Shine Like Canopus

by monamuliaa

20151127075224

Prompt: Alzheimer’s disease

Image: ©sadness-overload

 

Flash Fiction Memories, Slice of Life

 

 

04/12/2015

 

Sebenarnya aku tidak yakin apa yang harus kutulis sebagai kalimat pembuka. Aku sendiri bukanlah jenis orang yang mudah membuka diri pada orang lain meski lewat tulisan sekalipun. Pada masaku dulu, ketika aku masih bersekolah, orang-orang senang berbagi rahasia mereka dengan buku harian. Sedangkan aku lebih memilih berbagi rahasia dengan diriku sendiri.

Tapi sekarang, aku harus belajar berbagi. Meski sebenarnya alasan aku menulis semua ini lebih kepada sebuah alasan pribadi. Tentang ketakutan pada usia dan masa yang secara perlahan akan menenggelamkan ingatan-ingatanku. Sedangkan aku memiliki sebuah kenangan yang tak pernah ingin aku lupakan. Tidak sekalipun. Tidak sedikitpun.

Oleh sebab itu, diantara sore sendu penuh aroma hujan ini kuputuskan untuk mengumpulkan kembali ingatan itu dan mulai sedikit menuliskannya pada lembar pertama scrapbook-ku.

 

Kenangan itu berlangsung bertahun-tahun lalu, semasa aku masih duduk di sebuah Sekolah Menengah Atas. Dan semuanya dimulai dengan sebuah nama.

CANOPUS.

Kamu pernah mendengar sesuatu tentang Canopus?

Itu adalah nama sebuah bintang. Bintang paling terang kedua setelah Sirius di langit malam. Canopus akan tampak di atas horizon selatan pada tengah malam. Walaupun sebenarnya, aku sendiri sampai saat ini masih mengalami kesulitan dalam menemukan Canopus diantara bintang yang berserakan di angkasa.

Sedangkan nama panjangnya Cano Mahesa Saputra. Semua orang memanggilnya Cano―Kano. Dan semua orang mengenalnya. Yang kumaksud semua orang disini bukan hanya tentang warga sekolah, namun juga tentang penjual somay dan abang bakso di depan sekolah. Pun supir angkutan umum yang seringkali ditumpangi anak-anak.

Kepala sekolah serta guru-guru lain seringkali menyebut namanya ketika ada kesempatan. Wali kelas lebih dari dua kali menyebut namanya setiap tahun dalam pidato-pidato singkat. Setiap buku di dalam perpustakaan paling tidak memiliki satu catatan namanya―bahkan beberapa buku ada yang lebih. Sekalipun pada buku yang tak pernah terfikirkan akan dibaca seorang siswa sekalipun.

Satu sekolahan menyayanginya. Bahkan penjaga masjid di ujung jalan masuk sekolah. Dan aku telah menghabiskan masa putih abu-abuku menjadi pengagumnya. Dengan tambahan catatan, pengagum rahasia. Diantara belasan pengagumnya yang lain.

Cano adalah perwujudan sempurna bintang Canopus. Bersinar terang. Tidak mudah dipelajari. Penuh tanda tanya. Misterius. Dan yang terakhir―yang ini ciri Cano sendiri―pelit ekspresi, sekaligus pelit kata.

Pernah suatu hari, majalah sekolah menjanjikan untuk menerbitkan profil Cano pada sebuah edisi. Namun aku dan setiap orang lain yang membeli majalah tersebut harus menelan kekecewaan sekaligus mengikhlaskan uang sebab halaman yang seharusnya berisi profil Cano justru berisi profil siswa super besar yang memenangkan kejuaraan nasional membuat puisi.

Walaupun demikian, bukan berarti aku tak pernah memiliki sebuah kenangan indah tentang Cano. Walaupun ditelisik darimanapun itu sama sekali bukan sebuah kenangan indah. Tapi paling tidak diantara tiga tahun penuh kekaguman nan rahasia, Cano pernah sekali melihatku.

Hari itu hujan lebat sepulang ekstrakulikuler musik. Dan dengan bodohnya―dan aku bersumpah tak pernah merencanakannya―aku terpeleset di depan pintu ruang musik yang basah karena langit-langit bocor. Sedangkan hikmah dari semua itu selain Cano yang melihatku adalah bahwa dia secara ajaib membuka mulutnya dan menggerakkan kedua bibirnya membentuk sebuah kata. Hari itulah untuk pertama kalinya aku mendengarnya berbicara. Kata yang dia ucapkan hanyalah dua kata pendek, “langitnya bocor”. Itu saja. Kemudian dia pergi. Tanpa menanyakan apakah aku baik-baik saja. Jangankan menanyakan keadaanku, menungguku berdiri sajapun tidak.

Sebagai remaja, aku layaknya kapal di tengah laut lepas. Terombang-ambing terbawa gelombang. Dan Cano adalah mercusuar. Berdiri kokoh. Tujuanku. Layaknya Canopus yang menjadi bintang navigasi dalam penerbangan antariksa.

Itulah Cano. Canopusku. Bintang paling bersinarku. Yang entah dimana atau bagaimana dirinya sekarang, dulu dia pernah menjadi bintangku. Menjadi salah satu bagian dalam kehidupanku. Menjadi satu kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.

 

Saat menulis ini aku tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Betapa masa-masa itu telah terjadi begitu lama. Dan betapa ketika aku menulis ini, aku dapat merasakan kembali perasaan terpendamku pada laki-laki itu. Seolah secara mendadak aku berubah menjadi aku remaja. Aku yang tak bisa membedakan apa itu cinta dan kagum. Bahwa sesungguhnya semua perasaan cinta itu berawal dari sebuah rasa kagum.

Berkali-kali aku mengusap mataku yang basah jika harus mengingat bahwa entah kapan tapi pasti, aku akan benar-benar melupakan kenangan tentang Cano. Bahkan semua kenangan.

Alzheimer mungkin memang bukanlah penyakit mematikan. Tapi bahkan ini lebih menakutkan dari sebuah kematian itu. Sebab ada satu masa dimana kamu akan benar-benar melupakan semua hal. Semuanya. Namamu sendiri sekalipun.

Jika ditengah-tengah penyakit yang menyerangku ini aku diijinkan untuk membuat permohonan. Aku berjanji hanya akan meminta satu hal. Tetap hidupkanlah Cano di dalam kepalaku. Biarkanlah dia tetap bersinar disana layaknya bintang Canopus yang akan tetap bersinar di langit malam.

 

fin


a/n: hai lagi, hahaa. aku kalo lagi aktif ngeblog, rutin gitu ya posting sesuatu, kalo lagi enggak. bisa setahun penuh ga buka blog sama sekali. ini keisengan―lagi―gara-gara baca artikel kalo alzheimer bisa menyerang anak muda. parah bgt kan, padahal itu dulu kan penyakit orang tua. jaman sekarang penyakit emang ga pandang bulu buat nyerang seseorang. kita harus lebih waspada!

oh iya, ini pertama kalinya nulis fiction pake sudut pandang orang pertama. ayolah coba di comment, dikasih saran lah gitu buat perbaikan.

xoxo

Advertisements