Summer Triangle

by monamuliaa

large

Prompt: Asterism Summer Triangle

Image: ©tumblr

 

Flash Fiction ║ Angst, Slice of Life

 

.

 

“Aku sayang sama kamu.”

 

Sekali lagi pada tengah malam yang basah nan dingin bulan Desember, Vega terbangun. Lalu terisak pilu dalam cengkeraman kegelapan. Menangisi kepergian yang tak akan kembali. Menyesali waktu yang telah berlalu.

Tiga puluh hari. Namun empat kata tersebut masih menghantui malam-malamnya. Terbungkus bersama kenangan dari masa lalu.

Ingatan akan sosok Altair yang terbaring di tempat tidur―kurus, lemah dan sakit parah―berikut tentang pecahan rahasia yang selama enam tahun tersegel dalam sudut hati, begitu jelas. Seakan peristiwa itu baru saja terjadi. Menghancurkannya bersama rasa bersalah.

Tapi dia tidak bersalah. Pun tak pernah ada yang menyalahkannya. Hanya saja perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri itu memilih untuk mengikatnya begitu erat.

Betapa kehilangan terasa begitu menyakitkan ketika sebuah kata tak sempat terucap, sebuah perasaan tak pernah terbalas.

Dan seperti malam-malam sebelumnya pada tengah malam. Dering telepon berbunyi nyaring layaknya uluran penuh pertolongan. Dan dia tak perlu menunggu dering kedua untuk menjawabnya.

“Veg?”

Kendati demikian, tak ada suara lain yang berhasil lolos dari rongga bibirnya kecuali sisa isakan yang masih tertinggal di ujung tenggorokan. Penelepon di seberang pun membisu dalam sekejap. Memahami dalam diam. Menunggu dalam keheningan.

“Al―Alta, Den.”

 

* *

 

Di langit utara pada malam-malam musim panas, muncul sebuah asterism, tersusun dari tiga bintang paling terang yang mana bila ditarik garis imajiner akan membentuk sebuah pola segitiga. Orang-orang barat menyebutnya summer triangle atau segitiga musim panas.

Tujuh tahun lalu. Di bawah langit bertabur bintang pada musim kemarau. Tiga anak remaja berseragam pramuka berbaring berjauhan di atas rumput yang terasa hangat. Menyingkir dari jangkauan api unggun yang asapnya membumbung tinggi berbaur bersama nebula. Dalam diam saling bersaing menemukan sebanyak mungkin konstelasi di angkasa.

Hari itu mereka bertiga tak pernah tahu bahwa awal sebuah takdir ajaib yang kelak akan menyatukan mereka dalam sebuah lingkaran persahabatan telah terbentuk. Bahkan mereka tak saling mengetahui bahwa di angkasa, tiga bintang yang memiliki nama seperti mereka sedang membentuk sebuah asterism. Hingga satu tahun kemudian, ketika sebuah buku astronomi tebal mempertemukan mereka bertiga kembali di dalam heningnya perpustakaan.

Deneb mengingat secara persis kata apa yang diucapkan Altair kala itu.

“Pertemuan ini adalah sebuah kehendak dari langit. Campur tangan Zeus.”

Sejak saat itu, Altair bukan hanya sahabat baginya. Namun juga seorang saudara. Sekaligus teman bicara. Altair mengetahui bagaimana persisnya perasaannya pada Vega. Sahabatnya itu sering kali menghilang tanpa alasan demi agar ia dan Vega bisa pergi berdua. Atau mencari-cari kesibukkan agar ia dan Vega memiliki waktu bersama.

Dan jika harus mengingat apa yang telah lalu, ia merasa begitu egois. Sebagai sahabat, ia tak pernah mencoba untuk mencari tahu bagaimana Altair memandang seorang Vega. Bukan sebagai sahabat, namun sebagai wanita.

Tapi toh selalu seperti ini. Waktu-waktu yang lalu menjadi alasan sebuah penyesalan. Lalu mengurung seseorang dalam sebuah rasa bersalah tak ada akhir.

Isakan lemah Vega menarik Deneb secara paksa kembali ke dunia. Aroma bunga mawar bercampur hujan menggelitik hidungnya. Tetes-tetes air mengalir dari tepian payung hitam. Bahkan langitpun turut menangis atas kepergian Altair.

Didekatnya, Vega mematung. Memandang kosong ke tempat yang jauh. Deneb tak bergerak. Begitupun Vega. Mereka seolah enggan meninggalkan tempat pemakaman.

Sejak kepergian Altair, sekat tak kasat mata seolah tergantung diantara dirinya dan Vega. Ia mencintai Vega. Vega tahu tentang itu, begitu pula Altair. Jika saja Altair masih hidup, ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan Vega meski harus bersaing dengan sahabatnya sendiri. Namun kesempatan itu telah lenyap.

Kini sampai kapanpun, Deneb dan Vega hanyalah sahabat. Persis sebelumnya. Pun selanjutnya. Sebab ia dapat merasakan bahwa hati Vega telah turut pergi bersama kepergian Altair.

“Alta nggak pernah pergi. Dia selalu bersama kita. Bersinar terang di angkasa. Melindungi kita layaknya bintang Altair. Dan kita akan bertemu dengannya setiap tahun di langit utara,” pelan Deneb.

Vega mengangguk samar.

Dalam keraguan, Deneb mencari jemari Vega. Mengaitkan jemarinya diantara milik Vega. Kemudian dalam diam mereka mengamati langit mendung.

 

SELESAI


a/n : cuma iseng aja, lagi pengen nulis tapi bukan fanfiction.

Advertisements