Between Him and Her

by monamuliaa

ff exopink sehun-chorong

Sehun (EXO) Chorong (APINK)

 

 

나의 옛날이야기 (My Old Story) by IU 

.

 

Awan gelap nan berat menggantung begitu rendah. Tiupan angin menggigiti lapisan pori-pori. Keduanya menjanjikan hujan setiap detiknya yang memang sudah sepatutnya menyapa.

Sejurus kemudian petrichor menyelinap perlahan melalui celah-celah tak kasat mata. Aromanya menelusup ke dalam sensor penciuman tatkala tetes-tetes air dari singgasana para Dewa tumpah ke tanah kering. Layaknya aromatherapy; menenangkan, menyembuhkan, melegakan. Sekaligus membawa perasaan melancholy tiba-tiba seperti biasa; sendu, sesak dan penuh kerinduan.

Bahkan kehangatan secangkir ocha dalam wadah porselen Cina tak mampu memperbaiki perasaan yang terlanjur tercipta. Terlebih tatkala kilasan bayang-bayang termanifestasi dalam asap transparan. Dan pusat kendali raga mau tak mau memanggil kembali kisah masa lalu yang telah lama dilupakan meski tak pernah padam.

Ia menghela nafas pelan, berharap segala beban kenangannya terbang bersama setiap CO2 yang meluncur ke udara bebas. Termasuk sebuah perasaan yang sering kali seolah membunuhnya.

Ia sendiri tak mengerti, tahun-tahun telah berlalu namun sayangnya rasa masih tertinggal. Menolak untuk pergi meski dipaksa dengan sekuat tenaga.

Pria ber-sweater hitam tersebut duduk termenung. Bersolilokui tanpa mengeluarkan suara. Pandangannya menembus dinding kaca berembun, ke arah jalanan kecil basah di depan kedai kopi.

Ia ingat persis jalanan kecil tersebut. Ataupun kenangan apa saja yang pernah tercipta disana.

“Aku benar-benar benci saat-saat seperti ini, terjebak hujan bersama pria duapuluh-tiga tahun yang tidak bisa move on.”

Oh Sehun, pria yang untuk beberapa puluh detik merasa menjadi manusia paling merana di dunia mengalihkan pandangan serta pikiran dari jalanan kecil di depan kedai kopi ke arah Jongin, sahabatnya yang sedang duduk di seberang meja. Ia menampilkan senyum lemah, seperti biasa, setiap kali dirinya kedapatan terseret ke dalam masa lalu.

“Ayolah man, sampai kapan kau akan seperti ini? Dunia tidak akan berakhir hanya karena kisah percintaanmu berakhir.” Jongin berkata tanpa belas kasihan dalam suaranya.

Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Himpunan manusia patah hati pun tahu. Hanya memang tak ada yang pernah mengetahui secara persis perasaan para patah hati kecuali mereka sendiri. Orang lain hanya berlalu lalang, hadir dan pergi dengan nasehat-nasehat panjang.

Rasanya sebenarnya menjengkelkan, nyaris membuat frustasi. Perjuangan bangkit dari kenangan masa lalu dihancurkan lagi hanya oleh rinai hujan untuk pertama kali di musim panas.

Sehun meraih cangkir ocha, menghirupnya sejenak untuk menetralisir aroma petrichor, lalu disesapnya cairan keemasan dari dalamnya. Kehangatan melingkupi hatinya untuk beberapa mili sekon manakala cairan tersebut lolos dari tenggorokannya. Tapi kemudian ada perasaan ingin menangis yang mendadak bergelora. Tapi ia tak akan menangis. Semua jelas, man don’t cry, begitulah yang pernah ia baca di satu-satunya buku pula yang pernah dibacanya.

Terdengar decakan tak sabar Jongin. Lalu pria itu menyalakan ponsel di atas meja, melirik jam di puncak layar dan beranjak. “Ayo kita pergi sekarang. Aku lebih baik basah kuyup menerobos hujan daripada menunggui orang galau.”

Begitu mengatakannya, Jongin memindahkan beberapa lembar Won dari dompet kulit ke atas meja. Jongin sengaja memukul alas berpelitur itu saat menaruh Won sebagai wujud kejengkelan. Dan tanpa menunggu lama, Jongin pun meninggalkannya.

Sehun terpaksa berdiri. Meraih snapback serta masker dari kursi dan menyusul sahabatnya.

Ternyata hujan tidak main-main. Di dalam kedai barangkali nadanya memang terdengar seirama dengan alunan nyanyian nostalgia, namun di teras, hujan jelas menyatakan diri sebagai musik mandiri. Keras dan lebat.

Sehun memandang Jongin yang terdiam ragu. Kemudian mengangkat bahu ketika Jongin bertanya melalui sorot mata. Jawaban Sehun jelas. ‘Kau yang mengajak tadi’.

Jongin tampak jengkel. Ia menyelubungkan hoodie ke atas kepala lalu berlari menerobos hujan.

Sehun hendak melakukan hal yang sama namun gerakan tangannya terhenti.

“Ini, pakailah payungku.”

Gadis bersuara manis mengulurkan payung merah jambu. Senyuman menghiasi bibirnya. Sebuah senyum menawan yang mencapai garis mata.

Sehun terpana. Senyum itu masih sering mengganggu malam-malamnya hingga saat ini.

“Kau bisa flu jika hujan-hujanan malam-malam begini.” Gadis itu melanjutkan, sembari mendorong payung lebih dekat padanya.

“Demi Tuhan! Oh Sehun. Ayo,” seru Jongin di bawah guyuran hujan.

Kilasan masa lalu Sehun menguar. Tak ditemuinya gadis itu manakala ia menoleh sekali lagi.

Namun saat ia berlari menyusul Jongin. Didengarnya sebuah seruan diantara derai hujan.

“Aku akan mengembalikannya, aku janji. Aku benar-benar tak boleh sakit. Aku akan menemuimu lagi disini besok.”

Sehun menoleh, dan dilihatnya dirinya sendiri di bawah lindungan payung merah jambu berlari bersamanya yang basah kuyup. Sedangkan di teras kedai kopi, senyuman gadis itu bertambah dengan anggukan kecil.

 

*

 

“Kubilang juga apa. Jangan hujan-hujanan. Kau mudah sekali terkena flu.”

Seketika Sehun mengangkat kepala, dan mendapati gadis dengan senyum yang menghantui tidurnya berdiri tak jauh darinya. Handuk putih di tangan gadis itu bergerak lembut di kepalanya yang menunduk.

Sebuah rahasia umum tentang dirinya yang tak pernah mengijinkan orang lain menyentuh rambutnya, tak berlaku bagi seorang gadis dengan senyum menawan. Gadis itu pengecualian untuk semua ketidak sukaannya.

“Kenapa keras kepala. Sudah kukatakan aku harus latihan dan tak tahu kapan selesai. Kau harusnya segera pulang saat tahu akan hujan.”

“Aku tak bisa menemuimu jika tak menunggu,” jawabnya kepada lantai.

“Apa gunanya menunggu jika berakhir dengan membuat diri sendiri sakit.”

“Kita sudah berjanji akan merayakan ulang tahunku bersama-sama.”

Seseorang menyenggol bahu Sehun pelan. Ia mengerjap. Bayangan itu menghilang.

“Ini.” Kyungsoo menyodorkan secangkir air mineral dan sebutir tablet seputih kapur. “Obat flu.”

Sehun memandangi tablet yang disodorkan. Ia enggan menerimanya, apalagi menelannya.

“Bisakah aku tak meminumnya?”

“Tidak usah manja.”

“Jangan memaksa pria galau.” Jongin yang baru bergabung di dapur berkata sewot. Jelas saja sewot. Rencana kencan mereka gagal hanya karena hujan.

“Minum saja,” kompak Baekhyun dan Chanyeol yang tengah saling hajar dalam online game.

“Minum obatnya. Atau kau akan bersin-bersin ketika bernyanyi.” Junmyeon berkata dengan kepala di dalam lemari pendingin. Mencari-cari minuman berkarbonasi pasti.

Sekali lagi Sehun mengamati tablet yang diberi nama obat flu itu lalu menerimanya. Ditelannya benda kecil mungil penuh keajaiban itu bersama dorongan secangkir air mineral.

Semua orang menyuruhnya minum obat. Semua orang sangat peduli padanya. Semua orang begitu mengkhawatirkannya. Tapi ia harus mengakui bahwa bukan kalimat-kalimat desakan mereka yang membuatnya memindahkan obat flu dari tangan Kyungsoo ke dalam mulutnya.

Kyungsoo tak mengatakan apa-apa tatkala mendapat uluran cangkir kosong. Begitupun Jongin yang berdiri memperhatikan. Sehun pun tak berniat berkata apa-apa sebab baru saja ia mendengar dirinya tersedak.

Ia menoleh dan mendapati sebuah tangan yang menepuk-nepuk punggungnya pelan. Disusul suara manis yang dulu sering kali bicara dengannya.

“Telan.”

Sehun menggeleng dan memuntahkan tablet itu ke dalam wastafel dapur.

Terdengar suara desahan. “Barangkali kau satu-satunya manusia di dunia ini yang terserang flu di musim panas.”

Ia tak menjawab. Lidahnya getir, langit-langit mulutnya pahit.

Gadis itu menyodorkan tablet baru, lalu berkata, “Kau tak bisa terus-terusan menolak minum obat hanya karena tak bisa menelannya.”

Sekali lagi ia menggeleng.

“Dorong dengan air.”

Ia menurut. Ditenggaknya air mineral dalam botol hingga tak tersisa. Dan benar saja. Obat itu telah lolos, tergelincir ke dalam ususnya.

“Kau melakukannya dengan baik Sehun-ah.”

Gadis itu tersenyum. Senyum menawan seperti biasa. Lalu Sehun turut memejamkan mata saat tangan itu terangkat untuk mengusap kepalanya. Namun saat membuka mata. Semuanya menghilang.

“Aku akan pergi tidur. Selamat malam hyung.”

Sehun lelah dengan hari-hari mengkhawatirkan yang mana dirinya seolah melihatnya namun tak benar-benar melihatnya.

Jongin menelengkan kepala dengan mulut sedikit terbuka. Kyungsoo hampir menjatuhkan cangkir yang dipegangnya. Chanyeol seketika kalah bermain melawan Baekhyun yang mana itu tak pernah terjadi sebelumnya dan Junmyeon tersedak minuman berkarbonasi.

Semua orang takjub mendengar ucapan selamat malam Sehun. Juga panggilan hyung yang disematkannya. Sebab mereka semua tahu, manakala Sehun mengucapkan kalimat asing itu, ia jelas tidak sedang baik-baik saja.

 

*

 

Hujan semalam meninggalkan sisa dan siksa di pagi kedua musim panas. Langit semi abu-abu. Tak ada matahari. Tak ada petrichor. Namun sendu enggan menghilang. Bekasnya bergelayutan di udara. Dengan setia menyelimuti hati-hati melancholy.

Tak ada canda dalam van hitam yang kini meluncur di atas jalanan beraspal. Seolah orang-orang sepakat dalam diam, enggan mengenyahkan sendu dengan keceriaan. Bahkan melody yang mengalun enggan menyanyikan nada-nada bahagia. Semua bersekongkol.

Sehun memandang keluar jendela van. Kemuraman tergambar nyata pada kaca yang memantulkan wajahnya. Tapi ia bisa tersenyum atau tertawa. Ia bisa, tentu saja. Ia telah melatihnya semenjak bangun tidur. Hanya saja senyum dan tawanya tak mampu mencapai mata. Sebab hanya bibirnya lah yang tersenyum, hatinya tidak turut serta.

“Tampilkan senyum terbaikmu anak muda,” Junmyeon meremas pundak Sehun pelan ketika mobil berhenti dan berpasang-pasang mata mulai mengawasi mereka.

Jongin mendekati Sehun dan berbisik di telinganya, “Paling tidak sampai kita kembali ke dalam mobil ini lagi.”

Sehun mengangguk dalam diam. Dan ketika pintu van tergeser terbuka, ia telah berubah menjadi orang yang berbeda. Ia tersenyum, menatap manja ke arah kamera, atau menyeringai jahil kepada siapa saja.

Hari ini, itu semua bukan dirinya, namun ada keharusan yang tak mampu ditolak. Ada kewajiban yang harus dilaksanakan. Dan karena ia tak ingin semua yang menyayanginya kecewa.

Ia dapat melihat melalui lirikan ekor mata, sahabat-sahabatnya mengangguk bangga, kecuali Jongin yang mencibir seperti biasa. Jongin selalu istimewa, sahabatnya itu sering kali mengekspresikan perasaan dengan cara yang berbeda, dengan caranya sendiri.

Angin berhembus, membelai wajahnya, membelai inderanya, dan kenangan itu lagi-lagi melandanya.

Ia ingat melihatnya, gadis itu, di momen yang sama, di waktu yang telah lalu. Melalui jalan yang sama, menuju arah yang sama. Berjalan melawan gerimis dan angin. Payungnya ditiup angin, rambutnya dimainkan angin, dan aroma dirinya diterbangkan angin.

Aroma itu memenuhi ingatannya, pun inderanya. Di kala itu, dan di saat ini. Aneh.

“Chorong-ssi.”

Chorong-ssi, ulang Sehun dalam hati.

Seakan nama itu menginjak sensor refleksnya, ia membalikkan badan seketika. Gadis itu ada disana. Tersenyum menawan seperti dulu, seperti selalu.

Sehun menahan nafas selama yang disanggupinya. Seluruh inderanya terfokus pada gadis di lorong yang saat ini tengah saling bertukar sapa dengan para sahabatnya. Dan manakala netra mereka berserobok pandang, ada bagian dalam dirinya yang berdetak tak terkendali. Oh, kali ini nyata. Bukan hanya terjadi di dalam kepalanya saja. Juga bukan satu dari hari-hari mengkhawatirkan yang membuatnya lelah.

“Sehun-ah, annyeong.”

Senyum dan sapaan itu.

Detik ini ia tersadar, apa yang tengah menjangkitinya. Merindu. Itu penyakit yang melandanya. Penyakit itu yang melapisi setiap sel hatinya. Penyakit itu yang melingkupi harinya. Dan penyakit itulah yang memanggil kenangan-kenangan dalam kepalanya.

Betapa ia merindukannya. Betapa ia layaknya sebuah kapal dan senyum itu nahkodanya. Betapa ia telah membiarkan dirinya sendiri jatuh pada gadis itu. Semakin dalam, terlalu dalam, hingga tak ada yang mampu menolongnya terkecuali gadis itu dan dirinya sendiri.

Annyeong, Chorong-noona.”

“Senang mengetahui kau bertahan tanpa terserang flu.” Chorong berkata pelan manakala berjalan melewatinya.

Sehun menarik sudut-sudut bibirnya. Senyumnya mengembang, bukan hanya di bibirnya, melainkan juga di hatinya.

Sebuah fakta; ia dan gadis itu tidak pernah berpisah. Tentu saja. Tak pernah ada perpisahan diantara mereka. Mereka hanya merangkak saling menjauh dari kebiasaan lama. Dari kebiasaan saling mencuri waktu untuk bertemu tiap lewat tengah malam. Dari kebiasaan saling berbagi momen istimewa. Serta dari kebiasaan saling menatap dengan senyum merekah.

Jongin keliru tentang kisah cintanya yang berakhir. Tentu saja sahabatnya itu keliru. Sebab faktanya, kisah cintanya tak pernah secara resmi dimulai.

 

fin


 

ps (agak panjang―sepanjang Drabble): Kali aja ada yang bertanya-tanya kenapa mendadak menulis FF pairing Sehun-Chorong, it’s my first time too anyway. Jadi, beberapa tahun ke belakang, aku pernah baca FF di asianfanfics dengan cast mereka. And for the sake of God, that’s my first time I was so into fanfiction. Tapi kemudian, secara mendadak, authornya menghapus FF tersebut padahal ceritanya belum selesai dan menghilang tanpa jejak. Padahal lagi klimaks-klimaksnya. Kecewa? Jelas. Tapi apa mau dikata. Dan karena kekecewaanku itu, aku sempet ngedumel bakal bikin FF dengan cast mereka tapi belum terealisasi. Sampai akhirnya, today is the day, wkwkwk. Terus saking antusiasnya sampai-sampai dibikinin poster padahal biasanya males. Walaupun cuma oneshot dan mungkin nggak akan ada yang baca, aku nggak masalah. It’s totally my delusion.

xoxo

Advertisements