciptakan Morin membuat seorang petugas keamanan hotel menghampirinya. Tapi Morin tidak mau pergi, tidak sebelum dia bertemu Kyuhyun. Dengan kekeuh dia memohon-mohon pada resepsionis itu.

Kamar nomer 356, lantai 3. Pada akhirnya resepsionis yang baik hati itu luluh melihat usaha Morin. Morin segera melesat menuju lift dan menekan nomor 3 pada papan angka. Saat Morin menemukan pintu dengan nomer 356 tercetak dalam kuningan, dia hanya memandanginya untuk sesaat. Dan dengan tubuh gemetar Morin mengetuk pintu kamar itu, lalu menunggu. Menunggu…

Pintu kamar itu tidak terbuka bahkan setelah ketukan ketiga. Dan masih tak kunjung terbuka walaupun Morin sudah mengetuknya berkali-kali, lebih keras, serta tidak sabaran. Morin mulai menangis lagi. Memukul-mukul pintu dengan kepalan tangannya, tak mempedulikan jika kemungkinan dia akan membuat kekacauan lagi. Tapi tampaknya hotel itu kedap suara karena walaupun Morin menangis, memukul-mukul pintu bahkan menendangnya tak ada seorangpun penghuni kamar lain yang keluar untuk melihat keributan di koridor. Tak juga pemilik kamar nomer 356. Morin seolah mengempis, dan bahkan mati rasa. Tangannya yang memukul-mukul pintu semakin melemah, keningnya menempel pada pintu kayu yang dingin.

“Morin?”

Morin menoleh dengan lemah. Pandangannya kabur akibat air mata. Bukannya berhenti menangis, dia justru menangis lebih keras ketika melihat Kyuhyun berdiri dengan begitu tampannya memandang dirinya terkejut sekaligus khawatir. Tanpa pikir panjang lagi Morin langsung melemparkan dirinya pada Kyuhyun menyebabkan pria itu sedikit mundur kebelakang karena tindakan tiba-tiba itu. Tak ada hal lain yang lebih menggembirakan bagi Morin dibandingkan dengan bertemu Kyuhyun. Harus butuh waktu begitu lama untuk membuatnya sadar bahwa Kyuhyun adalah segalanya bagi Morin.

Kyuhyun menaikkan dagu Morin. Memandang Morin dengan mata berbinar lalu melumat bibirnya. Hanya sebuah sentuhan singkat mampu mengaktifkan kembali seluruh sel-sel saraf dalam diri mereka. Tangan Kyuhyun beralih memegang kepala Morin lembut namun kuat, mendorong tubuhnya pelan melawan pintu kamar. Tangan Morin meremas rambut gelap Kyuhyun diantara jari-jarinya. Kyuhyun membuka pintu kamar disela-sela ciuman mereka namun tak melepas bibir Morin ketika membawa Morin masuk ke dalam kamar hotel hingga kedua tubuh itu memantul di atas tempat tidur. Mereka bercumbu. Menumpahkan seluruh gejolak perasaan cinta diantara mereka, menunjukkan kerinduan yang menggebu-gebu. Tak perlu saling bicara ketika kata tak mampu mengungkapkan semuanya karena sentuhan dan ciuman itu telah meneriakkan segalanya.

 

“Kapan kau datang?”

Kyuhyun memeluk tubuh Morin. Kepala Morin bersandar di atas dada Kyuhyun, telinganya mendengarkan detak jantung milik Kyuhyun. Suara detak jantung Kyuhyun itu adalah irama paling menenangkan yang pernah Morin dengarkan selama ini. Tangan Kyuhyun mengusap lembut rambut Morin yang berantakan.

“Beberapa menit sebelum aku mengetuk pintu tempat tinggalmu.”

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

“Dari ibumu.”

Morin mendongakkan kepalanya untuk memastikan bahwa Kyuhyun tidak sedang bercanda dengannya. “Bagaimana bisa?”

“Ceritanya panjang. Aku akan memberi tahumu nanti.”

“Mm hm.”

“Aku bertemu adikmu. Anak itu benar-benar menyebalkan. Lebih menyebalkan daripada kau.”

“Bukankah seluruh keluargaku menyebalkan?”

“Kupikir juga begitu.” Kyuhyun mengangguk setuju. “Ngomong-ngomong apa film favoritmu?”

“Kenapa?”

“Hanya penasaran.”

“Romeo and Juliet.”

“Kau terus-terusan mengolok-olok aku karena menyukai film itu tapi ternyata kau juga menyukainya,” omel Kyuhyun.

“Itu karena aku kesal padamu. Kau dulu bahkan tidak peka dengan menanyakan apa film favoritku.”

“Ya. Aku memang bodoh.”

Mereka saling terdiam, hanya suara nafas mereka yang memenuhi kamar.

“Apa kau akan menginap disini malam ini?”

“Malam? Ini sudah dini hari.”

“Waktu berjalan begitu cepat ketika aku bersamamu.”

Morin terkekeh. “Kemana perginya Kyuhyun yang kukenal selalu mengatakan kata-kata kasar padaku.”

Kyuhyun mengerang. “Kau membuatku terdengar begitu buruk. Jadi, apa kau akan tinggal?”

“Err, sebenarnya aku meninggalkan rumah tanpa terkunci.”

“Bukankah milikmu yang paling berharga sudah ada disini, masihkah kau memikirkan rumah.”

Morin memuatar bola matanya. “Aku tidak yakin. Terkadang tiap malam anak-anak muda yang mabuk tertidur di depan pintu rumahku. Aku tidak tahu apa yang akan mereka pikirkan jika mereka sadar pemilik rumah sedang tidak ada.”

Kyuhyun melompat dari tempat tidur menyebabkan kepala Morin jatuh ke ranjang. Morin sudah akan protes tapi mengurungkannya.

“Apa kau gila?”

“Jelas-jelas kau yang membuatku gila, ” gumam Morin, tapi Kyuhyun tak mendengarkan.

“Ayo, aku antar kau pulang.” Kyuhyun mengulurkan tangannya.

Morin turut melompat dari tempat tidur lalu meraih uluran tangan Kyuhyun. “Kajja.”

Dulu mereka pernah memilih jalan yang berbeda, terlalu takut untuk berpegangan tangan, dan tak pernah berani menghadapi dunia. Tapi hari ini, mereka berdiri di jalan yang sama, melangkah beriringan menuju arah serta tujuan yang pasti, tak akan pernah melepas tangan yang saling terjalin, juga meneriakkan pada dunia tentang semua rahasia yang mereka miliki.

“Ayo kita makan spageti?” tanya Kyuhyun.

“Kenapa tiba-tiba ingin makan spageti?”

“Bukankah terakhir kali kita bertemu, kau ingin makan spageti. Dan aku memiliki janji yang belum aku tepati.”

“Kau masih ingat? Itu sudah satu tahun yang lalu. Lagi pula apa ada restoran buka dini hari seperti ini.”

“Bukankah restoran cepat saji buka 24 jam?”

“Jauh-jauh di London makan spageti di restoran cepat saji? Kau pasti bercanda.”

“Kau benar.” Kyuhyun mengangguk setuju. Lalu tiba-tiba Kyuhyun menunjutk ke langit. “Lihat! Bintang jatuh.”

“Kau ingin membuat permohonan?” tanya Morin antusias.

“Berapa usiamu? Jangan seperti anak kecil.”

Morin tak peduli dengan cibiran Kyuhyun. Dia memejamkan mata, mulai mengucapkan permohonan di dalam hati. Sedangkan Kyuhyun, secara diam-diam melakukan hal yang serupa.

Dan hari ini, dengan jemari berpaut, mereka membuat sebuah permohonan, bukan kepada bintang jatuh, tapi kepada Tuhan. Sebab hari ini mereka percaya, bahwa tiap-tiap manusia memiliki akhir yang bahagia, meski melalui proses panjang serta menyakitkan untuk mencapainya.

KEUT

Advertisements