Eternal Sunshine

by monamuliaa

eternal sunshine3

Oneshot (3k+ words) ║ Songfic

Cho Kyuhyun (Super Junior) ║ Im Morin (OC)

 

.

This FF inspired by Kyuhyun’s 1st mini album (all tracklist)

Happy reading.

Like and comment needed

.

If you love somebody, let them go,

for if they return, they were always yours.

If they don’t, they never were.

―Kahlil Gibran

 

Ujung-ujung rerumputan berdesir tersaput angin lembut. Matahari bersinar terik. Langit Seoul cerah tanpa seberkaspun awan putih. Jalanan Gwanghwamun dipadati pengunjung. Keceriaan mereka akan datangnya musim panas tergambar pada tawa riang serta celoteh penuh semangat yang berbaur di antara keriuhan aktifitas.

Diantara hiruk pikuk yang memadati Gwanghwamun, seorang pria berdiri di bawah naungan sebuah pohon. Tatapannya terpaku pada gerbang Gwanghwamun di seberang jalan. Butuh waktu bermusim-musim baginya untuk kembali. Sekarang setelah ia kembali, kenangan-kenangan lama berdesakan, memaksa untuk turut kembali.

Ia memejamkan mata. Dirasakannya kenangan itu berputar, berdesing di dalam kepalanya. Saat membuka mata, kenangan itu seolah hidup dihadapannya, layaknya sebuah layar super besar yang menayangkan film tentang masa lalu. Dan secara mendadak Gwanghwamun dipenuhi dedaunan musim gugur.

 

“Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun menoleh otomatis saat seseorang memanggilnya.

Di kejahuan, seorang gadis berambut panjang yang tertutup topi lebar berlari ke arahnya. Dan dalam sekejap, gadis itu telah menerjangnya dalam sebuah pelukan erat hingga membuat Kyuhyun hampir terjerembab ke belakang.

“Kau berhasil. Kau mendapatkannya.”

Selama hampir tiga tahun berpacaran, kontak fisik di antara mereka tak pernah lebih dari sekedar bergandengan tangan. Jadi saat gadis itu memeluk Kyuhyun, ia tak tahu harus melakukan apa kecuali membalas pelukan itu.

“Aku benar-benar bangga padamu.” Gadis itu melepas pelukannya. Jemari tangannya mengacak puncak kepala Kyuhyun.

“Jangan lakukan itu Im Morin,” decak Kyuhyun merapikan kembali rambutnya.

Arra, arra,” cicit Morin ikut merapikan rambut kecoklatan Kyuhyun sebentar tapi kemudian mengacaukannya lagi.

YA!” Kyuhyun meraih kedua pipi Morin. Menekannya kuat-kuat hingga bibirnya mengerucut aneh lalu menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri.

Morin menggapai-gapai wajah Kyuhyun dengan tangannya yang terulur lalu menarik hidung mancung Kyuhyun sampai Kyuhyun melepaskan pipinya.

“Kau benar-benar keterlaluan,” keluh Kyuhyun memegang hidungnya yang kemerahan sambil mengawasi Morin yang menggerak-gerakkan mulutnya.

Morin hanya terkekeh. Ia melingkarkan tangannya di lengan Kyuhyun lalu menariknya agar berjalan mengikutinya. “Ayo, kita harus merayakannya. Kau harus mentraktirku makanan mahal. Setelah itu…”

Kyuhyun memperhatikan Morin yang terus berbicara sebelum menyela. “Morin-ah?”

“Hm?”

“Aku akan pergi ke Jerman.”

“Aku tahu.”

“Aku berusaha sangat keras demi mendapatkan beasiswa ini.”

“Ya, kau memang melakukannya.”

“Aku akan sangat menyesal jika aku menyia-nyiakan usaha kerasku.”

“Sudah seharusnya. Dan aku akan memberimu dukungan sepenuhnya dari sini. Aku mungkin akan sangat merindukanmu nanti, tapi walaupun demikian, aku akan menahannya sampai kau pulang. Bukankah kau akan pulang setiap liburan musim panas?”

“Aku tidak tahu. Mungkin aku akan mengambil kelas pendek selama musim panas. Itu artinya aku tak akan memiliki waktu untuk pulang.”

“Itu keterlaluan. Tapi karena ini adalah impianmu sejak dulu, aku tak akan banyak mengeluh. Empat tahun bukan waktu yang lama. Coba kita lihat―uhm―ya, itu tidak lama. Aku akan menunggumu.”

“Aku tidak ingin kau menungguku…”

Morin berhenti seketika. Tangannya yang melingkar di lengan Kyuhyun tergelincir jatuh. Senyuman yang sebelumnya tersungging pada bibirnya menghilang.

“Seperti yang kau ketahui, ini impianku sejak lama. Aku ingin sepenuhnya fokus pada pendidikanku. Aku tidak bisa membagi fokusku untuk hubungan kita juga, karena aku tahu itu akan sulit, bukan hanya untukku, namun juga untukmu.”

Kyuhyun mencari-cari mata Morin. Mencoba menemukan pengertian disana. Tapi jelas Morin menghindari untuk memandanganya.

Tiba-tiba Morin tersenyum. “Arraseo. Arraseo. Arraseo,” Morin terus mengucapkan kata itu yang semakin lama semakin pelan seolah menegaskan pada dirinya sendiri bahwa dia sudah seharusnya mengerti, kemudian tersenyum. “Jaga dirimu baik-baik.”

Kyuhyun tahu Morin berbohong. Senyuman itu tak pernah mencapai matanya. Dan ketika Morin berlari pergi, ia melihat tangan Morin yang berkali-kali mengusap air matanya.

 

Kenangan itu padam. Kyuhyun menunduk memandang ujung sepatunya. Bohong jika harus mengatakan setelah hari itu ia baik-baik saja atau kenangan itu tak pernah mengganggunya. Faktanya ia selalu mencari sosok Morin pada setiap perempuan yang mendekatinya. Sekarang ia sadar bahwa saat itu ia terlalu bodoh, terlalu muda untuk mengerti. Ia mendorong Morin pergi, berpikir itu adalah yang terbaik bagi mereka, tapi sebenarnya, itu hanyalah sebuah keputusan yang egois.

Dan hari ini, seperti orang bodoh yang menyedihkan, ia berdiri disana. Di tempat yang sama seperti saat itu. Semuanya telah berubah. Namun tempat itu masih seindah seperti sebelumnya, indah seperti seharusnya.

 

ooo

 

Hampir limabelas menit Kyuhyun berdiri memandang pintu gerbang itu. Ia memecahkan rekor terlama memandang satu titik yang pernah dimilikinya. Tangannya sudah setengah jalan menuju intercom saat ia ragu untuk menekan bel, lalu menurunkannya. Sekali lagi ia memandang gerbang itu. Menghabiskan waktu untuk berdebat dengan dirinya sendiri.

Tiap kali melewati pintu gerbang itu, ia akan berhenti untuk mengamati beberapa saat, menunggu, walaupun tak pernah berharap bertemu seseorang yang tinggal di dalamnya. Sekali lagi ia bertingkah seperti kemarin. Merasa bersalah atas sesuatu yang sudah sangat lama terjadi namun terlalu pengecut untuk menghadapi kesalahannya. Memiliki banyak pertanyaan namun bahkan tidak siap untuk mengungkapkannya, seperti malam-malam sebelumnya tiap kali ia melihat Morin berjalan pulang dari balkon rumahnya. Dan berakhir dengan hanya mengawasi Morin secara diam-diam hingga menghilang dari pandangan. Diam-diam mengingat hari-hari lalu.

Begitu pula hari ini. Ia pun pergi. Tanpa melakukan apapun. Meninggalkan pintu gerbang itu dengan sebuah desahan panjang. Sebuah hari lain terlewati begitu saja.

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun berhenti berjalan dan segera berputar. Kemudian membungkuk dalam-dalam. “Annyeong hasimnika.”

Uri manina.”

 

ooo

 

Morin menggerutu pelan saat sekali lagi ponselnya berbunyi nyaring dari dalam tasnya. Eomma. Ini sudah kali kedua ibunya menelpon dalam satu jam terakhir. Sekali lagi mengingatkannya untuk makan malam di rumah. Dan kali ini untuk memastikan apakah ia telah berjalan pulang ke rumah.

Arraseo eomma. Morin tutup teleponnya. Ne, ini di depan.”

“Kau sudah pulang?” seru ibunya dari arah dapur.

Ne,” balas Morin setelah melemparkan dirinya ke atas sofa di ruang keluarga. Merasa kelaparan sekaligus mengantuk. Matanya sudah hampir terpejam saat ketukan di pintu membangunkannya. Ia setengah menyeret kakinya untuk membuka pintu. Dan betapa ia terkejut.

Begitu pintu terbuka lebar, tubuh Morin tampaknya lupa bagaimana caranya bergerak, otaknya mengalami kelumpuhan. Bahkan suaranya pun menghilang. Berdiri di luar pintu rumahnya adalah masa lalunya. Seseorang yang sejak lama telah ia lupakan meski kenangan itu sesekali menghampirinya.

Hidup ini adalah tentang bertemu orang baru dan membuat kenangan lain, ia tahu hal ini sejak hari itu di Gwanghwamun. Namun tampaknya ia melupakan kemungkinan bertemu masa lalu sebagai orang baru. Dan tanpa sadar, masa lalu itu justru selalu memiliki tempat untuk membangkitkan kenangan lama yang paling ingin dilupakan.

“Hai.” Kyuhyun menyunggingkan sebuah senyum ragu-ragu yang membuat dunia Morin berantakan seketika. Tapi bibirnya menolak untuk membalas sapaan itu.

“Oh, Kyuhyun-ah, kau sudah datang. Kemarilah, kau bisa membantu menata meja makan.”

Morin tersentak oleh seruan ibunya. Ia segera menyingkir ke samping, memberi jalan pada Kyuhyun yang terlihat enggan untuk pergi.

Sekali lagi Morin mengawasi punggung Kyuhyun lalu segera mengikutinya setelah menutup pintu untuk memastikan bahwa pria itu adalah Cho Kyuhyun. Cinta pertamanya.

“Kenapa kau tampak begitu terkejut Morin-ah? Bukankah kalian sudah saling bertemu sebelumnya?”

Morin menggeleng. Masih kesulitan mendapatkan kembali suaranya, meskipun kepalanya berkali-kali berteriak ‘dia kembali’.

“Tapi Kyuhyun bilang, dia sudah bertemu kau beberapa kali sejak pindah kesini.”

Morin memandang Kyuhyun. Tatapan mereka bertemu sejenak namun segera menghindar. “Pindah kesini?” Morin bersyukur ia tidak kehilangan suaranya.

“Aku tinggal di rumah sebelah sekarang,” jawab Kyuhyun tanpa mengangkat kepala dari sepasang sendok dan garbu.

Nafsu makan Morin menghilang seketika. Sepertinya kemunculan Kyuhyun untuk makan malam di rumahnya belum cukup mengejutkan hingga harus ditambah lagi dengan fakta baru bahwa mereka sekarang bertetangga.

 

ooo

 

Setelah undangan makan malam dari ibu Morin pada malam sebelumnya, kesempatan Kyuhyun untuk bertemu Morin datang berturut-turut. Seperti pagi ini ketika Kyuhyun baru saja keluar dari rumah dan berpapasan dengan Morin. Tapi berbeda dengannya, Morin tampak tak terlalu senang dengan pertemuan tidak sengaja mereka. Morin berlalu begitu saja, tak mengatakan apa-apa, bahkan bersikap seolah tak melihat Kyuhyun. Sebuah sikap yang juga ditunjukkannya malam sebelumnya. Mengabaikannya sepanjang makan malam.

Dan pagi ini, Kyuhyun membiarkan Morin berlalu begitu saja tanpa memiliki niatan juga untuk menyapa. Tatapannya mengikuti Morin hingga menghilang di ujung jalan. Ia hanya tersenyum pada dirinya sendiri. Empat tahun memang bukan waktu yang singkat hingga mampu merubah seseorang. Mereka yang dulu pernah bersinar bersama, kini bersikap layaknya orang asing.

Kesempatan lain datang malam harinya. Kyuhyun yang melewati Morin dalam perjalanan pulang, memutuskan untuk menunggu di depan rumah. Ia bersandar pada badan mobil. Kedua tangannya bersembunyi di dalam saku. Ujung sepatunya memukul-mukul tanah. Kepalanya tetap menunduk sampai mendengar langkah kaki mendekat.

Morin berhenti sejenak saat menyadari bahwa Kyuhyun mengawasinya. Ia menghela nafas. Lalu melanjutkan langkahnya setelah sekali lagi dengan penuh tekad berniat untuk tak mengacuhkan pria itu.

“Sampai kapan kau akan bertahan dengan sikap seolah tak melihatku?” Kyuhyun bertanya. Ada nada mengejek dalam suaranya. Tapi Morin mengabaikan itu, bahkan mempercepat langkahnya saat mendengar langkah lain bergegas mengejarnya.

Morin memejamkan matanya sejenak saat Kyuhyun menahan lengannya sebelum berbalik untuk menghadapi Kyuhyun.

“Sebegitu bencikah kau padaku?”

“Aku tak cukup membencimu untuk memintamu agar membiarkanku pergi. Tapi juga tak cukup peduli untuk bicara padamu.”

Kata-kata dingin itu meluncur satu persatu, dan Kyuhyun benar-benar tak memiliki apapun untuk dikatakan.

Tampaknya mereka masing-masing memiliki kenangan yang berbeda. Kyuhyun mungkin hidup dengan setiap kenangan indah tentang mereka berdua ketika bersama namun terlihat bahwa Morin telah memutuskan untuk melepaskan kenangan itu, dan hanya menyisakan sebuah kenangan terakhir tentang perpisahan mereka.

Sebuah hari lain berlalu begitu saja. Satu kesempatan meluncur bebas sekali lagi dari genggaman Kyuhyun. Dan lagi-lagi ia hanya melihat punggung Morin pergi, menghilang ke dalam pintu gerbang. Meninggalkannya dengan perasaan bersalah dan penyesalan memenuhi setiap sel tubuhnya.

 

ooo

 

“Sekarang apa?” erang Morin saat lagi-lagi melihat Kyuhyun di meja makannya begitu ia tiba di rumah. Hanya berdua dengan ibunya, sedang membicarakan sesuatu yang lucu dilihat dari tawa berderai ibunya. Ia ingat persis kemarin malam ibunya mengatakan mengundang Kyuhyun makan malam di rumah sebagai bentuk sambutan selamat datang kembali. Bahkan ibunya mengabaikan protesnya yang menganggap tindakan itu sebagai sesuatu yang berlebihan.

“Kau sudah pulang?”

Morin mencibir pada sambutan Kyuhyun yang seolah dirinya adalah bagian dari rumah ini.

“Kemari duduklah, eomma dan Kyuhyun sudah menunggumu untuk makan malam.” Ibu Morin menunjuk peralatan makan yang diletakkan di sebelah Kyuhyun.

“Kau disini lagi?” gumam Morin saat menarik kursi dan Kyuhyun membantu menuangkan air minum untuknya.

“Mm hm. Eommonim yang mengundangku kemari.”

“Ah.” Morin mengangguk enggan dan diam-diam memberi tatapan tak setuju pada ibunya.

Eomma bisa membayangkan betapa sepinya makan sendirian. Jadi eomma menyuruh Kyuhyun datang untuk makan bersama kita kapanpun dia ingin.”

“Kenapa tidak sekalian menyuruhnya tinggal disini,” gerutu Morin.

Eommonim sudah melakukannya,” jawab Kyuhyun sambil lalu.

Ne?” Morin hampir saja tersedak. Ia memandang Kyuhyun dengan ekspresi tak percaya lalu beralih ke ibunya.

“Tapi Kyuhyun menolak,” jawab ibunya dengan nada kecewa. “Semua orang sibuk bekerja, kau, ayahmu. Dan walaupun Kyuhyun juga memiliki urusan, namun dia bilang waktu luangnya lebih banyak. Bahkan tadi dia menawarkan diri untuk menemani eomma pergi belanja kebutuhan bulanan besok.”

Morin memijat pelipisnya. Hari berikutnya tak mungkin lebih mengejutkan bukan?

Sisa makan malam itu berlangsung menyenangkan, setidaknya itu yang mungkin ibunya rasakan. Kyuhyun banyak bercerita tentang pengalamannya selama tinggal di Jerman atas desakan ibunya. Sesekali ia juga menceritakan tempat-tempat indah di Jerman dan menyarankan agar ayah serta ibu Morin pergi berlibur kesana sebagai bentuk bulan madu yang kedua. Disela-sela cerita, ibunya berkali-kali berdecak kagum dan menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan penuh antusias yang menjadikan percakapan itu berlangsung begitu lama. Sedangkan Morin lebih memilih untuk menjadi pasif. Walaupun sebenarnya, ia sengaja berlama-lama menghabiskan makan malamnya demi mendengarkan cerita Kyuhyun.

Dan anehnya, untuk beberapa saat, Morin merasa semuanya kembali normal. Duduk makan malam bersama, saling berbagi cerita layaknya keluarga, serta menertawakan sesuatu yang lucu. Dan sejenak ia melihat Kyuhyun sebagai remaja yang bergairah dan penuh semangat, hingga tanpa terasa bibirnya membentuk sebuah senyuman. Namun detik berikutnya, ia sadar, bahwa semua telah berubah.

 

ooo

 

Kyuhyun duduk gelisah di salah satu tempat duduk di sudut kedai kopi. Beberapa kali ia mengecek arlojinya untuk memastikan sudah berapa lama ia duduk disana. Kopi dihadapannya tersisa separoh dan telah berubah menjadi dingin. Ia memutar-mutar cangkir pada tatakannya, kemudian buru-buru mengangkat kepala saat mendengar pintu bergemerincing dengan penuh minat hanya untuk mendapati bukan Morin yang datang.

Bisa jadi Morin tak akan datang. Ia sudah duduk disana hampir satu jam. Antusiasnya untuk memeriksa pintu masuk berangsur-angsur menghilang. Sekarang minatnya berganti memandang melewati dinding kaca berembun yang berkali-kali diusapnya dengan telapak tangan. Memperhatikan gerimis yang telah berubah menjadi titik-titik hujan deras dengan enggan. Tapi sejenak kemudian ia kembali duduk tegak. Di seberang jalan, di bawah payung kuning, ia melihat Morin sedang berjalan tergesa menuju kedai kopi.

Sekali lagi pintu bergemerincing. Diikuti Morin yang menyelinap ke dalam kedai sambil mencari-cari keberadaan Kyuhyun lalu segera menuju Kyuhyun begitu melihatnya. Sesekali ia menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemari tangannya.

Detik itu juga Kyuhyun sadar, diantara aroma kopi yang memenuhi kedai, diantara pintu yang bergemerincing membuka menutup, diantara suara hujan yang sesekali tertangkap indera pendengaran, dan diantara dadanya yang bergemuruh, ia mencintai perempuan yang saat ini berjalan ke arahnya. Mencintainya seperti kemarin.

Morin melempar map hijau dari dalam tasnya ke atas meja lalu menghempaskan tubuhnya di sofa seberang Kyuhyun. “Sebagai seorang tetangga, kau cukup merepotkan.”

Kyuhyun memalingkan tatapan dari Morin untuk memeriksa mapnya sambil diam-diam menghela nafas. “Dan sebagai tetangga, kau cukup baik karena tetap pergi betapapun kau menganggap ini cukup merepotkan.”

Morin berdecak kesal. “Kenapa dari sekian banyak hari kau memilih hari Minggu untuk merepotkanku.”

Kyuhyun hanya tersenyum sebagai jawaban. “Tunggu disini, aku mungkin tak akan lama, hanya menyerahkan ini lalu aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih.”

“Tidak perlu. Aku ada janji, jadi harus pergi sekarang.” Morin pergi begitu saja, tanpa menunggu respon dari Kyuhyun. Masih bersikap dingin seperti sebelumnya.

Kyuhyun meninggalkan lembaran uang di atas meja, meraih gulungan kuning lalu mengejar Morin. “Kau meninggalkan ini,” ucapnya mengulurkan payung kuning yang basah. Tapi herannya, Morin sedang membuka pengikat payung lain berwarna biru yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tas.

“Itu untukmu. Aku tebak kau tak membawa payung,” jawab Morin sambil lalu.

Kyuhyun mengangguk dalam diam.

“Selalu seperti itu sejak dulu.”

Walaupun ada perbedaan, terkadang ada beberapa hal yang tak pernah berubah.

 

ooo

 

Morin menghela nafas kecewa. Tatapannya mengamati hujan yang memukul-mukul kaca jendela kamarnya. Awalnya ia berencana untuk pergi keluar, tapi kemudian membatalkannya karena hujan mendadak yang mengguyur begitu derasnya.

Morin kembali ke meja rias, mengambil pengering rambut dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Ia masih memakai jubah handuk yang belum juga dilepasnya sejak selesai mandi. Seharusnya ia tadi pergi lebih awal, bersamaan dengan ayah dan ibunya yang juga akan pergi keluar. Hanya karena alasan tak ingin bertemu Kyuhyun di bawah yang muncul tepat sebelum ayah dan ibunya pergi, membuat Morin harus membatalkan rencananya. Lagi-lagi Morin mendesah. Dan mendadak lampu kamarnya padam. Begitupun lampu taman.

Morin meletakkan pengering rambutnya sembarangan lalu bergegas secepat yang ia bisa keluar dari kamar. Meraba-raba sepanjang dinding menuju lantai bawah. Di tengah tangga ia berhenti mematung karena mendengar sesuatu yang bergerak di bawah diikuti suara ‘duk’ pelan lalu desis penuh umpatan.

“Siapa disana?”

Na,” jawab suara itu seketika.

Hanya dengan dua kata itu, Morin bisa tahu siapa orang yang ditebaknya baru terantuk meja. Ia melanjutkan menuruni tangga masih sambil meraba-raba dalam gelap menuju dapur.

“Kenapa kau masih disini?”

“Kau pikir mudah menemukan dimana payung dalam gelap gulita?” hardik Kyuhyun yang dari suaranya sedang berjalan mendekat.

“Kau dimana?”

“Disini.”

“Disini dimana?” ulang Morin jengkel kemudian merasakan sebuah tiupan pada sisi wajah sebelah kanannya hingga membuatnya melompat terkejut. “Jangan lakukan itu!”

“Lakukan apa?” Morin menangkap nada geli dalam suara itu.

“Mengejutkanku.”

“Baiklah,” jawab Kyuhyun singkat namun Morin tahu pria itu tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Seharusnya ada lilin di dapur,” gumam Morin masuk ke dalam dapur lalu menyalakan kompor. Seketika dapur diterangi cahaya biru redup.

Kyuhyun bersandar pada ambang pintu, mengawasi dengan penuh minat pada Morin yang mencari-cari lilin di dalam laci dapur. Sesekali tangan Morin menyelipkan rambut yang berjatuhan menghalangi pandangannya ke belakang telinga. Lalu Kyuhyun buru-buru mengalihkan pandangan ketika sadar apa yang dikenakan Morin. “Kau masih takut gelap?”

“Aku tidak takut gelap. Aku hanya merasa sesak dan pusing saat berada di dalam kegelapan.” Morin menjawab tanpa mengangkat kepalanya, walaupun kemudian ia merasa tak perlu repot-repot menjelaskan itu.

“Ya, maksudku itu. Kau masih memiliki perasaan itu?”

“Kau pikir itu sesuatu yang mudah dihilangkan begitu saja.”

Kyuhyun menyambar kesempatan itu dengan gembira. “Bagaimana dengan aku?”

“Apa?” tanya Morin tak begitu tertarik.

“Apakah kau masih memiliki perasaan padaku?” Kyuhyun menangkap gerakan canggung Morin untuk beberapa saat tapi Morin terlalu pandai menguasai keadaan.

Aniya,” jawab Morin singkat sambil mengangkat lilin lalu menyalakannya dan menaruhnya di tempat lilin.

“Benarkah?”

“Itu masa lalu. Aku tak punya perasaan apa-apa lagi padamu,” jawab Morin dingin tanpa memandang Kyuhyun saat melewatinya.

“Kau yakin tak merasakan apa-apa saat melihatku datang?” kejar Kyuhyun.

Aniya. Memangnya apa yang kau harapkan?”

Kyuhyun mengangkat bahunya. “Padahal aku benar-benar senang saat bertemu kau lagi. Kau tak pernah sekalipun memikirkan tentang aku selama empat tahun ini?”

Morin berhenti mendadak lalu berputar menghadap Kyuhyun yang hampir menabraknya. “Kau jelas-jelas yang menginginkan hubungan kita berakhir. Kau yang mengatakan agar aku tak menunggumu. Lalu sekarang kau menanyakan pertanyaan konyol seperti ini. Apakah empat tahun sudah membuatmu lupa?”

Kyuhyun menatap mata Morin yang berkilat-kilat.

“Kau egois,” pelan Morin sambil berbalik hendak pergi namun tangan Kyuhyun pada lengannya mencegahnya pergi.

“Kau seharusnya dulu mengatakannya,” ucap Kyuhyun putus asa.

Morin tertawa hambar. “Kau pikir apa yang harus kulakukan? Memohon-mohon agar kita tidak berpisah? Atau memohon-mohon agar kau tak pergi?”

Saat Kyuhyun tak menjawab, Morin mengambil kesempatan itu untuk menyentakkan tangan Kyuhyun dan hampir berhasil berlari menaiki tangga saat sekali lagi Kyuhyun menarik lengannya dan mendorong tubuhnya ke dinding. Lilin yang dipegangnya hampir padam. Membuat bayangan mereka bergoyang di dinding.

Morin melotot pada Kyuhyun. Ia lebih pendek beberapa inchi dibandingkan Kyuhyun, jadi dengan jarak sedekat itu, ia harus mendongak untuk melihat ekspresi Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tampak sama sekali tak terintimidasi. Melainkan justru dirinyalah yang merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Kyuhyun.

“Aku cukup mengenalmu untuk tahu kapan kau berbohong. Dan aku terlalu mengenalmu untuk tahu apa arti dibalik kemarahanmu.”

“Atau haruskah kita memastikan? Dan mari kita lihat, apakah setelah ini kau masih mengatakan tak pernah memikirkanku,” desah Kyuhyun.

Lilin padam. Sekali lagi mereka diselubungi kegelapan total. Morin mencengkeram tempat lilin kuat-kuat saat merasakan nafas Kyuhyun menyapu wajahnya. Jantungnya melompat-lompat tak terkendali. Dan walaupun ia tak dapat melihat apa-apa, namun ia dapat merasakan saat bibir Kyuhyun menyentuh miliknya.

Morin tahu pertahanannya runtuh saat itu juga. Dunianya porak poranda. Gelembung-gelembung kerinduan selama empat tahun berubah menjadi sebuah gelembung raksasa hingga terasa begitu menyesakkan. Dan ia tidak tahu kapan itu terjadi atau bagaimana melakukannya tapi yang jelas, tempat lilin telah menghilang dari genggamannya, meninggalkan kedua tangannya yang bebas menggantung di udara.

Kepala Morin tak mampu berpikir jernih untuk melawan desakan membalas ciuman itu seiring lumatan bibir Kyuhyun. Tapi kemudian pada akhirnya ia menyerah dan menuruti keinginannya.

Kyuhyun menyeringai diantara ciuman mereka saat Morin mengalungkan kedua lengan di lehernya dan membalas ciumannya. Ciuman itu dalam, menggoda, dan sungguh-sungguh.

Mereka merasa seolah baru saja berciuman ketika suara pintu depan yang mengayun terbuka terdengar begitu jelas di antara gelap dan hening, disusul keluhan karena hujan lebat dan padamnya listrik serta langkah-langkah kaki mendekat.

Mereka saling melepas ciuman masing-masing. Kyuhyun melompat sejauh mungkin. Mendadak lampu menyala. Didekatnya, Morin berdiri mematung, kehabisan nafas, serta gemetaran. Ia melirik Morin, juga kehabisan nafas, namun tampak puas, meski Morin memberi tatapan layaknya seorang pembunuh lalu berlari menaiki tangga bersamaan dengan ayah dan ibunya yang muncul dari sisi lain ruangan.

“Kau masih disini Kyuhyun-ah?” Ibu Morin bertanya dengan nada sedikit terkejut.

Kyuhyun tersenyum seperti anak baik pada ayah dan ibu Morin, seolah hampir kedapatan mencium anak gadis mereka di dekat pintu dapur bukanlah sebuah dosa. “Saya tadi baru akan pergi saat lampu padam kemudian memutuskan untuk tinggal karena tampaknya tidak bijaksana meninggalkan Morin sendirian dalam keadaan seperti ini. Bagaimana makan malam eommonim dan abeonim?”

Ibu Morin menatap Kyuhyun penuh sayang, sedangkan ayah Morin menatapnya layaknya ayah yang menatap anak laki-lakinya.

“Kami memutuskan kembali karena siaran radio memberitahukan terjadi badai di beberapa tempat di Seoul, itu alasan kenapa terjadi pemadaman.”

“Ah, sayang sekali,” jawab Kyuhyun penuh nada penyesalan yang sangat meyakinkan walaupun sedikit kesal karena seharusnya ia bisa mencium Morin lebih lama.

 

ooo

 

Kyuhyun ingin tahu, apakah kopi yang diminumnya semalam ataukah sebuah ciuman yang lebih membuatnya kesulitan tidur. Ia tidak mengerti kenapa bibirnya tidak bisa berhenti menyunggingkan senyuman sejak ia bangun tidur. Dan kenapa langit mendung yang tampak suram tak sedikitpun mengurangi keceriaannya. Juga kenapa ia begitu bersemangat hari ini.

“Kau sudah akan berangkat?”

Morin tampak terkejut melihat Kyuhyun yang sudah berdiri di depan rumahnya padahal hari ini ia sengaja berangkat lebih awal agar tak perlu bertemu dengan pria itu. Ia tidak siap bertemu Kyuhyun mengingat apa yang terjadi pada mereka semalam. Ciuman semalam adalah sebuah kesalahan, seharusnya itu tak pernah terjadi. Meski ingatan tentang ciuman itu terus saja terbayang-bayang, dan tiap kali itu terjadi, isi perutnya terasa melompat-lompat.

“Tidurmu nyenyak?”

Morin mengerang dalam hati. “Ya.”

Ia berbohong. Karena kenyataannya, ia baru bisa tidur lewat tengah malam. Dan ketika berhasil tidurpun ia masih merasa gelisah.

Kyuhyun meneliti Morin. Kemudian sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk senyum ganjil. “Bagus.”

Morin tak mengerti apa arti senyuman itu atau harus menjawab apa, jadi ia hanya berlalu pergi sampai panggilan Kyuhyun menghentikannya.

“Kau tahu―kupikir kita bisa berangkat bersama―aku akan mengantarmu ke tempat kerja―” Kyuhyun menghentikan ucapannya seketika saat sebuah mobil yang baru saja muncul dari ujung jalan mengklakson mereka dan melambat lalu berhenti. Seorang pria berpostur tubuh atletis keluar dari mobil dan mengangkat tangannya pada Morin untuk menyapanya. Ia mengamati dari pria itu kemudian Morin.

“Aku pergi dulu,” gumam Morin tanpa memandang Kyuhyun.

Morning.”

“Kau tidak memberitahuku kalau akan menjemputku.”

“Bukankah perempuan suka kejutan kecil seperti ini?”

Morin mencibir. “Apa aku perempuan pertama yang kau rayu pagi ini?”

Ani, aku tak pernah merayu perempuan lain kecuali kau.”

Gotjimal.”

Pria itu mengacak puncak kepala Morin sambil terkekeh. “Aku serius.”

“Seorang playboy tak pernah mau mengakui bahwa dirinya playboy tentu saja.”

Kyuhyun mengawasi mobil itu hingga menghilang. Baru sedetik yang lalu ia merasa begitu bersemangat dan tak ada yang bisa mengurangi keceriaannya bahkan langit mendung sekalipun namun ternyata ia salah. Ia baru saja merasa seolah sepotong es meluncur ke dalam perutnya dan seketika itu pula semangat serta keceriaannya mencair.

 

ooo

 

“Mencari sesuatu?”

Appa oddiesoyo?” tanya Morin meski sebenarnya bukan ayahnya yang sedang ia cari.

“Belum pulang. Sepertinya akan pulang terlambat.”

“Ah,” gumam Morin lesu lalu ikut duduk didekat ibunya yang sedang menonton televisi. “Eomma sudah makan malam?”

“Belum. Bagaimana denganmu? Hari ini eomma sedang tidak bersemangat memasak. Haruskah kita pesan sesuatu?”

Morin mengangguk. “Haruskah memesan untuk porsi keluarga? Bagaimana jika nanti appa pulang dan juga belum makan malam?”

Ibunya menggeleng. “Untuk kita berdua saja. Dia akan makan malam di kantor.”

“Lalu bagaimana jika Kyuhyun datang untuk makan malam?” tanya Morin berusaha keras untuk bersikap biasa saja saat menanyakannya. Padahal sebenarnya ia sangat ingin mendengar sesuatu tentang Kyuhyun.

“Anak itu sudah tiga hari tidak datang makan malam. Bukankah sedikit terasa aneh karena setiap hari dia selalu datang. Eomma sudah khawatir, mungkinkah terjadi sesuatu?”

“Tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia seorang pria dewasa sekarang.”

“Haruskah eomma mendatangi rumahnya?”

“Biar Morin yang melakukannya,” cegah Morin segera saat ibunya beranjak dari sofa. Lalu menyerahkan telepon yang dipegangnya pada ibunya. “Eomma saja yang pesan makan malam kalau begitu.”

Dan kemudian Morin bergegas pergi.

Setelah membunyikan bel rumah, Morin harus menunggu sedikit lama sampai pintu terbuka. Keterkejutan jelas tampak pada ekspresi Kyuhyun saat melihat Morin.

“Morin-ah, ada apa?”

Morin mengerutkan dahi pada nada khawatir Kyuhyun. Jelas sebelumnya ia yang mengkhawatirkan Kyuhyun, kenapa sekarang justru terbalik.

Eommaeomma menyuruhku melihatmu. Kau tahu―tampaknya eomma khawatir karena kau tidak datang ke rumah.” Morin mengakhiri ucapannya dengan mengangkat bahunya bersikap seolah tak peduli namun tampaknya tak memberi kesan seperti seharusnya.

“Masuklah,” pelan Kyuhyun membuka pintu lebih lebar.

“Tidak, aku harus―oh, baiklah.” Morin tidak bisa menolak setelah melihat mata Kyuhyun. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Makan malam,” jawab Kyuhyun singkat lalu menghilang ke dalam sebuah ruangan meninggalkan Morin sendirian di ruang tamu, tapi tidak lama sebab sejurus kemudian Kyuhyun telah kembali.

“Mau minum?” tawar Kyuhyun mengangkat kaleng bir.

“Aku tidak minum alkohol.”

Kyuhyun menunjukkan kaleng cola yang dipegangnya di tangan yang lain. “Cola?”

“Ok.” Morin menerima kaleng cola dari Kyuhyun kemudian mengikuti Kyuhyun duduk di sofa.

Untuk sejenak mereka diserang kebisuan. Kyuhyun membuka kaleng birnya. Sedangkan Morin menggenggam kaleng cola yang terasa dingin di dalam telapak tangannya. Kyuhyun masih tak mengatakan apa-apa, ia meneguk birnya beberapa kali. Dan sialnya, setiap tegukan itu membuat Morin semakin gugup. Ia teringat ciuman mereka beberapa malam sebelumnya. Dan berusaha keras mengusir ciuman itu jauh-jauh dari pikirannya.

Morin pasti sedang melamun karena ia berjengit saat mendengar perkataan Kyuhyun.

“Ini sudah sangat terlambat tapi aku berhutang permintaan maaf padamu.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.”

Kyuhyun menggeleng singkat. “Tanpa sadar aku pernah menyakitimu. Aku membuatmu menangis.”

Morin membuka kaleng colanya. Telapak tangannya basah. Ia meneguknya sedikit lalu berdeham untuk memastikan suaranya tidak bergetar. “Kita masih muda saat itu. Bertemu orang baru, kemudian putus. Semua itu yang anak muda lakukan. Sekarang kita harus mengucapkan selamat tinggal pada masa-masa itu.”

Kyuhyun mengangguk samar lalu meneguk birnya lagi. Anehnya, Morin merasa kecewa pada anggukan Kyuhyun. Ia meletakkan colanya di atas meja kemudian bangkit dari duduknya.

“Sebaiknya aku pulang. Eomma pasti bertanya-tanya kenapa aku tak kunjung kembali.”

Kyuhyun ikut bangkit berdiri. Dan sebelum Morin sempat mengucapkan selamat malam, Kyuhyun telah menarik tubuhnya dalam sebuah dekapan.

“Terima kasih… untuk hari-hari indah kita di masa lalu. Terima kasih… karena pernah mengijinkanku berada di dalam hatimu. Dan terima kasih karena pernah berada di dalam hatiku.”

Bagi Morin, kata-kata itu lebih menyakitkan bahkan dibandingkan perpisahan mereka di masa lalu sekalipun. Ia merasakan matanya memanas dan dadanya sakit.

Kyuhyun mempererat pelukannya. Ia ingin mengatakan pada Morin agar tak meninggalkannya walaupun hati Morin telah pergi. Ia ingin menggenggam Morin untuk sekali lagi, namun kemudian mencoba melepasnya perlahan. Sebelum ini, ia pernah menjadi egois. Untuk kali ini ia tidak ingin lagi menjadi egois. Ia akan membiarkan Morin memilih kebahagiaannya meskipun ia mencintai perempuan ini.

Kini Kyuhyun mengerti apa itu cinta. Cintanya pada Morin mungkin adalah sebuah mimpi, mimpi indah yang hanya akan disimpannya untuk diri sendiri. Dan sekarang, ia akan berjalan melalui jalannya, perlahan-lahan keluar dari masa lalu yang membelitnya.

 

ooo

 

“Saya akan kembali ke Jerman dalam waktu dekat. Sebuah tawaran pekerjaan disana datang beberapa hari yang lalu. Dan tak ada alasan yang menahan saya untuk menolak tawaran itu.”

“Bagaimana dengan urusanmu disini?” tanya ibu Morin dengan nada sedih.

“Saya sudah menyelesaikan semua. Sebenarnya saya tak pernah benar-benar berniat untuk tinggal lama disini. Saya datang karena sebuah alasan yang memang mengharuskan saya datang.”

Semakin hari, Morin semakin terbiasa dengan keberadaan Kyuhyun di dalam hidupnya maupun kemunculan Kyuhyun di ruang makannya saat ia pulang ke rumah. Juga pada kenyataan betapa mudahnya orang tuanya menerima kedatangan kembali Kyuhyun, bahkan perlakuan mereka kepada pria itu tak pernah berbeda, seolah empat tahun hanyalah waktu yang singkat, dan semuanya tetap sama tanpa sedikitpun perubahan.

Sedangkan bagi Morin, semuanya tidak semudah itu. Tekadang ia mencoba untuk membenci Kyuhyun, berusaha melupakan semua kenangan, hanya mengingat alasan perpisahan mereka. Tapi saat melakukannya, ia sadar tak sedikitpun melupakan kenangan itu. Semakin keras ia mencoba menghapus Kyuhyun dari ingatannya, semakin terasa betapa istimewa pria itu. Seolah-olah jika semuanya menghilang, ia sendiri pun akan menghilang.

Tapi kemudian mendadak Morin merasa kosong. Ia seolah mengapung bebas bersama potongan-potangan debu. Setelah semua kebiasaan ini, ia membayangkan akan terbangun di pagi hari dan tak akan lagi melihat Kyuhyun atau pulang pada malam hari dan tak akan menemukan Kyuhyun di ruang makan. Membayangkan malam-malam yang akan dihabiskannya untuk sekali lagi melupakan Kyuhyun. Hatinya mendadak sakit hanya dengan membayangkan sebuah perpisahan, lagi.

“Im Morin!”

Ne?” Morin tersentak kembali ke dunia karena panggilan ayahnya.

“Kau mau menghabiskan makan malammu atau tidak?” tanya ibunya pelan.

Morin sudah berniat untuk menyuap nasinya saat menyadari sesuatu. “Dimana Kyuhyun?”

“Pulang,” jawab Ibunya dengan heran. “Dia bilang akan bersiap―”

Morin merasa tak perlu mendengar kelanjutan ucapan ibunya. Ia segera melompat bangun dan berlari keluar rumah. Mengabaikan seruan ayahnya. Kenapa dari sekian banyak hari ia baru menyadarinya sekarang? Kenapa dengan bodohnya ia selalu menolak untuk melihat Kyuhyun? Kenapa air matanya keluar sekarang? Kenapa cinta begitu bodoh? Dan kenapa ia begitu menyedihkan?

Morin bahkan tak memanggil Kyuhyun begitu melihat pria itu hampir mencapai gerbang rumahnya. Ia terus berlari. Dan hanya berhenti untuk memeluk Kyuhyun, mencegahnya untuk pergi. Kemudian terisak dengan menyedihkan di punggung hangat Kyuhyun.

“Jangan pergi. Jangan pernah lagi.”

 

Keut


 

note:

First of all, ijinkanku menyapa kalian dengan penuh cinta 😛

  1. Kenapa tiba-tiba terjadi perubahan visualisasi OC? ―Toh visualisasi pada cover hanya terbatas pada cover. Visualisasi yang sebenarnya ada di dalam kepala pembaca bukan? 🙂
  2. Apakah aku Kyuhyun-Chorong shipper? ―BUKAN! Sampai sejauh ini aku belum pernah ngeshipperin Kyuhyun sama siapapun.
  3. Meski, di 1st mini album tak ada tracklist yg benar-benar bahagia kecuali beberapa judul yg tampak bahagia tapi menjebak. Aku lebih memilih memberi akhir yg bahagia pada FF ini.BTW, aku suka Eternal Sunshine tapi Kyuhyun tidak, dan ini ngeselin.
  4. Bisa jadi aku akan menulis FF untuk 2nd mini album, mungkin sampai translate seluruh tracklist sudah ada. Tracklist favorit kalian di ‘Fall, Once Again’ apa?
  5. Terima kasih untuk semua comment yg kalian tinggalkan di setiap postingan. Aku bersumpah membacanya, tapi menunda membalasnya saat melihat notifikasi sampai aku lupa untuk membalasnya 😛 Bagaimanapun juga aku menghargai apresiasi kalian 🙂

 

xoxo

Advertisements