Uang Kertas Dua Ribuan

by monamuliaa

Rp2000_TE_2012credit: here

.

“Harganya duaribu.”

 

 

Jemari kecil itu terjulur melalui celah kaca jendela yang sedikit terbuka, menjatuhkan lipatan koran ke dalam mobil. Diikuti wajah lugu yang menempel pada kaca sembari mengulang ucapannya.

“Harganya duaribu.”

Aku menurunkan kaca lebih lebar, menunjukkan senyum terbaik lalu berkata, “Udah cukup satu aja.”

“Harganya duaribu,” kekeuhnya.

“Udah Dek, kasih aja.” Ibu berkata dari tempat duduk depan sembari meletakkan lipatan koran lain ke atas dashboard.

Aku tak membantah. Kurogoh dompet dari dalam tas, mengeluarkan uang duaribu dan menaruhnya di atas tangan yang menengadah.

Bocah itu tersenyum, melihat ke dalam tangannya sejenak, kemudian kembali menatapku. Senyumnya menghilang. Ia mengulang kalimat yang sama. “Harganya duaribu.”

Aku tersentak bingung. Jelas-jelas aku telah memberinya uang duaribu.

“Harganya duaribu tuh,” celetuk Denis di sebelahku tanpa mengalihkan pandang dari ponselnya.

Kuabaikan celetukan Denis dan kembali pada bocah di luar mobil. “Iya, itu duaribu.”

Bocah itu menatapku marah, lalu melempar uang ke jalanan. “Nggak mau. Harganya duaribu,” rengeknya.

“Itu udah duaribu,” jawabku bersikeras.

Melalui ekor mataku dapat kurasakan pandangan penuh minat para pengendara motor. Seolah perseteruan antara seorang gadis muda dan bocah penjual koran adalah hiburan cuma-cuma di lampu merah.

“Harganya duaribu, harganya duaribu.” Bocah itu berkata lebih keras, dan sejurus kemudian mulai menangis.

Aku sendiri pun mulai panik, kutengok ayah dan ibu minta pertolongan.

“Tutup aja Dek.” Ayah berkata.

Kuikuti saran ayah. Namun bocah itu justru memukul-mukul kaca.

Aku tidak tega. Kuturunkan kembali kaca jendela. Kutengok sekali lagi isi dompet. Tak ada uang duaribu disana. Sedangkan bocah di luar terus berteriak ‘harganya duaribu’ diantara tangisnya.

Kutarik uang limaribu, lalu kusodorkan. Tapi bocah itu terus saja berkata ‘harganya duaribu’.

Kupungut koran dari lantai, lalu kujulurkan lewat jendela. “Yaudah, ini ambil lagi korannya. Kakak nggak jadi beli.”

“Nggak mau! Harganya duaribu!”

Lampu lalu lintas berubah kuning, kemudian hijau. Ayah tak segera melajukan mobil saat melihatku yang masih berkutat dengan kepala diantara celah jendela, dan bocah penjual koran yang menangis di luar pintu.

Klakson mulai bersahutan. Ayah pun terpaksa menggerakkan mobil sebelum kena marah orang-orang.

Kutarik tanganku kembali. Bocah itu berjalan ke trotoar. Kuputar tubuhku untuk melihatnya. Dan diantara para pengguna jalan yang mulai berlalu lalang, bocah itu tetap mengawasi mobil kami. Tapi aku tak tahu pasti apakah ia masih menangis sambil merengek ‘harganya duaribu’.

“Udah dibilangin harganya duaribu juga.”

Aku menoleh jengkel.

Denis menyeringai jahil sambil membentuk huruf V dengan jemarinya. Sedangkan bibirnya kembali menirukan apa yang bocah penjual koran tadi katakan.

“Aku nggak bodoh ya Den. Aku udah ngasih dia uang duaribu kok.”

“Kamu nggak ngasih dia duaribu, tapi koin lima ratusan empat.”

 

fin.


Advertisements